The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Lima


__ADS_3

"Memang benar yah kata mantan gue yang ke 202 di tahun ini. Kalau mata itu seperti jam yang kapan aja bisa membuat lo lupa. Seberapa lama lo bergerak dan seberapa lama  lo terdiam."


-Eldino Alessandro-


***


Dakota berdehem keras. Membuat Vana yang masih ingin berlama-lama memegang tangan Aldino harus melepaskannya.


"Lo ngapain disini? Sendirian aja kayak orang ilang." Dakota menatap Vana dan sekitarnya.


Vana yang masih terasa aneh mendengar Dakota berbicara bahasa gaul dan Indonesia yang fasih tertegun sejenak.


"Gue..Gue...ugh...Sa...kit."


Vana langsung berjongkok memegangi perutnya yang kembali berjolak sakit. Mengingat tadi sempat bersyukur karena telah berhenti, Vana menyesalinya. "Perut gue sa...kit..."Vana mengeluh, keringat dingin semakin banyak di dahinya.


"Lo sakit perut? Apa datang bulan hari pertama?"


Vana tidak menjawab pertanyaan Dakota, hanya mengigit bagian dalam bibirnya.


"Pake di pinggang lo."


Aldino memberikan jaket yang dipakainya. Vana yang tidak membantah hanya menurut, dan berharap bisa mengurangi sakit yang dirasakan jika diikat kencang diperut.


Vana berdiri sedikit di bantu Dakota dan mengikuti perintah Aldino. Namun saat selesai melakukan hal tersebut sakit diperutnya tak kunjung reda, Vana ingin menangis rasanya.


"Masih sakit."


Dakota melirik jaket Aldino yang menutupi noda darah. Dakota berdehem menyembunyikan kebahagiaannya saat menemukan alasan agar Vana dapat ikut pulang dengannya. Sebenarnya Dakota sendiri bingung dengan apa yang dilakukannya, tapi Dakota merasa Vana tidak asing baginya. Dakota merasa, Vana yang selama ini di carinya.


"Ayo ikut Oma ke rumah. Ntar disana oma kasih obat datang bulan."


"Kaya kan," Vana bertanya ragu. "Gue nggak bakal dikasih obat abal-abal dipasar kan."


Dakota mendengus sedangkan Aldino menahan tawa.


***


"Gimana perasaan lo." Tanya Aldino datar, melirik khawatir wajah pucat Vana.


"Em...lebih baik."


"Gue boleh pinjem handphone lo nggak. Handphone gue lowbat," Kata Vana sedikit malu. Vana sudah merepotkan banyak orang hari ini, apalagi Aldino yang selalu memperhatikannya dari awal. Diperhatikan oleh orang tampan, siapa yang nggak malu coba!


"Ayah, ini Zeva," Vana berkata terlebih dahulu saat terdengar nada tersambung.


"Kamu dimana sayang, Ayah cari-cari kamu tidak ada." Terdengar nada khawatir di sana. Vana menghela nafas panjang, menjauhkan handphone, Vana menatap Aldino yang juga sedang menatapnya. "Ini dimana?" Ucap Vana pelan.


"Villa Luther."


Vana mengangguk sedikit, kembali mendekatkan handphone ke telingannya. "Ayah nggak perlu khawatir, Zeva baik-baik saja. Sekarang Zeva ada di Villa Luther, apa Ayah bisa jemput ke sini?"

__ADS_1


"Kamu beneran baik-baik saja?"


"Um." Vana mengangguk meski Henry tidak melihatnya.


"Yaudah, nanti malem Ayah akan jemput kamu."


Vana mematikan sambungan dan langsung mengembalikkan ke Aldino. Aldino meletakkan handphonenya di nakas samping tempat tidur.


"Masih sakit?"


Vana mengangguk lesu. Mungkin memang beginilah rasanya menjadi wanita saat datang bulan.


Dulu saat teman-teman perempuannya mengaduh sakit karena datang bulan, Vana hanya menganggap alasan saja untuk bermalas-malasan namun ternyata memang sebegitu sakit saat ia merasakan untuk pertama kalinya.


Aldino mengambil selimut lantas menyelimuti Vana. "Jangan sakit."


Mendengar perkataan Aldino, Vana langsung menguburkan tubuhnya ke dalam selimut dengan pipi memerah.


***


"Gimana?" Tanya Anna khawatir.


Henry tersenyum, kembali mengusap punggung Anna. "Zeva baik-baik saja,"


"Syukurlah," Tanpa sadar Anna mnghembuskan nafas lega. "Tuh anak bener-bener yah. USelalu saja bikin khawatir. Seharusnya kalau mau pergi tuh bilang atau apa. Kalau ada masalah juga bilang, bukannya diem aja, punya mulut kok nggak digunain. Awas aja kalau ketemu...gue kurangin jatah makannya. Gue bejek-bejek abis tuh orang," Anna berkata emosi, nafasnya tersengal. Dalam hati Anna mengutuk Vana yang telah membuatnya khawatir setengah mati sekaligus telah membuatnya malu karena terus berkoar-koar memanggilnya tadi.


"Bukannya kamu ada janji di cafe Flow."


"Apa sih yang tidak buat kamu."


"Gombal," Anna memukul dada Henry malu, sekali lagi Henry terkekeh karena sikap Anna yang seperti anak remaja yang baru saja merasakan cinta.


