
"Yes, you are the queen of heart and all my soul."
***
Angin yang berhembus membawa hawa dingin yang menusuk. Vana mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri. Sweater rajutan pemberian neneknya tak cukup menghangatkannya. Ia menatap langit malam yang sudah menggelap, sudah sejak sejam yang lalu Ia hanya memandangi langit dengan bintangnya dan laut dengan debur ombaknya.
Vana melipat tangannya di pagar balkon, merasakan tamparan angin yang menenangkan jiwanya. Sangat sepi hingga Vana merasa jika Ia satu-satunya mahluk yang hidup di muka bumi.
Ingatan Vana mengawang sebelum kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya sendiri di kamar hotel.
***
Vana melirik Ayahnya yang berjalan mendekatinya curiga. Vana menghentikan permainan game yang sedang dimainkannya. Ia meletakkan Smartphone milik Ayahnya itu ke atas nakas samping tempat tidur.
"Zeva, Ayah minta ide Bunda kamu nggak marah lagi." Pinta Henry to the point. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap putrinya harap.
Saat masuk kamar Henry langsung mencari Istrinya guna meminta maaf meskipun Ia sendiri tidak tau apa salahnya. Setelah menemukan Anna yang sedang berdiri di balkon, Henry langsung meminta maaf berulang kali bahkan Ia hampir bersujud di kaki Anna jika saja Istrinya itu tidak beranjak pergi dari hadapannya.
Anna diam seribu bahasa hingga membuat dirinya risau. Tidak pernah sekalipun Istrinya itu mendiamkannya hingga selama itu. Rekor terlamanya pun tak lebih dari satu jam. Henry heran, berulang kali berfikir untuk melakukannya lagi. Namun sepertinya Henry harus melakukannya dengan lebih baik lagi. Ia berfikir untuk meminta saran pada putrinya meskipun 99,9 % Ia yakin jikalau itu tidaklah gratis.
"Zeva." Untuk pertama kalinya Henry berbicara memelas seperti itu.
"Imbalan?"Tanya Vana langsung, Ia tersenyum menyeringai.
Henry terlihat berfikir membuat Vana berdecak pelan. "Mau nggak?"
Henry mengangguk lesu. "Baiklah."
"Ngumpet ke balkon sana."
Alis Henry menyatu. "Ngapain?"
"Bunuh diri." Jawab Vana asal namun membuat wajah tampan Ayahnya memucat. Vana terkekeh sebentar. "Bercanda Yah, nggak usah baper."
Tanpa sadar Henry menghela nafas lega. Ia langsung melangkah ke balkon tanpa membantah. Henry berniat untuk mengintip cara kerja putrinya.
Vana melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Sudah hampir 1 jam Bundanya itu berada disana, entah apa yang di lakukan olehnya.
Namun sedetik kemudian pintu terbuka, Anna berjalan kearah Vana sembari menggosok-gosokkan rambutnya yang basah. Sejenak setelah Anna duduk di samping Vana, gadis itu berfikir akan wewangian yang menguar dari tubuh Anna yang tidak biasa.
Vana menggelengkan tidak mau ambil pusing. "Gue mau Lo dinner sama Ayah." Pinta Vana to the point.
" Imbalan." Tadah Anna cepat membuat Vana mendengus.
"Nomor cogan." Jawab Vana enteng. Jangan salah meskipun dirinya urakan dan terkesan tomboy, banyak laki-laki yang mendekatinya. Dan dengan sifatnya yang tidak tau malu, Vana bisa saja meminta nomor para cogan yang di temuinya tanpa basa-basi.
Mata Anna langsung berbinar mendengar tawaran Vana. "Yang banyak." Minta Anna yang langsung diangguki Vana.
Bola mata Henry langsung membola hingga rasanya ingin jatuh dari tempatnya. Padahal Ia bersusah payah menghindarkan manusia berjenis kelamin laki-laki yang baik secara samar maupun secara terang-terangan mendekati istrinya yang mereka tau sudah memiliki suami dan anak. Rasanya Ia ingin membenturkan kepalanya ke jalan aspal saat ini juga. Bagaimana Ia bisa sebodoh itu? Meminta bantuan Vana tanpa mengindahkan akibat yang akan di timbulkan oleh ide gila putrinya tersebut.Sialan!
"Serius? Tumben baik." Senyum Anna terkembang sempurna.
Vana mendengus pelan. 'Sialan! Gue baik di bilang tumben.' Gerutu Vana dalam hati. "Dua rius." Ucap Vana malas.
Sudut bibir terangkat Anna membentuk senyuman. "Kalau gitu bunda mau mandi dulu."
"Kan barusan mandi?" Heran Vana. Anna yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi pun menghentikan langkahnya. "Masalah buat situ?" Sewot Anna.
__ADS_1
Vana menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Ya enggak sih. Cuma lo aneh."
"Aneh?"
"Iya aneh. Lo kan barusan mandi, masak mandi lagi?" Ungkap Vana heran. Satu alis Anna terangkat,"Suka suka gue dong." Jawabnya sebelum pintu kamar mandi tertutup.
Henry melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung mendaratkan pantatnya di samping Vana.
"Yang tadi bunda kamu?."
"Bukan, dia istri Ayah." Jawab Vana kelem.
Henry memutar bola matanya malas. "Sama aja."
"Kok tumben suka mandi. Di suruh mandi aja susah." Vana mengangguk membenarkan mendengar penuturan Ayahnya.
Vana melirik pria paruh baya di sampingnya."Gimana sama rencana gue?" Ujarnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
" Dinner huh?"
