The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Mimpi Kebasahan


__ADS_3

Di hari berikutnya aku bangun dengan perasaan tidak nyaman. Rasa kantuk masih mengalahkan semangat pagiku. Aku melihat ke luar jendela dan dugaanku benar, hari masih terlihat gelap. "Sudah kuduga aku tidak akan bisa tidur di tempat mewah." Aku beranjak dari tempat tidur lalu mencari toilet di ruangannya namun tidak kutemukan.


Sambil dalam keadaan setengah terjaga, aku mencoba mencarinya ke luar ruangan seorang diri. Untung saja rumah ini tidak begitu besar hingga aku bisa menemukannya dalam hitungan menit. Saat hendak memasuki jalan masuk, tiba-tiba keluar seseorang.


"Oh! Ini kamar mandi perempuan, ya?" ucapku. "Maafkan aku. Aku akan segera pergi ke kamar mandi laki-laki."


"Apa maksudmu? Tempat laki-laki memang ada di sini! Sedari dulu kamar mandi perempuan dan laki-laki memang bersebelahan. Atau mungkin kau orang baru di sini?" balas wanita itu.


"Ya, aku memang baru di sini. Baru kemarin aku sampai ke sini dan belum sempat melihat-lihat tempat ini. Makanya aku masih kebingungan mencari kamar mandi." Aku pun masuk ke kamar mandi pria yang ada di sebelahnya. "Kalau begitu, aku akan masuk saja. Maaf jika aku merepotkanmu."


Di dalam aku melihat wastafel dan segera menghampirinya untuk membasuh wajahku. Tidak lupa rutinitasku untuk kencing setiap kali aku ke kamar mandi setelah bangun tidur. Sekali lagi aku membasuh wajahku untuk memastikan bahwa mataku sudah benar-benar terbangun dan tidak menyisakan kotoran.


Setelah selesai aku segera keluar namun belum juga di depan pintu aku sudah bisa melihat orang tadi masih berada di sana—bersandar pada dinding sambil memejamkan matanya. Aku tidak ingin membuat suasana yang canggung dan kemudian aku kembali lagi ke dalam. Memikirkan hal apa yang bisa kulakukan untuk menunggu agar dia segera pergi dari sana. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan dalam waktu yang lama hanyalah buang air... besar, tentunya.


Sepuluh menit telah berlalu begitu juga isi perutku. Rasanya sakit setelah buang air tetapi perut belum terisi. Aku berjalan menuju pintu keluar dan masih melihat perempuan itu masih berada di tempat yang sama. Kali ini aku tidak punya pilihan lain selain melangkah maju. Aku berjalan perlahan sambil menundukkan kepala. "Pe-permisi."


Perempuan itu ikut berjalan dengan terburu-buru dan berhenti di depanku. Aku menatapnya karena heran. Lalu dia melayangkan sebuah pukulan tepat di arah perutku. Pukulan yang teramat keras hingga perutku makin terasa sakit setelah dikeluarkan seluruh isinya.


"Apa-apaan sikapmu itu! Padahal baru saja kita berbicara tapi kau malah berpura-pura tidak mengenalku!" bentaknya.


"Bukannya aku memang tidak mengenalmu?" ucapku rintih.


"Berisik! Perlu kau tahu, dari tadi aku sudah bosan menunggumu namun kau tak kunjung keluar!"


Aku mencoba berdiri, "Memangnya kenapa juga kau menungguku? Bahkan aku bukanlah orang penting yang harus dicegat untuk suatu keperluan."


"Sudahlah! Aku sudah mengganti tujuanku menunggumu hanya untuk membalas perbuatanmu itu." Dia pun pergi ke arah berlawanan dari arah aku datang. "Lain kali jika kau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya, tidak akan kubiarkan kau pergi dalam keadaan sehat."


Perutku yang kesakitan membuatku tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya aku pasrah saja dan segera kembali ke kamarku.


...~Π~...


Sesampainya di depan pintu, aku mendengar suara pintu tertutup dari samping. Aku menengok ke kanan-kiri dan tidak menemukan apapun. Jelas saja itu membuatku takut dan segera masuk ke dalam kamar.


Di dalam aku mendapati Artex yang masih tertidur pulas. Malam yang hening membuatku merasa sepi. Inginnya membangunkan Artex untuk mengajak mengobrol tetapi dilihat dari mukanya, sepertinya dia sedang dalam mimpi indahnya. Sebagai temannya aku tidak ingin mengganggu waktu pribadinya.


