
Keeseokan harinya.
Aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang tidak enak mengingat kejadian kemarin. Aku ingin segera melupakannya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari dari belakang. Setelah sampai tepat di dekatku, si pemilik suara langsung memegang leherku dan menjepit hidungku. Untungnya manusia bisa bernapas dengan mulut juga. Saat kutengok ke arah samping, rupanya Zack yang sedang menjahiliku.
“Gapain oy!” ucapku.
“Canda doang, hehehe.” Zack langsung melepas tangannya. “Ngomong-ngomong. Kemarin kemana? Ga nungguin. Padahal remednya cuman sepuluh menitan.”
Tepat setelah dia bertanya, aku merasa gugup untuk menjawab. “Anu—gimana ya jelasinnya. Nanti aja deh kalo udah di tempat yang pas.”
...~Π~...
Pada jam pelajaran Seni Budaya, Pak Aryo menugaskan kami untuk membuat karya dari material apapun lalu menggambarnya. “Setelah kalian membuat barangnya, kalian gambar. Tugasnya untuk kelompok dua orang. Paham sampai sini? Jangan lupa untuk membuatnya menggunakan barang sekitar.” Ia mengucapkan kalimat terakhirnya sambil melirik padaku untuk memperingatkanku. Ia tahu kalau aku bisa membuat apapun yang kubayangkan.
...~Π~...
Saat dalam perjalanan pulang, Zack membahas soal tugas yang diberikan Pak Aryo. “Oiya, Den. Buat kelompok senbud, kau udah ada kelompok belum?”
“Ya..., tadinya aku juga mau nanya juga sama kau.”
“Yaudah kita bikin kelompok aja. Kerjainnya sekarang biar cepet selesai. Kau yang bikin, aku yang gambar.”
“Oke siap.”
“Kerjainnya di rumah kau aja. Di rumahku banyak orang.”
“Iya-iya.”
Lalu kami berdua pergi ke rumahku.
...~Π~...
Saat kami sampai di rumah, aku langsung membuka kunci pintu. Karena Zack sudah terbiasa mampir ke rumahku detelah pulang sekolah, dia langsung meletakkan tasnya di kursi—tempat biasa kami menaruhnya.
Saat aku ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum, aku mendengar seseorang sedang bernyanyi. Aku mengingat-ngingat kembali apa yang terjadi dan seketika aku panik. Aku ingat wanita yang kemarin mengikutiku sampai ke rumah hingga dia menetap di sini.
Wanita itu menunjukkan dirinya sambil memegang sapu. “Ah, selamata datang, suamiku.” Ia tersenyum ke arahku.
“Bentar. Suami?!” responku saat mendengarnya.
Setelah mendengar apa yang dikatakan wanita itu, Zack menghampiriku dan langsung meninju perutku dengan tangannya yang sudah dikeraskan. “Ghuk—“ aku langsung jatuh terduduk meringis kesakitan.
Zack memutar balik badannya, “Maaf, Bu. Mungkin Ibu sslah rumah karena ini rumah teman saya.” Ucapnya dengan nada sopan
“Ah, tidak. Ini memang benar rumah suamiku. Dan yang kau pukul itu adalah suamiku. Aku telah melakukan ritual dengannya.”
“Bentar, Zack. Kalo soal ritual itu bener. Tapi soal perkawinanya aku gatau apa-apa. Asli.” Ucapku sambil napas terengah-engah. “Mending dengerin dulu ceritanya biar ga salah paham.” Kemudian aku duduk di kursi lalu menceritakan kejadian kemarin yang kualami.
...~Π~...
Setelah kuceritakan seluruh kejadiannya, Zack mulai memahaminya. Akan tetapi dia memukulku lagi. “Ga ngajak!” bentaknya.
“Kan kaunya lagi remed!” balikku membentak.
“Tungguin aja napa! Sepuluh menit doang!”
“Ya mana ada yang tau kau bakalan secepet itu!”
