
(Mulmed : Kamar Vana Viddson)
***
Waktu tidak pernah memenuhi keinginan ataupun permintaan.
Dia tidak akan berhenti ketika disuruh berhenti.
Dia tidak akan kembali ketika disuruh untuk kembali.
Dia tidak akan berlalu ketika disuruh melengos.
Waktu milik dirinya sendiri.
***
Rumah keluarga Viddson, 23 Juni 2012
BYURR
Vana mengap-mengap meraup udara di sekelilingnya. Air dingin terasa membeku hingga kepalanya. Hidungnya memerah akibat kemasukan air yang disiramkan kepadanya. Vana terbangun, menatap sang pelaku sengit.
Tak masalah jika Ia dibangunkan dengan cara manusiawi, namun Bundanya menyiram tubuhnya yang masih terlelap dengan seember air dingin. Rasanya Vana lebih memilih mati saat itu juga, daripada Ia harus terkaget terus menerus dan akhirnya mengalami sakit jantung. Itu sama saja dengan penyiksaan sebelum mati.
Entah diciptakan oleh apa Bundanya itu hingga tega menyiram tubuhnya dengan air dingin kepada dirinya yang notabenya anak semata wayang. Vana mendengus sembari mengusap kasar wajahnya. Lagi-lagi ia kecolongan. Ia lupa untuk mengunci pintu kamarnya untuk kesekian kali. Akhirnya Bundanya dapat leluasa keluar masuk kedalamnya. 'SHIT!.' Rutuknya dalam hati.
"Bangun juga lo."
Itu adalah kata pertama yang lolos dari bibir Anna setelah Vana membuka mata. Dengan raut menyebalkan Anna duduk angkuh di ujung sofa depan ranjang Vana.
Vana berdecak. "Menurut lo?" Katanya culas.
Anna mengibas-ngibaskan tangannya. Telinganya sudah terbiasa mendengar nada tidak mengenakan dari bibir Vana. Anak gadisnya memang seperti itu sejak menginjak SMP. Katanya biar kekinian dan tidak terlihat membosankan. Dan bodohnya Anna hanya mengangguk menyetujui karena menganggap bahwa dirinya masih muda dan pantas untuk menggunakan bahasa kekinian. Namun meski begitu ia dan Vana menyepakati jika mereka hanya akan menggunaan bahasa itu ketika di dalam keluarga atau hanya ada ia dan dirinya. Well keduanya masih memiiki sopan santun ternyata.
"Mandi gih."
"Lima menit lagi."
Ctakk
Rolling milik Anna mendarat sempurna di dahi putrinya. Tak sungkan ia melontarkan pelototan pada anaknya dan berkata ganas. "Lima menit atau lo mati."
"Mati." Jawab Vana dengan santainya ia menutup mata untuk melanjutkan acara tidurnya yang tertunda. Tidak peduli dengansemilir angin yang rasanya membuat ia berada di negara dengan musim saljunya.
Anna mendengus pelan. Lantas ia bangun dari duduknya dan mendekati Vana. Tangannya terlipat di depan dada. "Ayah punya hadiah. Well kalau lo nggak mau, thanks. Gue dengan senang hati menerimanya."
Mendengar kata hadiah Vana langsung terduduk dan membuka matanya lebar-lebar. Gadis itu menoleh kesamping di mana Bundanya berada. "Hadiah apa?"
"Emm..." Anna mengatupkan bibirnya membuat Vana mengetatkan giginya gemas.
"Em..em...maksud lo nggak tau? Ya kan?" Nada sinis Vana lontarkan pada Anna yang hanya terkekeh menanggapinya.
"Sejak kapan putriku ini menjadi pintar heh?" Tangan Anna hendak mengusap kepala Vana namun langsung di sentak oleh gadis itu.
"Kata Ayah, ia hanya bisa menunggu lima belas menit. Jika tidak hadiah itu sah milik istri tercintanya ini." Ucap Anna tertawa ketika mengucapkan kata terakhir.
