
"Berangkat sekarang?" ujarku.
"Tunggu sebentar! Apa tidak ada baju yang lebih pas dari ini?" ucap Rain.
Aku penasaran kenapa dia masih di sini setelah dia selesai pamer 'prestasi' pada gurunya. Padahal bisa saja sehari setelahnya dia pulang kembali ke desanya Virie tanpa harus menumpang di asrama kami selama berhari-hari.
"Ga ada," jawabku. "Lagian dari awal aku emang ga bawa baju apapun, cuman seragam doang yang disediain di sini. Emang kau ga bawa baju satu pun?"
"Aku baru mencucinya kemarin dan masih dijemur." Rain terlihat sangat kecil dibandingkan baju yang dikenakannya.
"Kita tinggalkan saja dia di sini. Lagipula dia hanya akan berkeliling lagi di sekitar sekolahan." Ujar Artex.
"Baiklah kalau begitu." Aku setuju.
Kami berdua keluar dan menitipkan kamar pada Rain. Lalu kami memakai sepatu dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu, kita sudah sarapan belum ya?" ucapku.
Artex menjawab belum dan kemudian kami kembali menuju kantin asrama.
*BOOM*
Tanpa diduga ledakan anomali menyebabkan hancurnya separuh bagian asrama. Alarm berdering keras memperingatkan seluruh penghuni. Aku yang melihat kejadiannya secara langsung masih memproses apa yang sedang terjadi.
"Cepat cari dia!" tegas Artex sambil berlari ke arah tangga.
"Hah? Oh, oke." Balasku yang masih berusaha mencerna kejadian barusan.
Hiruk pikuk terdengar di sepanjang lorong, seluruh penghuni berombongan keluar dari kamarnya untuk segera meninggalkan asrama. Semakin banyak aku mepihat orang-orang berlarian, semakin cepat aku berlari menghampiri kamarku.
Di depan pintu aku mendapati Artex yang sedang membungkus tangannya Rain dengan kain. Sepertinya dia terkena dampak dari ledakannya.
Kemudian Artex memanggul badan kecil Rain di pundaknya. "Baiklah, ayo pergi." Lalu kami berlari ke luar dengan dibarengi ledakan lanjutan.
"Kau tidak perlu berbuat sejauh ini. Turunkan saja aku, aku mampu berjalan sendiri." Ujar Rain.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kau terlihat lemas sekali, aku tidak ingin menunggu seorang beban berjalan yang meminta kami untuk menunggu." Sahut Artex.
"Sial, sakit sekali tahu."
...~Π~...
Setelah sampai di luar asrama, para penjaga datang berombongan untuk memastikan keadaan. "Kalian, segera mengungsi dari tempat ini." Ucap salah satu penjaga.
Tanpa pikir panjang Artex langsung menuruti perkataannya dan segera mengikuti orang-orang yang tengah berlari. Keadaan begitu mencekam, asrama terdekat lainnya juga ikut terkena ledakan.
Tanpa di duga ledakan berikutnya terjadi lagi. Aku menengok ke belakang dan melihat seluruh pasukan penjaga sudah tumbang. Bersamaan dengan melihat para penjaga, aku juga melihat sesosok merah di langit. Untuk memastikan apa itu, aku menggunakan teropong untuk melihatnya lagi.
Terlihat seseorang dengan badan merah yang terbakar, dan topeng dengan pola tanduk yang menutup wajahnya, juga sebuah aksesoris sayap yang hanya sebelah. Di tangannya juga sedang memegang busur berapi yang sedang diarahkan ke arah kami.
"Woah! Tex—Artex! Ada musuh di belakang, gimana nih?!" ucapku panik.
"Bisa kau tahan dulu sebentar?" balasnya.
Aku langsung membuat perisai yang lebar dengan maksud agar dampak serangannya tidak menyebar. Aku tidak tahu kapan dia akan menyerang tapi tepat setelah perisainya beres kubuat, ledakan yang dihasilkan berhasil menghempaskanku hingga menabrak Artex.
""Apa kau kesulitan untuk melawannya?" ujar Rain rintih.
"Nahan aja ga bisa, apalagi lawan." Jawabku
"Hehe, kalau begitu serahkan saja padaku." Ucapnya.
"Jangan jadi sok jagoan." Sahut Artex. "Kau bisa apa dengan kondisi seperti itu?"
"Tenang saja, aku hanya akan membuat golem untuk membantu kalian." Balasnya.
"Baiklah kalau begitu, kuserahkan padamu. Den, bisakah kau memberiku alat untuk menggapainya?"
