The Devil Nerd

The Devil Nerd
Lima Belas


__ADS_3

"Cukup aku yang mengejar dan kamu cukup buka pintu untukku agar aku bisa leluasa masuk dan mengusai seluruh ruang hati lo."


- Revanno Georgio VR -


***


Vana ternganga mendengar nominal yang disebutkan Vanno. Vana mengerjabkan matanya berulang kali sebelum menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. 'Uang segitu bisa buat bikin pesta sekampung selama tiga hari tiga malam.' Batin Vana licik tapi segera ia tepiskan.


"Dua juta cukup."


Vanno mengangguk. Tangannya kembali mengeluarkan uang sejuta dari dompetnya. "Aku akan memberikan yang kamu mau."


Vana sempat tersipu akibat ucapan Vanno tapi sesegera mungkin ia kembali menormalkan wajahnya. Vana berdehem kecil. "A..ah ya terserah lo sih."


Kedua tangan Vanno menyanggah dagunya. Senyum tipis terukir di wajah tampannya, secara saksama ia akan mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir mungil Vana.


"Gue nggak tau apa yang terjadi. Gue cuma mengingat sesuatu." Ucap Vana memulai ceritanya ragu.


"Seperti apa?"


"Umm.. penculikan?" Tanya Vana tidak yakin.


"Gue rasa sih iya. Gue Cuma inget kalau paman yang gue sayangi menculik gue, ah atau mungkin nggak? Apa paman gue Cuma membawa gue doang yah?" Vana mengetuk-ngetuk dagunya bingung.


"Paman?"


"Un. Gue sayang banget sama paman gue, sebab dia yang ngajarin gue banyak hal. Mulai dari beladiri hingga menjadi orang yang mudah di tindas orang lain. Pokoknya paman gue yang selalu ada saat kedua keluarga gue sibuk. Termasuk ketika bunda hamil dulu, semuanya benar-benar mengabaikan keberadaan gue. Seingat gue, dulu Bunda memang pernah hamil tapi bayinya keguguran saat melahirkan. Kalau nggak mungkin saat ini adik gue udah bisa merangkak kemana mana." Vana tertawa kecil tapi jika didengar baik-baik maka ada nada sendu didalamnya.


Vana mendesah pelan sebelum melanjutkan ceritanya. "Samar-samar gue cuma liat paman gue sama perempuan seksi. Perempuan itu sangat cantik, gue rasa paman gue suka sama dia. Padahalkan gue kan menghindar selama setahun doang. Gue takut bikin paman gue khawatir dan nggak bisa menyelasaikan ujian sekolahnya saat itu jadi gue nggak mau ketemu dia dan bikin dia khawatir."


"Ka..kamu suka sama dia?"


"Un." Tanpa sadar Vana mengangguk. Lalu ia seakan tersadar akan kesalahannya, Vana langsung menoleh cepat kearah Vanno. "Ma..maaf."


"Nggak papa, lanjutkan."


"Gue memang suka sama paman gue. Jadi gue marah karena sekarang gue nggak pernah lihat dia lagi. Gue rasa dia udah bahagia sama cewek itu." Ucap Vana sendu, tangannya mengepal erat hingga memutih. Tanpa disadari sudut matanya mengeluarkan air mata tapi segera Vanno hapus menggunakan ibu jarinya.


"Izinkan aku menggantikan nama paman mu dihatimu."


Alis Vana menyatu, ragu ia menjawab. "Terserahmu."


***


"Dari mana lo?"


"Makan." Jawab Vana pendek. Vana langsung mendudukkan tubuhnya disofa disudut ruangan sedangkan Vanno duduk disampingnya tanpa tau malu.

__ADS_1


Vana melirik Vanno. "Lo kok nggak pulang sih."


Vanno tersenyum. "Usaha." Ucapnya kemudian berbisik ke telinga Vana. "Menggantikan pamanmu."


Vana mendengus sedangkan Vanno terkekeh.


Anna yang melihat interaksi Vana dan Vanno menyeringai. "Lo suka sama anak gue?"


Dengan mantap Vanno mengangguk. "Iya Bunda."


Vana ternganga, secepat kilat ia menatap Vanno tak percaya. Apa tadi? Bunda? Benar-benar tak tau malu. Sejak kapan Vana dan Vanno memiliki Ibu yang sama?


Anna tertawa kecil, begitupun Henry. Reaksi cowok disamping Vana benar-benar menyenangkan. Setidaknya Vanno tidak menutup-nutupi perasaannya dengan begitu Anna dan Henry tersenyum puas. Seorang laki-laki yang jujur biasanya bukan pengecut yang tak mau berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Ah baiklah, panggil gue Bunda. Sekarang gue mau tanya? Apa jaminannya?"


"Saya pewaris sah perusahaan VR company."


"Tidak cukup."


"Saya memiliki beberapa restorant dibeberapa negara dan itu merupakan milik saya sendiri."


