The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Itu Naga


__ADS_3

Tidak seperti yang kuduga, jeritan tersebut berasal dari seekor naga yang sedang terbang mengitari langit sekolah. Aku tidak punya ide sama sekali untuk menanggapi hal yang satu ini. Tunggu, naga!?


"Tak salah lagi. Hanya naga sepertinya yang bisa menghasilkan suara sekencang ini." Ujar Artex.


"Hah? Naga? Apa naga hidup di dunia ini?" tanyaku.


"Memangnya kenapa? Apa tidak ada seekor naga di dunia asalmu?" balasnya.


"Di duniaku naga hanyalah sebuah mitos bagi warga milenial. Tetapi bagi beberapa orang, mereka memiliki kepercayaan terhadap adanya naga. Bahkan ada suatu negara yang menjadikan naga sebagai makhluk yang agung."


"Begitu ya, mungkin karena perbedaan zaman kita bisa melihat perbedaan masing-masing dari dunia kita."


"Lalu, kita mau apa sekarang?"


"Apa kau bisa membuat alat untuk membantu kita ke sana?"


"Sayangnya tidak bisa. Memangnya kau mau apa ke atas sana?"


"Sisik naga dibandrol dengan harga yang sangat mahal. Maka dari itu aku berniat untuk membunuhnya dan sebisa mungkin aku akan mengambil semua bagian yang bisa kuambil lalu kujual."


Berpikir tentang mencari uang, aku kepikiran sesuatu. "Kalau hanya untuk uang, kenapa kau tidak memintaku untuk membuatkan emas lalu menjualnya?" tanyaku.


"Aku paham maksud baikmu. Tapi jika ingin menjual emas secara resmi, kita harus memiliki izin untuk menambang." Jawabnya. "Lalu, kita masih anak-anak dan belum diperbolehkan untuk menjual-beli emas. Biasanya para pekerja di bawah umur selalu menitipkan barangnya kepada orang yang lebih dewasa. Sedangkan kita, kita hanyalah dua bocah yang masih di masa sekolah."


"Tapi bukannya sebelumnya kita pernah menjual bongkahan emas kepada penjual ramuan yang kau beli? Bagaimana kalau kita jual saja padanya?"


"Begitu juga dia. Dia juga tidak memiliki izin untuk menambang. Pastinya jika dia menjual banyak sekali bongkahan emas besar kemungkinan dia akan dicurigai lalu akan diinterogasi karena melakukan eksploitasi tambang emas. Bukan hanya itu, pasokan ramuanku juga akan hilang karena dia ditangkap atas kasusnya."


"Ribet sekali ya konsekuensinya." Ujarku.


"Begitulah."


Setelah kalimat terakhir dari Artex, muncul suara sirine dan teriakan seseorang dari kejauhan. "Kalian berdua cepat mengungsi ke tempat yang aman!" terlihat lima orang prajurit yang mengenakan baju zirah. "Berbahaya sekali berada di sini. Ada naga besar yang dapat mengancam nyawa kalian, segera pergi dari sini." Ucap prajurit paling tengah.


Kami hanya bisa menurutinya lalu masuk lagi ke dalam bangunan. Namun bukannya melewati pintu, Artex malah belok lalu mencari tempat bersembunyi. Lantas aku mengikutinya karena penasaran.


"Sedang apa kau?" tanyaku.


"Sudah kubilang kan aku mengincar sisik naga itu. Aku tidak akan membiarkan mereka menangkapnya duluan."


Aku mengiyakan saja kemauannya dan tidak protes. Kami mengendap-endap dalam keributan. Orang-orang berlarian mencari tempat yang aman selagi naga itu menyemburkan api ke arah atap bangunan. Dia menyembur hanya pada satu bangunan dan tidak mengincar yang lainnya, mungkin karena suatu alasan.


Tiba-tiba Artex menghentikan langkahnya. "Kita tidak bisa tampil begini. Orang-orang tadi akan langsung sadar jika melihat kita berpakaian seperti ini. Buatkan kita sebuah zirah yang sama persis seperti mereka. Kalau bisa dengan beban yang sangat ringan." Ucapnya.


"Hah? Memangnya bentuk zirah mereka seperti apa?" tanyaku.


"Bukannya kau tadi melihatnya sendiri?"


"Yah, aku tidak fokus dengan apa yang dikenakannya. Lagipula untuk apa aku mengingatnya."


"Sial. Kalau begitu kita tunggu saja mereka muncul lagi. Kita bergerak saja dulu ke depan." Lalu kami bergerak lagi menuju bangunan yang Artex maksud.

__ADS_1


Setelah sampai, kami langsung menunggu kedatangan pasukan yang sebelumnya. Tak selang beberapa lama, akhirnya mereka muncul dengan persenjataannya—pedang, busur, perisai, serta tombak di tangan mereka.


