
"Kita akan kemana?" ujar Clara.
"Ah, iya iuga." Sahut Artex. "Harus kita apakan anak ini?"
"Hmm? Memangnya kenapa?"
"Sepertinya lebih baik dia dititipkan saja dulu."
Clara menarik-narik baju Artex. "Hey! Memangnya ada apa denganku!?"
Artex menatap Clara kemudian ia berjongkok dan memegang pundaknya. "Dengar, anak kecil—"
"Jangan panggil aku anak kecil!" bentak Clara.
"Aah—iya, iya." Artex bergidik dibuatnya. "Dengar, Clara. Saat ini kami akan pergi ke suatu tempat dan tidak bisa membawamu."
"Eh? Kenapa?" wajahnya mulai murung.
"Tenang saja. Aku akan menjemputmu lagi saat pulang."
"Benarkah?"
"Ya, mungkin."
"Baiklah!" wajahnya kembali ceria.
"Tapi, kalau dipikir-pikir, kenapa juga harus merawatmu." Ujar Artex.
Sepertinya kali ini dia blak-blakan, ya.
Lalu muncul sebuah portal yang terasa familier bagiku. Aku mencoba masuk karena penasaran. Di dalam terlihat Virie yang tengah menunggu kedatanganku.
"Pantas saja portalnya terasa familier." Ucapku. "Lalu, ada keperluan apa?"
"Aku mencarimu untuk memberitahukan sesuatu. Kemarin kami telah berunding dengan tiga desa lainnya untuk merencanakan penyerangan terhadap 'Raja Iblis' itu." Ucap Virie.
"O–ohh...."
"Hasilnya, dalam tujuh hari ke depan kita akan mempersiapkan peralatan perang. Lalu besoknya kita akan melakukan penyerangannya secara berkala."
"Tapi, apa kau tahu kemana kita harus pergi?"
"Belum lama ini pasukan penyelidik menemukan tempat yang diduga sebagai sarang musuh, dan juga di sana terdapat sebuah portal yang menghubungkannya ke tempat lain." Jelasnya
"Tapi bukannya kita akan menyerang dalam jumlah yang banyak? Lalu bagaimana kita bisa masuk dan keluar portal dalam jumlah yang banyak?"
"Tenang saja. Desa Arvi sudah mengatasi hal itu. Mereka mempunyai teknologi yang bisa mengotak-atik portal."
"Canggih juga, ya." Ucapku terkesima
"Den!?" teriak Artex di luar portal.
"Ada siapa di luar?" tanya Virie kepadaku.
"Hanya Artex, tidak usah khawatir." Jawabku.
Namun tiba-tiba Clara ikut berteriak. "Kakak!"
"Lalu siapa gadis itu?" mukanya seketika menjadi serius.
"Ah, itu hanya Cla—"
"Cukup, biar aku sendiri yang melihatnya." Potong Virie.
Kenapa coba.... Aku mencoba mengikutinya namun langsung dihentikan olehnya.
"Kau tunggu saja di sini!" tegasnya.
Sesuai apa katanya, aku menunggu di sini dengan perasaan khawatir. Entah apa yang perlu kukhawatikan tetapi keringat mengucur di seluruh kepalaku.
"Den!" teriak keras Virie dari luar portal.
Padahal tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi detak jantungku semakin kencang. Aku memberanikan diri untuk keluar.
"Siapa anak ini!" tegas Virie. "Kenapa kau memungut gadis lain tanpa sepengetahuanku!?"
Aku hanya bisa mengangkat tangan dan menggelengkan kepala, lalu menunjuk ke arah Artex.
"Bohong! Sebelumnya juga kau yang membawa Nena bersamamu. Pasti kali ini juga kau ingin menitipkannya padaku, kan!?"
__ADS_1
Aku mencoba mengelak dengan berkata jujur. "Sumpah bukan aku pelakunya. Tapi soal menitipkannya, sayangnya itu benar."
"Tuh kan!"
Tiba-tiba Clara menyahut. "Nena!? Hei, apa dia Nena temanku?"
"Eh, apa kamu kenal dengannya?" ucap Virie.
"Ya! Nena adalah temanku. Kami sering bermain bersama. Tapi belum lama ini dia selalu tidak ada setiap kali kuajak main."
Aku langsung sadar setelah mendengar Nena selalu tidak ada di rumah karena dia pernah berada dalam satu tahanan bersamaku. "Ah, kalau itu dia—"
"Sstt." Potong Virie sambil menatapku. "Sebenarnya, saat ini Nena sudah tinggal denganku. Aku membawanya saat dia sedang berkeliaran di hutan. Saat itu dia sedang dalam kesulitan, seekor babi mengejarnya sampai dia ketakutan. Untungnya aku sedang berjalan-jalan dan menemuinya."
"Lalu bagaimana dengan babi hutannya?" tanya Clara.
"Tentu saja kami meninggalkannya."
