
"—ga puluh... delapan." Kami sedang melakukan push up untuk melanjutkan latihan yang diberikan oleh Hien.
Terasa berat sekali bagiku meski baru 38 kali push up. Entah mengapa mereka berdua terlihat enteng sekali mengerjakannya.
"Tujuh puluh." Bahkan Artex yang kukira akan sama staminanya malah lebih banyak hitungannya dariku.
"Seratus empat puluh, seratus empat puluh satu." Dia orang atau bukan ya?
"Jangan memaksakan diri. Nanti bisa keram loh." Ujar Rain. Mungkin karena dia melihat tanganku bergetar jadinya dia kasihan padaku.
"San—tai," ucapku begitu namun pada hitungan ke-41 aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Napasku terengah-engah dan segera menghampiri Rain.
"Selamat bergabung di kelompok rebahan." Ujar Rain.
"Minumlah dulu." Virie menawariku segelas air.
"Tidak usah." Balasku. "Huff... huff.... Kenapa ya—mereka bisa sekuat itu?"
"Si Hien kan memang dari dulu selalu latihan seperti itu." Sahut Rain. "Bahkan setiap harinya dihabiskan hanya untuk berlatih. Terlebih lagi semasa kejayaannya dia pernah bertarung dengan seseorang yang sangat kuat hingga mendapat julukan... julukan... si... apa ya?"
"Manusia abadi!" sahut Hien yang telah berhenti.
"Apa benar? Kupikir namanya lebih keren dari itu."
"Jadi teringat masa lalu, dimana aku bisa mengalahkan pemimpin Black Collide meskipun aku pingsan juga pada akhirnya."
"Bisa kau ceritakan lebih dalam tentang julukanmu itu?" ujar Artex.
"Tentu saja, tapi kenapa?" balas Hien.
"Aku hanya tertarik saja dengan ungkapan 'abadi' yang kau sebut. Mungkin saja ada jawaban untuk membuktikan kenapa staminamu sangat banyak." Jawab Artex.
"Oh, kalau itu tidak ada hubungannya sama sekali." Jelas Hien. "Aku dijuluki begitu karena sebelumnya pernah membantai pasukan garda depan Red Fang sendirian dan tak terluka sama sekali."
"Wuihh. Hebat sekali rupanya kau ini." Ucap Rain.
Hien melihat Rain dengan tatapan sinis. "Bukannya kau tahu sendiri aku tidak melakukannya sendirian, melainkan dengan bantuan kekuatan manipulasi waktu dan juga kedua golemmu itu?"
"Iyakah? Aku tidak ingat pernah memberikannya padamu?"
"Itu karena kau sibuk membuat golem-golemnya, bahkan kau tidak mendengarku saat aku berteriak padamu. Lantas aku memancing dua golem yang terlihat kecil."
"Jadi itu alasannya kenapa Marco dan Polo tidak ada, ya?"
Hien menengok lagi ke arah Artex. "Jadi untuk alasan stamina tak terbatas milikku adalah seperti yang dia jelaskan sebelumnya. Setiap hari aku melakukan latihan seperti ini agar staminaku tetap terjaga."
"Baiklah, aku mengerti." Jawab Artex.
"Kalian selalu terlihat bersemangat ya, kalau dalam masalah pertempuran." Ujar Virie.
__ADS_1
"Oh, iya." Ujarku. "Berhubung kita sedang membicarakan peperangan, apa kau sudah mengirimkan bantuan seperti yang dijanjikan ayahmu dulu?"
"Bantuan? Untuk kemana?" tiba-tiba Virie nampak terkejut. "Astaga, seharusnya aku mengabarinya sejak kemarin. Maafkan aku, aku lupa untuk melakukan tugasku."
"Sa—santai saja. Lagipula di sana pasti sedang damai-damai saja."
"Tidak boleh begitu. Sebagai sekutu kita harus memberikan bantuan secepatnya meskipun masih dalam keadaan damai."
"Apa memang segenting itu sampai harus mengerahkan bala bantuan?" ujar Rain.
"Ah... tidak, tidak juga." Aku lupa kalau Hien dan juga Rain belum mengetahui situasi sebenarnya.
"Kalau memang demikian, biar kami saja yang turun tangan. Ayo Hien, persiapkan dirimu."
Hien yang sedang berjalan ke rumah berkata, "Tunggu dulu. Aku belum sempat minum teh harianku."
"Tidak perlu tergesa-gesa, kami akan menunggu." Ucap Virie.
"Eh?" diriku dikagetkan oleh sikap Virie yang menerimanya begitu saja. "Apa tidak apa membiarkan mereka tahu tentang peperangan yang sebenarnya?"
