
"Tali adalah pengerat, bahwa kamu tidak akan jauh dari ku."
-Revanno Van Rover-
***
"Siapa namamu."
Belum sempat Vana mendudukkan tubuhnya dikursi sebuah suara terdengar anggun dan lembut langsung terdengar. Dapat Vana tebak, jika wanita tersebut adalah Ibu Vanno. Pakaian merahnya begitu menggoda sedangkan wajah Eropa begitu mendominasi, terlihat sangat cantik meskipun sudah memliki dua anak seusianya. Di sisi kiri wanita itu juga terdapat seorang pria paruh baya yang terlihat berotot dan tegap, wajah gagahnya tak dapat terelakkan. Vana berdecak kagum, dimatanya kedua orang tersebut terlihat begitu serasi dan cocok. Lau disisi kanannya terdapat seorang gadis yang Vana ketahui sebagai adik Vanno. Penampilannya yang feminim dengan balutan dress merah jambu selutut dan terdapat corak bunga dikerahnya membuatnya tampak mempesona.
Tanpa sadar Vana membandingkan dengan dirinya yang hanya memakai baju kodok dan sepatu bot. Ini memang permintaan dirinya sendiri, namun Vana tak menyangka jika kepedeannya yang selalu meningkat kini turun drastis karena penampilan dua orang didepannya. Namun setelah dipikir, sejak kapan dirinya memperhatikan penampilan? Vana mendengus kemudian mengendikkan bahunya acuh. "Vana." Jawab Vana sebari meredam rasa gugup yang tiba-tiba dirasakannya. Perlahan ia menduduki kursi yang di tarik Vanno untuknya. Kursi yang didudukinya begitu nyaman didepannya pula terdapat berbagai macam makanan yang langsung membuat Vana menengguk ludahnya kasar.
Melihat reaksi wajah Vana membuat Vanno terkekeh pelan. Tangannya bergerak mengacak-ngacak rambut Vana. "Makanlah." Katanya langsung disambut anggukkan cepat dari Vana. Sedari tadi perutnya meronta untuk meminta jatah makanan sebab hari sudah hampir menjalang siang. Sedangkan terakhir kalinya Vana makan adalah semalam, oh ini rekor terbarunya karena tidak makan banyak ketika tengah malam.
Vanno tersenyum lembut. Satu tanganya mengambilkan makanan lalu meletakkannya di piring Vana, sedangkan tangan satunya hanya menopang dagu melihat gadis itu. Pandangannya tak pernah lepas sedikitpun dari gadis itu. Mulai dari caranya makan, caranya mengunyah, caranya yang acuh tak acuh dengan sekitarnya, gerak-geriknya ingin Vanno simpan selalu dalam otakkanya. Sial! Vanno benar-benar sudah tidak waras.
Hanya butuh waktu setengah jam bagi Vana untuk menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Keluarga Vanno yang masih ditempat pun hanya mampu menggelengkan kepala. Sedangkan Vanno sendiri hanya menunjukkan senyum puasnya.
Tangan Vanno meraih tissue didekatnya lalu tanpa aba-aba ia mengelap bibir Vana yang masih terdapat sisa makanan. Vana tertegun mendapat perlakuan tersebut, manik matanya menatap Vanno dengan pandangan yang sulit diartikan. Jujur dalam hatinya ada kekaguman tersendiri untuk Vanno. Vana tak mengelak jika pria itu tampan dan baik kepadanya tetapi dalam hatinya belum ada rasa sedikitpun untuk Vanno. Hal itu disayangkan oleh Vana.
"Ehem..." Jasmine berdehem membuat tatapan yang sebelumnya tertuju pada Vana kini teralihkan padanya. Jasmine menggembungkan bibirnya cemberut. "Pacaran terus...pacaran. Kampret!!" Seru Jasmine kesal. Sedari tadi dirinya hanya dapat menonton, sebab saat Vana datang Jasmine telah menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu. Mengingat jika saat hari sudah siang hanya untuk menunggu Vana yang tidak bangun-bangun. Meskipun begitu tidak ada niatan bagi Jasmine untuk beranjak sebab Mamanya mengancam jika ia pergi sebelum Vana selesai makan, maka semua fasilitasnya akan dicabut sepihak. Sial!
Mendengar hal itu tanpa sadar membuat Vana merona, sedetik kemudian wajahnya berubah tenang seolah tak terjadi apapun. Ini adalah keahliannya, Vana dapat merubah ekspresi apa saja yang ia mau secara cepat. Bisa dibilang hal tersebut mengalir dari gen Ibunya.