"Ayah tidak pernah berkata seperti itu. Jangan bohong." Mata Vana memicing menatap Anna menyelidik.
Anna berhenti memperbaiki rolling rambut yang hampir menutupi seluruh rambutnya. Ekor matanya menatap Vana enggan. Bahunya terangkat acuh. "Terserah."
Vana mengusap dagunya berpikir. "Gue nggak percaya."
Alis Anna langsung terangkat. "14 menit." Ucapnya lantas kakinya berayun hendak meninggalkan kamar Vana.
"A-apa?" Beo Vana bingung.
"13 menit." Ucap Anna cukup kencang di ambang pintu sebelum benar-benar hilang ketika pintu di tutup.
Vana tercengang sebentar sebelum suara lengkingan terus menerus menggema di kamarnya.
__ADS_1
"ASTAGA...!!! CEPAT SEKALI."
"ADUH...KENAPA LANTAINYA LICIN!!"
"SIAPA YANG MENARUH TEMBOK DISINI!!"
"SABUNNYA HABIS..."
"SIAL!! KENAPA TIDAK ADA YANG MEMIHAKKU!!"
***

(Note:Ruang makan keluarga Viddson)
Vana menuruni dua undakan sekaligus. Kakinya bergerak cepat menuruni tangga. Rumah peninggalan kakeknya cukup luas untuknya agar cepat sampai di ruang makan dekat dapur. Meskipun berada di sebuah desa, bisa dikatakan rumah kakeknya inilah yang paling besar. Memiliki 3 kamar utama dan 2 kamar tamu yang masing-masingnya dilengkapi dengan kamar mandi serta walk in closed, satu ruang keluarga dan ruang tamu yang terletak berdekatan, satu ruang makan utama yang memiliki 16 kursi dan satu ruang makan yang terletak di dekat dapur, kolam renang yang berada di sisi timur rumah serta taman belakang yang tak kalah luas dengan halaman rumah.
Vana sampai di undakan terakhir. Kakinya berjalan cepat sedangkan tangannya sibuk menyisir rambut cepaknya yang basah menggunakann jari-jari tangannya.
Tinggal beberapa langkah lagi Vana akan mencapai meja makan yang memiliki tiga kursi kayu yang dua diantaranya sudah terdapat Ayah dan Bundanya. Namun karena kecerobohannya, Vana terjatuh karena menjengkal kakinya sendiri.
Ekspetasi Vana pertama kali adalah Bunda atau setidaknya sang Ayah akan langsung menghampirinya dengan tatapan khawatir. Tetapi tidak dengan kenyataannya. Ekspetasi adalah ekspetasi. Kenyataannya Ayah nya acuh tak acuh sedangkan Bundanya tertawa kencang sebari memegangi perutnya.
Vana menggerutu kesal. Kakinya berdiri sedikit sulit sehingga membuatnya terdiam sebentar. Setelah itu ia berjalan angkuh dan menganggap tidak ada kejadian memalukan seperti barusan. Setelah sampai di kursi yang tersisa Vana mendaratkan pantatnya kasar.
Henry menyeruput kopinya lalu melipat korannya. Ia mengarahkan tatapannya pada Vana. "Apa sakit?" Tanyanya membuat Vana menekuk wajahnya.
Vana sudah hafal dengan sikap Ayahnya yang kurang peka. Wajahnya semakin menekuk ketika tawa Anna sengaja di kencangkan.
"Tidak." Jawab Vana ketus. Setelahnya ia berdehem pelan sebelum mengambil nasi serta lauk pauk dan meletakkan dipiringnya hingga penuh. Kemudian mulai memakannya pelan dan hikmad tanpa menimbulkan suara persis seperti raja yang sedang menikmati masakan chefnya.
"Kenapa lo?" Tanya Anna memandang Vana aneh. Tidak biasanya Vana bersikap tenang ketika memakan masakannya, putrinya itu selalu berisik ketika menikmati masakannya. Seolah tidak pernah habis untuk menjudge masakannya yang kurang inilah itulah.
