
"Kasih bukti agar aku percaya padamu. Agar kekasih mu ini dapat membuka hati tanpa ragu."
Zevana Ariella V.
***
"Setelah masuk ganti pakaian mu dengan yang lebih panjang, lalu sebelum tidur basuh kaki dan tangan kamu menggunakan air hangat, jangan lupa pakai selimut yang tebal, lalu pendingin ruangannya juga di turunkan, pakai kaos kaki juga jangan lupa. Terus..."
"Cerewet."
"Satu lagi."
"Apa?" Ketus Vana, mendongak sedikit menantang ke wajah Vanno. Spontan Vanno melangkah mundur karena terkejut karena bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Vana. Tanpa sadar Vanno menghembuskan nafas lega beberapa saat kemudian wajahnya menunjukkan senyum nakal.
"Jangan lupa mimpikan aku."
"Oke." Vana mengacungkan jempolnya sembari tersenyum, sepersekian detik wajahnaya menujukkan raut datar. "Satu lagi."
Vanno menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan lupa hadiahnya."
Vanno terkekeh kemudian mengambil sesuatu dari sakunya. "Ini untukmu."
"Ini." Vana tak berniat mengambil kalung berbandul kerang laut di tangan Vanno malah menujuknya tak percaya. "Ini nggak berharga, kenapa nggak kalung mas atau berlian. Lo kan kaya? Apa lo buaya buntung?"
"Buaya buntung. Apa itu."
"Dasar kau buaya buntung tung. Pacaran kok itung-itung tung. Dasar kau buaya buntung. Pencari untung."
Vanno tertawa kecil melihat ekspresi Vana yang menggemaskan saat menyanyikannya "Aku tidak seperti itu."
"Lalu ini."
"Maaf." Kepala Vanno menunduk
Vana berdehem kecil. "Gue bercanda. Bunga dari lo lebih dari cukup kok."
Vanno tersenyum."Apa kamu mau minta bunga seperti itu lagi."
"Apa lo paham maksud gue."
"Sangat paham, yang di pantai itu kan."
"Pacar gue cerdas juga." Puji Vana sambil menepuk-nepuk kepala Vanno. Tapi hal tersebut hanya sesaat setelah Vana sadar apa yang barusan ia lakukan.
"Pa..pakein kalung itu di leher gue."
Vana berputar membelakangi Vanno. Merasakan ada sesuatu di lehernya Vana menggigit bagian dalam pipinya, berusaha untuk tidak berteriak kegirangan. Meski kalung tersebut sangat sederhana tetapi hal tersebut mampu membuat sesuatu dalam dirinya berdesir.
Vana berbalik dan merubah wajahnya biasa. "Thank's." Ucapnya langsung. Vana menunduk melihat kalung tersebut. "Kenapa lo kasihnya kerang, gue lebih suka lautnya."
Vanno menggaruk pipinya canggung. Tidak mungkin kan laut bisa dijadikan kalung, hanya orang gila yang bisa membuat laut asli yang begitu luasnya menjadi kalung. Jikalaupun Vanno memberikan kalung berbentuk laut yang terbuat dari mas atau perak, Vanno tidak yakin Vana tidak akan menjualnya.
"Karena aku inginnya kerang."
Vana mendesis pelan.
"Aku pulang dulu."
__ADS_1
"Tunggu dulu."
Vana memeluk Vanno erat, kedua tangannya terkait di belakang Vanno. Sedangkan kepalanya bersandar pada dada cowok itu. Vana memejamkan matanya sembari menghirup aroma tubuh kekasihnya itu.
Vanno membeku seperti patung, tubuhnya kaku dan tak bergerak. Matanya menatap Vana di pelukannya lantas perlahan membalas pelukan gadis itu. Vanno meluk erat sembari membenamkan kepalanya di ceruk leher Vana. Hingga selama beberapa menit kemudian hanya keheningan yang melanda keduanya karena baik Vana maupun Vanno sama-sama tidak ingin menyudahi kenyamanan yang sedang di rasakan.
Vana melepas pelukannya. Kepalanya mendongak memandangi wajah menawan Vanno ditambah senyum lembut yang terlukis di bibirnya membuat Vana tersenyum manis.
Tiba-tiba Vana mengalungkan kedua tangannya di leher Vanno. Kemudian dengan berani menempelkan bibirnya dengan bibir cowok tersebut. Jantungnya memompa cepat namun Vana menikmatinya hingga membuat dirinya lebih berani menyapu lembut bibir Vanno.