“Seengganya sabar aja! Kan kau tau aku cuman salah tiga soal. KKMnya kan 75. Tujuh soal aku udah tau jawabannya tinggal benerin satu soal lagi. Sisanya bisa ngasal. Soalnya juga kan pilihan ganda, bukan esay!”
Kami marah-marah bukan karena sedang bertengkar. Tapi kami melakukannya karena bercanda.
“Yaudah iya! Kirain harus pake cara buat nilai tam—”
Sedang asik-asiknya kami beradu argumen, tiba-tiba kami berpindah tempat ke lapangan yang kemarin kukunjungi.
“Eh, dimana nih?” tiba-tiba emosi Zack mulai mereda.
__ADS_1
“Duh, malah balik lagi ke sini.” Keluhku. “Nah. Udah kan? Selarang mau ngapain?”
Zack terlihat menyeringai. “Sip, bagi bola.”
“Nih.” Kuberikan bola sepak padanya.
“Bola tenis oi!”
“Oiya iya.” Aku mengubah bolanya.
Zack mengambil ancang-ancang untuk melempar bola. Dia terlihat seperti seorang pitcher. Dia melemparkan bolanya ke arah depan dengan sangat kuat. Bolanya terlempar sangat jauh dan saat bolanya menghilang akibat efek dunia cermin ini,...
“Aw!” bolanya menabrak tepat di belakang punggungku. “Oh. Jadi gitu cara mainannya yah.” Aku mengambil bolanya lalu bersiaga untuk melemparnya ke arah Zack.
Zack berusaha mengelak. “Eeiittt. Bentar, bentar. Aku ngelemparnya ga sengaja ke arah kau.”
“Terus tadi ngapain senyum-senyum gitu?!”
“Ya aku seneng aja bisa kesini.”
Aku mengubah bolanya menjadi bat bisbol. “Kupukul nih!”
“Ya, ya, maap!”
Tiba-tiba, dari samping kami muncul wanita yang tadi kuceritakan. Ia membawa nampan dengan tiga buah gelas berisikan air putih. Lalu kami lekas duduk.
“Jadi beneran nih kau ga ngapa-ngapain dia?” celetuk Zack.
“Udah dibilang engga! Namanya aja aku gatau siapa.”
“Ah. Maaf atas kelancangan saya karena belum memperkenalkan diri saya. Perkenalkan nama saya Virie.” Potong wanita yang mengaku Virie.
“Virie ya.... Jauh banget dari nama Indo.” Sahutku.
“Ya. Karena kita berasal dari dunia yang berbeda.”
Zack kembali menceletuk. “Berhubungan kita beda alam, kalo umur roh di sana pada berapa ya?”
“Ngeri juga yah, udah mati malah hidup lagi.” Balas Zack. “Kalo gitu, umurmu berapa?”
Ngeri juga ni orang nyeletuknya kemana aja. Pikirku.
“Kalau dibandingan dengan kalian, umurku 16 tahun sekarang.”
“Buset!” serentak kami kaget mendengarnya.
“Den, bener kan kau ga ngapa-ngapain sama dia? Bisa kena pasal nih.”
“Jika yang kamu bicarakan mengenai kontrak kami, kami hanya melakukan ciuman singkat sebagai ritualnya.”
‘Singkat’ katanya. Batinku mulai meronta-ronta jika terlalu lama dekat dengannya.
Perlahan tatapan Zack menuju ke arahku dengan patah-patah. “Den....”
Dengan cepat aku mendekat ke arah Zack dan menodongkan jariku ke arah matanya. “Masih ga percaya, kucolok nih matamu!”
Zack menyerah dengan intimidasiku. “Ya maap, maap! Canda doang!”
Aku pun berdiri berniat ke rumahku kembali untuk mengerjakan tugas. “Dahlah mending balik. Eh, anu... Siapa tadi ya. Oh iya, Virie. Tolong buatin portal buat balik ke rumah.”
