
"Saat mataku terpejam pun yang ku lihat hanya kamu. Apa aku perlu lebih gila untuk membalut keraguan mu?"
-Revanno Georgio VR-
***
Tubuh Vanno membeku, aliran tubuhnya seolah berhenti mengalir saat itu juga. Vanno menoleh ke belakang dimana Vana berada, sepintas tatapan tak percaya melayang di mata Vanno.
Vana mendengus melihat suasana canggung antara dirinya dan Vanno. Maka dari itu Vana menarik tangan Vanno hingga membuat cowok terhuyung menghampirinya.
Vanno mengerjabkan mata tiga kali saat tersadar bahwa jarak antara dirinya dam Vana hanya sejengkal. Saat Vanno hendak melangkah mundur, Vana menarik tangannya kembali. Kini tidak ada jarak antara keduanya saat tangan Vana berganti memeluk pinggang cowok itu.
Vana sedikit mendongak, bibirnya terangkat sebelah. "Apa lo nggak mau nembak gue jadi pacar lo." Kata Vana mengulang kalimat sebelumnya.
Jantung Vanno melonjak saat nafas Vana menggelitik di wajahnya. Kini giliran Vanno menunduk dan hidungnya menyentuh hidung Vana, benar-benar intim.
"Apakah boleh." Gumam Vanno pelan tampak malu-malu tak seperti dirinya biasanya. Jika ada seorang gadis seperti ini kepadanya, yang pasti Vanno akan pergi begitu saja tanpa memberi muka dan setelah itu Vanno akan memberi pelajaran pada gadis tersebut tanpa melalui tangannya tapi melalui anak buahnya. Tentu Vana pengecualian.
"Katakan sekarang." Vanno mengedipkan matanya tak paham. Vana menghela nafas, berapa kali lagi ia harus menjelaskan kepada cowok itu. Jika saja Jasmine tidak menyerahkan dirinya sebagai jaminan, Vana sebenarnya enggan melakukan ini lebih jauh. Tapi..tapi sebenarnya ada alasan lain dan Vana tidak tau itu. Vana lebih menekan hidung mancungnya dan berkata tegas. "Katakan bahwa lo mencintai gue."
Kedua tangan Vanno mengepal erat. Kedua tangan Vana yang memeluknya erat seolah menegaskan bahwa itu adalah sebuah perintah. Vanno menatap manik biru Vana, sangat indah seolah menjerat dan ingin memenjarakan dirinya."Aku mencintaimu." Ucap Vanno penuh keyakinan dalam dirinya. "Aku sangat mencintai dirimu." Lanjutnya menegaskan.
Jantung Vana berdegup kencang, dan ia merasakan wajahnya memanas. Vana harap Vanno tidak melihatnya, jangan sampai Vanno melihatnya. Vana berdehem kecil mengendalikan ekspresi wajahnya. Vana menaikkan sebelah alisnya santai. "Lalu?"
"Apakah kau mau menikah dengan ku."
Spontan Vana melepasakan pelukannya. "Lo gila!?" Pekiknya tak percaya, nyaris menjatuhkan rahangnya. "Gue nggak mau nikah muda."
Vanno tersipu malu. "Mama udah melamar mu."
WHAT THE F*CK!!
"Dan sudah di setujui sama Bunda tadi siang."
__ADS_1
F*UCK F*UCK
Vana memicingkan matanya. Bayangan jika Vanno melamar dirinya tanpa persetujuan yang bersangkutan, oh rasanya ia ingin marah. Tapi kenapa Vana merasa senang. Dan yang tersisa hanya rasa kesal yang mampu di tunjukkan. "Yaudah lo nikahnya sama Bunda gue aja. Yang mau lo lamar, gue apa Bunda gue sih!"
"Maaf."
"Maaf. Maaf aja terus. Seharusnya kita pacaran dulu terus tunangan, terus nglamar terus pingitan terus nikah terus meninggal." Celetuk Vana emosi.
"Yaudah?"
"Yaudah? Pala lo yaudah. Yaudah apa?"
"Kita pacaran."
Vana menyentil kepala Vanno. "Lo nembak apa merintah gue sih. Di gaji enggak tapi perintah, perintah. Sekarang lo nembak gue disini." Perintah Vana mutlak layaknya bos. "Secepatnya."
