The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Golem dan Granat


__ADS_3

"Seperti ini, apa kau bisa melakukannya?" Rain telah membuat sebuah patung batu yang cukup besar. Namun uniknya, patung itu bisa menengok ke arahku dan membuatku terkejut.


"Mana mungkin aku bisa membuat benda yang memiliki nyawa." Ucapku


"Tenang saja, golem ini tidak memiliki nyawa. Hanya saja aku menanamkan kesadaran kepadanya." Balas Rain.


"Ya sudah kalau begitu, akan kucoba." Aku membuat sebuah tiruan dari patung 'golem' itu. Namun setelah terbentuk, semua bagian lengan, kaki, dan kepalanya langsung jatuh dan menggelinding. "Apa aku salah membuatnya?"


"Tidak-tidak. Kau memang berhasil membuatnya. Hanya saja kalau kau tidak bisa membuat semua bagiannya tetap menyatu, itu artinya kau tidak ada bakat dalam bidang ini."


Ucapannya tak membuatku kehilangan semangat. Karena sejak awal aku tidak bersemangat untuk membuat benda semacam golem miliknya.


"Baguslah, aku tidak perlu menyia-nyiakan waktuku untuk ini." Sahutku.


"Apa maksudmu!? Kau bilang kemampuanku hanya sia-sia!?'


"Mungkin."


"Kalau begitu coba kau lawan sendiri kekuatan yang sia-sia ini!" sepertinya ucapanku membuatnya marah.


"Baiklah." Kemudian aku membuat pedang yang mirip seperti milik Hien. Namun setelah terbentuk aku kepikiran mana bisa pedang ini menusuknya. Lalu kuubah menjadi trisula. Tapi lagi-lagi aku terpikirkan hal yang sama. Kuubah terus senjatanya mulai dari kapak, golok, parang, sabit besar.


"Oh—kau kebingungan ya akan melawan golemku ini pakai senjata apa?" ujar Rain sambil meremehkanku.


Aku terus mengubah-ubah bentuknya hingga akhirnya aku menemukan senjata yang cocok—palu raksasa yang bisa menghantam golemnya sampai remuk. "Sip, ketemu."


"Cih, tau saja kelemahan golemku ini." Gerutu Rain. "Majulah kalau kau siap."


Tanpa basa-basi lagi aku langsung mengerahkan seluruh kekuatanku pada hantaman pertama. Aku sangat percaya diri bisa menghancurkannya dalam satu pukulan. Setelah pukulannya dilayangkan, "Kok tidak berefek apa-apa!?"


Rain tertawa kecil, dan perlahan suaranya semakin terdengar keras. "Hahahhaha! Mana mungkin senjata murahan seperti itu bisa menghancurkan pertahanan luar dari golem nan kuat ini. Memang benar senjata tumpul bisa menghancurkan golemku, tapi harus dilapisi dengan sihir penguatan. Kalau kau ingin mengalahkannya tanpa itu, kau harus menyerangnya dari dalam."


Hah? Sihir penguatan? Haruskah menggunakan itu? Padahal cuman seonggok batu. Kalau senjata peremuk tidak bisa menghancurkannya, maka akan kuambil lawan alaminya. Sambil tertawa aku perlahan mengubah alat peremuknya menjadi alat yang bisa menghancurkan batu dengan mengandalkan titik. "Hehehe, kalau begitu bagaimana dengan ini." Bor telah didapat.


Anehnya, selagi bagian tubuhnya dilubangi dengan bor, golem itu tidak bereaksi sama sekali. Hanya terdiam melihatku melubangi dirinya.


Setelah terlubangi cukup dalam, aku memasukkan granat yang bisa meledakkan golemnya. "Kau bilang dari dalam kan?" ucapku dibarengi tawa jahat.


"Tunggu, apa yang kau lakukan!? Jangan, jangan golemku ini!" Rain berteriak histeris.