“Baiklah.” Portal berbentuk lingkaran mulai muncul di depanku. Kini aku bisa kembali ke rumah dan fokus pada tugas.
Saat hendak melangkahkan kakiku ke dalam portal, tiba-tiba kami mendengar tawa seseorang. “Hahahaha. Akhirnya kutemukan tempat roh bumi berada. Pertama, kan kuhancurkan kau selanjutnya para roh-roh lainnya! Lalu akan kumakan semua manusia yang berada di bawah naungan kalian!”
Virie bangkit dari duduknya. “Aku ucapkan selamat atas keberhasilanmu. Tetapi sayangnya aku bukan roh bumi seperti yang kau bayangkan. Siluman Kucing!”
“Eh?” kami berdua kaget mendengarnya.
“Kok kucing sih? Dia kan jelas harimau!” Zack berargumen. “Cindaku kan wujudnya harimau.”
__ADS_1
Aku setuju dengan wujudnya yang menyerupai harimau. Tapi, Cindaku apaan coba. “Cindaku apaan ya?” tanyaku pada Zack.
“Itu tuh legenda yang di Sumatera. Bisa dibilang werewolfnya Indonesia.” Balasnya
“Oohh.” Responku.
Selagi kami berdua mengobrol, Cindaku yang di hadapan kami sudah siap sedia untuk membunuh Virie. Ia menunjukkan cakar tajamnya. Kemudian ia berlari lalu melompat mencakar Virie.
Virie yang tidak memiliki pertahanan apapun menyilangkan tangannya untuk melindungi dirinya. Alhasil tangannya terluka dan ia jatuh merasakan sakit.
“Lemah sekali!” teriak Cindaku.
Kami berdua yang tidak sempat melindungi Virie hanya bisa melihatnya. Setelah apa yang terjadi, kami berdua secara tiba-tiba memiliki perasaan yang sama. Yaitu ingin membunuh Cindaku ini. Meskipun ia bagian dari legenda urban, aku tak peduli. Kami berdua menatap Cindaku. Aku membuatkan sepasang keling lalu melemparkannya pada Zack. Lalu kubuatkan sarung tangan titanium untuk diriku yang sama seperti sebelumnya.
Perlahan kami mendekati Cindaku. Hingga saat tanganku hampir meraihnya, ia mencakar kepalaku dan untungnya aku sempat menghindar ke belakang. “Dasar manusia rendahan! Kan kukirim kau ke neraka!”
Dengan tatapan sinis aku menjawabnya “Neraka? Atau mungkin Nether? Kirim aja langsung kesana biar bisa kuhajar langsung pemimpinmu.” Kemudian aku berlari ke arahnya untuk melawannya.
Ia menyerangku dengan serangan yang sama. Tentu saja aku bisa menghindarinya dengan melakukan sliding. Saat dia mencakarku menggunakan tangan satunya, aku sudah siap untuk menangkisnya dengan kedua tanganku. Tangan kananku menahan cakarannya dan tangan kiriku memegang pergelangannya. BOOM! Ledakan muncul di tangan kiriku. Ledakan yang cukup kecil tetapi dapat membakar seluruh pergelangan tangan. Tetapi ledakan ini juga berdampak padaku dimana wajahku terkena sedikit akibat tetesan amonium nitrat yang menetes ke wajahku.
Dengan tergesa-gesa, Cindaku itu berusaha melepaskan genggamanku. “Panas! Panas! Cepat lepaskan tanganmu dariku!”
“Sini kubantu biar ga ngerasain!” Zack sudah mengambil kuda-kuda dan menyerangnya dari belakang. Satu pukulan telak terlontarkan, disusul dengan pukulan beruntun lainnya.
