The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Duel yang Sengit


__ADS_3

Sambil menahan lengan agar tidak bergeser, aku terus berlari sambil mengawasi diri karena di belakang kami ada puluhan atau bahkan ratusan iblis yang tengah berperang melawan Artex dan yang lainnya.


"Kemana kita harus meminta bantuannya?!" teriakku.


"Kita harus ke bangunan pusat untuk memberi tahu komandan!" jawabnya.


Selagi aku melihat ke belakang dan ke depan secara bergantian, aku melihat sesosok iblis yang sedang berlari mengejar kami.


"Ada seseorang yang sedang mengejar kita!" ucapku.


"Kenapa harus saat ini juga?!" sepertinya dia panik.


"Apa kau bisa menggunakan senjata?" tanyaku.


"Tentu saja tidak!" jawabnya.


Begitu mendengarnya aku langsung menggenggam pistol lalu mengarahkannya pada musuh di belakang.


"Hei, apa yang kau lakukan?!"


Tanpa menjawabnya aku langsung menembak dengan akurasi yang payah dan juga recoil yang begitu mengganggu. Kupikir semua tembakanku meleset karena mereka sama sekali tidak terlihat seperti terkena tembakan. Aku menghilangkan lalu memunculkan kembali pistolnya karena tidak bisa mengisi ulang peluru dengan tanganku yang cidera.


"Apa masih jauh gedungnya?" ujarku sambil menembak.


"Sebentar lagi kita akan sampai." Jawabnya.


"Perkirakan jaraknya."


"Sekitar seratus meter lagi."


Mendengar ucapannya aku langsung menghentikan aksiku dan memilih fokus untuk berlari. Di depan kami rupanya gedung yang biasa ku-kunjungi untuk menghabiskan waktu.


"Maksudmu sekolah itu?" tanyaku.


"Iya, tapi bukan itu tujuan utamanya. Kita minta bantuan dahulu pada guru-guru yang ada di sana." Jawabnya.


Kami berlari secepat mungkin, berlari dengan dua tujuan untuk meminta bantuan dan menyelamatkan diri dari kejaran musuh.


Setelah beberapa puluh langkah, terlihat seseorang berjubah yang tengah berdiri sambil melipat tangan di dadanya. Namun sebelum kami melambaikan tangan untuk meminta bantuannya....


Aku tersungkur akibat ledakan yang sepertinya membakar punggungku. Aku melihat ke arah wanita di sampingku dan rupanya dia juga terpental ke arah samping. Aku berbalik untuk melihat situasi di belakang dan sosok iblis yang mengejar kami sudah menggenggam kapak api besar dan bersiap mengayunkannya padaku.


Sebelum serangannya berhasil mengenaiku, tiba-tiba sebuah objek berwarna biru bermunculan menghujani iblis di depanku.


Tentu saja aku merasa ketakutan karena bongkahan es yang menghujaninya hampir mengenaiku. Suhu dinginnya sangat terasa, bahkan kakiku tidak bisa digerakkan saking dinginnya.

__ADS_1


Hujan es terus bermunculan, membuatku berniat untuk melarikan diri selagi iblis itu disibukkan olehnya. Setelah berdiri aku langsung bergegas mendekati orang yang menyelamatkanku. Namun aku teringat ada seseorang juga yang sedari tadi berlari denganku. Alhasil aku mendekatinya lalu membuatkan perlindungan untuk kami berdua. Namun sebelum itu, di balik kabut yang dihasilkan hujan es muncul kapak berapi yang berputar melayang ke arahku dari samping.


Dengan buru-buru aku membuat perisai di tangan kananku dan masih seperti sebelumnya, diriku terpental akibat ledakan yang dihasilkan. Pendaratan yang sangat buruk mengakibatkan keadaan lengan kiriku makin parah. Kurasa tulangnya jadi patah seutuhnya, dan bukan hanya retak sebagian.


Dengan begitu aku tidak bisa sembarangan berdiri atau bahkan berjalan. Yang bisa kulakukan hanyalah melindungi diri sebisaku. Aku bersiaga dengan membuat sebuah Assault Rifle dan menggunakan lututku sebagai tumpuan penyeimbang.