Setelah kutarik pinnya, aku langsung menutupnya dengan kayu sambil mendorongnya agar lebih dalam lagi. Kemudian aku berlari ke belakang agar terhindar dari efek ledakannya. Kuselimuti diriku dengan kain hitam agar terhindar dari efeknya.


Setelah lima detik, muncul cahaya dari dalam golemnya. "Tidak! Tidaak!"


Namun meskipun granatnya telah aktif, golemnya tidak hancur sedikit pun. "Eh? Kenapa ini? Aku tidak bisa melihat! Yang kulihat hanya cahaya putih, apa aku sudah mati!?" begitulah reaksinya karena yang kubuat adalah granat kejut, atau flashbang.


Setelah mendengar reaksinya, aku langsung buru-buru mendekati Rain dan mengerjainya dengan suara berat. "Ya, dan kini kau sedang berada di alam akhirat. Kau akan dituntun untuk menimbang amalmu semasa di dunia."


"Kumohon, aku masih ingin hidup. Aku belum sempat mendapat uang dari Virie. Aku masih belum bisa menikmati uangnya." Ucap Rain sambil menangis.

__ADS_1


Lalu muncul Hien di balik pintu yang sudah memakai baju. "Sedang apa kalian?"


"Hien!? Dimana kau? Kenapa kau ada di sini?" Rain semakin ketakutan.


"Karena aku baru selesai mandi." Jawab Hien.


"Hah? Mandi? Apa maksudnya ini?" setelah beberapa detik kemudian Rain bisa melihat kembali. "D—dimana aku!?"


Aku membalasnya dengan suara yang sama seperti sebelumnya. "Selamat, kau sudah kembali ke duniamu lagi."


Rain yang menyadarinya langsung memukulku berkali-kali sambil menangis. "Kenapa kau lakukan ini! Aku sangat takut kalau aku benar-benar mati."


"Hei, Ken. Jelaskan padaku apa yang terjadi." Ucap Hien.


Aku membalasnya dengan isyarat pendek. Aku menunjuk ke arah golem, kemudian berperaga seperti mengaktifkan granat. Lalu memasukkan telunjukku ke dalam lobang yang kubuat dengan dua jari. Setelah itu aku menutup tanganku lalu membukanya perlahan, memberitahunya bahwa terjadi ledakan. Terakhir aku menunjuk Rain, dan menutup mataku dengan tangan lalu membukanya.


Selagi menjelaskan pada Hien, Rain berkata "Apa kau tidak malu membuat gadis lugu sepertiku menangis ketakutan!?"


Hien menanggapinya dengan mengacungkan jempol padaku. Meskipun aku tidak yakin dia mengetahui maksud dari isyaratku.


Setelahnya aku kepikiran apa yang diucapkan Rain barusan. "Cup-cup, kasihan sekali anak ayah. Jangan nangis terus dong, nanti besar malah jadi wanita yang cengeng loh."


Rain menghentikan pukulannya sejenak, kemudian memukul dengan keras untuk terakhir kalinya lalu mendorongku. "Tutup mulutmu! Jangan anggap aku anak kecil!"


Hien memancing-mancing Rain dengan berkata "Sepertinya kita kedatangan gadis kecil yang cengeng nih."


"Be—berisik! Serang dia Anthonius!" kemudian golem tersebut mendekati Hien lalu memukul perutnya hingga dia tak bertenaga.


"Jangan lari kau sialan!" teriak Rain dari kejauhan.


...~Π~...


Di dalam hutan aku bertemu dengan Artex yang tengah memanjat pohon besar. "Sedang apa kau?" ucapku.


Setelah dia mencapai dahan pertama, dia memotongnya dengan golok yang dibawa di pinggangnya. "Memenuhi keinginan orang gila itu."


"Siapa?"


"Si mata satu."


Aku tidak menjawabnya. Segera aku ikut membantunya dengan memanjat pohon lain untuk memangkas dahannya. "Berapa lagi yang kau butuhkan?"


