
"Den, tolong kau urus yang di sana." Ucap Artex sambil menunjuk ke arah Timur.
"Oke, siap!" balasku.
Kala itu kami sedang mengurus sawah padi. Artex menerima segala pekerjaan ringan selagi menghasilkan uang. Dia mengajakku untuk membantunya membajak sawah. Bukan perkara sulit bagiku untuk melakukan hal ini karena saat kecil aku selalu ikut kakekku bekerja di sawah.
Panasnya matahari pagi menambah semangat kami untuk bekerja. Berbagai macam keuntungan yang bisa didapat hanya dari siraman cahaya ini. Panasnya tubuh tidak menghasut kami untuk beristirahat.
Tapi setelah kupikir-pikir lagi ini terlalu panas hingga dapat membakar kulitku. Aku mengeluh pada Artex agar berhenti sejenak, dan dia pun mengiyakannya karena pekerjaan kami sudah selesai.
"Apakah biasanya cuaca sepanas ini di sini?" tanyaku pada Artex.
"Tidak. Biasanya lebih dingin dari ini dan selalu sejuk." Jawabnya
Kepalaku mendongak ke atas dan melihat sebuah benda jatuh dari langit. Benda itu bertambah seiring waktu dan mengeluarkan api di sekitarnya. "Eh, bukankah itu meteor?!" aku panik setelah menyadarinya.
"Mana?!" Artex juga kini mulai panik.
Aku menunjuk ke arah meteornya. "Lihatlah ke arah sana! Mereka sedang berjatuhan."
"Kau tunggu di sini! Aku akan pergi ke sana." Artex menyerahkan cerulitnya padaku dan menyuruhku untuk diam di rumah.
"Baiklah." Aku berlari ke arah rumah Artex, tetapi baru saja beberapa langkah aku berubah pikiran. "Aku ikut saja denganmu! Aku ingin tahu bagaimana momen dinosaurus punan!"
...~Π~...
Di lapangan yang luas Artex berhenti berlari. Di hadapannya terdapat seseorang berjubah seperti yang pernah kami temui di dalam hutan. Mungkin hanya aku atau kami berdua berpemikiran sama bahwa dia adalah salah satu dari pengikut iblis.
Sambil komat-kamit mulutnya membacakan mantra, dia juga sedang melakukan ritual. Kutebak dia sedang memperbanyak jumlah meteor yang jatuh.
Namun tebakanku salah, bukan meteor yang bertambah banyak tetapi muncul gerombolan pasukannya. Mulai dari tengkorak yang berdiri, hewan berporsi tubuh manusia, hingga binatang besar yang menyerupai dinosaurus.
Eh, itu asli kan dinosaurus?! Saat ini hanya dinosaurus yang ada dalam pikiranku.
Artex menoleh ke arah belakang dan terkejut. "Bukankah sudah kubilang untuk diam saja?!"
__ADS_1
"Tentu, dan aku mengabaikannya." Jawabku.
"Arrggh, sial! Kalau begitu, berikan aku senjata yang berguna. Aku lupa membawa senjataku di rumah."
Jika dilihat dari kondisinya aku ragu Artex bisa melawan musuh di depan. "Meskipun kau ini tidak bisa mati, tetapi bertarung melawan mereka adalah hal yang sia-sia." Ucapku santai. "Lebih baik kita cari tempat sembunyi dan melihat kejadiannya."
"Bukan itu maksudku! Aku berencana untuk memanggil pasukan dari kerajaan agar datang ke sini."
"Ooh~ kenapa tidak bilang dari tadi."
"Beri aku bahan peledak beserta bungkus dan sumbunya."
"Bahan peledak ya, tunggu sebentar." Sebelumnya aku pernah membuat alat peledak tetapi itu hanya berfungsi ketika di tanganku. Mungkin di saat seperti ini sulfur akan membantu, karena aku sering membaca bahwa bubuk mesiu itu terbuat darinya. Kemudian aku memberikan sekantong sulfur bubuk sekaligus dengan korek bensin untuk menyalakan sumbunya.
"Tunggu dulu. Butuh pewarna hijau untuk informasi bahaya."
"Baiklah," kubuka kembali ikatannya dan kumasukkan pewarnanya, "Ini dia." Ternyata yang diinginkannya itu adalah suar.
Aku menyalakan sumbunya dan Artex melemparnya ke langit. Dia bilang bahwa suarnya kurang dan memintaku untuk membuatkan beberapa lagi. Dengan senang hati aku menurutinya.
"Tidak, tidak usah. Itu hanya akan memberikan informasi yang salah. Kita tunggu saja mereka tiba. Kuakui bahwa kepekaan mereka terhadap ledakan suar begitu jelek."
