The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

"Sekali lo kehilangan waktu. Maka lo nggak bakal kembali. Itu konsekuensi atas apa yang lo lupakan."


***


Jasmine menghampiri Vanno. Jasmine berdiri di hadapannya dingin tanpa ekspresi. Sedetik kemudian Jasmine menampar pipi Vanno sekuat tenaga hingga menciptakan bunyi nyaring. Tangan Jasmine terasa sakit namun tidak ada niatan untuk menghentikannya. Jasmine kembali menampar pipi Vanno satunya. Kini terdapat dua jejak lima jari milik Jasmine di kedua pipi Vanno.


"Lo brengsek kak."


Vanno menggerakkan rahangnya sakit. Vanno mendongak menatap Jasmine yang menjulang di depannya. "Apa maksud lo." Vanno memegang pipinya yang terasa panas dan berdenyut. "Kenapa lo nampar gue."


"Kenapa?" Jasmine tertawa sinis tak menjawab. Kedua tangan Jasmine terlipat di dada, melirik seseorang disamping Vanno. "Gue nggak nyangka, ternyata ulat bulu juga nempelin lo sampai kesini."


"Apa maksud lo?"


"Maksud gue?" Jasmine kembali tertawa. "Kenapa lo selalu ada dimanapun kakak gue berada. Nggak saat dirumah, disekolah bahkan saat liburan, apa ini terlalu kebetulan atau memang lo nya aja yang kegatelan kayak ulat bulu."


"Gue nggak sengaja ketemu Vanno disini."


"Nggak sengaja atau memang sengaja. Jelas-jelas keluarga gue nggak beritahu siapapun jika kita liburan ke Bali bahkan saat tahun lalu keluarga gue liburan di Dubai, dan tahun sebelumnya ke Prancis. Menurut lo ini kebetulan? Apa lo pikir IQ gue serendah itu. Cecilia Luther?" Jasmine menekankan nama Cecil dengan nada mengejek.


Wajah Cecil merah padam. Cecil menggeram, matanya melotot pada Jasmine namun hanya ditanggapi acuh oleh adik Vanno itu.


"Jasmine." Vanno menyentak Jasmine keras. "Lo nggak bisa seenaknya menuduh Cecil tanpa bukti. Sekarang lo minta maaf sama Cecil." Vanno beranggapan jika Jasmine sedang melampiaskan amarahnya kepadanya dan Cecil dengan menamparnya juga menuduh Cecil yang tidak-tidak.


Mendengar hal tersebut, Cecil tanpa sadar mengeluarkan nafas lega dan mengungkapkan senyum bangga karena di bela Vanno.


Jasmine tertawa terbahak dengan wajah datar. "Minta maaf sama dia?" Jari telunjuk Jasmine teracung pada Cecil. "Apa ini lelucon?!"


"Minta maaf sama Cecil sekarang juga. Lo udah fitnah dia yang nggak-nggak." Vanno menekan Jasmine untuk segera meminta maaf kepada Cecil. Vanno tidak ingin hubungan antara Jasmine dan dan sahabatnya itu semakin merenggang.


"Bukannya sebaliknya. Bukankah seharusnya lo sama dia yang harus minta maaf sama Vana."

__ADS_1


Vanno tertegun lama, lantas langsung berdiri menghadap Jasmine dengan gelisah.


"Tolong temani Cecil, gue mau pergi menyusul Vana." Hampir saja Vanno melupakan janjinya dengan Vana setelah ditampar Jasmine.


Saat sedang mencari Vana disepanjang pantai. Vanno tidak sengaja menemukan Cecil yang sedang mengerang disudut pohon dibelakangnya. Tanpa pikir panjang, Vanno langsung menghampiri Cecil yang terisak sambil memegangi kakinya dan berulang-ulang mengatakan sakit.


Vanno menggendong Cecil ke salah satu kedai dan meletakkannya di bangku kosong. Vanno langsung berjongkok dan memijit pelan kaki Cecil. Setelah satu jam barulah Cecil berhenti mengerang sakit. Saat Vanno hendak pergi, Cecil menahan lengannya. Cecil meminta Vanno untuk menemaninya karena takut, Cecil sama sekali tidak mengenal Bali dan dia takut sendirian tanpa ada orang yang di kenalnya.


Awalnya Vanno mengajak Cecil untuk ikut dengannya. Namun Cecil menolak dan mengatakan bahwa ia sudah berjanji untuk menunggu kakeknya yang sedang pergi sebentar di tempat itu.


