The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Ingatkan Aku untuk Membayar Hutangku


__ADS_3

Keesokan harinya kami kembali meneruskan kegiatan harian yang seharusnya kami lakukan. Aku tahu kalau membolos di hari-hari pertama memang tidak wajar dilakukan bagi murid baru, tapi mau bagaimana lagi, waktu kami selesai dengan kejadian di bumi sebelumnya berbarengan dengan waktu pulang sekolah di Zharan.


Di jalan, kami sempat berbincang. "Kenapa kau malah ikut sih?" tanyaku kesal pada Rain.


"Tidak apa, kan?" jawab Rain. "Lagipula aku ingin bertemu dengan guruku, bukan ikut kelas denganmu. Aku ingin sedikit menyombongkan diri padanya.


Dan juga, seharusnya kau itu bangga berjalan ke sekolahan ini dengan orang bereputasi seperti diriku ⁰⁰⁰ini."


"Apa untungnya coba? Emang bisa dapet duit sejuta kalo jalan bareng sama kau?"


"Sudahlah, sudahlah. Kau masih pemula soal ini. Ikuti saja alurnya dan biarkan diriku seorang yang dipandang tinggi oleh orang-orang."


Sedari tadi Artex hanya berjalan diam seribu bahasa. Tolong dong bantu ngejauhin dia, batinku berkata.


...~Π~...


Akhirnya kami berpisah sejak melewati pintu utama. Untung saja ada kedua teman baru kami yang mencegat kami di pintu masuk.


Selagi mereka berdua tidak memandang ke arah kami, Aku berbisik pada Artex. "Siapa sih nama mereka? Lupa aku."


"Kalau tidak salah, nama mereka itu mirip sekali—Rea dan juga Rena." Bisiknya.


"Oh, oke-oke." Jawabku. "Tapi yang mana Rea, yang mana Rena?"


"Aku juga tidak tahu. Aku tidak mengingatnya."


Kemudian mereka berbalik. "Jadi, apa alasan kalian bolos kemarin?" ucap si cowok Rea... mungkin?


"Ah, itu—anu..." aku menoleh ke arah Artex, "Jawabnya gimana ya?"


"Jangan tanya padaku." Balasnya.


"Ehh... anu, itu..." Aku mencari-cari cara agar bisa ngeles darinya. "Dipanggil sama saudara. Nah, iya! Kemaren kami dipanggil sama saudara di rumah untuk menjenguknya. Dia tiba-tiba ingin dijenguk tanpa alasan penolakan apapun."


Rea mengelus-elus dagunya. "Tidak terdengar meyakinkan."


Lalu si gadis Rena memotong, "Oh, iya. Ngomong-ngomong soal saudara, kalian berasal dari keluarga mana? Seingatku kalian hanya menyebutkan nama belakang kalian."


"Maksudnya?" tanyaku.


"Itu loh, nama yang disebutkan di awal seperti namaku—Hoshizora Rea, dengan Hoshizora adalah nama keluargaku."


Seketika aku berkata, "Oh!" Bukannya aku terkejut mendengar informasi yang disampaikan olehnya, tapi menyadari bahwa aku salah mengira nama mereka.


"Tapi bukankah itu sedikit sensitif untuk dibahas?" ujar Rena yang asli.


"Oh, iyakah? Memangnya mengapa bisa demikian?" sahut Rea.


"Zharan dikenal dengan ke-privasiannya. Sering kali ketika berita lokal menampilkan nama seseorang, orang tersebut hanya ditampilkan dengan nama panggilannya. Itu dilakukan agar orang-orang yang membaca atau mendengarnya tidak berprasangka buruk terhadap nama keluarga orang yang dipublikasikan.


Sering juga beredar gosip tentang nama keluarga mereka kalau ada seseorang dalam keluarganya berbuat hal yang tidak baik, dan juga gosip selalu cepat dalam menyebar." Jelas Rena.


"Begitu ya? Maafkan aku kalau begitu." Rea setuju tanpa berkata apapun lagi.

