The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Dua


__ADS_3


"Ku pergi dengan membawa luka, dengan hati yang ku peluk erat karena hancur dan Kau yang membuatnya, tapi..percayalah aku pergi tidak untuk selamanya karena aku akan kembali dengan membawa luka yang sama untuk mu. Agar kau tau ini hati ku bukan mainan mu."


-Zevana-


***


Vana memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Kakinya seolah dipaku hingga tak mampu bergerak. Lutut Vana melemas, tatapan nanarnya juga sulit di alihkan. Vana bergumam lirih, "Vanno." Ada nada tak percaya dalam suaranya.


"Lo disini?" Vana bertanya entah kepada siapa. Mata Vana memanas kemudian terisak pilu. Vana membekap mulutnya agar tak bersuara, tubuhnya merosot diatas pasir. Tidak ada sekat penghalang, hanya sebuah pohon kelapa yang sedikit menutupi namun Vana dapat melihat jelas bahwa cowok yang dilihatnya adalah Vanno. Namun ia tidak sendiri, tampak seorang gadis seusianya juga berada disana sambil sesekali merangkul dan mereka tertawa bersama.


Vana merasakan sesak didadanya. Baru saja ia mulai yakin pada Vanno namun sekarang kepercayaannya benar-benar lenyap tak tersisa. Vana baru sadar bahwa tanpa disadari Vanno telah memasuki hatinya. Vanno telah menjadi dunianya hanya sekejap. Dan Vanno telah menjadi pacarnya dalam sekejap. Vana berharap ini mimpi. Tapi sakit yang dirasakan terlalu nyata untuk disebut mimpi.


"Dia nggak pantes buat gue."


"Dia nggak pantes buat gue."


"Dia nggak.. hik..dia..nggak pantes buat gue." Vana menggeleng kuat sambil menepuk dadanya lebih keras. "Apa salah gue?"


"Kenapa? Kenapa ini menyakitkan. Kenapa lo harus masuk jika lo ingin keluar. Kenapa Van? Kenapa lo bisa semudah itu masuk kedalam hati gue. Kenapa Van? Vanno ... jawab gue." Lirih Vana, bertanya kepada angin kosong didepannya.


"Apa salah gue? Apa gue terlalu berharap sama lo. Apa gue terlalu baper dengan perlakuan lo sama gue? Lo tega tau nggak? Lo jahat sama gue."


"Gue kira lo terima gue apa adanya." Vana ingat pertemuannya sejak awal dengan Vanno. seolah-olah Vana memanfaatkan cowok itu terus menerus, meski sejujurnya Vana memang mencintai uang, namun sesungguhnya Vana hanya mengetes apakah Vanno akan tahan dengan kelakuannya itu. Awalnya Vana percaya tapi tidak untuk sekarang.


Vanno lebih memilih menemui cewek itu dan membuatnya menunggu.


"Gue tau .. gue matre, gue nggak secantik dia dan gue..." Vana memukul kepalanya. "Gue bodoh."


Vana tertawa sumbang. "Ngapain gue nangis, sok-sok an cinta sama dia padahal dianya cuma mainin gue. Hah?! Dia pikir gue barbie yang bisa dia mainin sesuka hati. Emang gue nggak bisa sakit. Emang gue nggak bisa sedih, emang gue nggak bisa mikir?"


"Aishh... gue ngomong apa sih... gue ngomong apa? gue kenapa?"


"Sial!" Mata Vana menyipit kejam. "Gue akan buat lo menyesal! Emang gue kayak cewek lemah yang cuma butuh perlindungan cowok. Lo salah."

__ADS_1


"Gue bakal bikin lo hancur sampai lo sujud minta maaf sama gue suatu saat nanti."


***


Vana hampir terjatuh jika saja ia tak mampu menyeimbangkan tubuhnya. Vana melirik oang yang tak sengaja ditabraknya datar. Tanpa menoleh kembali, Vana melanjutkan langkahnya.


Dahi Jasmine berkerut, tingkah Vana kali ini begitu aneh. Jasmine mengejar Vana dan menahan bahunya. "Kenapa lo Van?" Tanya Jasmine menyelidik.


"Apa?" Kira-kira begitu gerakan bibir Vana. Jasmine semakin bingung pasalnya Vana terlihat lesu seperti tanpa asupan gizi. Padahal Jasmine yakin bahwa Vana habis sarapan besar dengan kakaknya.


"Lo kenapa? Lo baik-baik aja kan." Tanya Jasmine sekali lagi dan Vana hanya mendengus.


Baik-baik pantatmu! Ini gara-gara kakak lo brengsek!


Vana enggan menanggapi Jasmine dan berbalik meninggalkan.


"Gara-gara kak Vanno yah?"


Langkah Vana terhenti. Matanya menahan tangis tatkala nama Vanno terdengar ditelinganya, Vana mengingat semua hal yang dilakukan cowok tersebut. Saat Vanno menabraknya dipantai. Saat Vanno memberikan jaketnya. Saat Vanno menuruti semua keinginannya. Saat Vanno menembaknya. Dan ...


Jasmine akhirnya paham apa yang membuat Vana seperti iku. Jasmine menghela nafas panjang. "Lo nggak baik."


Vana meremas kedua tangannya, "Gue ..."


"Apa ada hama diantara kalian."


"I..itu.." Vana bingung untuk mengatakan 'YA'. Hanya tautan kedua jarinya yang tidak mampu dilihat Jasmine di belakang.


"Gue udah pernah janji kan. Kalau gue bakal jadi jaminannya, gue bakal jadi pelindung Kak Vanno. Lo nggak perlu ragu untuk minta apapun sama gue." Sela Jasmine. Dalam hati Jasmine tau bahwa ada kesalahan namun Jasmine tidak bertanya lebih lanjut.


Vana tertegun. "Apapun."


"Yah apapun."


Vana mengusap air mata disudut matanya. Vana berkata lirih penuh perasaan.

__ADS_1


"Jaga Vanno buat gue."


"Jangan biarin dia mencari gue."


"...dan pastikan dia sehat-sehat saja."


Jasmine membeku ditempat tak mampu berkata-kata saat Vana melanjutkan ucapannya.


"Dan katakan bahwa gue telah jatuh untuknya. Gue hanya akan jatuh untuknya."


Vana telah jatuh cinta pada Vanno. Kenyataan tersebut tidak mampu Vana pungkiri, bahkan meski Vana baru saja merasakan sakit. Vana tetap tidak dapat mengelak bahwa Vana menginginkan Vanno untuknya.


"Lo mau kemana?"


"Pergi."


"Kapan lo kembali." Jasmine melangkah sedikit mendekati Vana yang tidak mau berbalik melihatnya.


"Sampai kewarasan gue hilang. Gue bakal kembali."


Jasmine merasakan jantungnya berhenti saat itu juga. Jasmine tak dapat membayangkan bagaimana jadinya kakaknya menunggu selama itu. "Boleh minta sesuatu."


"Apa?"


"Jangan terlalu lama." Meski terdengar egois Jasmine tetap mengungkapkan keinginannya dengan sungguh-sungguh.


Vana tidak mengangguk ataupun menggeleng. Jasmine membiarkan Vana meninggalkan dirinya sendirian. Kedua tangan Jasmine mengepal erat.


"Gue ikutin mau lo."


***


Revisi


30 Januari 2018

__ADS_1


__ADS_2