
"Daun itu pun mulai berkelok. Meninggalkanku yang tak tau kapan ia akan berbalik."
-Zevana-
***
"Gue nggak yakin gue anak mereka. Tega-tegannya ngirim gue seenak jidat. Di bayar enggak, minta kok gratisan."
"Kalau aja gue presiden. Sejak dulu gue bakal kasih mereka perintah buat ngrawat dua bayi sekaligus dan secara tidak langsung gue bebas. Tapi ... apa jadinya kalau gue jadi presiden." Vana mengeluh di akhir.
Saat merasakan angin yang semakin dingin Vana kembali merancau sepanjang sisa jalan. Mengutuk Anna tanpa henti karena telah membuatnya keluar tengah malam . Meski jalanan yang dilaluinya cukup singkat mengingat jalanan yang dilalui cukup lenggang sehingga taksi yang ditumpanginya dapat melaju bebas, tapi tetap saja Vana tidak puas sebab waktu tidurnya semakin sedikit. Vana berharap usahanya tidak sia-sia.
Semakin berfikir ke sana. Vana meraung, takut bahwa Vanno ternyata sudah tidur atau lebih parahnya tidak ada di tempat. Uh...itu benar-benar merepotkan.
"Kalau nggak bisa ikut. Gue sunatin dua kali baru tau rasa tuh orang." Vana mengeram. Mempercepat langkah kakinya hingga tanpa sadar menabrak seseorang dari arah berlawanan.
Keduanya mengaduh saat pantat mereka jatuh di lantai. Yang pertama bereaksi adalah Vana, ia langsung berdiri di ikuti seseorang di depannya.
"Kalau jalan pake' cinta dong! Hati-hati jangan sampai masuk kubangan. Dasar! Jomblo atau gimana sih lo." Omel Vana mengejek bersamaan sedikit kebanggaan disana.
Orang yang tak lain Jasmine itu mendesis keras. "Tuh lambe nyinyir amat sih."
Vana menatap takjub Jasmine. "Wishhh... Mimin bisa bahasa jaman now. Keren ... keren ..." Vana bertepuk tangan layaknya anak kecil.
"Siapa yang lo sebut Mimin!" Tanya Jasmine garang. Matanya melotot namun tak membawa pengaruh sama sekali bagi Vana.
"Lo lah. Siapa lagi."
"Mau mati lo!" Tanpa sadar Jasmine menendang sepatu Vana.
"Berani kurang ajar lo."
Jasmine terdiam membuat Vana terbahak.
"Kakak lo di mana?" Tanya Vana kemudian.
__ADS_1
"Di kamarnya."
"Oohh..."
Vana mengangguk pelan kemudian meninggalkan Jasmine dengan langkah tertatih sambil sesekali suara ringisan terdengar dari bibirnya.
Dahi Jasmine mengerut. 'Apa gue terlalu kencang nendangnya?"
Secara cepat Jasmine menyusul Vana dan menyamai langkahnya. "Apa kaki lo sakit."
Vana menggigit bibir bawahnya tanpa berniat menjawab. Jasmine semakin gelisah.
"Apa sesakit itu."
"Ayo gue anter ke rumah sakit."
"Lo ... lo nggak papa kan?"
Melihat setetes air mata di pipi Vana membuat Jasmine ingin menangis rasanya.
Pintu lift masih tertutup. Akhirnya Vana melihat Jasmine sehingga ia dapat melihat wajah pias dicampur kecemasan itu.
"Kaki gue sakit banget. Rasanya semua tulang sendi gue mau patah tau nggak."
Rasa bersalah semakin bergelung di hati Jasmine.
"Gue ... gue minta maaf."
"Lo mau minta apa? Ke rumah sakit. Oh apa lo mau gue cari dokter terbaik buat periksa kaki lo."
Vana menggeleng lemah tak berdaya. "Gue hanya mau minta pendapat lo."