Dari balik kabut, sang iblis berlari menerjang hujan es dengan tubuh yang membara. Begitu juga dengan berhentinya hujan es yang bermunculan. Tanpa pikir panjang aku langsung menembak ke arah depan.


Semua tembakanku mengenainya, tetapi iblis di depanku tidak bergeming sama sekali dan terus menerjang. Dia terus berlari hingga akhirnya tepat berada di hadapanku sambil mengangkat kapaknya dan bersiap membunuhku. Kini yang bisa kulakukan hanyalah pasrah dan menerima nasib di depan mata.


Namun kemudian muncul sesosok yang bergerak cepat menerjang si iblis, membuatnya terpental jauh. Aku menengok ke arah kiri dan melihat iblis tersebut ditebas oleh seseorang—oh tunggu, apa kulitnya memang sekeras itu?


"Hebat juga dirimu bisa mendorongku sejauh ini." Ucap iblis tersebut. "Namun senjatamu sangat lemah dibandingkan pertahananku ini."


"Terimakasih atas pujiannya, tapi sangat disayangkan pertahananmu tak akan sekuat yang kau kira. Aku sengaja menggunakan punggung pedangku agar tidak menembus tubuhmu dan mengenai yang lain." Kelihatannya dia seperti seorang lelaki tetapi suaranya terdengar seperti perempuan.


"Heh, sempat-sempatnya kau bercanda!" kemudian si makhluk merah membalasnya dengan mengayunkan kapaknya dari samping.


Lantas si pria berambut panjang langsung mundur. "Bersiaplah, kali ini kupastikan kau terbelah menjadi dua." Lalu dia memasang kuda-kuda dan memegang pedang dengan kedua tangannya. "Swift!" begitu mengucapkannya, dia langsung bergerak cepat ke depan dan berhasil menyerangnya.


Meskipun dengan kecepatan diluar nalar, ajaibnya si iblis masih dapat menangkisnya dengan tepat. Pertarungan semakin intens, si pria berpedang terus mengayunkan pedangnya sambil bergerak kesana-kemari. Begitu juga si iblis merah yang dengan mudahnya memprediksi semua serangannya.


Di tengah-tengah pertarungan mereka, jatuh sebuah bongkahan es berbentuk pedang raksasa dan membuat mereka berdua menjauh satu sama lain.


Setelah itu dia berlari ke depan dan mengucapkan "Wind Storm!" membuat pecahan es di sekelilingnya berputar mengitarinya. Dia mengambil pedang yang tergeletak lalu menghunuskannya ke arah lawan.


Tak diam begitu saja, kapak yang ada dalam genggaman si merah perkasa mulai membakar dirinya—membuatnya meleleh dan secara tak masuk akal berubah menjadi perisai yang sangat besar hingga mampu melindungi pemiliknya.


"Rasakan ini!" setelah mengucapkannya, si rambut panjang memasang kuda-kuda untuk kedua kalinya. "Charge..." pusaran angin yang mengelilinginya kini berpusat di hadapannya. "Release!" bersamaan dengannya yang menebas angin, pusaran angin topan melaju dengan kecepatan perputaran yang tinggi.


Sesaat setelah serangan topannya berhasil mengenai perisai yang dikenakan iblis merah, pusaran tersebut menyebar lalu mengurungnya dalam penjara angin. "Kau pikir aku bisa dihentikan oleh kerikil seperti ini?" tak hanya tinggal diam, dia membakar perisainya lagi yang kemudian membuat pecahan es yang beterbangan meleleh dan mengakibatkan angin yang mengelilinginya berwarna merah.


Untuk yang ketiga kalinya perisai tersebut menyala lagi untuk menyerap angin yang mengurungnya. Semua angin yang terkumpul kemudian dihembuskan kembali dengan bentuk yang berbeda—sinar laser keluar secara linear mengarah si pria pedang.


Namun sepertinya si pedang angin sudah memperkirakannya karena sedari tadi dia memasang kuda-kuda lainnya dengan menyarungkan pedangnya. Sesaat sebelum laser merah mengenai dirinya, "Zig..." dia menghilang seketika lalu secara tiba-tiba dia muncul di belakang lawan.