Dibandingkan datangnya para pasukan, meteor yang dipanggil sudah hampir sampai ke daratan. Saat ini aku sedang panik melebihi dinosaurus yang sudah punah.
Kubuat dinding lingkaran untuk menutupi kami. Satu lapisan baja tidak akan kuat menahan hujan ini, maka dari itu empat lapis baja kutambahkan lagi agar lebih kuat. Tetapi oksigen di dalamnya semakin sedikit.
Benturan keras menghantam kemah bulat kami beberapa kali hingga tak terhitung jumlahnya. Suara bising dan getarannya sudah terasa cukup keras. Mungkin pelindungnya sudah hancur beberapa lapis.
Akhirnya hujannya berhenti. Saat kuserap sisa energi bajanya, yang terserap hanya dua lapis. Seperti yang kuperkirakan, tiga lapis lainnya sudah tertembus oleh serbuan bebatuan panas. Untung saja lubang yang tercipta tidak begitu berantakan sehingga kami dapat keluar.
Rumput-rumput yang tadinya masih hijau kini hilang ditelan oleh panasnya api.
"Kenapa tidak ada batu meteornya?" ujarku keheranan.
"Wajar saja karena dia menggunakan flame fall, bukannya meteor fall."
__ADS_1
Para pasukan yang dipanggil mulai berlarian ke arah kami. Segera kami mencari tempat perlindungan. Mereka berlarian ke arah kota sambil bersorak-sorai.
Namun di sisi lain juga terdengar suara hentakan kaki. "Lama sekali datangnya." Ujar Artex. Para pasukan kerajaan datang membawa kuda mereka. Dipimpin oleh seorang ksatria dan orang berjenggot bertopi mancung.
Saat pemimpinnya menyorakkan kata "Uraa!!" semua pasukannya menyerbu musuh di hadapan mereka. Kedua sisi saling beradu mata mereka, didukung oleh beberapa penyihir di belakangnya. Tak lupa pemanah di sisi kerajaan ikut berperan membasmi sisi iblis.
Kami mencuri kesempatan dari pertarungan mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Namun bukannya berlindung, Artex malah ikut berperang ke barisan depan dan menyuruhku untuk mencari tempat yang aman. Dia memasuki medan pertempuran dan mencuri salah satu pedang yang tergeletak.
Aku tak mau kalah olehnya dan ikut bergabung ke barisan pemanah. Aku membuat busur beserta panahnya menyerupai milik mereka. Begitu juga pola serangannya, aku meniru gerakan mereka meskipun sedikit terlambat di setiap gerakannya.
Entah benar atau salah siapa yang harus kubidik. Tetapi aku tak peduli karena sekutuku hanyalah Artex seorang. Bahkan jika di sampingku ini seorang manusia juga, bisa saja mereka adalah musuhku yang sebenarnya.
Setelah beberapa tembakan ternyata ada yang menyadari keberadaanku. Orang yang tepat berada di kananku ini menodongkan panahnya ke arahku. "Siapa kau! Beraninya menyusup ke pasukan kami."
Jelas aku panik dan langsung melarikan diri tanpa menjawabnya. Aku berlari ke barisan depan, masuk ke dalam kerumunan. Aku mencari Artex untuk memberitahunya.
"Seram juga di barisan belakang." Ucapku sambil menangkis serangan musuh dengan pedang.
"Ada apa?" tanya Artex yang sama sedang bertarung.
"Begi—tulah," aku menendang orang di depanku, "Seseorang menyadari keberadaanku selagi aku berkamuflase di barisan mereka."
"Abaikan saja. Lagipula mereka tidak akan bisa mengingatmu jika kau tidak memperlihatkan wajahmu pada mereka." Balasnya. "Daripada itu, lakukanlah sesuatu untuk menghabisi pasukan di depan!"
Melihat yang ada di depan, aku langsung mengerti dan membuat sebuah bazoka.
"Itu orangnya! Tangkap dia!" teriak seseorang dari belakang.
Karena kaget, sasaranku meleset sedikit dan mengarah lebih ke atas sedikit. Takut ketahuan, aku langsung menyerap kembali bazokanya.
Seseorang mendekati kami dan ternyata dia adalah yang orang yang tadi menyadari kehadiranku. "Jangan biarkan dia lolos!"
Namun sebelum dia mendekati kami, *BOOMM!!* isi bazoka yang sebelumnya meledak dan menimbulkan ledakan yang besar. Gerakan semua orang terhenti dan terkesima melihatnya.
Terompet berbunyi dari arah musuh, mengeluarkan suara nyaring dengan tiupan yang dipotong-potong seperti sebuah sinyal. Semua monster mundur menjauhi medan perang dan meninggalkan tubuh tak bernyawa dari rekannya sendiri.
__ADS_1
Pria tadi lalu menodongkan belati pada kami. "Siapa kau sebenarnya?!"