Aku berpikiran untuk menyerangnya dari depan juga belakang segera berdiri dan mengambil posisiku. Selagi dia kesakitan akibat pukulan Zack, aku menempelkan tanganku pada wajah dan dadanya. Kuledakkan secara bersamaan. Setelah itu tanganku yang berada di wajah berpindah ke arah perut dan kuledakkan secara terus menerus. Lalu untuk yang terakhir aku menepuk kedua tanganku tepat di samping kepala Cindaku. Tepat saat ledakan terjadi, Zack sudah membolongi tubuhnya. Kini Cindaku itu menghilang menjadi abu.
Zack melepas kelingnya sambil tergesa-gesa. “Panas panas panas!”
Setelah itu aku langsung menghampiri Virie yang sedari tadi terluka. Namun saat sudah menghampirinya, lukanya sudah sembuh. “Eh, kok ilang lukanya?”
“Semua roh dari bangsaku memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka. Tadinya aku ingin membantumu setelah menyembuhkan diriku. Namun aku ingin melihat langsung kau bertarung.”
“Ehhh. Jadi?”
“Aku akan membawamu ke duniaku sebagai pelindung.”
Zack menghampiri kami. “Ada apa nih?”
Aku memalingkan wajahku ke arah Zack. “Kayanya aku bakalan di-DO sama sekolah deh.”
“Emang kenapa?”
“Katanya aku harus ikut pergi ke dunianya Virie.”
“Ngapain?”
“Basmi setan.”
“Oke. Hati-hati aja.” Tiba-tiba ekspresi Zack berubah menjadi panik. “Eh, iya! Tugasnya beresin dulu! Jangan ninggalin kewajiban juga lah!”
Yah, aku lupa dengan tugas sekolahku. “Yaudah sekarang mah balik aja. Kita bikin kubus aja dari tanah liat biar gampang. Oh, iya. Tolong kabarin Pa Aryo buat manggil aku besok jam istirahat.”
...~Π~...
Keesokan harinya, tepat setelah bel istirahat berbunyi, suara panggilan untukku muncul di speaker kelas. Aku menghampiri ruang kepala sekolah untuk berunding dengan Pa Aryo sekaligus kepala sekolah untuk mendapatkan izin. Alhasil aku mendapat izin dari kepala sekolah untuk melakukan imvestigasi selama waktu yang tidak ditentukan.
Setelah berunding, aku kembali ke kelas melanjutkan pelajaran hingga setibanya di rumah. “Tinggal bawa persiapan abis tu berangkat.” Ucapku. Aku memasukkan berbagai macam buku yang kupinjam di perpustakaan sekolah. Senjata yang sangat penting bagiku, yaitu pengetahuan. Akan menyusahkan jika nantinya aku terus-menerus menggunakan mana untuk menciptakan sesuatu yang tidak kuketahui.
“Untuk apa kau membawa buku sebanyak itu?” tanya Virie.
“Buat persiapan aja.”
Kami sudah siap untuk pergi ke dunianya Virie. Aku menitipkan rumahku pada Deri, anaknya tanteku. Kutitipkan pesan padanya agar membereskan kembali apa yang dia perbuat. Kemudian kami pergi ke dimensinya Virie.
“Tolong tutup matamu dan berjalan ke depan.”
Setelah beberapa langkah aku berjalan, hawa di sekitarku berubah menjadi dingin. Firasatku mengatakan aku akan ketakutan jika berada di tempat ini. Saat kubuka mataku sesuai arahan Virie, terlihat sebuah desa—tidak, ini seperti kota. Semua bangunannya terbuat dari pohon seutuhnya. Banyak orang berlalu-lalang disini, dan yang paling menakutkan ialah, mereka bergerak dengan melayang. Aku tidak tahu apakah disini ada semacam elevator dari kaca. Tetapi jika memang benar, mengapa postur tubuh mereka sedikit condong ke depan.
“Mari.” Virie berjalan ke tengah-tengah kota.
__ADS_1
Aku yang masih merinding mengikutinya dengan perasaan ngeri melihat orang-orang melayang seperti hantu.