The Devil Nerd

The Devil Nerd
Enam


__ADS_3

***


"Layaknya pohon yang memiliki banyak cabang. Cemburu adalah salah satu cabang dari sebuah pohon bernama cinta. Semakin besar rasa cemburu itu tumbuh, maka semakin besar pula pohon cintanya."


***


Senja menggantung dilangit menjadi penyambutan keluarga Viddson. Setelah menempuh berjalanan hampir dua hari satu malam akhirnya mereka sampai di Bali.


Vana tersenyum manis. Rasa lelah yang di terima selama perjalanan seakan terbayar oleh suasana yang baru di rasakan olehnya. Ia menghirup sebanyak-banyak udara Bali merasakan aroma manis yang belum tentu dapat di arasakan kembali olehnya.


Mata Vana memincing. Dagunya mendongak ke atas lalu membacanya dalam hati. 'HOTEL AMIGO'. Hotel yang nantinya akan menjadi tempat penginapan keluarganya selama di Bali itu tidak terlalu besar namun juga tidak dapat dikatakan kecil. Hanya memiliki delapan lantai yang tidak terlalu luas. Meskipun begitu hotel yang ada di hadapannya itu selalu ramai di kunjungi baik wisatawan dalam negeri ataupun wisatawan asing. Mungkin di karenakan letaknya yang strategis yaitu berada di dekat pantai dan berada cukup sudut sehingga suasananya menenangkan.


Beruntung Ayahnya mengenal pemilik hotel yang katanya memang sengaja membiarkan kamar-kamar di lantai sebelum paling atas hanya untuk keluarga dan orang yang di kenalnya. Sehingga banyak kamar yang kosong dilantai tersebut karena tidak terpakai.


Terlalu lama mengamati akhirnya Vana tersadar jika Ia tertinggal langkah kedua orang tua-nya. Vana segera berlari kecil menyusul kedua orang tuanya yang sudah mencapai lobby.


"Ada yang bisa saya bantu." Suara resepsionis Hotel Amigo menyambut kedatangan Anna dan Henry.


Suara yang seolah sengaja di buat mendesah sontak membuat Anna melirik resepsionis itu sinis. Matanya menangkap name tag bertuliskan Mona Adena yang terpasang di bagian dada sebelah kiri resepsionis itu.


Anna menelisik wanita di hadapannya. Bedak yang di perkirakannya terbuat dari tepung kanji, lipstik yang Ia yakini adalah pewarna tekstil, baju yang Anna duga adalah bekas barang tak terpakai dari sebuah baju lalu dijahit sendiri dan rok yang Anna yakini adalah milik adiknya yang masih SD. 'Benar-benar fakir miskin.' Pikir Anna prihatin.


"Atas nama Henry Viddson." Ucap Henry datar, jujur Ia tidak suka wanita bernama Mona tersebut. Ia seperti ****** yang menjajakan tubuhnya dipinggir jalan secara cuma-cuma. Itu penilaiannya.


Mona mengangguk anggun. "Berapa kamar yang di butuhkan dan untuk berapa lama?" Tanya Mona lembut. Tatapannya jatuh pada pria tampan yang dipanggil wanita di sampingnya Henry. 'Uh..betapa manly-nya.' Pikir Mona.


"Dua set kamar untuk tiga hari tiga malam." Sahut Anna tiba-tiba membuat Mona mendengus.


Mona tersenyum manis. Bajunya yang memang berenda rendah membuat buah dadanya nampak ketika Ia sengaja menunduk untuk mengambil kunci. Mona berpikir mungkin saja Henry akan nafsu ketika melihatnya. Ah Ia jadi membayangkan jika pria di hadapannya itu mencumbunya penuh nafsu.


Anna menggertak giginya geram. Mona sengaja berlama-lama menyuguhkan buah dadanya yang besar itu pada suaminya. 'Sialan!' Umpatnya dalam hati.


"Tante jangan genit dong!" Seru suara tiba-tiba itu membuat Mona mendongak menatap seorang gadis berambut cepak dan bergaya semrawut namun cukup cantik.


Vana melipat kedua tangannya di dalam dada, manik matanya menatap Mona tidak suka. Mengabaikan tatapan heran yang Mona berikan, Vana yang baru sampai di lobby langsung berdiri di samping Anna, lalu meletakkan tangannya diatas meja resepsionis dengan sedikit berjinjit.


