
Kami terdiam seketika setelah mendengar hal barusan. "Hah? Apa aku tidak salah dengar?" ujar Rain.
"Memang begitu kenyataannya." Sahut Hien. "Dia terlalu sering menggunakan kemampuannya sehingga dia jadi sering menahan napasnya. Bahkan saking seringnya dia bisa menggunakan kemampuannya lima kali berturut-turut."
"Apa dia tidak apa-apa? Kau saja baru menggunakannya dua kali sudah tumbang."
Oh jadi itu alasan kenapa dia pingsan saat pertama kali bertemu.
"Dia kan meninggal karena itu." Jawab Hien.
Kok suasananya jadi suram begini ya? Setelah ucapannya, aku berpikir untuk mengganti arah pembicaraannya. "Kalau begitu, apa ada hal lain yang harus diperhatikan?"
"Ada dua lagi," jawabnya. "Saat waktunya melambat gerakan yang kita lakukan akan terasa berat. Itulah sebabnya aku menyuruh dia untuk latihan angkat beban." Ucapnya sambil menunjuk ke arah Artex dengan jempolnya. "Lalu selanjutnya, apapun yang terjadi, semua benda atau makhluk hidup akan terlihat berwarna hitam-putih."
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena pada dasarnya mata kita menangkap cahaya untuk melihat, lalu otak menerima informasi tersebut dan mengubahnya menjadi warna. Dikarenakan pada saat itu sebagian dari otak kita juga akan berhenti bekerja.
Selain bisa berpikir dan bergerak, kau tidak bisa melakukan hal lainnya. Kau tidak bisa merasakan sakit, kau tidak bisa mengecap rasa, dan sarafmu tidak akan bisa melakukan gerak refleks karena otakmu akan bekerja dengan sangat lambat."
"Hanya bergerak dan berpikir ya .... Lalu bisa melihat tapi tidak berwarna. Terus bagaimana dengan pendengaran? Apa itu masih bisa digunakan juga?"
"Saat itu gelombang suara juga akan berhenti berjalan sehingga pendengaran kita terhambat sepenuhnya."
Kemudian Rain menyahut, "Kalau memang separah itu efek sampingnya, kupikir lebih baik kita tidak menggunakannya bukan?"
"Memang argumenmu ada benarnya, tapi jika dibandingkan dengan kelebihannya kemampuan ini lebih efektif jika melawan sesuatu yang sangat cepat dibandingkan melawan seseorang berbadan besar."
"Secepat apa?" ujar Rain.
"Secepat .... Entahlah, aku juga belum tahu. Bagaimana kalau kita mengetesnya?"
"Tapi dengan apa?"
"Busur mungkin. Tunggu sebentar ...." Hien masuk ke dalam rumah lalu membawa sebuah busur saat keluar. Namun kelihatannya tidak seperti busur karena di satu sisi terdapat sesuatu yang menghalanginya. Lebih tepatnya itu mirip seperti sebuah perisai
"Apa itu?" ujar Rain.
"Tentu saja busur." Sahut Hien.
"Maksudku untuk apa benda yang menutupi tanganmu itu?"
"Oh, ini?" Hien mencabut pelindungnya dengan gampang. "Entahlah aku juga tidak tahu," lalu dia melemparkannya. "Aku memungutnya di medan tempur beberapa tahun yang lalu. Kupikir aku akan membutuhkan sebuah busur, jadi tanpa pikir panjang langsung kuambil."
"Pemikiran macam apa itu ...." Ucapnya sambil menurunkan kedua matanya.
"Tak perlu dipikirkan. Hey, kau." Ucapnya sambil menatap ke arahku. "Tolong pindahkan boneka di belakangmu."
Aku menurutinya dan memegang boneka latihannya. "Letakkan dimana?"
"Tidak jadi!" ucapnya. "Kupikir lebih baik menembaknya di jarak ini."
__ADS_1
Sialan, kalau aku tahu akan begini lebih baik aku diam saja. Lalu aku kembali mendekati Hien dan Rain.
Saat itu juga Hien menarik panahnya lalu dilepaskan. Dalam seketika dia sudah berada di pertengahan jarak antara boneka dengan kami. Dia terlihat sedang menggenggam anak panahnya.
