
"Satu takdir yang mempetemukan kita tanpa sengaja, memulai takdir lainnya untuk mempertemukan kita untuk seterusnya."
***
Vana berdiri, pakaiannya yang basah membuat Ia membawa beban lebih. Tidak perduli jika saat ini tubuhnya sudah menggigil Vana tetap melanjutkan langkahnya. Diambilnya sebuah batu sedang di dekatnya dan tepat.Vana melemparkannya sesuai sasaran mengenai punggung laki-laki yang tadi menabraknya.
Vana menyeringai melihat reaksi laki-laki tersebut. Berjalan sedikit cepat dan menghampirinya dengan emosi. "Apa?" Kata Vana sinis.
"Maksud lo apa?"
"Lo tanya gue." Ucap Vana pura-pura menengok ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung.
"Menurut lo." Ketus laki-laki tersebut. Yang ditanggapi senyuman polos Vana."Bukan gue."
Vanno berdecak. "Ck, itu lo."
"Itu gue yah. Kok gue nggak tau sih." Jawab Vana dengan wajah di buat se-bodoh mungkin.
"Cih nggak usah belaga ****' deh lo."
"Jadi nama lo ****'. Oke perkenalkan nama gue cantik." Ucap Vana tersenyum manis.
Laki-laki tersebut mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Kenapa lo nglempar Gue pake' batu. Lo pikir itu nggak sakit." Katanya cepat sambil menatap Vana tajam.
"Eum..enggak."
"Sial!" Umpat laki-laki itu merasa frustasi sendiri. Apa Ia sedang di permainkan, begitu pikirnya.
Vana mengangguk seolah memahami sesuatu. "Lo emang sial."
"Menurut lo. Lo beruntung. Baju basah kuyup dan rambut acak-acakan. Lo kayak gembel tau nggak."
"Gue emang gembel. Rumah aja masih numpang di rumah orang tua gue. Emang Lo nggak gembel?"
Laki-laki itu kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Vana."Gu-"
"Ah gue tau Lo bukan sekedar gembel. Tapi lo juga..."
"Lo juga?" Laki-laki tersebut mengikis jarak antara dirinya dan Vana. Ia tersenyum samar melihat wajah kaget gadis di depannya.
Vana mengerjabkan matanya tiga kali. Sekarang wajah laki-laki di depannya begitu terlihat jelas karena terkena lampu sorot lampu pantai.
"Tampan."
"Ck, Ternyata lo juga seperti yang lainnya. Cuma menilai dari wajah seseorang." Laki-laki itu manatap Vana sinis. Ia sudah menemui banyak perempuan yang tiba-tiba terjatuh untuk menarik perhatiannya, mencoba untuk terlihat membenci dan tak menyukainya berharap Ia akan memikirkannya. Konyol.
__ADS_1
Vana memiringkan kepalanya. "Lo oplas berapa kali?" pertanyaan Vana langsung membuat laki-laki didepannya menganga. "Hah?"
"Lo oplas dimana? Berapa kali? Mahal nggak." Vana maju selangkah mengamati wajah laki-laki itu dari dekat.
"Gu-gue oplas?" Demi apapun! itu di luar pikiran perkiraannya. Setelah di lambungkan setinggi langit seperti biasanya, sekarang Ia benar-benar jatuh kedalam tanah karena satu orang gadis.
Vana mengangguk.
"Lo buta yah! Gue tampan dari lahir. Gue nggak pernah oplas."
"Masak sih." Tatapan tak percaya Vana di layangkan pada pria di depannya. Gadis itu mendekat hingga tubuhnya menempel pada laki-laki itu. Tangan lentiknya menyentuh seluruh wajah laki-laki itu perlahan mulai dari dahinya yang tidak terlalu lebar namun tidak kecil, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan terakhir bibinya yang merah.
Laki-laki itu terkesiap, rona merah menjalari seluruh wajahnya. Tidak pernah Ia sedekat ini dengan wanita manapun selain keluarganya. Entah kenapa jantungnya semakin berdegup kencang, tubuhnya mendadak membeku, dan rasa panas menjalari seluruh tubuhnya.
Maniknya menatap manik biru milik Vana yang menurutnya indah hingga Ia rasanya akan jatuh terjerumus dan terjerat di dalamnya.
***
Jasmine berkacak pinggang kesal namun setelah itu Ia tertawa kecil. "Sebentar lagi gue punya keponakan." Ucapnya bangga.