"Eeh!? Kenapa tidak kau bunuh saja?"
"Tidak boleh. Babi hutan dibunuh hanya saat berburu. Jika babi hutannya dibunuh saat itu juga, hanya akan membangkai dan mengeluarkan bau busuk yang tidak sehat bagi pohon."
"Padahal kalau aku yang menyelamatkannya pasti langsung aku makan."
Virie hanya tersenyum mendengarnya.
"Lalu–lalu, dimana Nena sekarang!?" nada bicaranya Clara terdengar semangat sekali.
"Tentu saja dia sedang di desa. Apa kau mau mampir ke sana?"
"Ya!" jawabnya dengan penuh semangat.
"Kalau begitu ikut aku."
"Ya sudah, aku titipkan dia padamu. Semoga dia betah tinggal di desa." Ujarku.
"Bicara apa kau ini? Tentu saja kalian ikut denganku." Ucap Virie dengan senyuman mencurigakannya.
"Kenapa!?"
"Tetaplah semangat, Den. Aku akan melaporkan alasan palsu untukmu.
Seketika Artex menoleh dan menampilkan muka sinis ke arah Virie. "Kenapa harus aku juga?"
...~Π~...
"Ah, selamat datang!" teriak nena dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Clara yang sedari tadi bersemangat langsung berlari menghampiri Nena. "Nena!"
"Ada Naki juga!" ucap Nena
"Nena! Aku rindu padamu!" sahut Clara dengan suara lantang. "Hei, kenapa kau tidak ada di desa sejak terakhir kali kita bertemu?"
"Mengharukan sekali ya." Ujar Virie.
"Hmm, apanya?" sahutku.
"Mereka berdua. Salah satunya menghilang entah kemana, dan yang satunya lagi kesepian tanpanya. Lalu setelah sekian lama mereka dipertemukan kembali dengan kondisi baik-baik saja."
"M–memangnya apa yang mengharukannya? Aku tidak begitu mengerti apa yang kau ucapkan."
"Ya sudahlah kalau kau tidak memahaminya." Kemudian Virie mengambil langkah, "Ikut aku. Sebentar lagi akan ada rapat para pemimpin."
"Mengenai itu, aku ingin mengusulkan pendapatku sendiri." Sahutku. "Sejujurnya setiap kali aku ikut diskusi aku hanya akan bengong dan menjadi beban. Ketika aku duduk, disitulah aku menjadi goblok seketika."
Kemudian Virie menghentikan langkahnya. "Ehem, lebih baik kau jangan merendah seperti itu. Ada perlunya kau melatih kepercayaan dirimu. Jadi, ikut saja dulu untuk langkah awal."
"Tidak ah. Aku memang sedari dulu bodoh soal begituan. Kalau harus jujur, setiap kerja kelompok aku selalu menyerahkannya kepada orang lain. Jadi untuk pertemuan kali ini dan seterusnya aku akan membolos. Hehehe"
"A–ah.... Ya sudah kalau begitu aku pergi dengan Artex saja. Kau jaga saja anak-anak." Balasnya.
"Siap 'lapan 'nam." Aku juga berbicara kepada Artex, "Setelah beres ngerumpinya, langsung beritahu intinya padaku!"
"Iya, iya." Balas Artex.
Tepat sebelum aku berbalik untuk menghampiri Nena, dia berteriak, "–Papa!"
Aku heran kenapa dia berteriak begitu. "Papa? Apa dia sudah bertemu dengan ayahnya?" Ucapku pada Virie.
__ADS_1
Tanpa memalingkan muka Virie menjawab, "E–entahlah. Mungkin dia sedang berimajinasi melihat Papa-nya."
"Oh, begitu ya." Jawabku. "Yah, wajar juga karena dia telah kehilangan orang tuanya." Kemudian aku menghampiri Nena dan mencoba menghiburnya.
Namun Nena berteriak lagi. "Papa, sini–sini!"
"Nena, dengar baik-baik." Ujarku. "Aku tahu tidak punya orang tua itu memang menyedihkan. Tapi kalau kau terus membayangkan sosok mereka ada di sampingmu, itu akan mengganggu mentalmu dan kau akan sakit hati ketika nanti dewasa. Kau akan sadar bahwa orang tuamu hanya ilusi yang kau ciptakan sendiri untuk menghilangkan rasa stressmu. Sekarang, bisa kan kau merelakan mereka agar mereka tenang di alam sana dan tidak khawatir padamu?"
"Maksudnya apa? Papa kan ada di sini?" sahut Nena.
"Itu sebabnya, kau–"
"Papa–" dia memegang pipiku dengan kedua telapak tangannya. "Di sini!"
"Nena?!" ucapku histeris. "Siapa yang mengajarimu seperti ini?"
"Mama!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Virie.