Meski sedikit bingung tapi Jasmine tetap mengangguk. "Pendapat apa?"
"Gimana sama Acting gue?"
__ADS_1
"Apa gue udah pantes dapat piala oscar?"
ZONK!!
Pikiran Jasmine langsung nge-blank. Jasmine ternganga menatap Vana kemudian berteriak. "VANAAA...!! GUE CINCANG ABIS LO!"
"Bodoh! Nendang kayak banci gitu mana bikin gue sakit." Sahut Vana setengah berteriak.
"BENERAN MAU MATI LO!"
***
Kaki Vana yang menggantung bergerak kedepan dan kebelakang. Sinar matahari masih belum sepenuhnya panas, masih redup dan membawa angin dingin. Vana memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Tatapannya hanya menuju laut luas di depannya. Dengan sabar untuk pertama kalinya.
Vana mendesah. Tangannya yang terasa dingin dikeluarkan dan melihat jam berwarna hitam ditangannya sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Artinya, sudah hampir 3 jam Vana berdiam diri di sana tanpa bergerak seinci pun.
Ini kencan pertamanya, bukannya Vana terlalu semangat sehingga ia berangkat satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Tetapi karena Anna yang ngotot mengiming-ngiminginya dengan barang brended miliknya dulu dengan syarat datang lebih awal agar Vanno tidak terlalu lama menunggunya yang jika tidur seperti orang mati dan sulit dibangunkan, begitu katanya. Vana mendecak, jika akhirnya dirinya yang menunggu, meskipun diberi gunung emaspun Vana akan menolak. Meski saat ini Vana berusaha sabar karena sudah terlanjut, well Vana sangat menyesali itu. Vana juga menyesal telah terpengaruh dengan perkataan terakhir Anna. 'Calon menantu membuat senang adikmu. Malam-malam dia rela buatin bunda masakan yang enak. Apa kamu nggak mau balas budi. Apa kamu nggak sayang adikmu.'
Vana kembali melihat jam tangannya.
"Gue... capek. Pantas aja jomblo nggak enak. Orang kerjaannya menunggu." Vana mendesah kecil, tubuhnya bersandar pada punggung kursi kayu yang di duduki. "Tapi lebih nggak enak kalau menunggu pacar yang ingkar janji, nggak ada bedanya."
Sesaat kemudian Vana mendesis. "Pacar yang sulit ditemui biasanya sedang bermetamorfosis menjadi tukang selingkuh." Vana ingat itu, temannya pernah berkata demikian padanya.
Tanpa sadar sudut mata Vana mengeluarkan air mata yang kemudian langsung dihapusnya. Vana duduk tegak, tangannya mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Apa yang gue lakuin. Ngapain gue nunggu tuh orang sampai saat ini...dan...dan...ini nggak sia-sia kan?"
Semalam Vana telah berpikir untuk menerima Vanno selain karena uangnya tapi segalanya. Benar, Vana telah sepenuhnya percaya tapi entah kenapa pagi ini rasanya semakin memudar kepercayaan itu. Berbagai pikiran negatif menghantui Vana sehingga ia merasakan sakit dihatinya.
Vana tertawa sumbang. "Nggak mungkin Vanno hianatin gue. Hello! Seluruh dunia pun tau secinta apa dia sama gue ... gue udah nunggu tiga jam." Vana melirih diakhir katanya. Raut Vana mendatar, ia berdiri dan kembali memasukkan tangannya ke dalam jaket. Kemudian meninggalkan tempat.
"Dia nggak pantes nerima cinta gue."
***
ini cerita pertama ku waktu kelas 1 SMA yang aku publish kembali meski belum selesai. Aku bingung ingin melanjutkan karena pola pikir yang semakin berbeda karena sudah lama berhenti menulis, jadi sebisa mungkin aku akan melanjutkan cerita ini. Setelah selesai aku akan kembali mempublish Versi terbaru nya dengan cerita yang lebih baik.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca