The Devil Nerd

The Devil Nerd
Delapan


__ADS_3

" Keromantisan dan keharmonisan sebuah hubungan bukanlah nilai dari sebuah penglihatan. Tetapi dari seberapa tulus kasih sayang yang tercurahkan."


***


Pipi Anna bersemu merona merah, dari mana suaminya mempelajari kata-kata seromantis itu?


Anna langsung menutup matanya tak sabaran. Dapat Anna rasakan jika sesuatu yang baru menggantung di lehernya.


"Open your eyes."


Anna mengerjabkan matanya berulang kali sebelum penglihatanya dengan jelas menangkap sebuah kalung berliontin batu sapphire dan bertatahkan berlian.


Sudut Anna tertarik ke atas. "Kok tumben Vana pilih perhiasan yang bagus."


"Heh?" Henry terjengkit kaget mendengar pertanyaan Anna. 'Bagaimana bisa tahu?'


"Insting." Jawab Anna santai.


"Ada kejutan lain."


Dengan gugup Henry menjawab. "A-ada."


"Hiks." Henry terbelalak kaget melihat Istrinya menangis secara tiba-tiba.


Sama sekali tidak tau harus berbuat apa, akhirnya Henry hanya mendekap Anna ke dalam pelukannya dan mengusap punggung mungil istrinya itu beraturan. Setelah cukup lama terdengar suara tangisan Anna akhirnya wanita itu berhenti.


Henry mengurai pelukannya. Ditatapnya sang Istri penuh ketulusan. "Ada apa." Lirihnya pelan.


"Hanya terharu."


"Maaf." Henry menatap Anna sendu, tangannya bergerak menghapus bekas air mata di pipi Istrinya itu. Kemudian Henry mengecup lembut kedua kelopak mata Anna yang sembat cukup lama. "Maaf untuk semuanya. Maaf aku pernah menyia-nyiakanmu, maaf belum bisa membuat mu bahagia bersama ku, maaf pernah membuatmu merasakan sakit hati, maaf jika aku belum bisa menjadi suami yang baik, ma-"


Ucapan Henry terhenti tatkala Anna mengecup bibirnya sebentar. "Sebuah obat dimana Ia adalah perlakuan dan ketulusan. Sebuah obat dimana Ia adalah penyembuh ter-ampuh. Dan My hubby telah memberikanku obat itu. Lalu untuk apa sebuah kata-kata yang berisi rasa sesal jikalau obat sudah menyebar. Bukankah hanya akan ada rasa sakit karenanya. "


Henry mengangguk, di dekapnya tubuh Istrinya dan menghirup dalam dalam aroma yang di keluarkan istrinya. "Makasih Queen."


Anna membalas pelukan Henry lalu berucap sesuatu yang membuat Henry terbelalak kaget.


"Ayo buat adik untuk Zeva."


***

__ADS_1


Seorang pemuda berpewakan tampan dan tinggi di umurnya yang masih muda berjalan angkuh dan sesekali menatap sekelilingnya tajam. Ia kembali memfokuskan jalanannya menyusul keluarganya yang berjalan beberapa langkah di depannya.


Setelah sampai di lift pemuda itu langsung menghembuskan nafas kasar. Hingga sebuah tepukan kencang membuat Ia menoleh ke arah pelakunya.


"Kak, entar temenin gue ke pantai yah." Kata seorang gadis di sampingnya yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, Jasmine.


"Jam?"


"Jam 7 malam. Wokeh." Jasmine berujar mengeluarkan puppy eyesnya. Pemuda di sampingnya itu mengangguk pelan. "Di lobby."


"Sip." Jawab Jasmine mengacungkan jempolnya, mimik wajahnya yang terlihat menggemaskan membuat pemuda itu refleks mengacak-ngacak rambut panjang adiknya itu.


"Kampret!" Umpat Jasmine langsung mendapat lirikan tajam dari kedua orang tuanya.


"Vanno kapan kamu dapat pacar." Sembari menunggu lift menuju lantai yang di tuju. Wanita paruh baya yang di panggil Jasmine 'Mama' itu menanyakan sesuatu hal yang sudah menjadi makanan pemuda yang ternyata bernama Vanno itu selama sebulan terakhir.


Vanno mendengus. "Masih kecil Ma." Jawab Vanno seperti biasanya. Dirinya heran, di saat orang tua yang lain melarang anak-anaknya yang masih SMP untuk berpacaran. Lain hal dengan Mama-nya yang ngotot agar Ia segera mencari pacar.


"Masih kecil aja terus. Kapan Mama dapat momongan kalau kamu kayak gitu. Cepet pilih cewek yang kamu suka, nanti Mama lamarin."


Vanno tidak menjawab. Bertepatan dengan pintu lift terbuka Vanno langsung saja meninggalkan keluarganya di belakang.


"ANAK DURHAKA!!"


***


Sudah satu jam lebih Vanno menunggu Jasmine di lobby. Kakinya mengetuk-ngetik ke lantai tidak sabaran, tanganya bergerak mengutak-ngatik smartphone-nya. Mencoba menghubungi dan mengirimi pesan kepada Jasmine berkali-kali namun tidak ada balasan yang di dapatkannya.


Vanno mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Matanya tak henti meliar mencari keberadaan yang sedari tadi di tunggu-nya.


Drrttt...Drrttt..Drrttt


"Hal-"


"Dimana." Tukas Vanno dengan nada marah yang tak tersamarkan. Yang sedang menelfonnya saat ini adalah Jasmine, seseorang yang sedari tadidi tunggu-nya.


"Pa-pantai." Jawab suara di ujung sana terdengar takut.


"Kapan ke sana."


"Baru saja gue teleport. "

__ADS_1


"Nggak sekalian terbang." Ketus Vanno kesal.


"Kalau gue bisa terbang sih milih terbang, teleport pusing bang" Ngaco nya di seberang.


"Ka-"


Tutt..tutt..tutt


Vanno langsung mematikan telephone-nya sepihak, tak perduli jika saja Jasmine akan mengamuk karenanya. Vanno hanya tidak suka ada orang lain yang mengetahui sisi selain dingin dan angkuh yang biasa Ia perlihatkan.


Sebagai pewaris utama VR Company, Vanno merasa tertuntut untuk bersikap tertutup kepada orang asing. Vanno tidak mau jika saja ada orang asing yang ikut campur kehidupannya, dan Vanno tidak mau diremehkan suatu saat nanti.


"Dimana gue harus mencarinya." Gumam Vanno pada dirinya sendiri.


"Sial! Kenapa gue nggak tanya coba?"


***


Angin yang berhembus dari dataran laut serasa membeku di tubuh Vana. Gadis itu semakin mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri. Vana sengaja menenteng sepatu boot yang di pakainya sehingga kakinya yang tak terbalut apapun begitu merasakan dinginnya air laut.


Vana menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi berjalan di tepi pantai yang dangkal. Manik matanya memandang jauh ke arah laut yang terlihat gelap. Memikirkan segala hal yang baru saja Ia dapat dari kilasan ingatannya.


Ayahnya pernah bercerita bahwa Ia memiliki trauma ketika kecil hingga membuat ia hilang ingatan tentang masa kecilnya meskipun tidak seluruhnya namun ada bagian di mana Ia sama sekali tidak dapat mengingatnya. Tetapi beberapa waktu terakhir Vana berusaha mengingatnya kembali meskipun yang di dapat hanya kilasan yang tidak dapat Ia pahami. Seperti hal-nya mobil hitam dan seorang wanita yang tidak Ia kenali juga pamannya yang telah lama tidak di ketahui keberadaannya.


Vana mengembuskan nafas kasar. Selain masalah ingatan masa kecilnya, Vana pun memiliki masalah untuk mengungkap siapa pelaku yang tega membunuh nenek dan kakeknya sekaligus membuat perusahan yang di rintis kakeknya dari nol bangkrut. Yah, Vana tidak sengaja mendengar pembicaraan Ayah dan Ibunya yang di sertai tangisan pilu.


Hari itu tepat ulang tahunnya yang ke sepuluh tahun. Namun ketika tidak sengaja melewati kamar orang tuanya terdapat sedikit cela. Dari situ dirinya dapat mendengar ratapan pilu Bundanya yang merindukan Kakek dan Nenek. Yang katanya sedang pergi keluar kota. Juga tentang kebenaran yang tidak baru ia ketahui. Kakek dan Neneknya sengaja di bunuh.


Vana tidak menangis namun Ia juga tidak berbicara selama hampir dua bulan penuh. Hanya pandangan kosong dan sebuah pertanyaan yang selalu Ia katakan. "Nenek dan kakek akan kembali kan? mereka tidak mungkin meninggalkan Zeva kan. Mereka hanya pergi sebentar dan akan kembali pada Zeva bukan?"


Tanpa sadar Vana menitikkan air mata. Masa-masa kelam itu telah selesai, saat ini Vana bukanlah dirinya yang lemah dan tidak tau menahu. Vana yang sekarang adalah seseorang yang tangguh dan kejam. Vana sudah berjanji bahwa suatu saat Ia akan membalaskan semua rasa sakit yang di deritanya dan keluarganya. Vana juga akan berusaha untuk menjadi rantai makanan teratas. Vana akan mengingat semua yang Ia lupakan dan membalasnya lebih dari sekedar kejam. Yah, prinsip Vana adalah...


'Sesuatu tidak akan ada yang setimpal, ketika sebuah rasa sakit di torehkan maka sebuah rasa mati menghampiri.'


Vana menyeka sudut matanya kasar. Setelah cukup lama berdiam diri memandangi laut yang gelap, Vana memutuskan untuk kembali melanjutkan jalannya namun Ia akan berjalan di pinggiran pantai tanpa mengenai air laut.


Baru saja Vana membalikkan tubuhnya dan berjalan selangkah, sesuatu yang keras menghantamnya hingga Ia terjatuh dan bajunya basah ketika air laut naik.


"KALAU JALAN PAKE' MATA DONG!" Sentak Vana ganas.


Orang yang menabrak Vana tersebut melirik Vana sedikit menunduk mengingat jika Ia dalam kondisi berdiri sedangkan Vana berada di bawahnya. "Jalan pake' kaki." Jawab orang tersebut kalem lalu dengan santai meninggalkan Vana yang ternganga lebar.

__ADS_1


Vana mendongak, dapat di lihatnya punggung orang tersebut menjauhinya. Vana mendengus, dapat Ia kenali jika orang tersebut adalah seorang pria berusia tidak jauh darinya. Vana berdecak pelan. "Nih orang belum pernah ngerasain pembalasan dari gue yah." Vana menyeringai bengis.


***


__ADS_2