The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Munculnya Lawan Baru yang Tangguh


__ADS_3

"Mendingan langsung ke Pa Aryo aja deh." gumamku. "Tapi ini jam berapa ya, takutnya dia lagi ngajar?"


Sambil gugup, aku memberanikan diri untuk masuk ke gerbang sekolah. Aku berjalan menuju ruang guru lalu mengintip di jendela dan mendapati banyak guru yang sedang beristirahat atau mengerjakan tugasnya masing-masing.


Aku tak melihat keberadaan Pa Aryo di ruangan ini. Segera aku langsung berpindah tempat ke ruang kepala sekolah.


Namun di sini juga tidak ada satu pun guru yang singgah. "Mungkin mereka lagi sibuk?" gumamku.


Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kelas saja.


Di sana lagi-lagi aku mengintip dari jendela. Tapi yang kulihat hanya ada sedikit murid yang sedang belajar, bahkan Zack juga tidak ada. Aku melirik ke arah Mamad yang sedang memainkan pensil. Setelah itu aku membuatkan cermin lalu memantulkan cahaya dan mengarahkan ke matanya.


Untung saja pantulan cahayanya tidak terhalang oleh siapapun dan langsung mengenai Mamad. Setelah menyadarinya, dia bergegas menghampiriku.


"Kenapa?" ucap Mamad.


"Yang lain pada kemana?" balasku.


"Oh, si Zack, Salsa sama si Juan lagi disuruh Pa Aryo."


"Disuruh kemana?"


"Gatau. Tapi palingan kaya biasa aja, mereka lagi gelut sama 'iblis'." Ucap Mamad sambil mengangkat dua jari lalu menekuk-nekuknya.


"Yaudah sih." Kini aku berpikir untuk kembali pulang saja serta menunggu waktu sekolah berakhir untuk menemui Pa Aryo di waktu kosongnya.


Namun tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki, seperti seseorang yang sedang berlari. "Mad!" teriak seseorang di belakangku.


Setelah kutengok ke belakang, rupanya itu Salsa.


"Oh, kebetulan sekali ada kau! Buruan ikut aku." Salsa langsung menarik lenganku dan kemudian mengajakku berlari ke arah dia datang.


"Lah, lah? Mau kemana?" tanyaku.


"Sudah, diam saja dulu!" setelah sampai di toilet, Salsa langsung membukakan portalnya dan menyeretku masuk.


Setelah itu kami berpindah ke suatu tempat dimana terdapat banyak sekali pohon tinggi dan bercabang. Di depan terdengar suara benturan besi berulang kali.


"Ayo ke sana!" tegas Salsa.


Aku mengikutinya dan nampak Zack sedang menangkis serangan dari seseorang. Dengan sabitnya ia berusaha memantulkan arah serangan dari ayunan pedang lawan.


Aku yang tak tahan melihat Zack kesulitan segera berlari menghampiri untuk membantunya. "Zack!" teriakku.


Zack menengok ke arahku lalu menggibaskan sabitnya ke arah lawan dan berlari ke arahku. "Tameng sama pedang!" teriaknya.


Aku mengerti maksud dari ucapannya dan kemudian membuatkan sebuah perisai dan sebilah pedang. Setelah dekat dia melempar sabitnya dan menghilang lalu mengambil perisai dan pedang dariku.


Kami segera berlari lagi ke arah lawan untuk menyerang balik. Namun tak diduga dia bisa terbang dengan aksi pedang-pedang melayang yang mengitari bagian punggungnya, membentuk sebuah lingkaran.


Kami berhenti karena tidak bisa mengejarnya. "Waduh, gimana nih?" ucap Zack.


Kemudian dia menggerakkan kedua tangannya dari samping ke tengah, diikuti dua pedang di belakang punggungnya yang berada di masing-masing sisi. Lalu dia mendorong tangannya dan pedangnya melayang ke arah kami dengan kecepatan tinggi.


Aku berinisiatif untuk mengambil perisai yang dipegang Zack lalu memperbesar ukurannya. 'Tang! Tang! ' pedang yang melayang barusan berhasil kutahan.

