The Devil Nerd

The Devil Nerd
Sembilan Belas


__ADS_3

"Pelangi bisa saja menghilang, tapi tidak dengan cintaku."


-Revanno Georgio VR-


***


Vana mengunyah makanannya hingga penuh. Vanno terus menyuapinya saat makanan dalam mulutnya belum sepenuhnya habis. Tangan kekasih barunya itu rela kotor hanya demi Vana yang lebih suka memakai tangan ketika makan. Sesekali pula Vanno menyuapi dirinya sendiri meski tak sebanyak Vana.


"Udah." Ucap Vana tanpa menatap Vanno. Kedua tangannya masih sibuk mengutak-ngatik smartphone milik Vanno sekedar membuka kontak, perpesanan atau melihat lihat isi galeri cowok itu.


"Kurang satu suapan lagi." Bujuk Vanno mengarahkan satu suapan besar, tapi Vana malah menyingkirkan tangan Vanno.


"Ugh...kenyang, lo aja."


"Satu suapan lagi aku kasih hadiah."


"Aaaaa.." Vana langsung membuka mulutnya lebar-lebar membuat Vanno terkekeh kecil. Segera Vanno mengarahkan suapan terakhir untuk Vana. Tak lupa mengambil tissu dan membersihkan sisa-sisa makanan di sekitar bibir gadis itu.


"Minum." Tawar Vanno, Vana mengangguk masih dengan mulut penuh. Tangannya melambai ke arah minuman di samping Vanno. "Jus melon punya lo aja bawa sini."


Dengan sabar Vanno membenarkan sedotannya hingga Vana dapat menyeruput tanpa melihatnya. Setelah tandas barulah Vana menatap Vanno dengan dingin dan hampir membuat cowok itu menggigil.


Dahi Vanno berkerut melihat Vana yang menatapnya seperti itu. Kekasih barunya memang sulit dipahami, kadang seperti rubah, kadang juga seperti kucing, yang Vanno tau Vana itu seperti koala. Tapi sejujurnya hal itulah yang menarik setiap memori untuk mengingatnya dan berpikir untuk menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi. Salah satu contohnya adalah dirinya sendiri. Ah ... Vanno mengingat saat pertama kali bertemu Vana dan saat itu ia tidak dapat tidur malahan tertawa geli dan membayangkan yang tidak-tidak semalaman.


"Cecil siapa? Selingkuhan kamu." Kata Vana ketus membuat Vanno tersadar dari lamunanannya. Vanno mengerjabkan matanya tiga kali. "Apa? Cecil?"


"Iya, siapa Cecil. Apa kita akan putus di beberapa jam kita pacaran. Karena dia? Kamu ketahuan punya selingkuhan jadi kuputuskan kita putus." Vana tak mampu menyembunyikan suara kecemburuannya dan itu membuat Vanno nyaris tersenyum.


"Gue nggak suka di khianati."


"Ah ... dan barang yang lo kasih nggak bisa di minta kembali."


"Gue nggak sedih kok."


"I am fine." Vana membuang muka. Menghela nafas panjang lalu kembali menatap Vanno santai. "Kita putus." Kata Vana sedikit berat sesaat kemudian terdengar tawa sumbang darinya. "Mana mungkin gue mau sama pacar orang. Hahaha ... nggak lucu."


"Mending-"


Vanno mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Apa kamu cemburu?" Ucap Vanno menggoda membuat bola mata Vana melebar spontan menjawab cepat. "Tidak."


Vanno terkekeh mengusap kepala Vana lembut. "Cecil, dia sahabat ku dari kecil karena kita selalu satu sekolah dan bertetangga."


"Sepertinya kalian sangat dekat." Vana membayangkan jika setiap harinya Vanno dengan gadis bernama Cecil tersebut selalu bersama dan bergandeng tangan setiap berjalan bersisihan. Tanpa sadar ada yang meledak dalam dirinya. Rasa sakit dihatinya pun tak dapat di pungkiri.


"Kamu benar-benar terlihat cemburu."


"Gue nggak terlihat seperti itu." Meskipun merasakan perasaan aneh tapi Vana percaya bahwa ia hanya tak rela berbagai karena sekarang Vanno telah menjadi pacarnya. Vana hanya ingin menahankan otoritas kepemilikannya bukan rasa cemburu yang biasa dialami orang pacaran pada umumnya.


"Tadi kamu terlihat seperti itu." Gumam Vanno pelan tapi masih dapat didengar Vana hingga membuat gadis itu menatapinya tajam. "Nggak tuh."


"Tadi iya."


"Masak sih."


"Iya."


"Mungkin mata lo semakin buta."

__ADS_1


"Iya mungkin. Aku buta karena yang ku lihat selalu kamu."


Vana tertawa sumbang mendengar gombalan Vanno. "Siapa Cecil, apa dia benar-benar sahabat lo."


"Dia memang sahabatku tidak lebih. Kalau kamu mungkin bisa lebih." Vanno mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Vana dan berbisik. "Lebih dari segala-galanya."


"Sejak kapan lo jadi gombal, menjijikan!" Kata Vana sarkastik membuat Vanno pura-pura menujukkan wajah sedihnya. "Sayang...jangan seperti itu. Hati ku terasa sakit."


