
Untuk pertama kalinya aku merasa tidak enak dengan seseorang. Gadis yang duduk di bangku sebelahku sedari tadi melirikku, namun saat kulirik balik dia terus saja memalingkan pandangannya ke bawah meja. Aku mencari-cari keanehan apa yang ada padaku. Jika memang benar ada, aku ingin mengatasinya agar dia tidak terus-terusan melihatku.
Aku mencoba berbisik kepada seseorang yang berada di samping kananku. "Hei, Rena. Apakah aku terlihat aneh menurutmu?'
"Hmm? Aneh kenapa?" sepertinya dia pun kebingungan.
"Yaa... seperti ada sesuatu noda, atau yang lainnya." Ujarku.
Bola matanya berputar-putar terlihat sedang menatap seluruh bagian tubuhku. "Tidak ada. Memangnya ada apa?"
"Aku juga tidak tahu. Sedari tadi cewek di sebelahku melirikku terus tanpa maksud. Namun setiap kali kulirik dia, dia selalu saja berhenti melirikku."
Seketika ekspresi muka Rena langsung serius. "Apa kau ingat kau pernah berbuat buruk padanya?"
"Mana mungkin!" jawabku. "Kau tahu aku baru datang ke sini empat jam yang lalu. Semenjak itu aku hanya duduk terdiam di kursiku dan hanya mengobrol denganmu."
"Benar juga. Tapi tadi kita ke ruang latihan, kan? Mungkin kau tidak sengaja mendorongnya di sana."
"Mustahil. Aku berada di barisan paling belakang dengan temanku. Lalu setelah sampai aku langsung menduduki kursi paling belakang dengannya. Bahkan aku tidak melihatnya saat itu."
Rena terlihat seperti sedang berpikir keras kali ini. "Sepertinya hanya ada satu jalan terakhir."
"Apa itu?"
"Kau tanya saja dia langsung. Akan lebih mudah menyelesaikan masalah kalau langsung ke akarnya. Semoga saja dia langsung memberitahunya tanpa bertele-tele terlebih dahulu."
Aku langsung mengangkat telapak tanganku. "Kalau itu aku tidak bisa."
"Hah? Kenapa?"
"Aku tidak pernah bisa menjadi orang yang pertama mengajak bicara, terutama orang yang asing bagiku." Jawabku.
"Tapi bukannya sebelumnya ini aku orang asing bagimu?"
"Tapi kau yang berbicara duluan padaku. Aku hanya bisa mengikuti arus pembicaraan ketika mengobrol dengan orang baru."
Sekarang kami berdua yang berpikir keras mengenai hal ini. Tidak ada lagi jawaban logis yang dapat kami simpulkan.
"Pe-permisi!" tiba-tiba terdengar suara perempuan.
Saat kami menoleh, rupanya gadis yang sedang kami bicarakanlah yang menghampiri kami.
Tiba-tiba gadis itu membungkukkan badannya. "Maafkan aku!"
Sontak kami kaget melihatnya. "Te-tenang saja dulu. Kau tidak melakukan kesalahan apapun sampai harus meminta maaf. Juga kau tidak perlu membungkuk seperti itu. Tapi lebih baik kau jelaskan saja maksud perbuatanmu itu." Ucap Rena
Gadis itu pun tegak kembali. "Aku minta maaf telah membuat kalian khawatir, dan juga telah menguping kalian. Soalnya suara kalian terlalu keras dan membuat sulit untuk tidak didengar."
Kami yang mendengarnya langsung panik karena sedang membicarakannya. "Kami juga minta maaf sudah berbicara tentangmu. Bukannya bermaksud untuk menjelekkanmu, kami hanya sedang berdiskusi mengenaimu." Jawab Rena
"Aku tahu. Maka dari itu aku menemui kalian untuk menyelesaikan masalahnya. Sebelumnya kalian tidak berbuat salah terhadapku. Aku menatap kalian hanya karena iri saja—baru saja berkenalan dan sudah menjadi teman baik. Untuk itu, aku berharap bisa berteman juga dengan kalian. Namun aku masih malu untuk berbicara pada kalian, jadi aku hanya bisa melirik sambil memikirkan kalimat apa yang cocok untuk digunakan."