Tatapan Vanno menghunus adiknya. Vanno dapat melihat perubahan jelas dalam ekspresi Vana, dan ia tidak menyukainya. Vana terlihat berpura-pura dan menyembunyikannya, Vanno tau jika itu adalah hak Vana. Tapi hal tersebut mencubit keras bagian dalam hatinya, Vanno hanya ingin Vana berbagi kepadanya. Segala rasa yang dirasakan gadis itu. Setidaknya Vanno belum terlambat untuk memulai.
"Calon menantu apa kamu sudah kenyang? Jika belum Mama akan pesankan lagi yang banyak." Suara yang terdengar lembut itu langsung membuat Vana mendongak. Ditatapnya wanita yang itu kagum, namun Vana merasa ada sesuatu yang salah dari kata-katanya barusan hingga tatapan Vana berubah kebingungan.
"Hah? Mama?" Beo Vana terlihat bodoh. Laki-laki disampingnya tertawa kecil membuat Vana meliriknya sinis. Namun Vannopura-pura tidak merasakan lirikan tersebut malah matanya terus-terusan menantap Vana, menikmati gurat wajah gadis itu dengan berbagai ekspresi.
"Mulai sekarang panggil aku Mama. Nanti kalau udah jadi menantu kita akan cepat akrab."
__ADS_1
Aa..apa...Calon menantu katanya?! Telinga Vana baik-baik saja kan?
"Me... menantu?"
"Elle, jangan terlalu blak-blakkan. Calon menantu kita jadi kaget." Sahut laki-laki paruh baya disamping wanita yang dipanggil Elle tersebut. Elle tertawa kecil mendengar nada bercanda dari suaminya.
George Vanrover. Laki-laki yang dinikahi Elle hampir 15 tahun itu masih tampan diumurnya yang tidak lagi muda. Dulu saat sebelum menjadi suami Elle, laki-laki itu selalu diam dan menjauhkan diri dari keramaian. Namun sesaat setelah menjadi suaminya, lelaki itu terlihat sering tertawa dan bercanda. Yang paling Elle sukai dari laki-laki itu bahwa meskipun disuruh menjadi pelayannya, ia akan menyanggupi dengan sepenuh hati. Kenikmatan apa yang dapat didustakan darinya. Tidak ada, maka dari itu Elle sangat mencintai suaminya begitupun sebaliknya.
"Ck, kakak ipar nggak usah canggung karena sebentar lagi kita bakal jadi keluarga." Celetuk Jasmine tanpa mengalihkan tatapannya dari layar smartphonenya. Saat ini dunia maya lebih seru menurutnya sebab disanalah ia dapat melihat laki-laki yang dipujanya selama ini meskipun sebatas layar.
"A-apa?" Nyaris saja rahang Vana jatuh kelantai. Tatapan tak percaya ia layangankan kepada Vanno namun laki-laki itu hanya diam sembari tersenyum tipis menatapnya.
"Aku akan mempersiapkan semuanya. Besok kita akan melamar Vana pagi-pagi sekali." Elle memandang Vana lamat-lamat. "Tenang saja, semunya biar Mama yang urus."
"A... aku masih kecil." Cicit Vana nyaris tak terdengar. Degup jantungnya memompa cepat. Tak pernah sedikitpun Vana membayangkan untuk menikah semuda ini, bahkan meskipun ia di beri pabrik tambang emas sekalipun. Jawaban Vana tetap tidak, tapi kenapa? Lidah Vana serasa kelu untuk mengatakan tidak.
"12 tahun itu udah tua untuk menikah. Orang tua jaman dulu menikahkan anak perempuannya ketika umur 9 tahun. Pokoknya kalian akan meniikah titik." Tegas Elle penuh kesungguhan didalamnya. Jasmine dan George yang mendengarkan ikut mengangguk pasti sedangkan Vanno menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Tap... "
"Papa juga tidak menerima."
"Adik ipar pun sama." Vana melongo, mulutnya terbuka lebar. Sedetik kemudian tangannya bergerak menutupnya. Keluarga Vanno memang sangat kompak namun dilain sisi Vana berpikiran bahwa mereka gila. Perlahan Vana mendekatkan bibirnya ke telinga Vanno kemudian berbisik. "Ternyata tidak hanya Mama lo yang gila. Semua keluarga lo pun sama."
Saat itu juga Vanno merasa ingin mengubur hidup-hidup seluruh tubuhnya.
