The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Empat


__ADS_3

"Gue memang nggak bisa ngatur hati gue buat berhenti mencintai lo. Tapi setidaknya gue tau cara untuk marah sama lo."


_Zevana Viddson_


***


Vana menyisir rambutnya yang berantakan menjadi lebih rapi kemudian mengusap wajahnya, menghembuskan nafas dan mengeluarkannya perlahan. Vana memegang kusen dan memasukinya dengan langkah santai.


Vana melirik Henry yang sedang memijat kaki Anna. "Kita jadi belanja kan Yah." Henry hanya mengangguk tanpa melihatnya.


"Gimana kencan lo."


"Zeva mau siap-siap dulu." Kata Vana mengabaikan pertanyaan Anna. Vana memasuki kamar mandi dengan langkah cepat. Takut jika Anna ataupun Henry menanyainya lebih lanjut.


Anna melihat Vana sekilas. Lalu menatap Henry dengan senyum tipis di bibirnya. "Makasih...mending My Hubby juga siap-siap." Henry mengangguk.


Anna mengambil smartphone disampingnya dan berjalan ke arah balkon. Tangannya mendial nomor milik Elle yang dia namai 'Si tanpa urat malu.'


"Hallo...ini siapa?"


"Ini gue."


"****! Lah lo itu siapa? Jangan-jangan lo orang iseng ya. Gue tau. Gue cantik tapi dari suara lo, lo itu cewek dan gue nggak doyan cewek."


"Amit-amit! Gue juga nggak doyan sama lo." Sahut Anna jijik. Anna berdehem kecil. "Ini gue, Anna."


"Oohhh istrinya si ganteng ya."


Anna memutar bola matanya. Ternyata selain tidak tau malu, ibunya Vanno juga centil. 'Untung anaknya nggak seperti itu.' Pikir Anna diam-diam bersyukur.


"Kita ketemuan di Cafe flow jam 3." Ucap Anna tanpa basa-basi. Apalagi saat terdengar pintu terbuka yang berarti Vana sudah keluar dari kamar mandi.


"SI ganteng juga diajak kan." Elle berkata semangat, hingga membuat Anna mejauhkan smartphonenya sejenak.


"Kalau si ganteng nggak ikut. Gue juga nggak mau ikut."


Membayangkan Elle genit-genitan Henry tanpa sadar membuat Anna bergidik ngeri. "Ganjen!" Anna langsung menekan mematikan sambungan telepon.


***


Pusat perbelanjaan tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dari hotel untuk sampai. Sesaat setelah berada disana, Anna langsung terjun berdesak-desakan mencapai barang yang di incarnya bersama para pembeli lain. Sedangkan Vana dan Henry mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"Zeva ke sana yah!" Vana berteriak tak kalah dengan keramaian. Anna tidak mengubris sedangkan Henry mengangguk.


"Jangan jauh-jauh." Seperti itulah gerakan bibir Henry yang mampu Vana tangkap.


Vana berjalan ke sudut dimana hanya sedikit orang di sana. Ia menduduki salah satu bangku kemudian mengeluarkan smartphone Anna yang dititipkan kepadanya. Vana menyumpal kedua telinganya dengan headset dan memutar musik dengan volume keras.


Vana menutup mata, mengabaikan keramaian di depannya. Toh! Vana juga tidak merasakan keramaian itu. Dalam hati Vana mengutuk Vanno karena merasa kesepian. Tempat ramai seperti ini mengingatkan Vana saat Vanno memilih mengindari keramaian sebab tidak ingin tidur nyeyaknya terganggu. Juga saat Vanno mengajak Vana ke tempat sepi karena tidak ingin ketenangannya terganggu saat menyaksikan sunset di pantai.


Tiba-tiba Vana meraskan perutnya sakit. Vana melepaskan headsetnya dan buru-buru memasukkan ke dalam tas. Vana menggendong tas kecilnya. Kemudian melihat sejenak kedepannya yang mulai sesak akan orang tanpa disadari.


Vana mendesah dalam hati. Niatnya meminta ijin kepada Henry terlebih dahulu ia urungkan. Vana langsung menerobos diantara kerumunan hingga akhirnya Vana benar-benar keluar.


Vana berlari hingga beberapa menit masih terus-terusan merasakan perutnya bergejolak sakit. Tanpa peduli, berapa orang yang hampir di tabraknya. Vana terus mencari, matanya meliar untuk segera menemukan toilet.


Vana berjongkok dan memeluk perutnya erat. Tempatnya berhenti cukup sepi jadi Vana tak perlu repot-repot menutupi wajahnya karena malu.