***


Aldino memandangi wajah Vana yang sudah terlelap dalam ranjangnya. Bibirnya menyunggingkan senyum samar. Lantas kakinya bergerak ke sudut ruangan dimana terdapat sofa disana. Aldino mengambil buku yang masih di bacanya setengah lantas membacanya, sesekali Aldino melirik Vana untuk memastikan bahwa gadis itu masih ada di tempatnya.


Aldino tertawa dalam hati, sepertinya ia mulai gila sekarang. Apa yang ia lakukan? Kenapa dia harus repot-repot hanya karena seorang cewek yang baru di temuinya sekali. Masih banyak cewek di luar sana yang lebih cantik secara sukarela menyerahkan tubuhnya padanya namun dia tolak mentah-mentah namun sekarang ia malah terkesan mencari perhatian dengan gadis yang tidak tau asal-usulnya.


Apa cinta pada pandangan pertama?


Aldino menggeleng, menekankan bahwa ada yang salah dengannya.


Tapi kenapa saat pertama kali melihat Vana jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Saat cewek itu meringis pun, Vanno seolah ikut merasakannya bahkan lebih?


Sedetik kemudian Aldino tersenyum lebar dan membenarkan hal tersebut dalam hatinya. Bahwa dia, Aldino jatuh cinta pada Vana pada pandangan pertama.


"Ngapain lo senyum-senyum sendiri. Kesambet setan Bali baru tau rasa lo."


Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi membuat lamunan Aldino buyar. Seketika senyumnya memudar digantikan wajah datar dan dingin seperti biasa. Aldino menutup buku ditangannya dan meletakkannya di meja sampingnya. Aldino menghampiri orang tersebut yang masih berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Keluar." Tanpa ragu Aldino mendorong orang tersebut yang tidak lain adalah adiknya, mungkin lebih tepatnya saudara kembar. Eldino Alessandro.


"Eh tunggu...siapa tuh di kasur lo,' tanpa tau malu, Eldino langsung nyelonong masuk dan duduk disamping Vana.


"Jelek." Kometar Eldino terang-terangan terhadap Vana.


'Dia selalu cantik menurut gue,' tanpa sadar Aldino menyahut dalam hati. Selanjutnya Aldino mengacak rambutnya kasar. Sejak kapan dia seperti lelaki perayu seperti ini?


"Jangan berisik." Hanya itu yang mampu Aldino katakan. Percuma juga jika mengusir adiknya itu karena ujung-ujungnya bakal bikin keributan juga, Aldino hanya tidak ingin jika Vana terbangun.


Aldino kembali ke tempatnya semula dan mulai melanjutkan membacanya.


Sedangkan Eldino hanya bergumam sebal. Eldino menatap Vana dari atas hingga bawah. 'Kualifikasi apa yang dimiliki cewek ini sampai-sampai saudara kembarnya yang lebih mirip es balok tertarik.' Begitu pikirnya.


Rambut pendek mirip laki-laki


Wajah kusam


Pendek


Baju longgar dan kuno? Bukannya itu milik oma!


Eldino menggeleng, Vana benar-benar jelek di matanya. Mungkin jika diperingkatkan dengan pacar-pacarnya, sekarang dia pasti menjadi tingkat terendah. Eldino bergidik dalam hati, tidak mungkin juga ia suka apalagi memacari cewek didepannya.


Beberapa detik kemudian, tanpa Eldino sadari sebuah kaki melayang di belakang punggungnya.


Gedebugh...


Eldino terjerembab ke lantai menimbulkan suara keras ditambah Eldino yang mengaduh cukup membuat Aldino langsung menatapinya tajam. Aldino menutup bukunya keras dan meletakkannya asal. Aldino menghampiri Eldino dan tanpa ampun menarik kerah belakangnya keluar kamar.


"Woy lepasin! Gue kecekik ****' uhuk..uhuk..tenggorokan gue *******. Sial lo! Lepasin gue..uhuk..tikus..****..uhuk...lo nggak punya perasaan...lepa.."


"Berisik."


Langkah Aldino terhenti di ambang pintu. Melihat Vana terbangun membuatnya tanpa sadar semakin mencekik Eldino.


Eldino langsung menoleh Vana dan memandanganya memelas, saat itu juga Eldino tertegun saat melihat mata biru Vana yang sedalam lautan. Mata itu sangat indah, seakan menjeratnya untuk menyelaminya semakin dalam dan semakin dalam hingga terperosok dan sulit untuk kembali mengapung.


Selanjutnya Eldino hanya pasrah diseret paksa oleh Aldino meski tatapannya tak pernah lepas dari mata Vana hingga pintu tertutup.


"Sebaiknya lo pergi." Aldino melepaskan kerah Eldino kasar.


"Ada yang mau gue tanyain sama lo," Ucap Eldino saat Aldino hendak kembali memasuki kamarnya. Eldino berdiri dan menatap Aldino yang memunggunginya. Eldino mendesah berat. "Apa lo bener-bener suka sama tuh cewek."


"Suka." Jawab Aldino tegas tanpa sedikitpun keraguan.


"Gue juga suka. Gimana dong, kembaranku?"


24 Februari 2018


-Fafaniez-

__ADS_1


__ADS_2