Dengan sigap aku langsung membuatkan zirah seperti mereka. Tetapi aku bingung untuk menggunakan bahan apa jika ingin membuatnya ringan. Dengan begitu, aku kepikiran untuk memakai bahan plastik saja mengingat beratnya yang ringan.


Namun Artex terkejut heboh. "Tunggu, tunggu, tunggu! Kemana perginya naga barusan!?" sahutnya.


Aku menoleh ke arahnya dan bertanya, "Hah? Kenapa?"


"Tiba-tiba saja naga itu menghilang tanpa jejak. Bahkan sebelum para pasukan itu datang, naganya sudah menghilang."


"Lalu bagaimana?"


"Kita maju saja ke depan."


"Ya sudah, kalau begitu nih." Aku memperlihatkan baju yang dimintanya. "Zirahnya sudah jadi."


"Sekarang bukan waktunya untuk itu, bodoh! Masalah sudah jadi genting. Tidak ada waktu untuk menyelinap lagi. Aku takut naganya ditangkap duluan oleh orang lain sebelum kita menangkapnya."


Aku hanya diam dan menurut. Kami bergerak maju lagi dan menemukan seseorang yang mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan kepalanya juga ditutupi oleh tudungnya.


"Hei! Apa kau melihat naga yang sedang menyemburkan api barusan?" tegas Artex.


Namun orang itu tidak menghiraukan perkataan Artex dan malah berlari ketakutan.


"Sialan! Sudah kuduga pasti kau pelakunya!" ucap Artex. Kemudian dia meminta sebuah belati kepadaku lalu mengejarnya.


Artex berhasil menyusulnya dan kemudian dia menendang punggungnya hingga jatuh. "Cepat beritahu aku kemana kau menyembunyikan naganya!" ucapnya sambil menindih orang itu.


Kini Artex mencoba bangkit setelah menghantam tembok dengan cukup keras. "Jadi itu ya wujudmu yang sebenarnya. Aku paham kenapa kau tidak membalas pertanyaanku barusan." Ucapnya. "Aku selalu mencari tahu informasi tentang Siruman, dan ajaib sekali aku berjumpa dengan salah satu dari mereka saat ini." Dia berdiri sempoyongan karena lukanya itu.


"Heh! Siruman? Memangnya kenapa kalau aku salah satu bagian dari mereka!? Apakah kau akan menangkapku lalu menjualku!?" teriak orang itu. Suaranya terdengar seperti seorang gadis tetapi suaranya yang berat membuatku tidak yakin.


"Tepat sekali." Sahut Artex.


"Kalau begitu tangkap aku kalau kau bisa!"


Kemudian mereka berdua berlari ke arah satu sama lain sambil mengangkat tangan mereka. Artex mencoba menebas lawannya dengan belati miliknya tetapi serangannya dapat ditahan dengan mudah oleh orang itu. Seketika wujud tangannya berubah menjadi seperti kaki reptil lalu mencengkeram bilah belatinya hingga hancur.


Artex tersungkur yang kemudian perutnya ditendang oleh si orang misterius hingga terdorong mundur ke arahku. Kemudian Artex mengulurkan tangannya padaku dan berkata "Buatkan aku sebuah pedang!"


Tanpa pikir panjang aku langsung membuatkan sebuah katana lalu memberikannya.


"—dan yang kecilnya juga." Lanjut Artex.


Kedua permintaannya kukabulkan. Kemudiam ia meminum ramuan yang dibawanya dan bergegas mendekatinya lagi. Bukannya belajar dari kesalahannya, Artex malah melakukan hal yang serupa. Tetapi kejadian yang selanjutnya tidak seperti yang sebelumnya. Katananya mampu menebas dua jari reptil itu. Tentu saja ini berkat katanaku yang sudah kulapisi dengan mineral yang lebih keras dari besi.


Si reptil berteriak histeris karena kesakitan. "Kenapa—kenapa kau memotong jari indahku ini!?"


Kali ini Artex mengayun-ayunkan katananya, tetapi anehnya si reptil bisa menangkisnya. Semua serangan yang dilontarkan Artex bisa ditangkis olehnya. Hingga akhirnya gerakan si reptil lebih cepat dan berhasil mencakar bahu Artex.


Artex yang terkena serangan memutuskan untuk mundur dan menyiapkan serangan selanjutnya. Dia melemparkan katananya lalu berlari ke arahnya. Dia seperti mengeluarkan sesuatu di balik bajunya yang ternyata itu adalah belati yang disembunyikan olehnya.

__ADS_1


Artex hendak menusuk ke arah perut si reptil namun seketika dia terkena serangan telak di kepalanya yang membuatnya tepar. Rupanya katana yang dilemparnya berhasil ditangkis yang sayangnya tidak mampu menebas tangan kiri si reptil.