"Tapi menjahilinya mungkin akan menyenangkan," gumamku, "Cukup tuangkan saja krim di lengannya. Hehehehe." Krim putih memenuhi seluruh telapak tangan Artex. Aku berharap dia akan mengusapkan pada mukanya setelah dia bangun.


Agar tidak membuatnya curiga, aku tidur kembali di tempat tidurku—di sampingnya.


~Π~


"Lari, Den! Selamatkan dirimu!" teriak Zack dari kejauhan.


Aku keheranan dengan apa yang terjadi dan berteriak pada Zack, "Memangnya kenapa?!"


"Liat di belakang! Buru lari atau kau bakalan ditangkap!" balasnya.


Lantas aku melihat ke belakang, dan.... "Buset!!" nampak sosok Pa Aryo dengan ukuran raksasa sedang membawa jidar sakralnya bersiap untuk memukul. Aku mencoba untuk berlari tetapi setiap kali berlari selalu saja terjatuh hingga raksasa Pa Aryo sudah berada lima meter di belakangku. Dia melayangkan jidar besarnya untuk memukulku. Semakin lama jidar besar itu semakin dekat dan besar. "Ampun, Paaaak!!!"


"Gah!" aku membuka mataku dan rupanya aku sedang bermimpi. Syukurlah aku tersadar dari mimpi itu, tetapi mengapa punggung dan rambutku terasa basah. Kurasa semua bagian belakangku yang basah.


Tiba-tiba Zack muncul di hadapanku. "Udah balik nyawanya?"


Aku terkejut sekaligus lega. "Jadi masih mimpi, ya. Kalau begitu tidak usah khawatir." Aku kembali menutup mata.


*Plak-plak!


Zack menepuk-nepuk pipiku. "Mimpi matamu. Ini nyata woy! Bangun dulu, bangun."

__ADS_1


Aku pun bangun dan melihat ada Zack, Juan, Wahyu dan lainnya berada di sini—tempat kosong yang hanya ada genangan air. "Di mana kita?" tanyaku pada Zack.


"Gatau. Tiba-tiba aja aku pas jalan ke sekolah langsung ada di sini. Si Wahyu juga tadi lagi mandi katanya. Yah, untungnya udah pake anduk jadi ga keliatan bawahnya lah." Jawab Zack.


"Apa hanya ada kita di sini? Mana Pa Aryo?"


"Gatau. Eh tapi mending benerin dulu cara ngomongmu itu. Rada ganggu kalo ngobrol pake bahasa formal mah."


Salsa memukul pelan bahu Zack begitu mendengarnya. "Ssharusnya kamu yang membetulkan cara bicaramu itu. Jangan menjerumuskan orang lain ke jalan sesatmu."


"Ah elah. Lagian kan udah jadi bahasa sehari-hari. Presiden juga pake toh."


Salsa menjitak Zack sekuat tenaga. "Sejak kapan presiden pakai bahasa ceker ayam!"


"Ajig!" rintih Zack. "Kenapa pula harus dijitak!" dia melakukan hal serupa pada Salsa untuk membalasnya.


"Aww!! Haruskah pakai kekuatanmu untuk memukulku?!"


"Gak keras, gak kerasa!" Zack tersenyum bangga mengucapkannya.


Salsa hendak membalas Zack tetapi Zack yang sudah tahu niatnya segera menangkisnya. "Ngapain hayo?" ucap Zack mengejek Salsa.


Salsa dengan idenya membuka portal mengarah ke belakang kepala Zack. Dia memukulnya sekeras mungkin dan merasa puas atas keberhasilannya.


Zack masih tidak terima mencoba membalasnya lagi tetapi setelah berdiri dia langsung terdiam. Wahyu telah memegang kepala kedua orang itu.


"Bacot mulu ni yang lagi pacaran." Ucap Wahyu sambil mendinginkan kepala mereka. Mendinginkan dalam artian yang sesungguhnya.


"Matamu!" ucap mereka serentak.


"Tuh kan, yang lagi pacaran mah kompaknya ga main."


"Udah mendingan normalin lagi ini kepala. Dingin gini." Ucap Zack.


