The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

"Hatimu milikmu tapi cinta tidak. Kau... tidak akan pernah bisa memilih cinta."


***


3 Tahun Kemudian


Deru klakson kencang saling memburu tak habis-habisnya bergema malam itu. Suara sorakan penonton pun tak mau kalah berdengung dari sudut hingga sudut. Semakin malam semakin ramai para penonton tidak mau kal ah satu dari yang lain saling memamerkan orang yang mereka dukung.


Pembalap mulai membunyikan klakson tanda ingin cepat-cepat memulai pertandingan. Seorang wanita memakai gaun pendek dan seksi memegang bendera ditangannya berjalan ke tengah jalan semakin membuat penonton riuh dan bersemangat. Saat wanita seksi itu hendak melemparkan benderanya suara mobil lain bergema berlawanan arah dari sisi start.



~Mobil yang di Pakai Felix~


Mobil mewah berwarna biru itu menarik perhatian para penonton. Penonton penasaran dengan siapa yang ada di dalam mobil yang mempunyai nyali untuk menghentikan pertandingan yang bahkan belum di mulai apalagi pertandingan ini milik orang-orang atas.


Seorang wanita berpakaian seksi keluar dari dalam mobil, berpakaian merah menyala serta menunjukkan kakinya yang jenjang membuat tatapan para penonton menjadi panas. Tak lama kemudian keluar seorang lagi dari balik pintu kemudi. Meski bertubuh kecil dan ramping tetapi wajahnya sangat menawan, dengan memakai jaket hitam dan memakai topi baseball berwarna hitam kontras dengan kulitnya yang putih membuatnya tampak indah di malam hari. Saat tatapan matanya yang tajam men nyapu, semua orang tanpa sadar menahan nafas melihat Felix seolah-olah mahluk tanpa cela.


Tidak tau siapa yang memulai tetapi para penonton mulai menjerit. "Aaaahhh bukankah itu Felix Arcelix! Aku tidak percaya bisa melihatnya langsung."


"Dia benar-benar Felix, oh oh aku pernah melihatnya di majalah."


"Benarkah! Dia lebih tampan dari yang di majalah."


"Bukankah wanita di sampingnya adalah model ternama Riel, aku tidak percaya mereka benar-benar pacaran seperti yang di katakan rumor."


"Mereka seperti pasangan yang di buat surga."


Riel menikmati semua tatapan kagum, iri dan membenci yang di tujukan padanya. Tangannya merangkul lengan Felix lebih mesra dan dengan sengaja menempelkan dadanya ke lengan Felix. "Baby, bukankah kita seperti pasangan abadi." Riel mengedipkan matanya genit, Felix diam-diam mendengus.


Seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri Felix dan menepuk punggungnya seperti saudara. "Oy Bro...dateng juga lo, gue kira setelah kecelakaan lo kemarin bakal ****** lo."

__ADS_1


Riel melotot pada Justin penuh permusuhan. "Sial Lo!"


Melihat Riel, Justin mengangkat kedua tangannya dengan senyum lebar. Matanya menatap Riel menggoda. "Kali ini kalau lo kalah lo harus kasih gue dia."


" Kalau gue yang kalah..."


"Pulau Penglai jadi milik gue."


Pulau Penglai merupakan pulau pribadi milik Justin di Cina. Untuk sampai ke pulau tersebut harus melewati laut terlebih dahulu dengan pemandangan yang indah dan ketenangan yang terjamin membuatnya sangat cocok untuk dijadikan pulau pribadi. Felix berniat memberikannya sebagai hadiah pernikahan kedua orang tuanya.


"Setuju."


Justin ingin menjabat tangan Felix saat lelaki tersebut hanya diam menatap tangannya tanpa berniat menyambut. Akhirnya Justin mengangkat tangannya tertawa canggung.


"Sa...sayang...kamu benar...benar...aku buat dia?" Riel memegang kedua lengan Felix dengan tatapan memohon. Felix menaikkan satu alisnya saat menatap Riel seolah berkata 'Itu bukan urusan gue.'


Riel menggertakkan giginya menahan rasa sakit di hatinya. "Sayang...Pokoknya kamu harus menang untukku, oke."


Felix kembali memasuki mobil sportnya, Riel menyingkir dengan senyum sombongnya karena merasa bangga mempunyai Felix yang tampan dan kaya juga terkenal sebagai pembisnis sukses.


Di tribun para penonton mulai kembali bersorak meneriaki penuh semangat saat seorang wanita seksi berpakaian super mini berjalan sambil membawa bendera dan suara klakson semakin berlomba-lomba untuk menjadi yang paling kencang. Saat wanita seksi tersebut melemparkan benderanya, balap mobilpun di mulai.


