
Rindu? Wajib Comment!
***
" Hati tidak bisa di sentuh tapi kamu merasa. Tidak tau cinta ataupun sakit tapi hanya berpikir untuk selalu di sisinya."
***
Rambutnya yang panjang terurai seperti air terjun, baunya harum penuh kemanisan yang samar. Bahunya yang seputih salju tampak menggoda di jubah mandi, kakinya yang jenjang juga tampak tak tinggal diam menggoda. Saat-saat ini Vana memang di masa-masa pertumbuhannya dari seorang gadis belia menuju wanita dewasa. Bahkan sebelum menjadi wanita dewasa ia sudah cukup memikat kaum adam tidak tau lagi jika ia benar-benar dewasa, seberapa banyak kaum adam yang akan tahluk dihadapannya.
"Bibi, apa yang anda pikirkan jika bibi tau aku membunuh banyak orang." Vana melirik Bi Siti di cermin menantikan jawabannya.
"Ya ampun non, kalau bercanda suka gitu deh."
"Bi Siti, kalau aku nggak bercanda gimana?"
Bi Siti tertawa "Mungkin Bibi bakal jantungan lalu mati non."
"Bibi jangan sebut kematian."
"Udah ah, non jangan bahas-bahas itu lagi...nggak mungkin non yang sebaik ini membunuh seseorang."
Memang...jika Bi Siti tau jika Vana membunuh banyak orang maka mungkin Bibi Siti akan terkejut bahkan jantungan. Karena itu Vana tidak memberitahunya bahwa tangannya telah membunuh banyak orang. Ia tidak akan membuat musuh jika musuh itu tidak datang padanya juga ia akan menyinggung siapapun yang melanggar batas-batasnya karena itu adalah cara ia melindungi dirinya sendiri dan orang-orang yang di cintainya.
Vana bukan orang suci, ia hanya baik kepada orang yang ingin dia pedulikan dan ia kejam kepada orang yang ingin ia musuhi. Sesederhana itu.
Vana membiarkan bi Siti untuk menyisir rambutnya, keheningan itu begitu damai hingga sebuah suara dering memecah.
"Hallo."
"Vana, ada yang ingin Oma sampaikan langsung, segera kembali ke rumah." Tukas Dakota to the point.
"Ehmm."
Vana menghela nafas panjang. "Apa yang ingin di sampaikan Omanya hingga seserius itu."
***
Vana menuruni tangga perlahan, meskipun belum sampai dapur bau harum dapat tercium sehingga membuatnya lupa ingin tau apa yang ingin di sampaikan Dakota.
Vana menuruni tangga dengan cepat, sehingga ia dapat melihat jelas ke arah sebuah meja besar yang kini sudah terisi penuh dengan berbagai hidangan manis.
Riel keluar dari dapur membawa hidangan terakhir. Sambil melepaskan celemek biru muda tubuhnya, Riel mengisyaratkan Vana untuk duduk.
Tampaknya Vana sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Riel sehingga ia langsung memasukkan banyak makanan ke mulutnya sekaligus.
"Eeemmm.."
Vana terus menerus memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa memperhatikan Riel yang sedang menopang kepalanya dengan tangan seperti sedang menyaksikan video mukbang secara live, apalagi yang membawakan Vana membuatnya semakin betah.
"Apakah enak?" Tanya Riel dengan mata berbinar.
"En, apa lo mau?"
"..."
Melihat Riel yang hanya diam, membuat Vana akhirnya mendongak. Lantas setelah itu ia menyengir melihat piring-piring yang hampir bersih semuanya.
"Emm... sepertinya lo harus diet El, lo terlalu gemuk sebagai model."
'Ini bukan gemuk, ini berisi. Sial! Tidak tau malu! -_-'
***
Riel memeluk Vana dengan sedih di bandara. "Honey, bagaimana bisa kamu ninggalin pacarmu yang seksi ini sendirian bahkan kamu ga bilang terlebih dahulu kalo mau pulang, hiks hiks jahat." Kata Riel genit.
Vana memutar matanya jijik. "Kenapa gue harus beritahu lo dan sejak kapan lo jadi pacar gue."
"Karena aku pacar mu dan itu sejak dahulu."
"Dalam mimpi lo." Kata Vana langsung.
'Kejam, tak berperasaan! Bagaimana bisa dia berubah-ubah, tadi malam ia sangat keren dan manis.'