__ADS_1


"Kayanya harus pake senjata jarak jauh aja, Zack." Ujarku. "Pegang ini." Aku memberikan lagi perisainya pada Zack. Setelah itu aku membuat sniper untuk menembak lawan kami.


Namun sebelum memunculkan kepala untuk melihat sasaran, tiba-tiba pedangnya melayang lagi ke arah kami dengan jumlah yang banyak.


Kemudian Salsa mendekat lalu menyentuh perisainya dan muncul portal miliknya menghadap ke depan di atas kami. Seketika lemparan pedang yang ditahan oleh Zack berhasil ia balikkan arahnya hingga membuatnya berhenti menyerang.


"Kesempatan!" tegas Salsa.


Begitu mendengarnya aku langsung mengintip lagi lalu segera membidik dengan senjataku. Dor!


"Kena ga?" ujar Zack.


"Malah naik ke atas." Jawabku. "Kayanya gara-gara recoilnya sih."


Kemudian aku mengintip lagi untuk kedua kalinya dan terlihat pedangnya melayang dengan arah melengkung. Segera aku mundur kembali lalu membuat perisai kedua dan memberitahu Salsa, "Saa, dari kanan juga ada."


Salsa memindahkan portal di atasnya ke samping kanan Zack lalu memperbesar ukurannya. Suara berisik dari pedang dan perisainya semakin menjadi-jadi.


"Apa ga ada cara buat ngedeketin dia?!" teriak Zack.


"Palingan maju buat bundir!" jawabku.


"Asu!" balas Zack.


"Aku akan mencoba menyelinap ke belakangnya! Den, buat lagi perisai untuk menahan yang satu ini!" teriak Salsa.


Aku menurutinya dan memberikannya pada Zack.


"Tai, malah dikasi lagi!" keluh Zack.


"Cok, mau sampe kapan kita nahan terus?!" ujar Zack. "Lama-lama nanti jebol juga ni tameng."


"Ya, mau gimana lagi! Ga ada celah buat kabur!"


"Coba jalan ke samping."


"Samping mana?"


"Kanan, kanan."


Kemudian kami bergerak ke arah kanan Artex. Sambil mempertahankan posisi, aku berjalan mundur dengan hati-hati agar tidak mendahului Zack. Lalu punggungku menyentuh tangan Zack.


"Pohon, cok!"


"Duh, harus gimana ini?"


Sesaat setelah itu suara gemuruhnya berhenti terdengar. Zack berkata, "Apa udahan ini?"


Aku mengintip sedikit untuk melihat situasinya, dan ternyata ada seseorang yang sedang menghalau lawan kita saat ini. Mungkin itu Salsa.


"Udahan kah?" tanya Zack.


"Kayanya udah." Jawabku. Setelah itu kami membuang perisainya lalu bergegas maju ke depan untuk membantu Salsa.


Namun saat kulihat dari dekat, rupanya itu bukan Salsa melainkan Juan yang sedang mengarahkan tombak hitam.

__ADS_1


"Kekuatan apa yang kau gunakan itu?!" sepertinya Juan berhasil menghalau serangan lawan.


"Penasaran?" ujar Juan.


"Mana mungkin." Kemudian dia mengambil satu pedang lagi dari punggungnya, dan dengan cepat menebas angin di hadapannya membentuk silang. Efek dari tebasannya memproyeksikan gelombang cahaya.


Juan menghisapnya dengan kekuatan hitamnya. Lalu dia berlari ke depan dan mengayunkan tombak hitamnya, namun berhasil ditangkis. Kini lawan menyerang balik Juan.


Tebasan pertama berhasil ditangkis oleh Juan. Yang kedua berhasil dihindarinya. Setelah mendapat pijakan yang tepat, Juan menyerang balik dengan melempar tombaknya, namun berhasil ditangkis juga. Kemudian Juan membuat senjata keduanya dan mengambil bentuk pedang dua buah.


"Oh? Ingin meniruku? Mari kita lihat siapa yang lebih kuat dalam pertarungan ini." Ucapnya.


"Buru, Den! Langsung serang! Mumpung ada waktu!" seru Zack.


