
"Saat dulu berujung kepahitan. Bukan berarti kemalangan yang sama tak akan terjadi. Tapi bukan berarti juga sebuah senyuman tak akan dapat terukir."
"Bagaimana keadaan Bunda Yah?" Tanya Vana sesampainya diumah sakit. Gadis itu buru-buru melangkah, menghampiri Henry yang hanya terdiam dikursi tunggu. Sedangkan Vana tau, bahwa Bundanya sedang berada diruangan depan Ayahnya.
"Keadaan Bunda gimana Yah." Tanya Vana untuk kedua kalinya. Ia mendudukkan tubuhnya dikursi sebelah Henry. Masih dengan nafas terengah-engah Vana kembali menanyakan hal yang sama kepada Henry. "Bunda baik-baik saja kan Yah?" Tanya Vana. Ada raut khawatir diwajahnya. Terlebih Henry hanya terdiam tak menanggapinya sama sekali. Pria berstatus wali sahnya itu hanya menatap kosong ruangan depannya, sedangkan dirinya sama sekali tidak mengerti sikap Ayahnya yang tidak biasa karena ia pun baru saja tiba. Setelah berganti taksi, Vana yang baru saja tiba di penginapannya tiba-tiba menerima kabar bahwa Ibunya dilarikan ke rumah sakit.
"Ayah." Panggil Vana pelan. Tangannya memegang bahu Ayahnya membuat pria itu berjengkit kaget. Spontan kepalanya menoleh. "Zeva?" Vana hanya bergumam pelan lalu kembali melontarkan pertanyaan yang sama. "Bunda gimana?"
Yang tak Vana mengerti bahwa Ayahnya tiba-tiba mengusap rambutnya disertai senyuman lebar. Meski dinetranya Vana dapat menangkap sebuah kesedihan. Tanpa sadar Vana mengehembuskan nafas lega, setidaknya senyuman Ayahnya mengartikan bahwa Bundanya baik-baik saja.
"Bunda sangat baik. Sangat-sangat baik."
Vana cemberut, tidak paham dengan maksud Ayahnya.
Henry terkekeh kecil, bibirnya mengecup lembut pipi putrinya lalu mendekatkan ketelinganya. "Bunda hamil."
Vana terbelalak kaget. "Bu..Bunda hamil? Zeva bakal punya adik?" Ucap Vana tak percaya membuat Henry tertawa kecil kemudian mengangguk. Saat itu juga tubuh Vana menerjang tubuh Ayahnya denan sebuah pelukan erat. "Zeva senang. Zeva sangat senang, wajahnya pasti cantik seperti barbie." Vana sempat terdiam sebentar ketika merasa ada yang salah dengan ucapannya, namun Vana tidak tau itu apa.
'Cantik seperti barbie?.' Lirih Henry miris didalam hatinya. Kilasan masa lalu masih membekas dalam diingatannya, saat Vana mengatakan hal yang sama.
Suara kusen pintu membuat Henry melepaskan pelukannya. Disana terdapat seorang wanita berpakaian dokter yang masih terlihat diumurnya yang tua. Henry sangat mengenalinya, wanita itu adalah orang yang sama 3 tahun lalu. Wanita tua yang membantu persalinan Istrinya tiga tahun lalu. Segera Henry berdiri mengampiri dokter Wanita bernama Wanda tersebut.
Wanda menatap keibuan pada Henry. Tangannya hendak menjabat tangan Henry. "Selamat, janin yang dikandung Ibu Anna baik-baik saja meskipun sempat terjadi benturan. Saya yakin janin yang dikandung Anna kali ini lebih kuat dari sebelumnya."
Ucapan Wanda jelas tak dapat dimengerti oleh Vana. Gadis itu mendongak melihat Ayahnya. "Apa yang dimaksud dokter Yah? Lebih kuat dari sebelumnya? Zeva tidak mengerti Yah." Tanya Vana membuat Henry tergagap menjawab. "T-tidak ada apa-apa." Ucap Henry lalu langsung memasuki ruang penginapan Istrinya.
Vana bukanlah orang bodoh yang tak mengerti bahwa Ayahnya sedang mengelak darinya. Vana hanya bisa mendesah pelan. Kepalanya menoleh kearah Vanno disampingnya, laki-laki itu tersenyum seperti biasanya. Senyuman hangat yang selalu Vana lihat.
__ADS_1
"Thanks yah udah mau nganterin gue."
Vanno mengangguk disetai senyum manisnya.
Sejenak Vana tertegun. Vanno terlihat sangat tampan ketika tersenyum padanya. Selanjutnya Vana terbelalak kaget. Tak habis pikir dengan pemikirannya barusan. Bukannya Vanno memang sering tersenyum selama ini?
Vana mendecak kemudian menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Vanno, lo nggak mau pulang?
"Terakhir kali kamu makan tadi pagi. Apa kamu lapar?" Sahut Vanno sengaja mengalihkan topik.
"K-Kamu?" Tanya Vanno berkerut, memastikan bahwa pendengarannya baik-baik saja. Vana tau Vanno menyukainya tapi, secepat itu? Nggak malu-malu, sembunyi-bunyi, kode-kodean atau gimana gitu. Pikir Vana.
"Sejak kapan lo pake' aku kamu sama gue?" Lanjut Vana lebih mendekat kearah Vanno.
Vanno menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Ayo kita makan siang." Ucapnya tanpa aba-aba langsung menarik tangan Vana untuk mengikutinya.
***
Vanno menggeleng pelan seraya terkekeh geli. "Kalau makan jangan sambil bicara. Kayak anak kecil aja." Tangan Vanno mengusap sebutir nasi di pipinya.
Vana menyengir. "Muncrat yah."
"Un." Vanno mengangguk seperti anak kecil. "Apa kamu mau nambah?" Tanya Vanno melihat piring Vana yang mulai habis satu persatu.
Vana menggeleng lalu mengambil tisu dan mengusap bibirnya. "Gue udah kenyang. Gue nggak terlalu suka makan banyak."
Vanno menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya kamu selalu makan setiap saat."
__ADS_1
"Gue harus makan banyak biar gue nggak sakit kayak dulu."
"Sakit kayak dulu?" Tanya Vanno panik. "Lo sakit apa? lo nggak papa kan. Apa perlu kita ke dokter sekarang." Katanya khawatir.
"Nggak perlu. Sekarang gue nggak papa." Ucap Vana mengibas-ngibaskan tangannya.
"Dulu gimana?"
"Lo mau tau?" Vanno mengangguk cepat. Vana terkekeh geli melihat antusiasme cowok itu.
"Apa bayarannya." Mendengar hal tersebut Vanno mendesah lalu mengeluarkan sebagian uang dari dompetnya. "Satu juta cukup?"
Vana menyeringai kemudian mengangguk kecil.
"Dulu, saat gue kecil. Gue paling malas jika disuruh makan. Terkadang saat pagi gue lebih suka makan buah doang ketimbang nasi dan saat malam gue lebih milih nggak makan. Dan ketika gue di kamar gue bisa seharian tidur tanpa makan ataupun minum. Di sekolahpun gue lebih suka berdiam diri di dalam kelas sampai pulang karena gue males untuk keluar. Itu berlangsung sangat lama mungkin itu salah satu penyebab gue sakit ginjal dan itu sudah kronis, diperparah gue juga punya penyakit lambung saat itu."
"Gue harus di operasi secepat mungkin, jika tidak akibatnya pada nyawa gue sendiri. Orang tua gue nggak tau kalau gue sering ngerasaain sakit diperut gue. Gue juga nggak pernah bilang sama mereka dan bukannya mereka nggak perduli tapi orang tua gue pada saat itu benar-benar orang sibuk. Meskipun nenek dan kakek juga kadang datang kerumah, tapi ketika sampai mereka akan didunianya sendiri-sendiri."
"Tapi saat sarapan tidak sengaja gue pingsan dan akhirnya mereka tau tentang penyakit yang gue alami. Akhirnya mereka benar-benar memperhatikanku. Hampir selama setengah tahun gue dalam pengawasan mereka, baik dalam hal makan atau apapun. Dan setelahnya gue berhasil di operasi, ginjal gue baru dan gue sembuh total. Setelah itu keluarga gue lebih posesif sama gue, hampir selama beberapa bulan gue disodorkan makanan terus menerus sama keluarga gue. Dan yah, akhirnya menjadi kebiasaan. Gue mempunyai porsi makan yang banyak." Vana tersenyum tipis mengakhiri ceritanya.
"Tapi sekarang kamu nggak papa kan?"
Vana menggeleng. Tanpa sadar Vanno menghembuskan nafas leganya.
Vanno berpikir untuk menanyakan sesuatu lagi pada Vana. Mengenai hal yang membuat ia penasaran selama ini.
"Aku ingin tau. Kenapa saat dipantai kemarin, kamu mengerang dan terlihat marah? Ketika aku menyebut kata penculikan?" Tanya Vanno sembari memelankan kata terakhirnya. Tangannya kembali mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
__ADS_1
"Apa tabunganku cukup? Totalnya tidak kurang dari satu miliar."
***