__ADS_1
Mata Riel berair sehingga membuatnya melahirkan beberapa tatapan kasihan dan kini Vana terlihat seperti seorang penjahat yang menganiaya seorang gadis lemah. Namun bukannya Vana mendapatkan tatapan menuduh seperti yang biasa orang-orang lakukan ketika Riel mengeluarkan jurus tersebut di depan pacar-pacarnya malah Vana mendapatkan beberapa pujian karena ketampanannya yang saat ini sedang menyamar sebagai Felix.
Dapat digambarkan Vana saat ini terlalu jahat untuk merebut orang-orang yang lewat seketika. Ia menggunakan pakaian santai berwarna putih dipadukan dengan celana jins serta satu telinganya tersumpal earphone apalagi sesekali angin lewat dan membuat rambunya berkibar membuat Vana tampak seperti mahluk surgawi. Sangat indah.
Namun tampaknya orang yang menjadi perhatian sama sekali tidak perduli, membuat Riel memajukan bibirnya beberapa senti.
Tak lama kemudian sekelompok orang yang mengenakan jas menghampiri Vana.
"Tuan, hal-hal yang anda inginkan sudah dipersiapkan."
"Apakah Joa sudah sampai di sana."
"Joa sampai tadi malam Tuan."
"Emmm... Mark kamu urus sisanya di sini."
Laki-laki yang dipanggil Mark tersebut mengangguk. "Baik Tuan."
"Tunggu... tunggu... Honey kamu ga akan lama kan?"
"Aku berencana untuk menetap disana, sudah waktunya aku kembali."
Riel merengut, " Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku."
Vana mengabaikan Riel. Tak lama kemudian seorang laki-laki ber jas hitam menghampiri Vana dengan hormat.
"Tuan, pesawatnya sudah siap."
"En."
"Honey jangan pergi." Riel menarik baju Vana yang di lepaskan langsung oleh pemiliknya.
"Sebentar lagi paparazzi akan datang, Riel aku pergi dulu." Vana memeluk Riel sambil membisikan sesuatu. "Sayang, jangan lupa merindukanku."
Riel tertegun seperti patung hingga tidak sadar Vana meninggalkannya sendirian. Samar-samar dapat dilihat bahwa telingannya merah padam dan bibirnya kaku.
Meskipun Riel tau bahwa Felix adalah seorang perempuan, namun jangan salahkan dia karena terlalu tampan bahkan dalam pakaian laki-laki.
"Penjahat! Kejam... sangat baddass aaaa..." Riel memegangi pipinya sambil bergumam. "Tidak bisa dibiarkan, aku harus segera menyusulnya."
***
Rambutnya yang panjang terurai seperti air terjun, baunya harum penuh kemanisan yang samar. Bahunya yang seputih salju tampak menggoda di jubah mandi, kakinya yang jenjang juga tampak tak tinggal diam menggoda. Saat-saat ini Vana memang di masa-masa pertumbuhannya dari seorang gadis belia menuju wanita dewasa. Bahkan sebelum menjadi wanita dewasa ia sudah cukup memikat kaum adam tidak tau lagi jika ia benar-benar dewasa, seberapa banyak kaum adam yang akan tahluk dihadapannya.
"Bibi, apa yang anda pikirkan jika bibi tau aku membunuh banyak orang." Vana melirik Bi Siti di cermin menantikan jawabannya.
"Ya ampun non, kalau bercanda suka gitu deh."
"Bi Siti, kalau aku nggak bercanda gimana?"
Bi Siti tertawa "Mungkin Bibi bakal jantungan lalu mati non."
"Bibi jangan sebut kematian."
"Udah ah, non jangan bahas-bahas itu lagi...nggak mungkin non yang sebaik ini membunuh seseorang."
Memang...jika Bi Siti tau jika Vana membunuh banyak orang maka mungkin Bibi Siti akan terkejut bahkan jantungan. Karena itu Vana tidak memberitahunya bahwa tangannya telah membunuh banyak orang. Ia tidak akan membuat musuh jika musuh itu tidak datang padanya juga ia akan menyinggung siapapun yang melanggar batas-batasnya karena itu adalah cara ia melindungi dirinya sendiri dan orang-orang yang di cintainya.
Vana bukan orang suci, ia hanya baik kepada orang yang ingin dia pedulikan dan ia kejam kepada orang yang ingin ia musuhi. Sesederhana itu.
Vana membiarkan bi Siti untuk menyisir rambutnya, keheningan itu begitu damai hingga sebuah suara dering memecah.
"Hallo."
"Vana, ada yang ingin Oma sampaikan langsung, segera kembali ke rumah." Tukas Dakota to the point.
"Ehmm."
Vana menghela nafas panjang. "Apa yang ingin di sampaikan Omanya hingga seserius itu."