"Di si-"
"Nggak pake protes."
Vanno tertawa kecil. "Ya nggak gitu juga."
"Aku gugup." Ungkap Vanno jujur, saat ini saja tangannya mulai gemeteran karena rasa gugupnya itu.
"Tsk, berlutut lo." Jari telunjuk Vana menujuk kebawahnya.
Vanno langsung mengikuti perintah Vana langsung tanpa protes. Kini lututnya bersentuhan dengan pasir pantai sedangkan kepalanya selalu mendongak agar dapat melihat wajah Vana.
"Bawa dompet?"
"Bawa." Vanno mengangguk kecil dan mengeluarkan dompetnya.
"Keluarin semua isinya." Ucap Vana yang langsung di sanggupi Vanno. Jika dalam komik mungkin Vanno sudah di gambarkan seperti hewan peliharaan yang lucu dan penurut kepada majikannnya. Jelas, Vana sebagai majikannya.
__ADS_1
"Nah sekarang anggap semua itu sebagai bunga dan lo serahin sama gue." Vana menyeringai samar dan Vanno melihatnya. Bukannya marah tapi Vanno tertawa dalam hati. 'Gadis matre ini. kenapa aku begitu menyukainya, aishh menggemaskan.' Ucap Vanno dalam hati.
Vana mengambil uang berwarna merah muda yang dikatakan banyak itu serta sekitar 10 kredit card dari tangan Vanno.
"Sekarang lo katakan ingin gue jadi pacar lo."
"Kenapa nggak sekalian jadi istriku." Ucap Vanno menatap Vana tanpa dosa serta menujukkan wajah imutnya.
"Sekarang lo minta gue jadi pacar lo dulu." Tegas Vana tak terpengaruh dengan mimik Vanno yang minta di tabok.
Vanno mengangguk kecil. "Besok aku akan minta kamu jadi tunangan ku." Ucap Vanno polos dan Vana hanya bisa mendengus.
Oh ayolah, Vanno bukanlah gadis perawan. Kenapa wajahnya seperti itu!?
Vana mengibaskan sebelah tangannya. "Pacaran dulu." Vana menunduk lebih dalam dan mengarahkan kedua tangannya, mengistrusikan Vanno untuk memegangnya.
Vanno sedikit meremas kedua tangan Vana dalam gengamannya. Setelah mengmpulkan segala keberaniannya, kini Vanno mendongak dan menatap dalam manik mata Vana.
"Apa kamu mau jadi kekasihku. Kekasih seumur hidupku. Membangun hubungan layak nya pasangan baru dan membangun kepercayaan layaknya pasangan lama. Jangan ragukan aku seperti pasir yang bisa terbawa air laut, tapi percayakan aku seperti keluarga yang menjadi tempat teduhmu. Aku tak mau mengungkapkan janti tapi aku akan selalu mengungkapkan bukti bahwa aku benar-benar mencintai. Apa aku perlu mengatakan benar berulang kali gar kau percaya tida ada keraguan sedikitpun dalam perkataan ku."
"Jadilah kekasihku untuk sekarang, esok, dan hembusan terakhirku."
Itu..itu adalah kata-kata terindah yang pernah Vana dengar.
Vana membeku tak bersuara. Meski Vanno telah menghentikan perkataannya, tapi semuanya masih terngiang jelas hingga Vana tak mampu lagi untuk bergerak. Tubuhnya melambat tanpa sebab hanya hati yang terasa berbunga dan perut yang terasa kupu-kupu berkembang biak disana. Tatapannya hanya kosong meski tak dipungkiri melonjak hingga titik teratas.
Tanpa Vana sadari, Vanno berdiri dan mendekatinya hingga tak berjarak. Kedua tangannya membingkai wajah Vana yang trasa mungil di tangannya. Ada jejak senyum tulus di bibir Vanno dan ada tatapan senang di mata coklatnya. Vanno mengecup kening Vana lama.
"Jadilah Vana ku." Gumam Vanno pelan, dan sekali lagi Vana tertegun. Kedua tangannya mengepal erat saat merasakan sapuan halus di keningnya serta tangan hangat yang menyentuh wajahnya.
"Buat aku mencintai mu."
To be continue~
__ADS_1
***