The Devil Nerd

The Devil Nerd
Tiga


__ADS_3

"Aku pernah mendengar pepatah jika seorang wanita selalu menggunakan hatinya. Hati yang labil dan selalu goyah. Namun percayalah bahwa hati seorang wanita yang menjadi Ibu tidak pernah habis untuk anaknya."


***


Emily berjongkok dihadapan Vana. Tangannya mencengkram kedua pipi Vana kencang. Tatapan sinis ia lontarkan pada gadis kecil dihadapannya.


"Apa yang dilihat bocah tengil itu dari lo." Vana diam tidak membalas ucapan Emily yang terus melontarkan kata-kata hinaan untuknya.


"Lo masih kecil tapi udah jadi ******. Gimana gede lo nanti." Emily terlihat berfikir sebentar. "Gue tau. Lo pasti akan seperti ibu lo yang sama-sama ****** yang suka ngrebut kekasih orang."


"Bunda tidak merebut kekasih siapapun." Gumam Vana nyaris tak terdengar. Ia hanya tak suka ada orang yang menjelek-jelekkan orang yang di sayanginya.


Emily semakin mengencangkan cengkramannya membuat Vana meringis. "Nggak ngrebut kekasih siapapun heh?!" Sentaknya keras.


"Ibu lo udah ngrebut Henry dari gue. Dia udah ngrebut orang yang gue cintai. Dia benar-benar iblis."


"Bunda bukan iblis. Tapi tante. Tante yang sebenarnya iblis." Kata Vana menekankan semua katanya.


Tangan Emily berpindah menarik rambut Vana kencang hingga membuat wajah Vana mendongak ke atas. Vana mengerang tanpa suara. Rasanya kepalanya ingin lepas dari tempatnya ketika rasa pening menyerangnya.


"Ibu lo yang iblis. *******!" Bentak Emily. Tersirat kepedihan mendalam dari matanya. Sebuah isakan berhasil lolos dari bibirnya, tangannya mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya.


"Lalu kenapa tante menjual adikku."


"Karena salah keluarga lo." Emily melepaskan jambakannya pada rambut Vana yang tanpa sadar menghembuskan nafas lega. Emily mengambil helaian rambut Vana yang tersangkut di sela jarinya dengan pandangan jijik. "Iyuuh, nggak pernah di rawat sama Ibunya apa."


Vana mendengus. 'Kalau nggak ditarik juga nggak bakalan lepas.' Gerutunya dalam hati.


"Kenapa dengan Ayah dan Bunda. Mereka nggak salah."

__ADS_1


"Mereka salah karena udah nyakitin gue. Gara-gara Kakek sama nenek lo yang ngangkat Ibu lo jadi anaknya. Gara-gara Ibu lo itu, Henry memutuskan hubungannya dengan gue dan menikah muda. Kenapa dia mutusin gue? Gue yang tulus cinta sama dia ta..tapi dia malah milih adik angkatnya itu. Kenapa bukan gue?"


"Karena Ayah cintanya sama Bunda, bukan sama tante."


"Henry hanya mencintai gue." Sahut Emily lantang.


"Aku dan adikku bukti cinta Ayah pada Ibu." Vana mendesah berat lalu melanjutkan ucapannya. Tatapan polosnya menyorot Emily yang menunduk. "Tante Cuma belum bisa menerima kenyataan bahwa bahwa Ayah lebih memilih Bunda. Apa tante sadar kalau sebenarnya Ayah berharap tante menemukan kebahagiaan lain meski tidak bersamanya. Putus hubungan itu bukan sebuah alasan


tante balas dendam. Tapi alasan pengharapan akan kebahagiaan lain yang menunggu."


Ucapan Vana langsung membuat Emily tertegun. Hatinya meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir gadis dihadapannya.


"Tante." Panggil Vana pelan membuat Emily mendongak. Wajah wanita di depannya itu terlihat merah, air matanya juga ikut turun melintas dipipinya. Vana tersenyum tipis, ucapan yang ia lihat dari suatu situs cerita di media online ternyata berpengaruh pada Emily. "Ayah sama sekali tidak berkhianat sama sekali kepada tante. Ayah sudah memutuskan hubungan kalian. Ayah memang mencintai tante. Tapi itu dulu. Dulu sebelum Ayah mencintai Bunda. Sebelum ada aku dan adikku. Sebelum ia rela mati demi kami. Kami yang menjadi alasannya untuk tetap hidup sampai sekarang."


"Tapi tante membuatnya mati saat ini. Dengan menculik ku dan menjual adikku sama saja dengan kematian untuknya. Apa tante merasa puas sekarang? Tidak hanya Ayahku yang mati. Bundaku pun begitu. Disaat semua wanita sedang menangis bahagia setelah melahirkan anaknya. Bundaku malah menangis darah." Vana terkekeh miris. "Bagaimana jika tante menjadi Bunda ku?" Imbuhnya lirih.