"Zeva kamu kenapa? Tumben-tumbenan makan sambil diam." Tanya Henry mengungkapkan kebingungan yang sama dengan istrinya. Vana hanya tersenyum samar ketika membalas ucapan Ayahnya. "Bukankah seharusnya seperti itu?"
"..."
"Woy!" Sentak Anna keras namun lagi-lagi Vana diam tidak menyahut seperti biasanya. "Jangan-jangan lo kesambet setan beneran." Lanjut Anna panik.
Vana mendengus. ""Makanlah Bun. Sebaiknya Bunda segera makan dan jangan banyak bicara ketika makan, itu tidaklah baik." Suara lembut milik Vana terdengar mengerikan di telinga Anna. Wanita itu tercengang tak percaya. Lantas kepalanya menoleh cepat ke arah Henry. "Anak kita benar-benar kesambet setan." Gumamnya horor.
Lagi-lagi Vana mendengus. "Makanlah." Ucapnya sebal. Henry mengangguk dan mengulang ucapan Vana.
"Makanlah istriku."
Pipi Anna merona tatkala Henry memanggilnya dengan 'istriku.' Anna mengangguk malu-malu lalu memakan makanannya namun lirikannya tak pernah lepas dari Vana.
Selang beberapa menit Vana menghabiskan makanannya tak bersisa. Ia membawa piringnya menuju wastafe lalu mencuci tangannya. Semua gerak-geriknya tidak pernah lepas dari tatapan selidik Anna dan Henry yang tiba-tiba penasaran dengan perubahan sikap Vana.
Vana tersenyum tipis setelah mendudukkan tubuhnya kembali ke kursi yang sebelumnya. Kedua alisnya tertarik ke atas. Anna dan Henry sedang menatapnaya tanpa berkedip.
"Apa perlu ku bereskan semua?"
Henry menggeleng pelan. Vana memang tidak perlu membereskan meja makan karena sebentar lagi petugas cleaning servis yang disewanya seminggu tiga kali akan datang hari ini.
"Apa Lo sehat?" Vana menepis tangan Bundanya yang hendak memegang dahinya
"Sehat jasmani rohani." Jawab gadis itu kalem. Tangannya bergerak mengambil segelas susu hangat didepannya lalu meminumnya hingga tandas. Setelah itu Vana menatap binar sang Ayah.
Henry menatap putrinya itu dengan dahi berkerut. "Kenapa?"
"Hadiah." Tadah Vana semangat.
"Cih, gaya lo sok baik." Cibir Anna langsung ketika mengetahui bahwa ada maksud lain di balik berubahnya sikap Vana yang terjadi beberapa detik lalu.
"Mau minta apa?" Kata Henry sembari terkekeh kecil. Vana langsung memicingkan matanya. "Apapun?" Henry mengangguk pelan sontak mata Vana langsung membulat, terdengar pekikan senang dari gadis itu.
"Apa kamu senang?"
__ADS_1
"Tentu, siapa sih yang nggak senang kalau di beri hadiah sesuai keinginan kita. " Vana melirik Anna berniat menyindir. Namun wanita itu hanya acuh tak acuh seolah tak mendengar apapun.
Henry tersenyum simpul. "Anggap aja ini sebagai hadiah kelulusan kamu juga sebagai permintaan maaf Ayah dan Bunda karena selama ini cuma memberi seadanya."
"Lebih tepatnya semau Ayah dan Bunda." Koreksi Vana mencebikkan bibirnya kesal. Terakhir saat ulang tahunnya yang ke 12 tahun. Ayahnya hanya memberi pot beserta tanamannya yang didapat dari tetangga mereka yang kebetulan menyukai tanaman. Sedangkan Bundanya memberikan selusin obat perangsang berbagai merek beserta buku cara pemakaiannya. Rasanya Ia ingin menangis saat itu juga.
Anna terbahak tak berdosa. "Masih untung gue kasih hadiah."