Ketika Jasmine ingin menghampiri Vanno berada cukup jauh darinya. Langkahnya langsung terhenti tatkala kejadian tidak terduga, kakaknya menabrak seorang gadis. Namun bukan itu yang menarik, saat ini tubuh antara kakaknya dengan gadis itu sangatlah dekat. Well itu merupakan kemajuan setelah berulang kali Jasmine menyodorkan teman wanitanya untuk mendekati kakaknya itu namun tidak ada berhasil.
Anggaplah Ia gila karena menyodorkan teman-temannya. Tetapi Jasmine percaya akan cinta pertama yang paling indah dan Jasmine ingin membuat sedikit perhitungan kepada kakanya yang sering meremehkan cintanya kepada Aldino, laki-laki yang di cintainya. Jasmine ingin agar Vanno hanya menetapkan satu hatinya untuk satu orang, dan sepertinya Kakaknya itu sudah menentukan siapa orang itu.
"Gue dukung siapapun cewek itu. Nggak terlalu jelek lah buat jadi kakak ipar gue. Tinggal di make over sedikit dan dia cantik." Komentar Jasmine, Ia menatap gadis yang sedang dekat dengan kakaknya itu. Ia tak lain adalah Vana, Zevana Ariella Viddson.
***
Vanno memalingkan wajahnya. Tidak ingin jika Ia sedang blushing di hadapan gadis asing di hadapannya.
"Oke. Gue akuin lo nggak oplas. Lo tampan. Tapi..?"
"Tapi?" Vanno menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi Lo BRENGSEK." Jawab Vana lantang, tangannya di lipat di dada dengan wajah ganasnya itu langsung membuat Vanno terkaget tak percaya.
"LO BRENGSEK! UDAH NABRAK SAMPAI GUE BASAH KUYUP KAYAK GINI DAN LO NGGAK BERTANGGUNG JAWAB!"
"COWOK MACAM APA LO!"
"LO COWOK APA BANCI. NGGAK PUNYA NYALI NGADEPIN GUE?!! NGGAK USAH SOK SOMBONG, NGGAK USAH SOK ACUH,NGGAK USAH SOK CUEK DAN NGGAK USAH SOK DINGIN."
"ITU NGGAK KEREN TAU NGGAK!!!"
"A-apa?"
__ADS_1
"Apa? Lo bilang apa?"
"En-enggak. Bukan itu maksud gue."
"Terus."
"Kita setimpal. Lo udah nimpuk gue pake' batu dan gue udah bikin lo basah kuyup." Jawab Vanno cepat.
"SETIMPAL!" Sentak Vana sinis.
"I-iya."
"Nggak ada di dunia ini yang setimpal. Gue lapar dan gue mau makan."
"Yaudah makan."
"Bayarin dong! Tanggung jawab Lo mana hah? Udah bikin anak orang kelaparan tapi nggak mau bertanggung jawab." Kata Vana membuat alis Vanno langsung menyatu. "Apa hubungannya?"
"Charger selalu berhubungan dengan HP." Jawab Vana asal.
"Heh?"
"Hanya orang dengan IQ tinggi yang bisa paham." Lanjut Vana tidak perduli.
Vana melirik sweaternya yang basah dengan jaket merah maroon milik Vanno bergantian."Serahin jaket Lo." Vanno diam tak menjawab. Tak paham dengan maksud Vana yang terdengar ambigu di telinganya.

(Note: Jaket merah maroon Vanno)
"Jaket lo sini."
"Buat apa?"
"Lo pikir gue nggak kedinginan." Sewot Vana. Sudah cukup sedari tadi Ia kedinginan karena angin malam. Setidaknya Ia harus mengganti pakaiannya dulu.
Vanno mengangguk melepaskan jaketnya menyisakan kaos putih berlengan pendek. Vanno menyerahkan jaketnya itu pada Vana, yang langsung di sambar baik oleh gadis itu.
"Gue mau ganti di toilet sekitar sini dulu." Kata Vana. Lalu Ia mendekat ketelinga Vanno dan berbisik. "Lo jangan pergi. Lo pergi gue penggal." Bulu kuduk Vanno langsung meremang, terlebih karena hembusan nafas Vana begitu terasa di lehernya. Jantungnya lagi-lagi menggila dan rasanya ingin lepas dari tempatnya. 'Ada apa dengan gue?'
Setelah Vana hilang dari pandangannya Vanno langsung mengerjabkan matanya tak percaya.
"Apa gue jatuh cinta pada pandangan pertama?" Gumamnya lirih nyaria tak terdengar.
***
__ADS_1
Aku harap kalian Vote dan komentar.