Setelah mendengarnya, naluri liarku tidak sengaja lepas. "Oi sialan! Kenapa kau ngajarin dia kaya gini!? Siapa yang nyuruh, hei! Kenapa ga bilang-bilang dulu kalo mau mungut anak orang!? Terus kenapa aku yang jadi korbannya?" amarahku meluap-luap seperti busa soda yang dikocok lalu dituangkan ke dalam gelas.
Bukannya menanggapi ucapanku, Virie malah mempercepat jalannya.
"Oi!"
"Papa–tolong jangan marah pada Mama!" Nena memelukku dengan tangan kecilnya. "Mama sudah merawatku dan sudah menjadi seperti sosok mama yang kuinginkan. Karena itu, kali ini saja aku mohon Papa jangan marah."
Seketika amarahku meredam. "Tenang saja, Nena. Aku tidak semarah itu pada Virie. Hanya saja, kenapa bukan Artex yang menjadi peran ayahmu."
"Itu karena–muka dia seram dan tidak pernah tersenyum. Papa juga kan yang membawaku, jadi aku ingin Papa yang jadi papaku."
Aku hanya bisa tersenyum setelah mendengarnya. "Ya sudah, kalau begitu kita bermain saja. Aku akan membuatkan mainan sebagai permintaan maafnya."
"Hore!" Nena yang murung kini terlihat ceria lagi.
"Kalau begitu kau Papa-ku juga kan!" sahut Clara.
"Jangan ngimpi." Ucapku dengan tatapan sinis. "Yang mungut kau kan Artex. Jadi aku tidak ada hubungan apapun denganmu."
...~Π~...
Selagi kami bermain LEGO, nampak Artex sedang berjalan menghampiri kami. Aku menduga kabar baik darinya. Meskipun tidak memikirkan kabar baik yang spesifik.
"Tex, bagaimana rapatnya?" ujarku.
Artex menyahut, " 'Tex'? Sebutan macam apa itu?" ucapnya dengan alis mengkerut.
"Namamu kan Artex. Di duniaku sudah biasa memanggil seseorang dengan suku kata nama awal atau akhir. Daripada itu, tadi habis bahas apa?"
"Entahlah. Sedari tadi aku hanya melakukan apa yang kau ucapkan. Selama pembicaraan aku hanya memikirkan tentang sisa uang yang kumiliki dan bagaimana cara mendapatkannya lagi selagi kita berada di sekolah."
"Rupanya sama saja." Keluhku.
"Daripada itu, bagaimana dengan pembicaraan yang tadi, Ayah?"
Seketika aku menahan mulutnya Artex agar tidak keluar kata-kata seperti itu lagi. "Kumohon jangan membuatku malu atau marah. Aku juga tidak ingin menerimanya begitu saja tanpa pernyataan yang jelas."
"Ya sudah."
Datang Virie dengan membawa gulungan kertas di tangannya. "Rupanya di sini. Aku tahu kau tidak mendengar keseluruhan isi rapatnya. Jadi aku datang ke sini untuk menjelaskannya kepada kalian. Mengenai penyerangan ke area musuh, kami sudah membuat strategi yang mungkin ampuh untuk menguasai daerah musuh. Namun untuk keberlangsungannya kami membutuhkan kekuatan kalian sebagai batu loncatan agar kemungkinan berhasilnya menjadi lebih besar."
"Maksudnya bagaimana?" ujarku.
"Kalian mendapat peran di posisi yang sangat penting. Namun sebelum itu aku tahu kalau kemampuan kalian sangat jauh dari kata cocok sebagai inisiator."
"Seburuk itu kah?" ucapku.
"Terutama kau, Den. Sejauh ini kau hanya menggunakan senjata yang mampu mengalahkan musuh dalam sekali serang. Aku tahu itu sangat menguntungkan. Tapi kita tidak tahu seberapa kuat musuh kita ini. Jadi sebaiknya kau meningkatkan kemampuanmu dalam bertahan agar kau selalu berwaspada ketika musuh berada di dekatmu."
"Memangnya apa yang harus ditingkatkan lagi untuknya? Bukankah dia memang spesialis dalam serangan jarak jauh. Jadi dia tidak perlu begitu waspada terhadap serangan musuh." Jelas Artex.
"Aku mengerti hal itu. Tapi tidak selamanya akan seperti itu. Bayangkan saja kalau dia diserang oleh orang yang bisa berpindah tempat lalu menyerangnya dari belakang. Lalu kalau—"
"Ya sudah–ya sudah. Langsung ke intinya saja. Aku harus apa untuk meningkatkan kemampuan bertarungku?" potongku.
Virie membuka gulungannya dan memperlihatkannya kepada kami. "Aku telah membuat surat ini untuk diberikan kepada pendekar sihir terbaik kami. Dengan begitu kalian bisa berlatih dengannya untuk meningkatkan kemampuan bertarung kalian."
"O–ke." Jawabku ragu. "Lalu, kapan kami harus latihannya?"
"Segera setelah surat ini berhasil diterima olehnya."
__ADS_1