"Tante nggak boleh genit sama Ayah."


Mona menaikkan kedua alisnya. 'Jadi ini calon putri gue.' Gumamnya dalam hati sembari menilai Vana.


Vana yang di tatap menilai oleh Mona memutar bola matanya. "Denger nggak sih Tan! Atau Tante budeg? Pergi ke dokter THT sana! Sodakoh buat memperkaya dokternya." Kata Vana tajam yang langsung menikam uluh Mona hingga dasarnya-dasarnya. Namun Mona langsung menyingkirkannya dan berpikir jika gadis di hadapannya itu hanya seorang anak kecil.


Mona tersenyum pengertian. " Memangnya kenapa sayang."


Mendengarnya, Vana dan Anna kompak menunjukkan ekspresi mau muntah.


Dalam hati Mona membrengut sebal anak dan ibu sama saja Begitu pikirnya.


"Tante mau Bunda saya berubah menjadi Juubi?" Tanya Vana polos.


Anna langsung menatap Vana horor, Ia kira jika putrinya itu akan membelanya atau setidaknya membangga-banggakannya agar terlihat bahwa dirinya lebih pantas dibandingkan Mona. 'Sial Ia terlalu berharap.' Rutuknya dalam hati.


Bibir Mona berkedut. "Ibunya bisa berubah jadi Juubi yah?" Tanya nya menahan tawa.


Dengan bodohnya Vana mengangguk. Langsung saja Anna mengabsen nama-nama hewan di ragunan. "Setan!" Ketus Anna, ekor matanya melirik Vana tajam.


"Ibunya kok ngomongnya kasar sih. Dia kan masih anak-anak belum ta-."


"Ena-ena?" Potong Vana langsung. "Gue tau kok." Jawabnya sombong.


Spontan mata Mona mendelik tak percaya setelahnya menganggukkan kepalanya seolah baru saja memahami sesuatu. "Pasti ajaran Ibunya yah." Tebak Mona langsung membuat Henry ingin menjeburkan tubuhnya ke dalam bak mandi berisi air keras.


Vana mengangguk polos. "Gue sering ngintip kamar Ayah sama Bunda waktu malam." Henry dan Anna langsung menatap Vana horor.


Mulut Anna nyaris jatuh dari tempatnya. "Gue sumpahin bintitan." Desisnya sebal. Tatapannya menajam pada Vana, yang dibalas kedipan tak tau diri dari putrinya.


Kadang Anna bingung dengan putrinya itu, Ia bisa menjadi orang terpolos di dunia sekaligus menjadi orang yang seakan mengetahui segalanya. Astaga! Apa Vana memiliki dua kepribadian?!


"Kuncinya." Tukas Henry tidak sabaran. Masih dengan rona merah di wajahnya yang berusaha ia tutupi setelah mendengar ungkapan polos Putrinya.


Mona tergugu sejenak, selanjutnya dalam hati ia tersenyum. Ia yakin Pria dihadapannya mudah untuk di dapatkan. "Ini Kuncinya." Mona menyerahkan dua buah kunci yang masing-masing terdapat gantungan berupa nomor yang berbeda dengan sebuah senyuman paling manis yang Ia miliki.


"Aku mau bareng Ayah." Pinta Vana tiba-tiba spontan membuat pandangan ketiga orang dewasa di depanya tertuju padanya.


"Terus kamu tidur nya dimana sayang?" Tanya Henry dengan nada lembut membuat Mona sontak memandangnya berbinar-binar.

__ADS_1


' Ya Ampun suami idaman gue banget. udah ganteng, lembut lagi' batin Mona sambil memandang Henry dengan senyuman menggoda miliknya.


"Dikasur." Jawab Vana kalem.


"Lah terus gue sama My Hubby dimana curut??" Sahut Anna memutar bola matanya sebal.


Dengan enteng-nya Vana menjawab. "Ayah bisa tidur di kasur sama gue. Sedangkan Lo." Maniknya sengaja menatap Anna. "Gue nggak perduli."


Senyum Mona mengembang. "Adik nya nggak suka ya sama Ibu nya." Sela Mona menatap Vana sambil menunjukkan senyum yang menrutnya paking teduh untuk anak-anak.. "Mau ibu baru nggak? Saya siap kok jadi ibu barunya." Lanjutnya lagi sembari menatap Anna sinis.