"Perut gue solidaritasnya tinggi ... ugh nggak cuma hati gue, perut gue juga ikut-ikutan. Kenapa nggak sekalian ugh..semuanya aja...aduh ini sakit." Gerutu Vana menahan tangis. Vana mengusap sudut matanya yang sudah mengeluarkan air mata.


"Kaki gue..." Vana mengerang, kini kakinya ikut-ikutan merasa pegal. Dalam hati Vana menyumpah serapahi Vanno atas segala hal yang menimpanya. Tak lupa, Vana menyumpahi hatinya yang masih tetap cinta. Sial!


Vana melirik ke trotoar dan melihat tempatnya yang berada di tengah jalan. Vana memutuskan untuk duduk disana sambil meluruskan kakinya.


Belum sampai dua menit saat Vana sedang berusaha memijit kakinya. Dari arah jauh Vana mendengar langkah kaki yang saling menghentak.


Vana melihat-lihat sekelilingnya. Tau aja jika ada kamera dan para krunya, mungkin Vana bisa ikut nimbrung didalamnya. Vana cengengesan dalam hati.


Namun, Vana tidak menemukan apapun. Baik itu kamera, kru yang berseragam ataupun produser yang sedang duduk seperti seorang bus. Vana menaikkan sebelah alisnya bingung. 'Apa pake' kamera tersembunyi?' Tanya Vana dalam hati.


"Copet!"


"Copet!"


Vana tersentak dan kembali menatap kerumunan yang tinggal beberapa langkah. Bibir Vana cemberut dan berpikir keras. "Ini terlalu nyata kalau di bilang lagi syuting. Apa jangan-jangan ini adegan asli."


Ragu-ragu Vana sedikit menaikkan kakinya yang lurus. Alhasil, bapak-bapak tersebut tersandung kakinya dan terjatuh. Warga mulai mengepung bapak-bapak itu, berniat menghajar berama-ramai


Vana meringis. Massa memukul bapak-bapak tersebut tanpa ampun. 'Demi apapun. itu tidak terlihat seperti rekayasa.'


Kemudian sela beberapa detik 5 orang berpakaian hitam-hitam menghentikan massa. Mereka membawa bapak-bapak tersebut dan massa berseru tidak terima. Dari kerumunan muncul seorang nenek-nenek namun masih terlihat cantik. Nenek tersebut mengampiri Vana dan berjongkok didepan gadis itu.


"Makasih loh udah bantu nangkep copetnya. Kalau nggak ada lo, tas gue bakalan ilang. Kalau isinya cuma isinya uang si no problem yah. Tapi ini tuh isinya oppa-oppa gue yang limited edition."

__ADS_1


Vana mengedipkan matanya tiga kali. Dan menelan ludahnya kasar. "Jadi beneran di copet yah."


Nenek tersebut terkekeh kecil mendengar perkataan polos Vana. "Iya...Btw nama gue Dakota. Lo bisa panggil gue Sis."


Vana mengangguk polos. "Sama-sama Sis."


"Oma."


Dakota menoleh ke atas. Dakota berdehem kecil dan berdiri. "Apaan." Ketusnya sebal.


"Maaf telat."


Dakota mencibir. "Jadi cucu kok nggak perhatian banget. Udah tau Omanya di copet tapi baru dateng."


"Siapa suruh kabur dari bodyguard."


Dakota mendengus. Matanya melirik Vana dan menyuruhnya bangun.


Vana hanya menurut dan menatap Cucu Dakota tidak berkedip. Cowok disamping Oma sangat tampan. Tinggi proposioal, putih, matanya cemerlang, hidung mancung, dan tampan. Dalam hati Vana mengidentifikasi cowok itu dan tidak henti-hentinya berdecak kagum. Cowok itu tidak kalah tampan dari Vanno.


"Ini orang yang bantu nylametin tas Oma. Kenalan gih, siapa tau aja jodoh." Dakota terkikik geli sedangkan Aldino hanya menatap datar wanita tua itu.


"Sebenarnya manggilnya Oma apa Sis." Vana menoleh ke arah Dakota bingung. 'Kenapa nih orang bisa ganti nama dalam sekejap? Apa jangan-jangan dia *******.' Tanya Batin Vana. Sedetik kemudian Vana menggeleng dengan pemikiran ngawurnya.


"Panggil Oma." Sahut cowok itu membuat Dakota langsung menatapnya kaget. Pasalnya, Cucunya itu terkenal dingin dan tidak mau repot-repot dengan orang asing.


Aldino tersenyum samar, nyaris tak terlihat. "Gue Aldino." Aldino mengulurkan tangannya ke arah Vana.


Vana menyambutnya dan tersenyum manis. "Vana."


***


Comment Pliss...


NEXT or NO


BAD or GOOD


***


Fafaniez

__ADS_1


08/02/2018


***


__ADS_2