***
Vana menuruni tangga perlahan, meskipun belum sampai dapur bau harum dapat tercium sehingga membuatnya lupa ingin tau apa yang ingin di sampaikan Dakota.
__ADS_1
Vana menuruni tangga dengan cepat, sehingga ia dapat melihat jelas ke arah sebuah meja besar yang kini sudah terisi penuh dengan berbagai hidangan manis.
Riel keluar dari dapur membawa hidangan terakhir. Sambil melepaskan celemek biru muda tubuhnya, Riel mengisyaratkan Vana untuk duduk.
Tampaknya Vana sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Riel sehingga ia langsung memasukkan banyak makanan ke mulutnya sekaligus.
"Eeemmm.."
Vana terus menerus memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa memperhatikan Riel yang sedang menopang kepalanya dengan tangan seperti sedang menyaksikan video mukbang secara live, apalagi yang membawakan Vana membuatnya semakin betah.
"Apakah enak?" Tanya Riel dengan mata berbinar.
"En, apa lo mau?"
"..."
Melihat Riel yang hanya diam, membuat Vana akhirnya mendongak. Lantas setelah itu ia menyengir melihat piring-piring yang hampir bersih semuanya.
"Emm... sepertinya lo harus diet El, lo terlalu gemuk sebagai model."
'Ini bukan gemuk, ini berisi. Sial! Tidak tau malu! -_-'
***
Riel memeluk Vana dengan sedih di bandara. "Honey, bagaimana bisa kamu ninggalin pacarmu yang seksi ini sendirian bahkan kamu ga bilang terlebih dahulu kalo mau pulang, hiks hiks jahat." Kata Riel genit.
Vana memutar matanya jijik. "Kenapa gue harus beritahu lo dan sejak kapan lo jadi pacar gue."
"Karena aku pacar mu dan itu sejak dahulu."
"Dalam mimpi lo." Kata Vana langsung.
'Kejam, tak berperasaan! Bagaimana bisa dia berubah-ubah, tadi malam ia sangat keren dan manis.'
Mata Riel berair sehingga membuatnya melahirkan beberapa tatapan kasihan dan kini Vana terlihat seperti seorang penjahat yang menganiaya seorang gadis lemah. Namun bukannya Vana mendapatkan tatapan menuduh seperti yang biasa orang-orang lakukan ketika Riel mengeluarkan jurus tersebut di depan pacar-pacarnya malah Vana mendapatkan beberapa pujian karena ketampanannya yang saat ini sedang menyamar sebagai Felix.
Dapat digambarkan Vana saat ini terlalu jahat untuk merebut orang-orang yang lewat seketika. Ia menggunakan pakaian santai berwarna putih dipadukan dengan celana jins serta satu telinganya tersumpal earphone apalagi sesekali angin lewat dan membuat rambunya berkibar membuat Vana tampak seperti mahluk surgawi. Sangat indah.
Namun tampaknya orang yang menjadi perhatian sama sekali tidak perduli, membuat Riel memajukan bibirnya beberapa senti.
Tak lama kemudian sekelompok orang yang mengenakan jas menghampiri Vana.
"Tuan, hal-hal yang anda inginkan sudah dipersiapkan."
"Apakah Joa sudah sampai di sana."
"Joa sampai tadi malam Tuan."
"Emmm... Mark kamu urus sisanya di sini."
Laki-laki yang dipanggil Mark tersebut mengangguk. "Baik Tuan."
"Tunggu... tunggu... Honey kamu ga akan lama kan?"
"Aku berencana untuk menetap disana, sudah waktunya aku kembali."
Riel merengut, " Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku."
Vana mengabaikan Riel. Tak lama kemudian seorang laki-laki ber jas hitam menghampiri Vana dengan hormat.
"Tuan, pesawatnya sudah siap."
"En."
"Honey jangan pergi." Riel menarik baju Vana yang di lepaskan langsung oleh pemiliknya.
"Sebentar lagi paparazzi akan datang, Riel aku pergi dulu." Vana memeluk Riel sambil membisikan sesuatu. "Sayang, jangan lupa merindukanku."
Riel tertegun seperti patung hingga tidak sadar Vana meninggalkannya sendirian. Samar-samar dapat dilihat bahwa telingannya merah padam dan bibirnya kaku.
Meskipun Riel tau bahwa Felix adalah seorang perempuan, namun jangan salahkan dia karena terlalu tampan bahkan dalam pakaian laki-laki.
"Penjahat! Kejam... sangat baddass aaaa..." Riel memegangi pipinya sambil bergumam. "Tidak bisa dibiarkan, aku harus segera menyusulnya."
__ADS_1
***
Voment jangan lupa 😁