Mendengar pernyataannya, kami merasa lega karena tidak harus berpikir lagi untuk menyelesaikan masalahnya. "Ternyata itu masalahnya." Ujarku.
"Kalau masalah itu, kau tidak perlu khawatir. Kami akan menyambut hangat dirimu kapanpun. Kita semua masih belum memiliki banyak teman, maka dari itu kau tidak usah khawatir akan ditolak." Balas Rena.
Gadis itu pun tersenyum dan berkata, "Terima kasih. Akhirnya aku bisa berteman dengan seseorang." Lalu dia mengusap matanya yang sepertinya itu air mata kebahagiaannya. "Kalau begitu, perkenalkan namaku Hoshizora Rea. Senang berkenalan dengan kalian."
__ADS_1
Rena pun ikut tersenyum. "Namaku Neo Rena, panggil saja sesukamu."
"Den." Aku hanya tersenyum setelah mengucapkan sepatah kata—hanya satu suku kata.
"Senang berkenalan denganmu." Potong Rena.
"Ya, senang juga berkenalan dengan kalian!" balas si gadis Rea.
Tiba-tiba Artex menghampiri lalu berkata, "Maaf mengganggu kesenangan kalian. Tapi aku ingin meminjam anak ini dari kalian." Ucapnya sambil menatapku.
"Silakan, silakan." Balas Rena.
"Ah! Apa aku mengganggumu? Maafkan aku!" ucap Rea gugup.
Artex membalas, "Tidak apa-apa. Aku juga baru ingin berbicara sekarang dengannya."
Berniat mengakhiri basa-basi ini, aku langsung berbicara. "Lalu, ada hal apa yang ingin kau bicarakan?"
Kemudian Artex memperlihatkan suatu halaman dari buku yang dibacanya. "Kau tidak menuliskan terjemahan dari huruf yang ini sebelumnya. Bisa kau beritahu padaku?" dia menunjuk ke arah deretan angka.
"Ahh! Sebenarnya itu adalah angka. Yah, jujur saja aku tidak ingat bagaimana bentuk angka dalam aksara Sunda." Balasku.
"Bukannya itu tulisan latin!?" tegas Rea.
"Kau tahu ini?" tanyaku.
"Ya! Belum lama ini aku selalu menghabiskan waktuku di perpustakaan untuk membaca serta mempelajari tulisan latin ini. Kata petugas di sana tulisan ini berasal dari negeri yang bernama Entris."
"Entris ya...." Gumam Rena.
"Dahulu pamanku pernah bercerita tentang negeri itu. Dia bilang teknologi di sana sangat maju dibandingkan dengan negeri ini. Banyak sekali macam peralatan aneh yang dia jumpai di setiap jalan. Katanya ada burung yang bisa terbang tanpa mengepakkan sayapnya. Terlebih lagi burung itu bisa ditunggangi oleh seseorang." Jawab Rena.
Burung yang bisa ditunggangi, ya... mungkinkah itu sebuah pesawat? gumamku.
"Kakakku juga pernah bilang kalau di sana banyak sekali robot. Meskipun aku tidak mengetahui apa itu." Balas Rea.
"Oh, iya-iya! Pamanku juga bilang di sana banyak benda terbuat dari besi yang menyerupai bentuk manusia!"
"Mungkinkah itu yang namanya robot?!"
"Mungkin saja! Dan di sana juga banyak kendaraan yang bisa berjalan tanpa bantuan kuda untuk menariknya!"
Kali ini apa!? Mobil kah?
"Maaf mengganggu kesenangan kalian." Artex menghadap ke arah Rea, "Apa benar tulisan seperti ini memang ada di negeri Entris itu?"
"Ya! Aku yakin sekali karena pustakawan yang berbicara padaku itu sebenarnya sejarawan. Dapat dipastikan kalau negeri Entris itu ada." Jawab Rea penuh semangat.
Artex berpikir sejenak sebelum lanjut berbicara. "Kalau begitu, apa kau keberatan jika kau mengantarku kepada pustakawan yang kau sebut itu?"