Di tengah kesibukan mereka, aku mencoba memalingkan pandanganku dengan melihat sekitar. Di belakang ketiga orang tersebut ada enam orang lainnya yang sedang bermain kartu. Dengan bermodalkan kartu joker yang sudah diperbesar oleh Argon sebagai alas, mereka tidak takut celana atau rok mereka basah karena genangan air.


Aku mencoba melihat ke arah lain dan melihat sosok yang sedang berjalan mendekati kami. Aku mencoba melihatnya lebih jelas menggunakan teropong. Tetapi tetap saja aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku mencoba memberi tahu kepada temanku bahwa ada seseorang dari kejauhan, namun setelah melepas teropongnya dari mataku tiba-tiba gumpalan air melesat begitu cepat ke arah dadaku dan membuatku terpukul jatuh. Entah kenapa bisa ada air yang melaju ke arahku.


Zack merespon keadaanku sambil terkejut, "Eh, si Den kenapa tuh?" dia menghampiriku. "Kenapa kau? Tiba-tiba kesungkur aja kaya ada yang mukul."


"Entahlah," jawabku, "Aku juga tidak tahu. Tapi rasanya aku melihat semburan air dan membuatku terpukul seperti ini."


"Wuohh! Kaya disemprot mobil pemadam kah?!" bukannya khawatir, Zack malah kegirangan. "Gimana rasanya, Den? Pengen nyoba juga kaya di video-video meme itu. Kayanya asik"


"Sudahlah, jangan bercanda seperti itu. Rasanya akan sakit kalau kau mengalaminya sendiri. Mungkin barusan itu serangan oleh orang di sana." Aku menunjuk ke arah sosok yang belum jelas.


Zack, Salsa dan Wahyu mengamatinya. Tidak berselang lama kemudian mereka mulai bersiaga. Salsa langsung membuka portalnya, Wahyu ikut mendinginkan genangan air dan membuatnya membentuk papan rambu lalu lintas, dan Zack, "Ini mau ngerasin apaan coba? Air kan gabisa jadi keras!"


"Arak kan termasuk air keras, Zack." Ucapku sambil berusaha untuk berdiri. Aku membuatkan sebuah panci lalu memberikannya pada Zack.


"Panci buat apa! Yang lebih guna kek kaya tameng." Keluh Zack.


"Oh, iya-iya. Sabar ya." Aku pun menggantinya menjadi sebuah perisai.


Saat Zack berbalik, ia langsung disuguhi oleh semburan air yang menyerupai kepalan tinju secara bertubi-tubi.


"Wey-wey, kalem dong!" beberapa serangan menghantamnya sebelum dia menahan semua serangan selanjutnya.


Menyadari hal itu, Salsa melebarkan portalnya hingga menutupi seluruh pandangan kami. Semua air masuk ke dalam portalnya, entah menuju kemana air itu berpindah. "Kalian lebih baik maju saja dan lihat situasinya! Aku akan menahannya sampai serangannya berhenti." Ucap Salsa.

__ADS_1


Kami bertiga belari menuju arah musuh. Namun serangannya berhenti hingga harus membuat gerakan kami terhenti. Tak lama muncul serangan baru dengan wujud yang lebih besar. Tiga ekor naga air muncul dari genangan air lalu terbang menuju arah kami. Kami kembali berlari tergesa-gesa. Berlomba-lomba agar sampai di belakang Salsa dan mengharapkan perlindungannya.


Namun Salsa menghilangkan portalnya dan menengok ke arah Juan dan beberapa orang yang sedang bermain kartu. "Argon! Cepat kemari, kami membutuhkan bantuanmu!" teriak Salsa.


"Bentar tanggung! Si Juan bentar lagi kalah nih." balas Argon.


"Cepatlah kemari! Ini sangat penting!"


"Iya-iya, bentar!"


Setibanya kami di tempat Salsa berdiri, Salsa langsung membuka portal mengarah ke bawah dan terjatuhlah Argon yang sedang duduk memegang kartu di tangan kanannya. "Dibilangin bentar! Dikit lagi si Juan kalah tuh!" keluh Argon.


"Udah ituma urusan nanti aja," balas Wahyu. "Sekarang mah mending bantuin lawan naga bonar aja dulu."


"Mana ada naga bonar di sini." Jawab Argon lalu menengok ke belakang. "Anjir beneran dong!"


"Dibilangin." Balas Wahyu.


"Yaudah kalo gitu minta panci." Argon menatap ke arahku.


Tanpa beralasan lagi aku langsung memberikannya.


"Wah, badut mau ngelawak nih." Sahut Zack.