"Tidak apa. Lebih banyak bantuan kan lebih baik." Virie tersenyum polos tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kemudian aku berpikir, Yah, semoga saja dia tidak menghancurkan seluruh kota dengan golem-golem buatannya.
...~Π~...
"Sebenarnya kita mau piknik atau menyelamatkan dunia, sih?" ujarku.
"Kenapa kau bawa barang sebanyak itu!?" aku melihat tas yang digendong Rain sangat besar, sehingga aku berpendapat bahwa isinya bakalan banyak.
"Tidak apa kan? Lagipula ini peralatan bertempurku semua."
"Sudah, sudah. Kalau memang demikian mau bagaimana lagi." Virie berusaha melerai pertengkaran kami. "Ngomong-ngomong, aku belum tahu lokasi untuk mengirimkan pasukan nanti. Aku ingin bertanya padamu dimana aku harus mengirimnya?"
"Aku juga tidak tahu. Lebih baik kita lihat saja dulu tempat yang cocok. Soalnya di tempatku jarang sekali ada lapangan yang luas untuk memuat sejumlah pasukan."
"Baiklah kalau begitu." Kemudian Virie membuatkan portal untuk berpindah dunia.
Tunggu, kenapa bentuknya harus seperti layang-layang? Apa emang harus gonta-ganti untuk menyesuaikan tempat yang dituju?
Akhirnya kami pun masuk ke dalam portal secara berurutan.
...~Π~...
Setelah menginjakkan kaki di dunia asal, aku langsung berpikir, Kenapa harus di rumah sih!?
"Apa ada alasan kenapa harus di sini?" tanyaku pada Virie.
"Aku tidak tahu lokasi lain selain rumahmu. Dan juga aku belum pernah keluar dari rumahmu."
__ADS_1
"Jadi ini rumahmu?" ujar Rain.
Aku tidak menanggapinya.
"Ooh! Apa itu!" Rain mendekat ke arah televisi. "Benda kotak apa ini? Apa ini salah satu artefak yang ditinggalkan oleh leluhurmu?"
Lalu dia menekan tombol power dan membuat televisinya nyala. "Uwah! Ada seseorang di dalamnya! Hey kau, kenapa kau menculik seseorang lalu mengurungnya di sini!?"
Mungkin ini alasannya kenapa seharusnya mereka tidak diajak. "Itu hanya televisi! Seseorang muncul dalam bentuk rekaman, dan bukannya orang asli!"
"Begitu ya. Kalau itu apa?" Rain menunjuk ke arah kompor.
"Kompor."
"Untuk apa?"
"Memasak."
"Kalau yang itu?"
"Kulkas."
"Yang itu?"
"AC." Namun aku baru sadar kalau ada AC di rumahku. "Tunggu, kenapa ada AC di sini? Oh iya, kan emang sudah mati dari dulu. Sudahlah! Kalian tunggu saja di sini, aku mau keluar dulu beli sesuatu."
...~Π~...
Tepat hampir di depan warungnya, aku terpikirkan sesuatu, "Tapi aku mau beli apa, ya? Tadi kan sudah nyemil roti dari Virie."
Pada akhirnya aku kembali ke rumah dan tidak membeli apapun.
Sesampainya di rumah, aku mendapati Virie yang tengah berbicara. "Nanti kita tanyakan saja pada Den."
"Sedang apa kalian?" ucapku.
"Nah, tuan rumahnya datang juga." Ucap Rain. "Loh, kau tidak jadi beli sesuatu?"
Aku tak menanggapi ucapan Rain. "Jadi ada hal apa yang ingin kalian tanyakan?"
"Barusan kami sedang membicarakan tentang peperangan yang sebenarnya sedang terjadi." Jelas Virie. "Aku menceritakan segala persiapan yang sedang kita lakukan. Setelah mendengarnya, mereka bersedia untuk membantu kita."
"Ya, sekarang beri tahu pada teman-temanmu untuk segera berkumpul." Tutur Rain.
Aku mengerti sebagian dari penjelasannya, yaitu untuk membantu persiapan kami melawan musuh utama kami. Dengan begitu aku setuju untuk menerima bantuan dari Rain dan Hien. "Ya sudah, kalau begitu kalian tunggu dulu di sini. Aku akan mengabarinya kepada pembimbing kami untuk menyetujuinya."
"Tunggu, aku ikut!" sela Rain.
"Orang luar tidak diperbolehkan untuk masuk ke kawasan sekolah. Lagipula aku hanya punya seragam untukku sendiri, jadinya kalian tunggu saja di sini."
__ADS_1
...~Π~...
Akhirnya aku menginjakkan kakiku lagi di sekolah tercinta. "Mendingan ke kelas dulu atau langsung ke Pa Aryo, ya?" gumamku.