"Saya si no!" Jawab Vana menekankan pada kata terakhir. "Tante genit tau." Ungkapnya tidak suka.


Mona langsung menggeram dalam hati tatkala wanita di samping Pria tampan yang di incarnya menertawakanya.


"Kuncinya mana?" Minta Anna di sela tawanya. "Satu saja." Lanjutnya.


"Tap-"


Belum sempat Henry mengucapkan sepatah, Anna sudah lebih dulu menyelanya. "Genit. Gue cabik-cabik Lo." Desis Anna tajam langsung membuat Henry menelan salivannya susah payah.


Dengan kesal Mona menyerahkan salah satu kunci yang sedari tadi menggantung di tangannya. "In-."


Anna langsung menyambar kunci tersebut paksa. Lalu melenggang pergi meninggalkan Suami serta Putrinya.


Vana menyusul Anna dengan senyum cerahnya, sedangkan Henry dibelakangnya tersenyum pahit. Bergegas Ia menyusul Istri dan Anaknya yang hampir mencapai lift susah payah sebab tas dan koper yang Ia duga sengaja di tinggalkan oleh dua yang teramat di cintainya.


Tepat saat Henry sampai di samping Anna, pintu lift terbuka. Namun sebelum pintu lift tertutup sempurna, seruan Mona membuat Henry mematung.


"KALAU BOSEN SAMA ISTRINYA. LANGSUNG HUBUNGI SAYA SAJA. SAYA SIAP 24 JAM NON-STOP."


***



(Note: Headphone milik Vana)


Di dalam lift...


Anna mengumpati Mona dengan segala bentuk hewan yang paling menjijikkan menurutnya. Ia menatap tajam Henry yang berdiri menjulang di sampingnya. "Gue cabik-cabik beneran tau rasa Lo."


Vana yang mendengar perkataan Henry serasa perutnya di kocok untuk segera memuntahkan isi perut nya. Ia yang tidak mau mendengar drama kacangan ala orang tua nya pun mengambil headphone miliknya didalam tas lalu menghubungkan dengan smartphone milik Ayahnya yang sengaja Ia pegang. Kemudian Vana memakai headphone nya dan menaikkan Volumenya. Manik matanya menutup dan Ia duduk bersila di lantai lift dan punggungnya bersender pada dindingnya.


"LO MAU GUE CEKIK JUGA!" Seru Anna kencang.


Wajah Henry memucat. "Engg-"


"APA!"


"Ma-"


"MAAF MULU!"


"Yang."


"YANG YANG PALA LO PEYANG!"


"Sabar." Cicit Henry pelan. Nafas Anna semakin memburu, wajahnya memerah. "GIMANA GUE MAU SABAR. LO DIEM AJA WAKTU HARGA DIRI GUE DI INJAK-INJAK."


"Siapa yang nginjak yang?" Tanya Henry polos. Tidak salahkan jika ia bertanya seperti itu? Tapi jawaban Anna sepertinya ia telah melakukan kesalahan. "LO ****! ATAU PEKOK!"


"Pinter Yang."


"PINTER PALA LO BOTAK!"


"Aa-"


"APA?!" Tukas Anna dengan suara memekakkan membuat Henry meringis karena telinganya yang berdengung.


"Ya-"


"NGOMONG YANG JELAS DONG!"


"A-"


"BUDEG ATAU GIMANA! DI BILANG NGOMONG YANG JELAS JUGA!!" Bentak Anna berkacak pinggang.

__ADS_1


"Aku nggak budeg yang." Sahut Henry terdengar seperti gumaman.


BUGHH!!


Henry meringis setelah mendapatkan pukulan di perutnya. Mungkin jika berada di komik saat ini istrinya bisa di samakan dengan iblis berwajah bak malaikat namun memiliki dua tanduk di kepalanya. 'Anna benar-benar terlihat menyeramkan.' Kata Henry bersungguh-sungguh dalam hatinya tanpa kebohongan sedikit pun.


"MY HUBBY NYEBELIN!" Teriak Anna sebelum pintu lift berdenting menandakan mereka telah sampai di tujuan. Anna segera bergegas keluar lift dengan hati yang masih membara karena kekesalannya yang sudah tak terbendung.


"Aku salah apa coba?!" Gumam Henry tak mengerti. Ia menatap punggung Istrinya yang semakin lama semakin menjauh hingga tertelan pintu kamar mereka yang berada di ujung lorong.