Vana mendengus. "Zeva mau liburan." Henry mengangguk kecil. "Kemana?"
"Mesir...mesir...mesir..." Bisik Anna mengompori Vana. Gadis itu memutar bola mayanya. "Lo aja sendiri. Kali aja di pilih jadi pasangan mumi."
"Bagaimana kalau Bali."
"UHUUKK!!!"
Henry langsung tersedak air liurnya sendiri. Tangannya bergerak cepat mengambil air putih di atas meja. "Jangan Bali." Dahi Vana berkerut samar. "Emang kenapa Yah? Kan nggak sampai keluar negeri."
"Selain Bali." Tolak Henry cepat, bahkan terlalu cepat hingga membuat Vana curiga. "Hayoo Ayah punya simpanan di Bali yah."Tuduh Vana sembari menaik turunkan kedua alisnya berniat menggoda.
"UHUKK!!!"
Untuk kedua kalinya Henry tersedak air liurnya sendiri. Wajahnya memerah menahan sakit di tenggorokannya. Tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan air mata.
Anna menatap Suaminya berkaca-kaca. "My Hubby punya simpanan?" Tanya Anna menahan tangis. Henry menengok cepat pada istrinya. "Tidak..tidak...itu tidak benar sayang. Aku sama sekali tidak punya simpanan di Bali atau di manapun."
"Serius?" Henry mengangguk cepat. Vana melanjutkan perkataannya. "Tapi kok gelagapan? Jangan...jangan..." Katanya sengaja menggantung.
Mata Henry membola. Dengan cepat Ia menoleh pada Istrinya yang sudah terisak-isak. Henry mendesah berat, tangannya bergerak mengangkat dagu Anna hingga sejajar dengan wajahnya. "Sayang...kamu tidak percaya sama kesetiaan aku."
"Gimana mau percaya. Kalau janji memberi hadiah apapun sama Zeva aja di ingkari." Sahut Vana memanas-manasi, sengaja Ia menekankan pada kata apapun.
Henry mendelik pada Vana. 'Setan kecil ini.' Geramnya dalam hati.
"Hikss..hiks.." Tangisan Anna semakin menjadi membuat Henry semakin gelagapan. Sangat jarang wanita itu menangis sekencang ini, bahkan untuk pertama kalinya setelah mereka menikah.
"Selain ke Bali ya Zeva. Hawai? Maldives? Paris? Tabungan Ayah masih cukup kok buat pergi ke sana." Tawar Henry pada anaknya itu. Henry akui putri semata wayangnya itu sangat berbakat menjadi setan penghasut.
Tangan Vana terlipat di dada, bibirnya mengerucut. "Tapi Zeva pengen ke Bali. Kata Iyem disana bagus, adatnya masih kental."
"Kemanapun asalkan tidak ke Bali."
"Ta-"
"Tidak ke Bali sayang." Tukas Henry langsung.
"Apa alasannya?"
"Di...di....disana..."
"Apa benar. My Hubby punya simpanan di sana." Seru Anna sedih tangannya mengusap matanya yang lagi-lagi mengeluarkan buliran bening.
"Besok kita ke Bali." Ucap Henry cepat tanpa pikir panjang. Selanjutnya ia merutuki ucapannya dan rasanya Ia ingin menampar bibirnya itu bolak-balik.
Vana langsung bersorak senang. "Makasih Ayah." Ucapnya sebelum mencium pipi kiri Henry dan meninggalkan pria paruh baya itu menuju kamarnya.
Anna menyeka air matanya lalu ikut bersorak. "Makasih My Hubby." Kini giliran Anna yang mencium pipi kanan Henry dan meninggalkan suaminya yang sedang mematung di tenmpat.
Henry tercenung. "Apa yang barusan aku katakan."
"Apa Anna melupakannya?"
" Apa Zeva akan mengingat semuanya?"
***
Jangan lupa semangatnya yah 😊
Tolong berikan komentarnya yah. 😄
__ADS_1