Namun dirinya menjawab, "Tidak usah, ini yang terakhir. Tapi jika kau sudah naik, ambil saja satu batang lagi."


Setelah mendengar konfirmasinya aku langsung duduk di dahannya lalu memotongnya dengan gergaji.


Setelah hampir terpotong sepenuhnya, Artex tiba-tiba bersuara. "Awas jatoh."


Karena kebodohanku sendiri, aku duduk di dahan yang kupotong. Dengan begitu aku ikut jatuh setelah dahannya berhasil dipotong.

__ADS_1


"Anying—anying—anying!" aku berteriak kesakitan karena pantatku yang lebih dulu menginjak tanah. Dan kali ini gaya bahasaku berubah lagi seperti biasa. Segoblok-gobloknya orang yang menanam padi sambil maju, pastinya lebih idiot diriku yang duduk di dahan yang akan dipotong.


...~Π~...


Dahan-dahan yang kami panggul kemudian ditumpukkan di depan rumah Hien.


"Apa segini cukup?" ujar Artex.


"Yah—sebenarnya kurang tapi tidak apa." Sahut Hien.


"Memangnya untuk apa kayu-kayu ini?" tanyaku.


"Tidak ada. Hanya saja aku ingin menyimpannya untuk di kemudian hari agar aku tidak susah-susah mencarinya." Jawab Hien.


"Jadi kita ini dianggap babu ya." Ucapku dengan tatapan sinis.


Kemudian datang Virie bersama anak-anak membawa keranjang makanan. "Ternyata kalian sudah berkumpul di sini. Kukira nona Rain masih ada di rumahnya. Aku bawakan makan siang untuk kalian." Ucap Virie.


"Asyik!" ucap Rain kegirangan.


Hien langsung menggelar tikar. Lalu Virie meletakkan semua keranjang yang dibawanya dengan Nena dan Clara.


Namun sebelum aku duduk di atas tikar, perutku tiba-tiba sakit lalu menanyakan keberadaan toilet kepada Hien.


"Belok saja ke kiri. Jalan terus dan kalau kau menemukan tangga, pintunya ada di bawah tangganya." Ucap Hien.


"Terima kasih." Lalu aku berjalan mencari toilet yang sudah diberitahu jalannya oleh Hien.


...~Π~...


Aku keluar dengan badan lemas dan perasaan tak enak selepas buang air barusan.


"Kenapa kau?" ujar Artex yang sedang melahap roti isi.


"Horor sekali di dalam." Balasku.


"Memangnya kenapa?"


"Kukira WC-nya akan sama seperti di rumahmu. Tapi di sini malah wahana duduk. Aku sampai kesusahan untuk mengeluarkan limbah alamnya. Jadi aku jongkok saja di atasnya."


"Bagaimana lanjutannya?"


"Untung saja mau keluar. Tapi aku malah jadi trauma jongkok di atas wahana duduk. Aku hampir terpeleset karena licin."


Rain tiba-tiba tertawa keras. "Goblok sekali dia jongkok di kloset duduk. Padahal sudah diberikan kemudahan malah mencari yang lebih sulit."


Virie yang mendengarnya hanya tersenyum lalu mengajakku untuk duduk. "Sekarang kau makan saja dulu, jangan pikirkan apa yang diucapkan nona Rain barusan."


Namun tak kusangka Hien tidak menanggapi apapun selain fokus mengunyah makanannya. Aku curiga dia pernah melakukan hal serupa dan malu setelah mengingatnya. Karena aku juga sering begitu kalau Zack bercerita.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal Zack, entah kenapa aku jadi rindu padanya. Tapi bukan dalam artian yang aneh-aneh. Hanya saja aku ingin tertawa bersamanya lagi, meskipun kami baru berpisah beberapa hari tapi ini sangat sepi kalau tertawa tanpanya.


__ADS_2