Vanno sempat bimbang antara menemani Cecil yang sama sekali tidak kenal tempatnya berada atau menemui Vana yang pastinya tau negaranya sendiri. Vanno akhirnya memilih opsi pertama.


Setelah satu jam kemudian kakek Cecil sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Vanno berulang kali mendesak Cecil untuk meninggalkannya sebentar untuk menemui Vana tapi melihat Cecil menangis ketakutan saat Vanno berkata demikian. Vanno mengurungkan niatnya dan memilih menemani Cecil sampai kakeknya kembali. Namun ... hingga saat ini kakeknya Cecil belum kembali.


"Vanno!" Cecil memanggil keras. Vanno menoleh cepat ke arah Cecil. "Lo tunggu di sini."


Wajah Cecil menunjukkan kelemahan. "Apa lo mau ninggalin gue. Gue takut sedirian."


"Lo sama Jasmine."


"Kaki gue masih terasa sakit. Gue rasa, gue bakal sulit buat berjalan. Gue harap lo mau disini sebentar lagi sama gue. Gue nggak mungkin minta kakek untuk gendong gue ke hotel ataupun minta gendong Jasmine. Gue...apa gue harus merangkak dari sini." Cecil menunjukkan keluhannya. Vanno semakin tidak tega melihatnya.


"Gue...gue."


"Lo apa? Sakit?" Jasmine menyahut dengan rasa jijik.


Cecil mengangguk membuat Jasmine tersenyum sinis. Jasmine bertepuk tangan tiga kali lalu muncul lima sosok tegap dan tinggi berpakaian hitam-hitam, mereka adalah bodyguard pribadi Vanrover. Kelima orang itu sedikit membungkuk saat menghadap karah Vanno dan Jasmine. Kedua kakak beradik itu mengangguk sedikit.


Jasmine mengangkat satu tangannya. "Rencana pertama." Jasmine menunjukkan senyum jahat, tanpa sadar Cecil menggigil karenanya.


Salah satu dari kelima tersebut maju kemudian mengambil toples di dalam sakunya, membukanya dan langsung melemparkan isinya ke arah Cecil.

__ADS_1


Cecil terkejut saat ulat bulu gemuk menempel di bajunya. Cecil menyentak ulat bulu itu dengan tangan kosong. Cecil berdiri dan berlari ketakutan ke belakang Vanno dan memeluknya erat.


Tubuh Vanno kaku. Dadanya langsung dipenuhi emosi terhadap Cecil. Dengan keras Vanno melepaskan pelukan Cecil dan mendengus dingin. "Gue nggak ngira lo bakal sepicik ini."


Setelah mengatakan hal tersebut Vanno bergegas untuk mencari orang yang di cintainya, Vana. Namun suara Jasmine dibelakang mengehentikan langkahnya.


"Mau kemana lo! Cari Vana?"


"Lo terlambat. Vana udah pergi jauh."


"Apa maksud lo." Vanno berbalik dengan rasa cemas. Segala ketakutan merayap didalam hatinya, Vanno sangat takut jika apa yang dikatakan Jasmine itu benar.


"Maksud gue? Lo bodoh dan lo pantes dapet balesan atas kebodohan lo itu." Jasmine mencela Vanno tanpa ampun.


"Pengawal!"


"Ya nona."


"Kalian berdua, tangkap kak Vanno dan jangan biarkan lolos. Kirim dia ke kamar hotel dan pastikan kalian mengunci rapat pintunya."


"Jasmine! Apa maksud lo haha?! Gue harus ketemu Vana. Gue harus jelasin ini semua, gue harus ketemu dia ... gue harus ketemu Nano gue." Vanno berontak saat kedua tangannya dipegang erat oleh bodyguard keluarga Vanrover. Vanno berusaha sebisa mungkin melepaskan diri namun usahanya sia-sia. Tiba-tiba, Vanno berlutut membuat Jasmine mendengsu dingin.


"Sekali ini saja. Ijinin gue pergi menemui Vana. Gue tau lo udah sayang sama Vana makanya lo nggak mau biarin cowok bodoh ini menemuinya. Tapi gue mohon...Cowok bodoh ini nggak mau kehilangan dia. Gue mohon sama lo. Ijinin gue menemuinya." Vanno berkata sungguh-sungguh dalam hatinya.


Wajah Vanno menunjukkan keputusasaan tapi tidak mampu membuat Jasmine berpaling dari janjinya kepada Vana.


"Lakukan sesuai perintah."


"Sisanya, cari orang yang memata-matai kak Vanno dan kirim wanita ****** ini ke hotelnya."


***

__ADS_1


Paps_


30 Januari 2018


__ADS_2