"Tentu saja tidak! Aku selalu pergi ke perpustakaan setiap pulang sekolah. Kau bisa ikut denganku nanti. Akan kukenalkan juga pustakawan itu kepadamu."
"Baiklah." Setelah itu Artex menatapku. "Jadi, bagaimana dengan arti dari huruf-huruf yang ini?"
"Kenapa harus ke sana lagi?!" bentakku.
...~Π~...
__ADS_1
Setelah bel berbunyi untuk yang keterakhir kalinya, semua murid langsung membereskan semua barang-barang mereka dan segera angkat kaki.
"Akhirnya!" sahut Rena sambil meregangkan kedua tangannya.
Aku yang sedari tadi tidak membawa sesuatu hanya bisa bengong melihat papan tulis di depan. Rena pun kelihatannya sangat sibuk, jadi aku tidak bisa meminjam buku darinya.
Artex yang sudah merapihkan bukunya segera berdiri lalu mengajak Rea. "Baiklah, kita pergi sekarang."
"T-tunggu sebentar." Balas Rea.
"Hati-hati di jalan. Awas kena begal." Ujarku.
"Apa maksudmu?" sahut Artex.
"Hah? Kenapa?"
"Kau juga harus ikut dengan kami. Akan ada anggapan buruk jika hanya kami berdua yang pergi bersama. Lagipula kau mau apa di kamar sendirian."
"Tapi kenapa harus aku? Kenapa tidak kau ajak saja orang lain?"
"Kau tahu kan kita tidak punya teman satupun di sini!"
"Aa—benar juga sih." Kurasa tidak ada gunanya mengelak. "Yasudah kalau begitu. Tapi jangan libatkan aku jika kau bertanya sesuatu tentang hal yang tidak kumengerti."
"Baiklah, mari kita pergi." Sahut Rea.
"Tunggu! Aku juga ikut!" ucap Rena, dan akhirnya kami pergi bersama.
...~Π~...
Sesampainya di sana. "Ramai juga ya," ujar Rena. "Padahal sudah waktunya jam pulang."
"Kebanyakan dari mereka sama seperti kita." Sahut Rea. "Banyak yang menghabiskan waktunya di gudang tulisan ketimbang di alam bebas."
"Tapi aku tak menyangka murid di sekolah ini akan sebanyak ini. Meskipun ini hanya sebagian kecilnya." Ucap Rena.
"Sekolah kita kan memang terkenal di seluruh daerah. Wajar saja jika banyak yang mendaftar ke sini. Terlebih lagi tempat ini adalah kelahiran dari para legenda yang masih ada sampai saat ini." Balas Rea.
Selagi mereka berdua ngobrol, aku dengan Artex mencari tempat duduk lalu singgah di sana. Kemudian Artex mengeluarkan buku milikku yang dibawa olehnya. "Sejujurnya, aku tidak tertarik dengan apa yang dibahas oleh gadis itu. Tapi karena mereka orang yang antusias, aku yang pasti ada saat dimana aku akan membutuhkan bantuan dari sifat mereka itu." Ujar Artex.
"Jadi istilah lainnya kau ingin memperalat mereka?" sahutku.
"Begitulah. Tidak semua orang yang berpenampilan baik akan selalu berperilaku baik."
"Sial. Terus untuk apa kau menanyakan petugas perpustakaan itu padanya?"
"Itu untuk tujuan asliku. Aku ingin bertanya padanya tentang sihir kutukan yang mengutukku. Siapa tahu dia bisa bantu menangkal kutukannya."
Setelah Rea dan Rena sampai di meja yang kami singgahi, Rea menyuruh kami agar menunggu selagi dia mengambil buku yang dia maksud. Rena juga ikut pergi karena alasan ingin ke kamar mandi.
Tak lama kemudian terdengar suara jeritan hewan yang sangat kencang. Juga dibarengi dengan getaran area perpustakaan. "Aneh sekali. Tempat yang seharusnya aman seperti ini malah terjadi gempa." Ujar Artex.
"Sepertinya ini bukan gempa. Barusan aku mendengar jeritan sesuatu." Ucapku.
"Kalau begitu tunggu di sini. Aku akan melihatnya sebentar."
"Aku juga ikut. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan raja iblis yang kita hadapi."
__ADS_1