__ADS_1


Namun aku sedikit terganggu dengan ucapan Rena. "Tapi kan kita gak sedang bahas publik? Rea kan nanya hanya buat tau aja nama kepanjangan kita?"


"Benar juga, ya." Rena setuju. "Tapi sebentar, apa maksudmu nama kepanjangan?"


"Lah? Bukannya baru aja Rea bahas itu? Itu, Hoshizora Rea. Kan Hoshizora nama kepanjangannya?"


"Bukan nama kepanjangan, yang benar nama keluarga!" tegas Rena.


"Oh, beda ya?"


"Bukan berbeda, melainkan itulah yang benarnya! Lagipula memang tidak ada arti kata nama kepanjangan."


Aku menggaruk kepalaku seraya berkata "Aneh dah."


Aku melirik ke arah Artex yang ternyata sudah tidak ada. Kulihat ke depan dan Artex sudah berjalan cukup jauh.


"Ke kelas aja yuk, dia juga udah jalan tuh." Ucapku yang berusaha kabur dari pembicaraan Rea dan Rena.


...~Π~...


Setelah itu kami lanjut menjalani keseharian sekolah seperti kemarin—berangkat dari asrama lalu belajar di kelas, dan setelahnya kembali lagi ke asrama. Lalu keesokan harinya melakukan hal yang serupa lagi dan terus-terus berulang melakukan hal yang sama tanpa menyerap sedikit pun materi.


Di kamar, kami berbaring sambil memikirkan nasib kami selanjutnya. "Tex, sebenernya kita ngapain sih di sini? Belajar aja engga, dapet informasi tentang musuh juga engga."


"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu... Tapi kau benar, uangku juga sudah habis untuk membeli makanan di kantin. Kupikir kita akan mendapat makanan gratis selagi bersekolah di sini." Jawabnya.


"Nanti kubayar kalo gitu." Ucapku.


"Bukan itu maksudku. Aku mengira kalau bersekolah di sini artinya kita diberikan persediaan sampai kita lulus. Tapi nyatanya kita masih harus membeli makanan dengan uang kita sendiri. Ini sama saja seperti kita tinggal di rumah sebelumnya."


"Kupikir sebaiknya aku menolak saja tawaran dari kakek tua itu. Lalu balik menjadi bagian dari petualang meskipun aku tidak menyukainya."


"Petualang? Emangnya ngapain aja jadi gituan?"


"Yah, seperti melakukan tugas yang diberikan oleh serikat. Apapun jenis pekerjaannya, siapapun yang merupakan bagian dari serikat boleh mengambilnya."


"Bukannya itu mah buruh harian lepas ya?"


"Tidak-tidak. Para petualang melakukan tugas yang lebih dari itu—monster di atas rumah, banteng masuk parit, segel iblis terlepas, naga dalam istana, semua mereka lakukan."


"Acak sekali, ya. Kupikir akan sama seperti julukannya, yaitu bertualang menjelajah tempat-tempat yang belum didatangi."


"Yang seperti itu juga ada, tetapi mereka selalu tidak bertahan lama setelah mengambil misinya. Kebanyakan dari mereka langsung beralih tugas menjadi pemburu monster liar."


"Lah emangnya kenapa? Bukannya jadi petualang asik bisa nyari harta karun?"


"Itu dia masalahnya. Semua harta karun yang bisa ditemukan sudah menipis dan tidak ada yang memiliki kemampuan untuk melacak sesuatu seperti itu."


"Oh, gitu ya.... Tapi emang digaji berapa kalo kerja gituan? Kaya bunuh-bunuh monster?"


"Tergantung tingkat kesulitannya. Tetapi biasanya kalau untuk sekedar mencari uang makan, memburu hama pertanian adalah jalan termudah untuk dilakukan. Hanya membasmi tikus-tikus liar, kita bisa mendapat sekitar dua keping koin perak."


"Sekitar berapa tuh?"

__ADS_1


"Paling tidak cukup untuk dua hari makan dengan porsi serupa seperti sehari-hari kita makan di sini."


"Oh—" seketika aku termenung setelah mendengar penjelasannya. "Kalo gitu aku udah hutang lima belas koin kayanya. Kalo diitung pagi sama sore jadinya tiga puluh."