Lagi-lagi Emily tertegun dengan ucapan Vana. Hatinya terasa sesak mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir Vana. Secara tiba-tiba sebuah rasa bersalah menggerogotinya. Buliran bening keluar dari sudut matanya. Wajah angkuhnya meredup. Wanita berbalut seksi itu memeluk Vana erat. Sangat erat.


Satu tetes keluar dari mata Vana. Gadis tangguh itu berucap lirih. "Selamatkan adikku."


Emily menguraikan pelukannya. "Tante akan membantumu." Ucapnya sungguh-sungguh membuat Vana terkekeh kecil. "Tidak perlu pedulikan aku. Selamatkan saja adikku. Aku baik-baik saja."


"Aku akan menyelamatkan mu terlebih dahulu." Sahut Emily cepat. Tangannya langsung melepaskan ikatan di tangan dan kaki Vana susah payah. Setelah terlepas Emily menatap Vana dalam. "Ayo kita pergi."


"Sudah terlambat." Mata Vana meredup seiring terdengarnya suara langkah kaki terburu-buru.


"London sudah menunggu kita." Dandy mendekati Vana dan berjongkok di hadapannya. Tangannya menggenggam tangan mungil Vana erat takut gadis kecilnya itu melarikan diri. Tetapi respon yang di berikan Vana membuat Dandy tenang. Gadis kecilnya itu diam dan menurutinya tanpa pemberontakan sedikitpun.


Baru setengah keduanya berjaan sebelum mencapai pintu. Terdengar suara teriakan Emily yang mengema. Sontak kepala Dandy menoleh cepat sedangkan Vana hanya tersenyum tipis tanpa menoleh.

__ADS_1


"LEPASKAN DIA!"


Satu alis Dandy naik ke atas. "Apa maksud lo." Katanya tidak mengerti. Pasalnya Emily sedang memegang sebuah pistol yang entah ia dapatkan dari mana sambil menodongkan kerahnya.


"Lepaskan dia." Ucap Emily lagi. Kakinya semakin bergerak maju. Tangannya yang memegang pistol bergetar hebat.


"Lepaskan dia atau mati." Ancam Emily takut-takut.


Dandy tertawa. Sekarang ia paham apa maksud dari Emily. Seakan lupa bahwa gadis kecil yang disukainya memang pandai bermain lidah. Tentu dirinya dapat menebak siapa dalang dibalik perubahan sikap Emily dalam sekejap.


Dandy berjalan santai mendekati Emily. Masih dengan tangan kirinya yang menggandeng Vana yang diam mengikutinya. Lalu tangan kanannya merogoh sakunya lantas mengeluarkan pistol yang sama dengan milik Emily. Kakinya semakin mendekati Emily begitupun dengan pistol yang ditangannya.


Emily mundur selangkah. Aura yang dibawa Dandy benar-benar mencengkamnya. Bulu kuduknya merinding sedangkan bibirnya bergetar takut. Padahal ia yang memegang pistol tapi dia yang ketakutan sendiri. Hatinya mulai goyah untuk membantu Vana. Tapi rasa penyesalan di dalamnya juga semakin besar.


Emily menghembuskan nafas panjang. Akhirnya ia memiih untuk membantu Vana. Tidak peduli nyawa sebagai taruhannya.


DORR


Perut Emily tertembak. Erangan kencang keluar dari bibirnya. Tubuhnya rubuh ke lantai. Darahnya merembes keluar dari gaunnya. "Sa...kit." Lirihnya membuat nafas Vana tercekat. Lidahnya kelu saat matanya memandang Emily yang terlihat kesakitan.


Tanpa pikir panjang Vana menyentakkan tangan Dandy dan berlari kearah Emily. Ia berjongkok di hadapan Emily. "Apakah sangat sakit?" Tangan Vana bergerak menyentuh luka tembak di perut Emily. Wajah Vana pias tatkala ia melihat tangannya penuh darah.


Dandy langsung menarik tangan Vana kencang. "Jangan pedulikan dia. Dia berkhianat padaku."


"DIA TERLUKA PAMAN! DIA KESAKITAN. Ki..kita harus membawanya ke rumah sakit." Teriak Vana memberontak. Tangannya meminta untuk di lepaskan. Matanya menyiratkan permohonan lebih kepada Dandy namun dihiraukan oleh pria dihadapannya.


Deru kaki Vana terdengar bergemerisik. Sisi lain ia ingin ke menghampiri Emily namun disisi lain tangannya ditarik oleh kekuatan yang melebihi tubuhnya. Vana menatap Emily iba sebelum suara tembakan melengking kencang diruangan yang pengap tersebut.


DORR

__ADS_1


***


Jangan lupa Vote, Comment dan semangatnya yah ^_^


__ADS_2