Namun Argon tak menghiraukan ejekan Zack. "Liat aja nih, tutorial main pabji di real life." Kemudian dia mengubah volume pancinya menjadi raksasa lalu memukul ketiga naga yang sedang menukik.


*Crak!


Argon mengenai kepala mereka. Ketiga naga itu berhamburan menjadi muncratan air. Cipratan airnya membuat kami basah kuyup. Air yang berjatuhan memberi dampak gelombang yang cukup berasa pada genangan air. "Nah gitu cara main panci." Argon menyombongkan diri kepada Zack.


Namun tak berhenti di situ. Tiga naga muncul lagi lalu terbang berpisahan ke arah kami. Argon kebingungan untuk menyerang yang mana lebih dulu. "Zack, kau ambil yang kanan aku ambil yang kiri. Yang tengah sama siapa aja boleh asal bisa ketahan." Tegas Argon. Kemudian mereka berdua saling mengambil posisi menyisakan naga di tengah.


Aku tidak mempunyai ide apapun untuk menanganinya, namun Wahyu dengan beraninya maju menghadapi naga air yang tengah. Mereka bertiga telah mengambil posisi masing-masing, namun Salsa berpesan kepadaku.


"Den, bisakah kau membuatkanku sebuah tembok di belakangku?" ucap Salsa.


"Tentu," balasku, "Tapi untuk apa?"


"Aku ragu Wahyu bisa menahan yang satu ini. Kutahu kecepatan pembekuannya tidak secepat terjangan naga itu." Balasnya.


Tanpa basa-basi aku langsung menurutinya. "Baiklah kalau begitu, aku mengerti maksudmu."


"Tapi sebelum itu, buatkan dulu tembok kecil untukmu agar bisa pergi ke sana."


Aku pun langsung membangun sebuah tembok tanpa mempertanyakannya. Lalu aku berpindah ke tempat jauh di belakang Salsa. Setelah kubangun tembok seukuran naga air, portal milik Salsa seketika terbuka pada tembok di sisi belakangnya. Namun aku sadar dia tidak bisa mempertahankan dua jalan sekaligus, dan akhirnya portal untukku kembali menghilang.


Langsung aku berlari secepat mungkin namun naga air telah memasuki portal dan menghantam daratan hingga membuat gelombang air yang besar. Aku terdorong oleh arus karena tak kuasa menahannya. Untung saja airnya tidak membawaku pergi menjauh dari teman-temanku dan malah membuatku mendekati mereka.


Saat aku bangkit, di hadapanku sudah ada sebuah ombak laut setinggi empat meter dengan musuhku berdiri di atasnya. "Den? Apa kau bisa membuat tembok seukuran air itu?" Salsa gemetar melihat ombak besar itu.


"Ya, tapi mungkin aku akan kehilangan separuh Natergy-ku. Sebaiknya kita pikirkan saja cara yang lebih efisien dibandingkan memindahkan ombak sebesar itu. Jika dibandingkan dengan naga barusan, dampak dari ombak ini akan jauh lebih besar dan sangat tidak menguntungkan kita." Balasku.


"Lalu harus bagaimana?"


"Udah yang ini mah ga usah ganggu lagi," sela Wahyu. "Biar aku aja yang beresin." Kemudian dia membentangkan kedua tangannya lalu segera menapakkan telapak tangannya ke dasar air dan, srett.... Dengan cepat air membeku dan merambat lurus ke arah ombak besar di depan. Hanya dalam satu kedipan ombak setinggi empat meter membeku sepenuhnya.


Di balik kekuatan yang besar, pasti ada dampak yang besar pula. Begitu pula Wahyu yang langsung tumbang setelah membekukan air sebanyak itu.


"Duh, kasian ni anak. Udah mah gapake baju malah main air, udah gitu air dingin pula." Ucap Zack sambil menyeret Wahyu untuk membawanya ke tempat kartu melayang.

__ADS_1


Gletser yang diciptakan Wahyu nampaknya mulai roboh. Pria di atasnya terjun dibarengi runtuhnya pijakan es. Namun bukannya mendarat di dasar air, dia lebih memilih untuk menaikkan air dan menggunakannya sebagai pijakan baru untuk membantunya turun.


Dia berlari ke arah sini sambil mengepalkan tinjunya. Tentu saja kami meresponnya dan bersiap menghadapinya secara langsung.


__ADS_2