Didalam mobil, Felix mengendarai mobil sportnya dengan satu tangan sambil mengunyah permen karet di mulutnya. Mobilnya telah di modifikasi sedimikian rupa sehingga Felix hanya perlu melihat sekilas layar di depannya dan langsung tau bahwa dia berada di urutan terakhir. Tatapannya menyapu tribun penonton dan melihat keriuhan penuh kekecewaan atas dirinya, Felix menyeringai.


Saat tinggal satu putaran terakhir, Felix membuang permen karet yang sudah hambar lantas menaikkan sebelah alisnya. "Membosankan." Kedua tangannya memegang kemudi lantas kakinya menekan pedal gas dan melaju kencang. Mobil sportnya berkelok-kelok melampaui mobil yang sebelumnya ada di depannya dan terus berlanjut hingga akhirnya Felix melampaui harapan semua orang, dia..dia memenangkan pertandingan di detik terakhir. Semua yang menyaksikan hal tersebut hampir menjatuhkan rahangnya karena syok, tercengang dan sebagainya.


"Di..dia menang.."


"Oh oh...Tuan Arcelix! Anda sangat tampan."


"Tuan Arcelix! Sekarang aku penggemarmu."

__ADS_1


"Tuan Arcelix aku ingin membuat bayi denganmu."


Seruan heboh hanya diabaikan Felix, setelah turun dari mobil Riel langsung menghampirinya dengan senyum lebar. Riel langsung menghimpitnya sambil menatap tajam satu persatu gadis-gadis yang menatap Felix dengan tatapan memuja. Riel sengaja mendekati telinga Felix agar terlihat intim. "Sayang...kamu melakukan yang terbaik."


"Mhm...lalu lo harus memberikan yang terbaik malam ini."


Riel dengan senyum mempesona mengangguk semangat, tak masalah bahkan meskipun Felix tidak memintanya...untuknya dia akan selalu melakukan yang terbaik.


Felix menghampiri Justin yang sedang memegang kepalanya frustasi, dia sudah tau hasil akhirnya seperti ini tapi dia tetap aja bertaruh dengan keberuntungan sekali lagi seperti saat terakhir kali Felix kecelakaan sehingga dia bisa memenangkan pertandingan dan mendapatkan wanita yang terakhir kali di bawanya.


"Besok pagi sertifikatnya harus sudah ada di rumah gue."


"Gue tau."


Felix pergi diikuti Riel yang masih posesif memeluk lengannya. Justin menatap punggung Felix yang mulai menghilang memasuki mobil. Hingga saat mobil Felix pergi, Justin masih menatap arah terakhir dimana mobil tersebut menghilang. Justin menghela nafas panjang, dia benar-benar gila karena menyukai Felix dan ingin menjauhkan semua orang yang menghalangi jalannya.


Sudah sejak lama Justin meragukan orientasi seksualnya, bagaimana bisa dia menyukai laki-laki. Mulai sejak itu Justin sering mendatangi rumah bordil dan memacari beberapa model namun hasilnya nihil. Tak hanya itu, ia bahkan mencoba mendatangi rumah bordil gay tapi hal tersebut malah membuatnya jijik. Tetapi kenapa harus Felix diantara jutaan orang yang tidak membuatnya jijik. Kenapa Felix harus seorang laki-laki? Andai saja Felix seorang wanita ia tidak akan pernah merasakan kegilaan seperti ini.


Justin meninggalkan arena dan memasuki mobilnya. Meninggalkan sekelompok orang yang masih ramai berdiskusi tentang bagaimana seorang Felix, betapa jantannya Felix, dan bagaimana hebatnya jika mereka bisa menjadi pacar seorang Felix Arcelix.


Diam-diam di sudut ruangan seorang laki-laki berperawakan tegas melihat seluruh kejadian melalui cctv yang ada di arena. Tangannya menopang gelas berisi anggur, matanya tak pernah lepas dari Felix apalagi melihat sosoknya yang indah dan tajam yang membuatnya sesaat linglung. Perasaan itu sangat akrab.


Laki-laki itu menyesap anggurnya perlahan. "Cari identitas laki-laki itu."


"Baik tuan muda."


Setelah merapikan jasnya yang sedikit acak-acakan, lelaki berwajah tampan tersebut meninggalkan tempat. Jika di perhatikan sedikit lebih maka dapat di temukan senyuman samar di wajahnya. Selain dia tidak ada yang penah menarik minatnya tetapi Felix mampu, laki-laki itu yakin identitas Felix tidak sesederhana itu.


***


Komentar Mencapai 20 saya akan langsung Up sampai chapter 32

__ADS_1


__ADS_2