Untuk kedua kalinya aku membidik ke arah kepalanya dengan sniper. Namun sepertinya dia tahu maksudku, kemudian bergerak sana-sini sembari menyerang Juan dan membuatku sulit untuk mengarahkannya.


"Kau takkan bisa menyerangku dengan cara yang sama, cil." Ucapnya.


"Ah, sial!" keluhku. "Udahlah kau yang maju aja, Zack." Kemudian aku membuatkan Zack zirah sebagai pelindung kedua setelah perisainya.


"Sekalian senjatanya dong—"


"Kan udah ada itu tempurung besi! Mana segede gaban gitu."


"Ya makanya ganti aja, berat anjir!"


"Yaudah sini!" lalu kuubah bentuk perisainya jadi sebuah pedang kecil dan panjang. Tapi kok malah mirip katana ya? "Maju, anak buahku!"


"Siap, paduka!" Zack berlari sambil menggusur pedangnya ke tanah.


Saat Zack mengayunkan pedangnya, dengan sekejap mata pedangnya dipatahkan. Lawan juga berhasil memukul mundur Juan dengan pedang yang sama.


"Dua lawan satu ya? Baiklah kalau begitu." Kemudian dia menancapkan kedua pedangnya ke tanah. "Aku sang Oniken mempersembahkan setengah dari jiwaku sebagai bentuk kesetiaanku padamu! Tolong dengarlah permintaan egoisku ini, dan berikanlah kekuatanmu padaku!"


Selagi dia komat-kamit, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menembaknya. Karena tidak ada waktu untuk membidik kepalanya, maka aku mengarahkannya pada tubuhnya saja. Namun setelah kutembak, lagi-lagi dia menyadarinya dan menangkap peluru sniperku. Beneran ini? Padahal kecepatan tembakan sniper sangat cepat loh?


"Jangan menggangguku, bocah sialan!" Ucapnya dengan nada berat.


Akhirnya lawan yang diduga Oniken itu diselimuti oleh cahaya hitam disertai kilatan petir berwarna merah. Sesaat setelahnya cahayanya hilang dan memperlihatkan dua orang dengan baju zirah serupa—helm dengan moncong ke depan di dahinya, cahaya merah di bagian matanya, penutup besi di bagian mulutnya, dengan tambahan lempengan di kepala bagian sampingnya. Lalu bajunya penuh dengan— *Srett. Mereka menghilang seketika.


Hal tersebut membuat kami bertiga terkejut. "Lah, kabur kah dia?" ujar Zack.


Namun beberapa detik kemudian mereka tiba-tiba muncul di hadapanku dan Juan. Kakinya menendang keras ke bagian perutku, membuatku terpental jauh hingga menghantam pohon.


*Ghak. Secara bersamaan punggung dan perutku terasa sakit sekali. Aku mencoba 'tuk bangkit, namun tak bisa karena tubuhku terasa lemas dan terasa mual.


Sebelum bisa membalas serangannya, dia muncul lagi di hadapanku lalu mengangkatku dan memukul bagian perut dan dada berulang kali.


"Bagaimana? Apa kau bisa membalasku dengan senjata murahan milikmu itu?" ucapnya.


Masih saja aku terus dipukuli oleh pukulan cepatnya. Bahkan sampai-sampai sakitnya tidak terasa lagi setelah terlalu banyak merasakan sakit di dada. Akhirnya dia melepaskanku hingga aku dapat berkata, "Za—Zack, cari si Salsa. Buru minta bantuan ke yang lain."


Namun Zack tidak menghiraukannya dan malah berlari ke sini. Meskipun tidak bisa menandingi kecepatannya, dia masih bisa menahan serangannya berkat baju zirah yang dipakainya. "Asu, cepet banget!" ucapnya.


Setelah melihat Zack yang berhasil menahannya, aku berinisiatif membuatkan zirahnya untukku sendiri. Meskipun badanku tak kuat menahannya, kupaksakan kakiku untuk menopangnya. Aku berlari ke arah lawan, melompat dan bersiap memukulnya dengan tanganku.

__ADS_1


Dia menyadariku lalu berbalik dan menyiapkan kepalan tinjunya untukku.


__ADS_2