***
"Bapak tau jalan nggak sih. Dari tadi muter-muter nggak jelas." Celoteh Vana sebal. Kentara sekali bahwa gadis itu sedang memendam emosinya. Tubuh Vana sedikit mencondong ke depan dimana supir taksi berada. Pria berkepala botak itu terlihat acuh tak acuh melihat tingkah Vana.
"Saya tau mbak."
__ADS_1
"Pala lo botak!! Kalau tau ngapain muter-muter." Bentak Vana lagi. Sial! Emosinya yang disimpannya seolah meledak, mendengar jawaban dari supir taksi.
"Saya memang botak mbak."
"Kampret!!" Umpat Vana kencang. Bagaimana Vana bisa menahan untuk tidak berkata kasar bila sudah hampir tiga jam ia dan Vanno berada didalam taksi. Taksi yang ditumpanginya memang melaju tapi ditempat yang sama.
"Vanno, lo tau jalan nggak?" Vana melirik Vanno yang duduk disampingnya, laki-laki itu hanya berdiam diri sedari tadi meskipun Vana tau matanya tak pernah lepas darinya. Dasar laki-laki yang sedang jatuh cinta.
Vanno menggeleng. "Nggak." Jawabnya pelan. Meski itu hanya alibinya agar bisa lebih lama berdekatan dengan Vana. Vanno merasa senang setiap melihat ekspresi yang ditunjukkan Vana, maka dari itu Vanno memanfaatkan kesempatan yang ada. Seperti saat ini, diam-diam Vanno membayar supir taksi tersebut agar melambatkan laju mobil yang dikemudikannya dan membuat ia dan Vana berada didalam taksi selama mungkin.
Vana mendecak. Tangannya kembali memukuli jok pengemudi. "Bangkotan tua. Lo itu sebenarnya tau jalan nggak sih."
Supir taksi itu melirik Vana melalui spion didepannya sebentar lalu kembali acuh-tak acuh sesuai titah laki-laki disampingnya. "Tau mbak." Jawab supir taksi tersebut kalem namun malah membuat Vana kembali emosi. "Lalu kenapa muter-muter terus. Ini kelima kalinya kita lewat sini. Gila lo yah! Apa mata lo rabun nggak bisa liat jalan." Bentak Vana dengan nada tinggi sehingga tanpa sadar membuat supir taksi meringis. Namun lagi-lagi sang supir hanya terdiam dan bersikap seolah tak peduli seperti yang di perintahkan Vanno kepadanya. Lagian uang yang di berikan kepadanya bisa untuk membiayai keluarganya selama lima bulan di kampung.
"Penglihatan saya masih jelas mbak."
Vana mendesah panjang, tubuhnya bersandar pada punggung jok. Sedangkan kedua tangannya dilipatkan didepan dada. "Berapa tahun lo jadi supir taksi."
"Baru hari ini mbak."
"****!" Sontak kaki Vana bergerak menendang jok kemudi kencang. "Berarti lo nggak tau arah menuju ke hotel amigo?"
"Nggak tau mbak." Ucap supir taksi sembari menggelengkan kepala. Langsung saja sebuah tendangan keras kembali mendarat di belakang kursinya. "Terus kenapa tadi lo bilang tau!" Supir taksi tersebut hanya mengelus dada mendapat perlakuan tersebut. "Saya memang tau jalan mbak. Tapi saya tidak tau arah menuju ke tempat yang mbak tuju."
Rasanya bola mata Vana ingin lepas dari tempatnya. Giginya bergemelatuk, kepalanya menoleh cepat pada Vanno. "Vanno, gue minta uang." Ucap Vana sembari merentangkan telapak tangannya ke arah Vanno. Vanno yang tak tahu menahu pun hanya mengerutkan dahi lalu perlahan mengambil dompetnya dan memberikan semua isinya kepada Vana. Namun bukannya diambil semua, gadis itu malah mengembalikkan semua uang Vanno dan menyisakan satu lembar seratus ribuan.
"Lo tau ini apa?"
Vana kembali mencondongkan tubuhnya kedepan. Tangan kanannya yang memegang uang pemberian Vana lurus kedepan, lebih tepatnya kearah supir taksi.
Supir taksi itu melirik uang ditangan Vana lalu mengangguk cepat. "Tau mbak. Itu uang." Jawab supir taksi terdengar nada berbinar dalam suaranya. Saat itu juga Vana kembali menendang jok yang diduduki supir taksi dengan kekuatan penuh.
__ADS_1
"****! UANG AJA LO TAU. *******!!"
***