"Mana bisa!" tegasku. "Setauku ga ada alat praktis yang bisa bawa kita ke udara. Eh tapi, ada sih ada... cuman ukurannya gede banget, mana-ku ga akan cukup buat bikinnya. Lagian ga bakalan efektif buat dipake."
"Kalau begitu beri aku pijakan untuk menghampirinya." Balas Artex.
__ADS_1
"Tahan serangannya, Kabe!" teriak Rain. Tiba-tiba muncul sebuah golem besar di depan kami.
Benar saja, setelah Rain memerintahnya untuk bertahan, ledakannya terjadi lagi dan membuat kami semakin cemas.
"Cepat beri aku pijakan ke atas sana!" kini Artex mulai meninggikan nada suaranya.
"Gimana caranya?!" balasku. "Aku ga bisa bikin benda melayang di langit."
"Dasar, tidak berguna...." ujar Rain. "Biarkan aku sendiri yang mengatasi ini. Buatkan aku sebuah tongkat dengan motif naga."
"Ah, siap!" dengan sigap aku memberikan tongkat seperti yang diinginkannya.
"Apa-apaan ini?! Kenapa harus tulisan naga di atasnya?"
"Yang penting naga, kan?" ucapku.
"Ya sudahlah. Ini juga hanya untuk aksesoris." Kemudian Rain menghentakkan tongkatnya lalu membuat garis lingkaran di tanah untuk mengelilinginya. Di bagian luarnya dia membuat bentuk segitiga yang menyinggung garis lingkarannya.
Lalu para golem bermunculan dari bawah tanah. Bentuk mereka bervariasi, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang menyerupai hewan dan ada juga yang seperti manusia. Di antara sekian banyaknya golem yang dipanggil, ada juga satu golem yang berbentuk seperti dinosaurus yang membuatku sedikit penasaran kenapa dia bisa tahu bentuk seperti itu. Sekitar ratusan golem yang ia ciptakan dan hal itu meninggalkan bekas lubang pada tanah tempat mereka keluar.
"Dengar, lawan kita adalah makhluk yang sedang terbang di atas sana! Aku tidak tahu dia itu makhluk seperti apa, jadi kita anggap saja dia itu benar-benar kuat. Maka dari itu aku meminta bantuan kalian untuk melawannya sampai dapat dipastikan dia telah mati!
Gunakan segala cara yang bisa kalian lakukan. Karena keterbatasan kondisiku saat ini, aku tidak akan menyuplai mana untuk merekonstruksi kalian. Sekian, dan saatnya berburu!" pidato Rain menggerakkan para golem dan membuat mereka ribut menghentakkan kaki mereka.
Berombong-rombong mereka berlari ke arah musuh yang dituju. Tidak sedikit dari golem-golem kecil memanfaatkan bantuan dari golem besar untuk melempar tubuh kecilnya. Dengan memanfaatkan hal tersebut, Artex mendekat lalu meminta hal serupa untuk menerbangkan dirinya ke atas sana. Di saat yang bersamaan, Rain menaiki dinosaurus badak yang besar itu lewat ekornya.
Sekilas aku berpikir bahwa tidak ada sejenis hewan terbang yang dibuat oleh Rain. Hal tersebut juga mengacu pada pertanyaan 'bagaimana mereka bisa menggapainya kalau perbedaan tingginya sejauh itu?'
Tidak diam begitu saja, lantas makhluk yang berada di udara menembakkan lagi panahnya dengan jumlah yang banyak. Membuat para golem yang dilempar dan juga berada di atas tanah hancur berhamburan.
Aku tidak ikut menyerang seperti mereka karena sadar bahwa kemampuan bertarungku masih jauh dibanding Artex. "Apa ga ada cara gitu buat ikutan kontribusi?" gumamku kesal.
Seketika aku terpikirkan ide untuk membalasnya dengan senjata serupa. "Kalau dia bisa kenapa aku ga bisa ya kan?" aku mengarahkan panah tepat ke arahnya.
Namun saat kulepas talinya, yang kulihat hanyalah panah yang melambung lalu jatuh sebelum mencapai sasaran. "Goblook!!" bentakku. "Hal dasar aja malah dilupain! Sial lah, lupa kalo aku ada di bawah jadinya malah kehalang gaya angin sama gravitasi."
__ADS_1
Aku berpikir keras untuk ikut berpartisipasi. Sempat kepikiran untuk mendekat dengan cara seperti Rain, tapi para golem sudah jauh meninggalkanku. "Oiya kan ada motor!"