Vana menggerakkan bibinya perlahan ******* bibir Vanno. Rasanya lutut Vana melemas, rasanya semua sendi-sendinya mati rasa. Beruntung Vana merasakan tubuhnya di peluk erat Vanno jika tidak dapat dipastikan tubuhnya akan jatuh melorot.
Vana dapat merasakan lidah Vanno membelit lidahnya beruang kali. Vana yang tak mau kalah pun ikut menggerakkan lidahnya kedalam mulut Vanno dan mulai mengabsen deretan gigi milik cowok itu.
Vana menepuk dada Vanno sebab kehabisan nafas. Setelah melepas ciumannya, Vana mulai menghirup udara dalam-dalam. Setelah pernafasannya kembali normal, Vana kembali tersenyum.
"Ini ciuman pertama yang menakjubkan. Gue nggak nyangka rasanya bakal begini, biasanya gue cuma bisa lihat di drama korea tapi sekarang gue bisa ngerasain sendiri." Ucap Vana kagum, tangan kanannya memegang bibirnya senang.
Kemudian Vana mendongak. Tatapannya jatuh pada bibir Vanno yang memerah sehabis ciuman dengannya. Vana tergila-gila. Tak mampu menahan diri, Vana kembali mengalungkan kedua tangannya pada leher Vanno dan kembali mencium bibir Vanno.
Vana meremas rambut Vanno dan tanpa sadar mendesah. Vana tak memperdulikan mulutnya yang lancang mengeluarkan desahan tersebut. Vana malah makin menikmati ciumannya dan ebih intim. Vana tersenyum puas dalam hati saat merasakan rasa asin dari mulut Vanno karena ia sengaja mengigit bibir kekasihnya itu.
Vanno melepaskan tautan keduanya membuat Vana mendesah tak rela.
"Kenapa dilepas, gue masih kuat nafas sedikit lagi." Sentak Vana masih dengan nafas terengah-engah. "Lo tau."
Tanpa sadar Vana memegang bibir Vanno dan menyapunya lembut. Membuat Vanno menegang sesaat. Tangannya yang masih memeluk pinggang Vana berkeringat dingin. Tatapan Vanno menyapu Vana yang sedari tadi bergumam tidak jelas dalam pelukannya, bahkan sempat mendesah.
Saat Vana tiba-tiba menjauhkan kepalanya, Vanno menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya. Tapi tak mengira bahwa Vana akan memegang bibirnya dengan tatapan memuja. Rasanya Vanno akan gila saat melihat tatapan itu.
Vanno berdehem kecil dan perlahan merilekskan tubuhnya.
Vana tak menyahut hanya mengalihkan tangannya ke bibirnya sendiri. "Sepertinya bibir lo akan menjadi candu bagi gue."
Mata Vanno melebar terlalu terkejut dan tanpa sengaja melepaskan pelukannya. "Apa kamu sakit."
Vana tersentak saat kakinya hampir kehilangan keseimbangan.
"Apa kita harus ke rumah sakit. Sedari tadi kamu terus bergumam dan mendesah." Vanno memegang dahi Vana. "Badanmu tidak panas, apa kamu merasakan sakit di dalam."
Wajah Vana seperti orang bodoh. "Apa gue berhalusinasi." Sial. sial. sial. ternyata gue Cuma berhalusinasi. Bodohnya gue seperti mendamba, memalukan!
Vana menarik nafasnya kesal. Tangannya berkacak pinggang melirik Vanno galak. "PULANG SANA! NGGAK USAH KEMBALI LAGI. NGGAK CAKEP JUGA! PAKE NONGOL TERUS. TERUS JUGA TUH BIBIR...BIBIR LO ITU HARUSNYA DI JAGA DONG! NGGAK USAH LANGSUNG NYODOR SANA NYODOR SINI. Dan ... DAN BIBIR LO SAMA SEKALI NGGAK NIKMAT....hah?! nggak nikmat!" Vana menepuk bibirnya yang seenaknya bicara. Lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Lo bikin gue frustasi tau nggak."
"Salah aku apa?"
"Banyak! udah udah sono lo pergi dari pada bikin gue pusing." Vana mengibaskan tangannya mengusir.
"Yaudah kalau gitu." Vanno melangkah maju hingga membuat Vana mundur terkejut dan punggungnya menempel pada pintu.
Vana tercengang saat sebuah benda kenyal menempel pada keningnya. Vanno mencium keningnya!
"Selamat malam Nano."