Belum sempat Henry menusul Anna yang sedang marah. Henry menyadari sesuatu bahwa masih ada Vana yang terlihat nyaman di sudut lantai lift yang dingin. Henry sengaja meletakkan barang-barangnya di tengah-tengah pintu lalu ia menghampiri Vana.


Henry menunduk, Ia memandangi Vana dan hanya mendesah berat. Tidak mungkin Ia membawa Vana sekaligus koper-koper yang ditinggalkan istrinya bersamaan. Akhirnya Henry mencoba membangunkan Vana tak tega, meskipun sebenarnya Ia tau bahwa Vana mungkin saja tidak tertidur.


"Zeva...ayo bangun. Tidurnya di kamar aja." Ucap Henry lembut sembari menenpuk-nepuk pundak putrinya tersebut. Namun Vana enggan bergeming dari posisinya.


"Zeva... disini dingin."


Vana diam. Ia tidak tidur, hanya sekedar menutup mata namun Vana berharap Ayahnya mengganggap jika Ia benar-benar tertidur dan akhirnya menggedongnya untuk menuju ke kamar. Vana terlalu malas untuk menggerakkan tubuhnya dari posisinya saat ini.


"Zeva... disini nggak ada selimut."


Dalam hati Vana mendengus.


"Zeva... apa kamu nggak sakit tidur dalam posisi seperti itu?"


'sakit.' Jawab Vana dalam hati.


"Zeva...di sini nggak nyaman."


"Zeva... Ayah sudah selesai di KDRT sama Bunda."


"Zeva... Bunda jadi Juubi."


'Dari dulu.' Batin Vana.


"Zeva... bantu Ayah."


"Zeva... Bunda menyeramkan."


"Zeva... Ayah takut."


'Dasar penakut.' Batin Vana mengejek.


Henry berdecak. Usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Henry yakin Vana hanya berpura-pura tertidur, namun Ia sendiri tidak bisa memastikan keyakinannya tersebut. Vana yang menyukai ketenangan dan akan langsung tertidur karena ketenangan tersebut membuat Henry ragu jikalau Vana tertidur dengan headphone bervolume keras yang melekat di kedua telinganya.


"Zeva...Kamu nggak mau pindah."


Itu pertanyaan terakhir yang Henry ajukan. Ia berjongkok di depan Vana lalu menyeringai tipis. "Maafin Ayah."


"Ayah nggak mungkin ninggallin barang bawaan Bunda. Jadi kamu terpaksa Ayah tinggal. Mungkin jika ada orang lain yang memasuki lift Zeva akan di pungut. Atau mungkin jika orang orang tersebut mau melemparkan uang. Zeva mungkin bisa kaya dengan cepat. Tapi lebih cepat kalau Zeva mau berbaring lalu tidurlah layaknya orang gila."


'Dikira gue pengemis.' Geram Vana dalam hati.


Henry terkekeh sebentar. "Itu hanya saran Ayah."


"Ah tapi kalau orang tersebut adalah OB atau OG mungkin Zeva akan segara di gulingkan sampai pintu lobby karena dianggap sampah. Tapi jika itu wisatawan yang kaya raya mungkin Zeva bisa di jadikan Istri. Atau mungkin pembantu." Bibir Henry berkedut melihat respon Vana yang mengkerutkan dahinya. "Ayah pamit yah. Ayah sedang sibuk dengan Bunda."


Belum sempat Henry keluar dari lift bahunya sengaja di senggol oleh Vana yang menujukkan raut sebal. Putrinya itu berdiri di menghadangnya dengan tangan yang melipat di dada. Henry menunduk karena tinggi Vana yang tidak sampai dadanya. Henry tertawa dalam hati, ternyata Ia tidak salah mengira jikalau Vana hanya berpura-pura tertidur.


"Ayah menyebalkan."


"Ayah sudah tidak waras."


"Ayah Gila."


"Ayah jahat."


Henry menaikkan sebelah alisnya membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat diumurnya yang tak lagi muda.


"SIAL! Ayah tampan." Rutuk Vana kencang. Vana menghentak-hentakkan kakinya kesal sembari berjalan menjauhi Henry hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya


"Mungkin dulu Anna ngidam makan bunglon."


***

__ADS_1


__ADS_2