"Sepertinya ini masih terlalu lambat." Lalu dia berjalan mendekat. "Kurasa kecepatannya masih bisa ditambahkan. Tapi aku tidak tahu senjata apa yang lebih cepat dari busur. Apa kau punya sesuatu?"
"Ada dong! Senjataku lebih cepat dibandingkan busur kayumu itu." Ucap Rain. Kemudian dia terlihat sedang komat-kamit membacakan mantra dan mendorong tangannya ke depan. Lalu muncul bola biru yang menyambarkan listrik.
"Wow, wow, wow. Santai saja. Disini kita akan menangkap sesuatu, bukan meledakkan sesuatu. Simpan kembali benang menyengatmu itu." Ucap Hien.
Akhirnya Rain memadamkan bola listriknya lalu berkata, "Padahal bilangnya ingin benda yang sangat cepat, tapi malah protes setelah melihatnya."
"Padahal bilangnya orang jenius di antara semuanya, tapi otaknya malah dibuang jauh-jauh. Siapa juga yang berani menangkap petir dengan tangan kosong?"
Rain membantah, "Apa kau bilang!? Kau meragukan otak yang lebih pintar darimu!?"
"Ya! Aku sangat ragu sekali kau bisa sepintar itu. Maka dari itu kita minta anak satu ini untuk membuatkan benda yang lebih cepat, dan bisa digunakan dengan aman daripada sihir milikmu itu." Dia menatap ke arahku. "Nah, Zen. Tunjukkan kebolehanmu untuk mengalahkan si jenius ini."
Mendengar pengucapan namaku yang salah, aku membalasnya dengan tatapan sinis sambil berkata "Den. Tolong lain kali ucapkan namaku dengan benar, meskipun hanya tiga huruf namaku adalah pemberian yang berharga."
"Ya, ya, baiklah."
Setelah itu aku membuat pistol lalu mengarahkannya pada boneka di depan. "Sudah siap," ucapku.
"Eh, sudah? Cepatnya." Kemudian Hien mendekatiku. "Oke, serang sekarang."
Aku mengikuti perintahnya dan setelah menghitung mundur, "Tiga... Dua... Satu...." dan.... DOR!!!
...~π~...
"Bodoh sekali kau menahannya dengan kedua jarimu." Ujar Rain.
"Setidaknya kita dapat hasil yang memuaskan. Benda yang dibuatnya bahkan lebih cepat dari sihirmu, dan juga lebih aman untuk dipegang." Balasnya dengan santai.
"Hah?!" balasnya dengan nada tinggi. "Kau bahkan belum tahu seberapa cepat petir milikku. Seharusnya kau mencobanya lebih dulu agar tahu mana yang lebih cepat."
"Tapi punyamu sangat berbahaya. Sebelum bisa tertangkap, aku bakalan kesetrum duluan. Siapa lagi yang harus disalahkan selain dirimu?"
Rain menggeram mendengar pernyataan tersebut.
"Ngomong-ngomong, benda apa yang kau buat barusan?" ujar Hien yang menatap ke arahku.
"Hanya pistol biasa, tidak ada yang spesial dari benda tersebut."
"Mana mungkin benda sekecil itu tidak memiliki rahasia. Apa ada semacam sihir yang kau gunakan?"
"Tidak juga. Bahkan aku tidak bisa menggunakan sihir."
Rain terlihat sangat terkejut setelah mendengar ucapanku. "Apa maksudmu tidak bisa menggunakan sihir?! Bukannya jelas-jelas kau menggunakan sihir untuk menciptakan semua benda itu?"
"Tentu saja ti—" ucapanku terhenti karena tak sengaja terlintas dalam pikiranku tentang penjelasan dari Pa Aryo dulu. "Tunggu sebentar. Apa yang dimaksud sihir itu memiliki kaitannya dengan natergy atau mana?"
__ADS_1
"A—ah, aku tidak tahu menahu mengenai natergy. Tetapi yang jelas sihir memang menggunakan sejumlah mana untuk merapalnya."
"Kalau begitu, apa ada cara untuk mengecek mana seseorang?"
"Tentu saja Ulurkan tanganmu."
Lalu aku mengulurkan tangan padanya. Setelahnya Rain memegang punggung tanganku dan melihatnya secara seksama. Namun Hien tiba-tiba mendekat lalu meludah ke arah tanganku.