Orang itu mencabut katananya lalu mendekati Artex dan menusuk punggungnya. Kemudian dia melihat ke arahku lalu berjalan kemari. Perlahan-lahan jalannya jadi semakin cepat hingga dia berlari.


Jelas aku tidak tinggal diam. Inginnya bilang begitu, tapi aku hanya terdiam menunggu kedatangannya. Setelah semakin dekat, langsung kubuat palu yang besar untuk memukulnya. Dengan tatapan tajam aku mengangkat palu besar itu.


Namun sebelum menghantamnya, tiba-tiba dia tersungkur ke samping. Tidak lain Artex lah yang menendangnya dengan keras. Rupanya dia hanya pura-pura mati setelah ditusuk.


Kami mendekatinya, lalu Artex menodongkan katananya sekaligus mengancamnya. "Menyerah sajalah, atau aku benar-benar akan menghabisimu!"


Kali ini orang itu tidak melawan dan hanya terdiam. Tangannya kembali menjadi normal lagi. Seketika ia menangis keras. "Uwaa! Kenapa jadi seperti ini?! Padahal aku mampir ke sini untuk mencari makanan!" rupanya orang ini adalah seorang gadis yang tengah kelaparan.


Namun Artex tak sekalipun bersikap lembut terhadapnya. Ia masih menodongkan senjatanya ke arah gadis itu. "Jangan merengek! Aku tahu kau sedang menyiapkan trik licik untuk menyerang kami. Sebaiknya kau menyerah dan turuti perkataanku!"


Gadis ini masih menangis. "Kumohon ampuni aku! Aku hanya kelaparan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi!"


"Baguslah kalau kau mengerti." Ucap Artex. Lalu dia mengambil potongan jari gadis itu dan memberikannya padanya. Kemudian dia menyayat telapak tangannya lalu meletakkan kembali kedua jari si gadis dan meneteskan darahnya pada luka gadis itu.


Perlahan jarinya mulai menyambung kembali dan membuat gadis itu tenang lagi. "Kenapa kau melakukan ini?"


"Bukannya aku sudah bilang dari awal? Aku hanya ingin menangkapmu lalu menjualmu." jawab Artex.


Sontak si gadis ketakutan mendengar penjelasan Artex dan membuatnya menjauhi Artex.


"Tenang saja. Aku tidak akan menjualmu utuh-utuh. Jika saja kau memberiku beberapa dari sisikmu, aku akan mempertimbangkannya."


Setelah perkataan Artex, akhirnya gadis itu jinak terhadapnya.


"Ka—kalau soal itu. Aku tidak bisa mengabulkannya." Ucap si gadis.


"Kenapa?" tanya Artex.


"Untuk mengambil sisikku, aku harus berubah terlebih dahulu ke wujud asliku dan saat ini aku kehabisan energi untuk berubah wujud."


"Kalau begitu ceritanya, mungkin memang sebaiknya aku menjualmu utuh."


"Tu—tunggu dulu!" dia mengambil sesuatu dari belakangnya yang ternyata itu ekornya sendiri. "Kalau kau mau, potong saja ekorku sebagai gantinya."


Tanpa basa-basi Artex langsung menyetujuinya. Dia memberikan botol ramuannya untuk gadis itu minum. Setelah diminum, kemudian Artex memotong kecil bagian ekornya.


"Kurasa segini saja sudah cukup." Ujar Artex.


"Eh? kau tidak ingin mengambil lebih banyak lagi?"


"Tentu saja tidak. Aku akan langsung terkenal dan menjadi sasaran bandit jika menjual ekor naga yang lebih besar dari ini."


Mendengar hal itu, si gadis langsung tersenyum. Tak lama kemudian, para pasukan sebelumnya baru saja tiba lalu berteriak, "Hei, kalian! Tempat ini bahaya. Cepatlah mengungsi ke tempat yang aman!"


Setelah melihat mereka, aku panik dan langsung membuatkan sebuah gerobak. "Cepat masukkan dia ke sini! Kita tidak akan sempat jika menyuruhnya berlari." Ucapku panik.


Tak banyak tanya, Artex segera mengangkatnya ke dalam gerobak. Sementara itu aku sedang mengatur gerobaknya agar bisa dikemudikan. Namun setelah jadi, aku merasa malah bentuknya seperti becak. Tanpa banyak pikir lagi aku langsung menancap gas dan pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Di tengah perjalanan Artex menanyakan nama gadis itu dan terbuktilah namanya Nakigoto. Namun karena Artex menganggapnya terlalu ribet untuk diucapkan, akhirnya dia memberinya nama Clara.


__ADS_2