"Serangan Pamungkas : —" dengan kecepatan yang sangat tinggi dia berhasil memenggal kepala dari lawannya.


...~Π~...


Kurasa leherku terasa sakit dan pegal setelah fokus memperhatikan pertarungan mereka berdua.


"Kau tidak apa?!" ucap si pria dengan banyak julukan.


Aku menghempaskan kepalaku ke tanah. "Apa papan di lenganku tidak cukup untuk membuatmu tahu kalau aku sedang terluka?" ucapku dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Mohon maaf atas kesalahanku. Kupikir itu hanya aksesoris belaka." Balasnya.


"Daripada memikirkanku, lebih baik lihat orang di sebelahku. Sepertinya dia tidak sadarkan diri setelah serangan sebelumnya."


"Oh, benar juga. Aku tidak melihatnya karena kau menghala—" dengan terburu-buru dia menghampiri gadis yang kumaksud. "Lynn!? Ada apa denganmu?" dia menoleh ke arahku. "Hei, kenapa dengannya!?"


Aku menjawab, "Sebelum kau datang, kami dikejar oleh iblis yang kau kalahkan. Lalu dengan serangan ledakannya kami terpental, dan mungkin dia menerima efek serangan yang lebih besar dariku. Atau mungkin dia jatuh dengan pendaratan yang kurang baik?"


"Kenapa kau tidak membantunya?! Bertahanlah Lynn, aku akan membawamu ke tempat medis sekarang juga." Lalu ia bangkit sambil memangku gadis yang disebut Lynn.


"Hei, hei, bang! Kau tidak mau membantuku? Lukaku juga sama parahnya seperti dia.


"Apa kau bilang?! Seenaknya saja kau memanggilku dengan sebutan 'bang', aku ini seorang perempuan, tahu! Kau masih sadar dan bisa berjalan kan? Gunakan saja kakimu untuk keperluanmu."


Akhirnya dia meninggalkanku bersama rasa sakit di lenganku. Tapi apa yang dikatakannya adalah benar, aku bisa jalan sendiri jika ingin. Dan tadi juga aku bisa kabur sendiri daripada mencoba melindunginya. Lagipula kenapa juga aku harus melindunginya?


Sejak saat itu aku langsung teringat akan alasanku berlarian. "Oh iya! Kan tadi tuh mau minta bantuan." Saat ku mencoba untuk bangkit, lenganku serasa akan copot. "Adududuh."


Lalu datang seseorang menghampiriku. "Tolong maafkan atas kelakuan anak buahku. Dia memang sedikit tempramen jika ada sesuatu dengan adiknya." Kemudian dia mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati aku menerima bantuannya untuk berdiri. "Tidak apa, lagipula dia mengatakan hal yang benar."


"Apa lenganmu terluka? Sepertinya kau kesulitan karena itu."


"Ini hanya lecet sedikit. Dibiarkan sebentar juga akan sembuh." Sikapnya yang begitu sopan membuatku terpaksa untuk berbohong agar tidak merepotkan orang sepertinya.


Namun kebohongan tersebut tidak bekerja sama sekali. Dia melepas gulungan perban yang menutup lenganku. "Aku minta maaf untuk ini." Setelah perban dan papan yang menyangga tulangku dilepas, dia meraba tulangku lalu berkata "Lecet seperti ini tidak akan bisa sembuh hanya dengan 'dibiarkan sebentar'."


Aku memalingkan pandanganku karena merasa bersalah.


"Tolong tahan sakitnya." Dengan hati-hati dia meluruskan lenganku. Lalu tanpa diduga dia memunculkan es yang menyelimuti lenganku yang patah.


"Tunggu dulu, untuk apa ini!?" ucapku panik.


"Kugunakan metode ini sebagai tindakan penolongan pertama. Ini lebih baik daripada papan tersebut. Tulangmu akan bergeser jika terus menggunakan papan itu sebagai alat penyangga." Jawabnya.


"Oh begitu ya. Tapi rasanya dingin sekali."


"Kalau begitu kita pergi sekarang. Apa kau bisa berjalan sendiri?" ucapnya.


"Ah, iya bisa. Tapi mau kemana?"


"Hanya ke tempat medis."


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


__ADS_2