"Ya...begitulah"
"Terus ngajak nya dimana? Ayah harus gimana."
"Ya...nggak gimana gimana. Nanti aku yang cariin sekaligus pesenin tempatnya." Jawab Vana santai.
Henry mengangguk. "Yang bagus yah sayang." Vana berdecak pelan.
"Oh iya, mana imbalannya." tagih Vana teringat akan imbalan yang ia minta.
Henry menghela nafas sekasar-kasarnya. Ia pikir Vana akan lupa dengan imbalan-nya itu. "Mau minta apa?"
"Ck, satu minggu ini udah berapa ganti."
"Eum nggak banyak. Cuma tiga."
"Ayah kan tau kalau Zeva orangnya mudah bosan. Satu-satu nya membuat alasan yang jujur yah bilang handphone Zeva rusak karena sengaja di banting."
Henry mendengus.
"Zeva juga minta sepatu baru, tas baru , baju baru, celana baru, uang jajan, dan jatah makan-makanan mewah yang banyak"
" Tukang palak." Desis Henry sebal. Meskipun gaji serta uang asuransi kedua orang tuannya lebih dari cukup. Tidak mungkin juga Ia menggunakannya terus-menerus.
"Jangan memasang ekspresi seperti itu Ayah." Vana tertawa keras. "Jika Ayah nggak mau. Zeva bisa batalin kok."
"Nggak bisa di korting apa? Atau nggak didiskon gitu?"
"Dikira jualan." Gerutu Vana.
Vana tertawa kecil mengingatnya. Ia melirik sebentar laut yang sedari tadi di pandanginya dari atas balkon sebelum Ia memutuskan untuk melihatnya lebih dekat.
***

(Note: Dress yang di kenakan Anna)
__ADS_1
Henry tersenyum senang. Meskipun saat ini Anna sedang marah, namun wanita itu tetap seperti biasanya yang agresif. Anna semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Henry. Henry pun tubuhnya pada wanita yang berstatus istrinya itu.
Kaki jenjang Anna yang berbalut slietto menginjak pasir putih yang terasa kasar. "Ngapain kesini? Mau main twilight breaking dawn spesial honeymoon." Celetuk Anna.
Henry terkekeh pelan. "Hanya dinner."
"Berarti banyak makanan dong." Henry sedikit bingung dengan ucapan Anna namun akhirnya Ia mengangguk.
Anna tercengang, pemandangan didepannya sungguh menakjubkan. Dua kursi dan sebuah meja di tata sedemikian apik. Cahaya lilin yang bertebaran pun begitu indah di padukan dengan langit pekat dan bintang-bintangnya.
Anna mengedipkan matanya. Barangkali jika Ia sedang berhalusinasi atau pria di sampingnya bukanlah suaminya.
Anna menatap Henry horor. "Apa?" Tanya Henry singkat langsung membuat Anna tanpa sadar menghembuskan nafas lega.

(Note: Anggap saja malam yang pekat di temani oleh bintang-bintang 😂)
Sudut bibir Anna menyunggingkan senyum lebar membuat pria di sampingnya pun ikut tersenyum melihatnya. Meski awalnya Henry sempat meragu mengajak Istrinya dinner di tepi pantai. Sempat teringat di kepalanya tentang truma yang dimiliki Anna terhadap pantai, namun Henry juga ingin memastikan tentang perubahan Anna akhir-akhir ini. Berharap perubahan Anna dapat membawa positif untuk melupakan traumanya.
Henry tertawa dalam hati ketika melihat kegirangan Anna yang bak anak kecil berumur lima tahun. Anna berjalan mendahuluinya, tak segan Ia melepas slietto-nya dan menentengnya tanpa malu. Rambut blonde-nya yang di terbangkan angin membuat Henry terpana sejenak akan kecantikan Istrinya yang bertambah berkali-kali lipat.
Anna langsung mendaratkan pantatnya di salah satu kursi dan langsung di susul oleh Henry setelahnya.
"Waw nggak percaya kakak angkat ku yang dingin ini bisa seromantis ini." Ledek Anna setengah menyindir Henry yang selama ini tidak pernah berbuat romantis berlebih seperti saat ini, pria itu terlalu kaku.
Henry menatap Anna datar.
Anna cemberut. "Niat nggak sih."
"Niat."
Anna mencebikkan bibirnya kesal. Ibarat bunglon, suaminya itu selalu berubah-rubah. Kadang manis, sepet, asin, pedas, kecut dan nano-nano.
"Suka?" Tanya Henry namun di abaikan oleh Anna. Wanita itu lebih memilih untuk makan hidangan yang tersaji di depannya.
Sudah hampir dua jam Anna masih asik dengan makanannya dan Henry hanya memadangnya tanpa niat sedikitpun untuk menggangu. Bahkan makanan di depan pria itu sama sekali tidak di sentuhnya.
"Nggak mau makan? Buat gue yah." Henry hanya mengangguk pelan ketika Anna mengambil hidangan di hadapannya.
Senyum Annna mengembang segera Ia memakan semuanya hingga habis tak bersisa. Setelah selesai, Anna mengambil tissue untuk membersihkan sisa-sisa makanan di tangan dan mulutnya.
"Nggak ada hadiah?"
"Heh?" Henry berjengkit kaget sebelum mengangguk kaku.
"A-ada." Pria itu berdiri lalu menghampiri Anna dan berdiri di hadapannya.
"Tutup mata queen."
"Queen?"
Henry mengambil tangan kanan Anna lalu mengecupnya lembut. "Yes, you are the queen of heart and all my soul."
***
Jangan lupa komentar
__ADS_1
Dan semangatnya