Vana mendengus sedangkan Vanno tersenyum samar lalu mengacak-ngacak rambut Vana sayang.


"Aku akan menyanyikan lagu untukmu."


Vana melipat kedua tangannya. "Jangan kecewakan gue dengan suara lo."


"Tentu."


Beberapa detik saat Vanno lenyap dari pandangannya, Vana langsung menelungkupkn tangannya di atas meja lalu meletakkan kepalanya di sana. Saat lampu tiba-tiba padam, Vana mau tak mau berdecak karena hanya gelap yang dapat dilihatnya. "Tsk, ngapain pake' acara matiin lampu segala sih. Hemat listrik atau nggak mampu."


"Sok-sokan romantis palingan nilai dari sepuluh nggak ada setengahnya."


Vana menegakkan tubuhnya saat terdengar suara gitar dari arah panggung yang satu-satunya tempat yang mendapatkan sorot lampu. Disana terlihat Vanno memakai daleman kaos hitam dengan balutan jaket yang sepenuhnya terbuka. Matanya tak dapat berpaling dari Vana yang hanya termangu di tempat duduknya. Vana tak paham tapi yang jelas darahnya berdesir saat senyum menawan Vanno tak lepas dari wajahnya. Apalagi saat matanya menangkap ketulusan dalam mata coklat milik Vanno.


Girl your heart


Kasih, hatimu


Deg! Tanpa sadar Vana memegang dadanya saat suara Vanno yang sedikit berat mengalun merdu. Ini pertama kalinya Vana melihat Vanno bernyayi, dan itu terlihat sangat menawan.


Girl your face


Kasih, wajahmu


Sungguh berbeda dari gadis lainnya


I say


Kataku


You're the only one that I'll adore


Kaulah satu-satunya yang kan kupuja


Cos everytime you're by my side


Karena tiap kali kau di dekatku


My blood rushes through my veins


Darahku berdesir kencang di nadiku


And my geeky face, blushed so silly oo yeah, oyeah


Dan wajah konyolku, merona malu


And I want to make you mine


Dan kuingin menjadikanmu milikku

__ADS_1


Oh baby I'll take you to the sky


Oh kasih, kan kubawa kau ke langit


Forever you and I, you and I


Selamanya kau dan aku, kau dan aku


And we'll be together till we die


Dan kita kan bersama hingga mati


Our love will last forever


Cinta kita kan abadi


And forever you'll be mine


Dan selamanya kau kan jadi milikku


You'll be mine


Kau kan jadi milikku


Girl your smile and your charm


Kasih, senyummu dan pesonamu


Lingers always on my mind


Selalu terbayang di benakku


I'll say, you're the only one


Kan kukatakan, kaulah satu-satunya


That I've waited for


Yang tlah lama kunantikan


Vanno tak dapat menghentikan senyum di wajahnya, apalagi matanya terpaku ke arah Vana yang terdiam kaku. Tangannya membawa sebuket bunga yang tertata apik dan terlihat segar karena baru ia pesan beberapa saat lalu dan secara khusus meminta yang baru di petik. Dengan mantap ia menghampiri Vana.


Langkah kaki Vanno terhenti, di hapannya Vana menatapnya tanpa berkedip. Vanno mempertahankan tangannya yang memegang bunga untuk tidak berpaling mencubit wajah menggemaskan gadis itu. Perlahan Vanno menekuk satu lututnya hingga menyentuh lantai meski lantai tersebut dingin, Vanno malah merasakan panas yang merayap di sekujur tubuhnya.


"Apa kamu mau menjadi kekasihku. Jadi satu-satunya pasangan hidupku, kini dan nanti. Jangan katakan putus lagi denganku. Karena satu-satunya gadis yang ingin ku ikat adalah kamu. Tidak untuk dia atau siapapun, hanya kamu."


Vana meneliti ke arah manik mata Vanno, meski dirinya bukan psikolog tapi Vana mampu melihat tingkah laku dan kejujuran dari seseorang. Seperti saat ini ketika Vanno menatapnya dalam, Vana dapat melihat kejujuran cowok itu seperti hari sebelumnya. Hati Vana menghangat lantas mengangguk tanpa ragu.


"Baiklah." Vana mengambil bunga di tangan Vanno lalu mengendusnya. "Tapi sejujurnya gue lebih suka bau uang daripada bunga." Lanjut Vana menyuarakan isi hatinya. Karena sejujurnya meski bau bunga itu harum Vana malah merasa sedang mencium bau kuburan. Uh... itu sangat menyiksanya saat Bundanya sering memakai parfum berbau bunga, rasanya seperti mencium batu nisan.


Vana melirik Vanno yang masih berlutut dihadapannya. Karena tidak ingin mengecewakan mata berbinar cowok itu akhirnya Vana berpikir untuk menyimpan bunga mawar di tanganya atau ia dapat memberikannya kepada Bundanya. Berpikir sampai kesitu, Vana dapat melihat peluang bisnis di dalamnya. Bibirnya menyeringai puas lantas Vana berkata manis.


"Sayang, apa lo bisa anterin gue pulang."


Detik itu juga wajah Vanno tampak merona seperti kepiting rebus.


***

__ADS_1


Fafaniez


05, Januari 2018


__ADS_2