
"Lalu Biarkan Kamu tau bahwa aku selalu menempati hatimu, dan merasakan rindu karena diri kita sendiri."
-Fafaniez-
***
Vana berdiri dan menghadap cermin yang memantulkan bayangan Felix. "Tidak terlalu buruk." gumam Vana.
Mungkin jika Riel mendengar gumamannya ia akan muntah darah. " Kamu bilang tidak terlalu buruk! Itu bisa membuat mulut gadis-gadis mengeluarkan air liur."
Vana melepaskan wignya dan menghapus sedikit make up yang membuat wajahnya sedikit lebih gelap dan menggantinya dengan riasan menggoda dan dewasa. Lantas ia mengganti pakaiannya menjadi dress panjang dengan belahan tinggi sehingga mengungkapkan pahanya yang putih dan mulus.
Setelah cukup puas dengan penampilannya Vana berjalan ke kaca besar untuk mengingat tempat yang sudah lama ia tinggalkan. Ia dapat melihat lampu yang berkelap-kelip dibawah langit dan jalanan yang semakin ramai juga melihat bayangan konyol yang ia lakukan dulu.
Waku itu, dia jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Dan saat itu juga ia dikhianati.
"Hehehe..."
Vana tertawa miris namun itu hanya sekejap digantikan dengan dingin yang dapat membekukan seseorang.
Mengusap air yang tanpa sadar keluar di sudut mata nya, Vana berbalik dan mengambil kunci mobil.
"Aku kembali..."
__ADS_1
Hanya saja Vana tidak sadar bahwa ada seseorang yang sama-sama melihat hal-hal tentang dirinya dibalik kaca pesawat.
Vanno meremas foto yang diberikan ibunya terakhir kali di bulan ini, dari belakang dia bisa melihat gadisnya menggandeng mesra seorang lelaki. Meskipun dia tau ibunya membuat hal seperti itu untuk membuat ia semakin menyesal, setidaknya dia tau bahwa dia baik-baik saja meski tidak dengannya saat ini karena selanjutnya ketika ia menemuinya seperti yang dikatakan Jasmine, ia akan merebutnya kembali karena Vana adalah gadisnya, dia hanya miliknya.
Dia sudah berkompromi untuk tidak mencarinya dan menunggunya datang, menerima semua foto-foto dirinya bermesraan dengan orang lain setiap bulan, menjaga tubuhnya seperti yang dia inginkan. Dia selalu menjaga tubuhnya hanya untuknya, selalu mencintainya dan selalu merindukannya. Hanya karena kesalahan kecil, dia meninggalkannya.
Awalnya dia menyalahkannya dan ingin berhenti mencintai orang tidak berperasaan itu, sejak saat itu dia sudah diam-diam pergi ke klub untuk mengencani wanita hanya saja di selalu merasakan jijik dan marah dengan dirinya sendiri.
Dulu, dia melamarnya dan berkata dalam hati sangat mencintainya dan ingin serius dengannya, ingin memanjakannya, namun setelah sakit hati karena ditinggalkan hatinya sangat sakit dan membencinya, hanya saja hatinya tidak mengijinkannya. Dirinya sudah sangat dalam jatuh untuknya. Dia sangat-sangat mencintainya, hanya saja dia dulu bodoh untuk tidak menjadikannya sebagai prioritas diatas segalanya.
Namun kali ini jika dia bertemu dengannya lagi, Vanno berjanji untuk menjadikannya sebagai satu-satunya, memanjakannya dan merawatnya dengan baik.
"Aku sangat merindukanmu."
***
Mengenakan topi hitam, Vana menyelinap memasuki rumah tua tersebut menggunakan identitas orang lain.
Disana orang-orang melakukan judi, berjoget , minum-minuman dan melakukan pelacuran secara terang-terangan. Vana berjalan ke meja bartender dan memesan 2 gelas anggur, kakinya disilangkan sehingga kurva tubuhnya terlihat sangat menggoda. Vana memberikan kode ke orang-orangnya yang menyamar segera salah satu orang itu berjalan menuju target.
Target kali ini adalah Chen Jia, seorang bos dunia hiburan yang terkenal sebagai suami yang baik dan dermawan namun hal itu hanya kebohongan untuk menutupi dirinya yang mesum dan sering menyalahgunakan wewenang artis di bawahnya.
Orang Vana yang menyamar sebagai pelayan mendekati Chen Jia dan membisikkan sesuatu kepadanya. "Bos Chen, wanita yang ada dibartender itu memintaku untuk mengundangmu."
Chen Jia menyeringai dari telinga ke telinga, memang ia sudah mengincar Vana sejak masuk tak disangka sebelum ia merencanakan sesuatu, mangsa tersebut sudah mengundangnya. Awalnya dia kira wanita tersebut sedikit bermatabat ternyata sama saja seperti *******. "Hummpt wanita cantik tapi murahan." Ucap Chen Jia jijik, meski begitu dalam hatinya senang dan menyukainya.
__ADS_1
Segera Chen Jia menghampiri Vana, "Hallo cantik." Chen Jia langsung duduk sangat dekat dengan Vana.
Gadis di depannya terlihat jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat membuat Chen Jia mengangguk puas. Wajahnya yang berlemak tersenyum nakal sembari tangannya mulai meremas paha Vana.
Vana mengutuk di dalam hati meskipun wajahnya yang indah sesekali tersenyum membuat Chen Jia segera terpesona dan gatal untuk segera memilikinya.
"Hallo bos Chen, perkenalkan nama saya lia emm... saya mendengar dari teman saya bahwa bos Chen bisa membuat saya menjadi artis terkenal." Ucap Vana mengalihkan matanya malu namun jika perhatikan lebih jelas matanya gelap. 'Orang tua ini... Bastard!'.
Chen Jia tertawa membuat lemak ditubuhnya bergoyang. "Itu hal mudah sayang."
Mata Vana berbinar cerah "Benarkah?"
Chen Jia mengangguk dengan nakal , "Tentu saja." Chen Jia mendekat ke telinga Vana, "Asalkan kamu menjadi simpanan saya."
"Apakah...istri anda.." Vana berkata gugup
"Tentu saja dia tidak akan berkata apa, humpp sudah seharusnya wanita tua itu sadar diri wajahnya sudah keriput."
'Bangunlah dan liat cermin! Lo juga keriput dan jelek, humpph'
Perlahan Vana mengangguk malu.
Lantas keduanya berdiri beriringan dengan intim menuju ke kamar yang di sediakan di club.
Hanya saja keduanya tidak melihat sepasang mata mengerikan yang menatap dari pintu masuk.
__ADS_1
***
Komen dong :v