Vanno memejamkan mata membuat Vana merasakan panas disekujur tubuhnya. Pipinya merona seperti kepiting rebus, dengan kikuk Vana mendorong Vanno. "Pu ... pulang."
Vanno mengangguk tak rela, lantas melangkah pergi. Tapi baru beberapa langkah sesuatu menahan lengannya. Vanno menoleh dan mendapati Vana menyipitkan matanya. "Ada apa? apa kamu ingin aku di sini lebih lama?"
__ADS_1
"Siapa Nano."
Vanno tersenyum manis dan memalingkan muka malu-malu. "Itu kamu...Nano ku. Vana nya Vanno selalu."
Nyaris saja rahang Vana jatuh. "Itu nama yang manis. Seperti permen." Tapi bohong! Itu adalah nama ter-lebay yang pernah gue dengar. Lanjut Vana dalam hati. Jujur saja mulai menyukai senyum Vanno saat ini dan tidak berniat untuk melunturkannya. Lagi pula ia sudah setuju dengan Jasmine untuk tidak menolak apapun pemberian cowok itu.
Vanno tersenyum semakin lebar. Vana hanya menatapnya tanpa kedip, tatapannya tertuju pada bibir Vanno yang benar-benar menggoda imannya untuk tidak mengecupnya seperti dalam imajinasinya tadi.
Vana mengigit bagian dalam pipinya dan menggeram. Secara tiba-tiba Vana mengecup bibir Vanno sekilas lalu kemudian berlari masuk kamarnya sambil bersuara lebih kencang.
"Besok jam enam pagi di pantai."
Vanno masih tercenung di tempat. Perlahan menyentuh bibirnya hingga beberapa saat kini bibirnya naik membentuk senyum samar.
Vanno menatap pintu yang tadi sempat berdebum kencang sekilas sebelum meninggalkan tempat sambil sesekali bersiul dan berteriak kencang tanpa suara.
Dilain sisi Vana yang masih berdiri di balik pintu kini merosotkan tubuhnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas, ia mengigit bibir bawahnya sambil bergumam. "Manis."
"Apa yang manis?"
Vana mendongak dan bola matanya nyaris jatuh. Kini Henry sedang memandanginya tajam, sedangkan Anna menujukkan wajah menggoda namun siap menerkam.
"Permennya cuma di kecup apa di jilat dan di gigit."
"Lo abis ciuman yah."
Vana tersedak air liurnya sendiri. "Ti ... tidak gue nggak ciuman. Sama sekali nggak ciuman." Cuma kecupan.
"Lo ciuman."
"Tidak!"
"Ciuman."
"Tidak!"
"Kecupan."
"Ti ..." Vana terdiam membuat Anna tertawa puas.
"Zeva." Henry memanggil Vana dingin hingga rasanya Vana menggigil sekujur tubuhnya.
"Tidak papa." Tanpa sadar Vana menghembuskan nafas lega.
"Asalkan kalian sudah menikah." Vana kembali tersedak air liurnya. "Ayah tidak mentoleri untuk kedua kali. Kamu anak gadis Ayah."
"Terus gue harus mentoleri saat Ayah dan Bunda ciuman di depan gue! Dan mentoleri pintu kamar kalian yang terkadang terbuka sedikit saat kaian sedang ena-ena! Sial! kalian bahkan sering ciuman tanpa malu-malu di depan gue." Namun hal tersebut hanya di simpan Vana dalam hati. Kepalanya hanya mengangguk sedikit untuk menjawab pertanyaan Henry.
Anna tersenyum mengejek namun tak urung ada jejak senang di matanya. "Nggak salah gue terima lamaran tuh bocah. Gue yakin dia nggak bakal nyosor duluan sebelum Vana yang mulai."
"Tolong kasih tau pacar lo dong ... Suruh dia buat masakan yang enak buat mertuanya." Anna bersandar di dada bidang Henry dengan manja. Tangannya yang lentik memainkan kacing baju milik suaminya itu.
"What!"
"Sayang ... Anak kita menginginkan itu." Anna mengadu pada Henry saat melihat tatapan tak setuju dari Vana.
"Zeva ... apa kamu tega buat adik mu ileran saat sudah lahir?" Tanya Anna memasang wajah memelas. Lantas bergumam tanpa suara. "Gue bakal biarin lo ciuman sepuas lo. Ikutin permintaan gue atau lo mati."
Vana mengutuk Bundanya dalam hati. "Gue pergi." Ucapnya pasrah.
__ADS_1
***