"Tidak cukup."


"Saya memiliki cinta dan kesetiaan."


Vana ternganga, ia merasa dinego saja oleh bundanya. Memangnya ia barang? "Gue nggak mau."


Raut Vanno yang semula cerah kini meredup. Kepalanya menoleh sedih, kenapa Vana menolakmnya? "Kenapa?" Tanya Vanno pelan.


"Karena gue nggak cinta sama lo dan gue nggak mau nikah muda. Dikira jaman nenek monyang, umur 9 tahun udah tua untuk menikah. Ogah." Ah, seharusnya Vana juga seperti itu kepada Mamanya Vanno. Tapi kenapa ia tidak berani dan baru berani sekarang.


Anna melotot. "Dungu lo yah? Gue Cuma bilang dijodohkan bukan nikah sekarang ****!" Sentak Anna kesal sedangkan Vana hanya menyengir. Karena terlalu kaget Vana tak dapat menangkap perkataan Anna dengan baik.


Tanpa sadar Vanno menghembuskan nafas leganya. Baru saja jantungnya terasa mau copot karena penolakan Vana. Sekarang Vanno kembali memperlihatkan senyum lembutnya ke Vana


"Makasih." Gumam Vanno pelan. Vana pura-pura membuang muka ketika merasakan pipinya memanas.


"Apa kamu lapar?" Tanya Henry yang sedari tadi hanya diam. Tangan Henry mengusap rambut pirang Anna lembut.


"Gue nggak laper. Tap..tapi anak kita sepertinya menginginkan sesuatu."


Hnery mendesah pelan. Anna sudah beberapa kali menginginkan sesuatu yang aneh baik siang, sore ataupun saat tengah malam. Meski beberapa kali mengeluhkan permintaan Anna pada Vana, tapi Henry tetap melakukan sesuai keinginan Anna sebab ia sudah berjanji menjadi suami yang baik untuk Anna. Henry tak mengira bahwa keinginan tersebut berasal dari anak yang sedang dikandung Anna.


'Semoga tidak aneh-aneh.' Do'a Henry dalam hati.


"Calon menantu, apa lo bisa bantu?"

__ADS_1


Vanno mengangguk semangat tatkala mendapat lampu hijau dari Bunda Vana. "Saya akan membantu sebisa saya."


"Good."


Anna tersenyum, tangannya membelai lengan Henry.


"Gue pengen rujak."


"Nanti aku beliin ya sayang."


Anna memainkan jari-jarinya. Lalu tersenyum polos. "Bukan buat gue makan, tapi buat lo semua jual."


"Gue tolak." Ucap Vana cepat. Sedangkan Henry langsung menoleh memohon.


"Uang jajan naik." Seperti itulah gerakan bibir Henry yang mampu Vana tangkap.


Vana memajang wajah terpaksa seolah tak tega melihat wajah memelas Ayahnya. "Baiklah."


Anna bertepuk tangan bak anak kecil. "Kalian berdua." Anna menujuk Henry dan Vanno. "Jadilah SPG nya dan berpakailah seperti noni belanda."


"A..apa?"


"Tidak menerima penolakan."


"Aku setuju." Vana tertawa melihat wajah masam Ayahnya dan Vanno.


"Sore ini."


***


Just Info: Vana dan Vanno pervert karena ada alasannya sendiri yah.


Karena keingintahuan Vana yang begitu besar, Vana sering tak sengaja melihat Orang tuanya melakukan hubungan intim yah seperti ciuman.


Lalu untuk Vanno sendiri. Dia adalah orang Amerika dan ini adalah liburannya ke Bali setelah sekian lama tidak mendatangi tempat kelahiran neneknya. Taulah orang barat itu seperti apa


Lalu, untuk info umur.


Vana dan Vanno berjarak satu tahun tapi meski begitu Vanno masih SMP sedangkan Vana sudah mau memasuki SMA.


Dulu Henry dan Anna orang yang sibuk jadi tidak tau saat Vana mengikuti anak-anak SD kesekolah dan memakai seragam milik tetangganya di jemuran.


(Dulu tidak ada batasan masuk SD umur berapa yah, kakakku saja dulu masuk SD saat umur 3 tahun)


Tiba-tiba mereka sadar bahwa Vana sudah kelas tiga padahal umurnya saat itu masih awal 6 tahun.


Sejak saat itu Henry dan Anna lebih perhatian pada Vana, tapi sejak Anna diketahui hamil mereka kembali mengabaikan Vana. meski Vana nggak peduli sih. (karakter Vana disini acuh tak acuh saat itu karena selama ada Dandy disampingnya itu cukup.) dan mereka kembali perhatian setelah Vana diketahui sakit.

__ADS_1


Setelah keluarga Viddson bangkrut mereka benar-benar menjadi keluarga harmonis. Dan saling peduli satu sama lain.


__ADS_2