The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Enam


__ADS_3

"Ketika sebuah cinta sebagai alasan akan peperangan dan Ksatria memimpin dengan gagah dan mempertaruhkan seluruh jiwa. Namun... kelak hanya akan ada sebuah pengharapan... lalu untuk apa perjuangan cintanya?"


***


"Gue juga suka. Gimana dong, kembaranku?" Eldino menyeringai sebentar sebelum wajahnya berubah tidak enak. Apa maksudnya dengan mengabaikannya! Apa saudaranya itu menanggapnya membual?


"Aldino Alessandro, gue serius."


Aldino melirik Eldino dengan wajah seriusnya. "Bermimpilah."


Eldino tampak menggertakkan gigi tak senang, bagaimanapun dia tidak buta dengan cara Aldino menatap Vana tadi, matanya penuh cinta. Tapi dalam hal apapun, termasuk wanita Aldino bahkan tidak pernah meliriknya tapi kenapa saat ia benar-benar menyukai seseorang, Aldino pun harus sama. "Gue bakal bersaing sama lo."


"Sejak kapan lo pernah menang dari gue." Kata Aldino tanpa beban.


Eldino tersenyum kecut, perkataan Aldino sepenuhnya benar.


Sejak kapan gue pernah menang dari dia


Hanya ketika dia mengalah gue bisa menang dari dia. Sial!


"Gue bakal buktiin kalau gue bisa jadian sama Vana."


"Gue tunggu."

__ADS_1


***


Vana menuruni tangga, keadaannya lebih baik sekarang. Ia juga memakai pakaian baru, sebuah dress selurut berwarna pink pucat seluruh tubuhnya polos tak memiliki hiasan apapun membuatnya terlihat murni. Bahkan kedua saudara pun sempat terpesona sebelum Dakota berdehem mengingatkan cucu-cucunya untuk membuat kesan yang baik terhadap Vana.


Dakota mengisyaratkan Vana untuk duduk di samping. Vana tersenyum sopan, kesan terhadap Dakota cukup baik karena ia juga memperlakukannya dengan baik.


Vana memperhatikan pria di samping Dakota dengan saksama, dia seorang pria yang hampir menginjak angka empat puluhan tapi wajahnya masih tetap tampan dan gagah membuatnya terlihat seperti pria berumur dua puluhan. Lantas Vana membandingkannya dengan Dakota, awalnya ia mengira bahwa Dakota terlalu muda untuk menjadi nenek tapi setelah tau umurnya hampir sama dengan suaminya, ia akhirnya mengerti bahwa itu bukan tidak mungkin.


Memperhatikan tatapan Vana Edward hanya tersenyum. "Panggil aku Opa."


Vana menangguk malu karena ketahuan memperhatikan Edward.


Dakota tertawa senang, "Tidak papa, ayo sayang di makan makanannya."


Tiba-tiba seseorang meletakkan nasi di piringnya membuat Vana sedikit terkejut ia baru memperhatikan orang di depannya ternyata itu Eldino, Vana langsung menebak bahwa mungkin itu saudara Aldino karena karakteristik wajahnya yang mirip bahkan mungkin mereka kembar.


Seperti tidak pernah melihat saudara kembar sebelumnya, Vana memadang keduanya takjub beberapa kali.


Eldino tersenyum bangga melihat tatapan Vana. "Apa segini cukup? Karbohidrat baik buat pertumbuhan tubuh lo biar berisi." Dan juga enak di peluk, lanjut Eldino tersenyum.


Vana akhirnya memindai ke piringnya yang hampir penuh dengan nasi, lantas tersenyum manis. "Makasih, aku mencintaimu."


Semua yang ada di meja makan sangat tercengang dengan perkataan lugas Vana terutama Aldino yang langsung menegang dari ujung hingga ke ujung. Berbeda dengan Eldino yang saat ini hatinya melambung senang, senyuman pun terbit di wajahnya.

__ADS_1


Aldino tak ragu mengulangi perbuatan Eldino kini tinggal ia menambahkan beberapa lauk pilihannya ke piring Vana hingga menjulang.


"Makanlah."


Senyum Vana semakin lebar, mendapati makanan mahal ada didepannya terutama ini gratis! Vana tertawa dalam hatinya, tanpa mengeluarkan sepeserpun ia sudah bisa mengisi penuh perutnya. Setidaknya kali ini Vana tidak akan mengeluarkan uang dari kantongnya yang bakal membuat hatinya berdarah.


Keberuntungan macam ini tentu saja tidak di lewatkan Vana, segera ia mencicipi makanan didepannya ketika rasanya begitu menakjubkan bahkan mungkin restoran bintang lima bakal kalah. Hanya masakaan Ayahnya yang dapat sebanding.


"Al, Aku mencintaimu."


Aldino tersenyum lega ini persis seperti perkiraannya.


Eldino tercengang 'Apa-apaan ini! dia baru saja bilang mencintaiku, sekarang dia bilang mencintai orang lain.' Hatinya yang baru saja melambung kini di jatuhkan hingga berkeping-keping. Rasanya Eldino ingin menangis tapi tidak punya air mata.


Dakota tertawa kecil saat melihat nafsu makan Vana yang besar. tangannya tanpa sadar mengusap rambut Vana penuh kasih sayang. "Apa kamu menyukainya, Oma bakal masak lebih banyak lagi nanti."


"Oma, aku lebih mencintaimu."


Semua orang, "..."


***


Minal

__ADS_1


__ADS_2