"Sudah kubilang lupakan saja itu. Aku penasaran kenapa kau bersikeras untuk membayar semua uang yang kuberikan."


"Kalo boleh jujur, saat kecil aku selalu dipinjam uang oleh temanku. Jujur saja pada saat itu aku enggan untuk memberinya karena dia selalu meminjam tiap hari. Karena dia selalu mengajakku bermain, mau tidak mau aku harus membalasnya meskipun dengan cara yang tidak kusuka—"


"Tunggu, kenapa gaya bicaramu normal kembali?" potong Artex.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tidak ada. Lanjutkan." Balasnya.


"—lalu kejadian tersebut terus berulang hingga kami naik ke kelas lima. Untung saja saat itu kami berbeda kelas, hingga akhirnya kami tidak pernah bermain bersama lagi. Tapi entah kenapa seiring berjalannya waktu dia menjadi semakin pendiam, sedangkan aku semakin terbuka dengan siapapun.


Setiap pulang sekolah dia selalu menghadap ke bawah. Bahkan saat kuteriakkan namanya juga dia tidak pernah menoleh." Kemudian aku menggulingkan kepalaku ke arah Artex.


"Kenapa menatapku?" tanyanya. "Lanjutkan saja."


"Aku bingung habis itu harus kemana lagi ngomongnya." Jawabku.


"Jangan tanya padaku, aku hanya pendengar di sini." Balasnya. "Lanjutkan saja sesuai alur ceritanya."


"Tapi bakalan panjang kalo diceritain sepenuhnya."


"Kalau begitu persingkat saja, langsung ke inti masalahnya."


"Oiya, abis itu aku sempet nyamper ke rumahnya buat ngajak main. Setelah kutengok ke jendela kamarnya ternyata dia sedang asyik bermain permainan di TV. Kukira dia sedang terkena trauma atau semacamnya sehingga menjadi muram begitu." Aku terdiam sejenak menatap langit-langit.


"Itu saja? Lalu bagaimana dengan cerita tentang awal mula kebiasaanmu itu?"


"Oiya lupa. Beberapa hari setelahnya aku mencoba mengajaknya untuk mengobrol. Namun tanpa ucapan apapun aku langsung diberi sejumlah uang olehnya. Dia berkata ingin membayar uang yang dia pinjam dariku dulu. Dia juga memberiku alasan kenapa dia selalu meminjam uangku hampir setiap hari. Itu karena uang bekal yang dia terima dimasukkan seluruhnya ke dalam celengannya."


Suasana hening sejenak. "Selesai?" ucap Artex.


"Iya, selesai." Jawabku.


"Bukannya terlalu simpleks ceritamu itu?"


"Emang harus ribet gitu? Kan setiap orang punya ceritanya masing-masing, mau itu yang ribet ataupun simpel."


"Baiklah, aku sedikit mengerti dengan ceritamu. Kalau begitu kau boleh membayar semua hutangmu padaku mulai saat ini."


"Waduh. Ka–kayanya nanti aja deh, ga punya duit juga sekarang mah."


"Sudah kuduga."


"Hei, kenapa kau membiarkannya begitu saja?!" Rain tiba-tiba berteriak dan membuatku terkejut.


Aku terbangun lalu memarahinya. "Apa sih bikin kaget aja!"


"Seharusnya kau itu membalasnya dengan memerasnya lebih banyak atau apapun itu! Jangan kau memalingkan wajah setelah kau dibayar. Kemana hak-hak yang seharusnya kau dapatkan selagi dia memegang uangmu itu?!" teriak Rain sambil menunjuk-nujukku.

__ADS_1


Sambil ragu aku menjawab "Kalo itu sih... ya gimana ya, pas dia udah beli permainannya aku malah ikutan main tiap hari ke rumahnya. Bahkan udah banyak game yang kami tamatin waktu itu. Jadi ya, malah aku yang ngerasa bersalah udah ganggu waktu sendirinya."


Rain terdiam dengan muka datarnya. "Oh—" hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.


__ADS_2