Sontak aku langsung menarik tanganku, "Bajingan! Apa maksudnya coba?"
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanku. Aku mengibaskan tangan kananku untuk menghilangkan ludahnya, dan kemudian memasukkannya ke dalam ember yang digunakan Hien sebelumnya.
"—ahahah.... Sudah lama aku tidak melakukan hal seperti ini. Masih saja tetap lucu meskipun sudah lihat kejadiannya berulang-ulang." Ujar Hien.
"Bahkan orang dengan kewaspadaan tinggi seperti Daiwa pun masih bisa terkena perangkapnya." Lanjut Rain.
"Kenapa orang gila selalu memiliki kreativitas yang tak terbatas." Ujarku. "Sepertinya Virie salah merekomendasikanku kepada kalian."
"Jangan merajuk seperti itu dong." Ucap Rain. "Kali ini aku akan memberitahu cara yang benarnya. Ulurkan lagi tanganmu."
"Tidak, aku tidak ingin mengulanginya lagi."
"Tenang saja yang ini betulan kok."
Merasa percaya, aku mengulurkan tanganku untuk kedua kalinya. Namun sesuai firasatku, Hien melakukannya lagi. Kemudian mereka tertawa puas lagi.
Setelah merasa direndahkan aku langsung memasukkan tanganku ke dalam ember sebelumnya, dan juga meludahinya dengan jumlah yang cukup banyak. Dengan sigap aku langsung mengangkat embernya lalu mengguyurkannya ke atas kepala Hien sebagai balas dendam.
Rain tertawa lagi melihat temannya yang basah diguyur campuran air liur. "—ahahah. Maaf, maaf, tolong jangan guyur aku juga karena itu sangat menjijikan.
Untuk kali ini buka saja tanganmu lalu fokuskan kekuatanmu seperti biasa kau menciptakan sesuatu. Tapi jangan sempurnakan hasilnya sehingga kau tidak jadi membentuk bendanya dengan utuh. Lihat bagaimana aku melakukannya."
Setelah dia membuka tangannya, benang berkilau berwarna emas muncul dari telapak tangannya. Perlahan benangnya merambat ke bahunya lalu memperluas ukurannya dan membentuk mantel di punggungnya.
"Ooh! Rupanya bentuknya masih sama saja seperti dulu." Ujar Rain. "Yah, kira-kira begitulah contohnya. Sekarang cobalah."
Setelah melihat proses barusan aku berpikir, Jadi mana yang dia maksud itu natergy. Lalu energi mana yang berwarna biru itu apa?
"Ingat untuk tidak menyempurnakan di bagian akhir." Ucap Rain.
Dengan instruksi terakhir yang diberikannya, aku melakukan hal sama yang telah diajarkan oleh Pak Aryo. Namun cahaya kekuatan yang kukeluarkan langsung membentuk kain lalu menyelimuti tubuhku dan membentuk zirah.
Namun saat helmnya terbentuk, entah kenapa bentuknya sedikit aneh. Pada bagian sebelah kirinya terdapat lubang bergaris-garis vertikal, sedangkan yang satunya garis diagonal tunggal. Tidak seperti sebelumnya, pikirku.
"Silau—Terlalu silau. Kenapa kau bisa memiliki mana sebanyak ini?!" teriak Rain.
Aku segera mematikannya dengan mengucapkan "Tunggu, apa yang harus kukatakan untuk menghilangkannya!? Apa mungkin... 'lenyaplah'!" kemudian cahayanya redup hingga padam.
"Sialan kau penipu!" Bentak Rain.
Dia membuatku terkejut. "Kenapa?"
__ADS_1
"Sialan! Kau bilang tidak punya mana sedikitpun! Tapi saat ditunjukkan malah muncul banyak sekali! Apa maumu! Merendah untuk meroket?!" Rain meraih sendalnya dan bersiap melempar padaku.
Hien yang tidak peduli malah langsung masuk ke dalam rumah. Rain yang masih memegang sendalnya lalu melemparkannya padaku. Aku menangkisnya dan mundur perlahan. Tak menyerah begitu saja Rain mengambil sandal keduanya lalu mendekat. Segera aku lari karena sendalnya terbuat dari kayu, bahkan setelah menahan sendal sebelumnya tanganku masih terasa sakit.