The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Negosiasi yang Tidak Begitu Jelas


__ADS_3

Melihat Artex mengangkat tangan, aku pun mengikutinya tanpa alasan.


"Jawab! Siapa kalian ini!" teriak pria pemanah yang mengikutiku.


"Orman," ucap seseorang dengan nada berat, "bisakah kau menyerahkan mereka padaku?"


"Ta-tapi guru, mereka ini seorang penyusup dan bisa membahayakan nyawamu!" balas Orman si pria pemanah.


"Tenang saja, aku mengenal mereka. Takkan kubiarkan mereka melukaiku sedikit pun."


"Ba-baiklah kalau begitu. Kami izin mundur lebih dulu. Jaga dirimu, guru!" Orman pun lekas pergi mengikuti barisannya yang sudah berjalan lebih dahulu.


"Jadi, apa yang membuatmu datang kemari, Artex?" ucap si kakek.


"Oh, tidak-tidak. Aku tidak mampir kemari, melainkan sedari tadi aku sedang berada di sini. Kalian saja yang datang kemari setelah menerima sinyal dariku. Yah, meskipun sedikit terlambat." Ucap Artex menyinggung.


"Maafkan kami kalau begitu, kami terkejut melihat sinyal ancaman perang yang kau berikan. Perlu waktu untuk mempersiapkan sejumlah tentara, meskipun aku bisa menghabisi mereka sendirian." Balasnya.


"Ahahaha...," Artex tertawa kecil, "bercandamu terlalu berlebihan. Bahkan sedari tadi aku belum melihat sihirmu yang keluar."


"Hahahaha!" si kakek ikut tertawa. "Betul juga, mana mungkin kakek boyot ini bisa melawan satu pasukan penuh yang bersenjata."


Kemudian mereka tertawa lepas bersama. Tawa mereka terdengar seperti yang terpaksa.


"Jadi," potong si kakek, "apa ada urusan yang ingin kau bicarakan?"


Artex menjawab, "Mana mungkin aku mempunyai urusan dengan guru besar di sekolah sihir yang bergengsi di seluruh dunia."


"Sudahilah sandiwara ini. Mari berbicara serius."


Ekspresi Artex kembali ke semula. "Baiklah-baiklah. Aku ingin mengulas obrolan kita setahun yang lalu. Mengenai—"


"Oit— Aku mengerti maksudmu." Potongnya. "Tapi jangan membahasnya di sini, mari pindah ke tempat yang lebih tertutup."


Si kakek mengangkat tangannya menghadap ke depan. Seketika pandanganku silau dan setelahnya kami berdua berada di suatu ruangan hampa serba putih. Anehnya aku bisa menapakkan kakiku di udara.


"Di mana kita?" tanyaku pada Artex.


"Sepertinya kita berada dalam sihirnya Kakek Elior."


"Maksudnya?" aku keheranan.


"Aku pernah melihat dia memasukkan sesuatu ke dalam lubang putih. Jadi mungkin saja tempat dia memasukkannya adalah di sini. Lihatlah sekelilingmu, banyak barang-barang miliknya yang berserakan."


"Betul juga, bahkan seperangkat alat minum teh juga ada di sini." Aku mengambil cangkir putih polos. Seketika aku kepikiran untuk menghiasnya. "Apakah tidak apa jika aku menghias cangkir ini? Lagipula cangkirnya polos begini."


Artex melirik ke arah cangkirnya. "Ide yang bagus! Aku juga kepikiran untuk merusak barang-barangnya."


"Baguslah kalau begitu." Kubuat dua buah kuas beserta cat akrilik berwarna coklat.


Kami pun memulai pengecatan cangkirnya.


...~Π~...


Sekitar sepuluh menit berlalu dan kami telah menyelesaikan apa yng sedang kami kerjakan. Artex menggambar sekumpulan tinja di cangkirnya, sedangkan aku menggambar batik bermotif bunga.


"Gambar apa kau?" tanya Artex.


"Ah, ini. Aku menggambar salah satu dari kekayaan budaya yang ada di negeriku."


"Begitu kah? Bagus juga, meskipun aku tidak tahu apa maknanya."


"Yah, begitu juga denganku."


Tiba-tiba cahaya mengurai tubuh Artex mulai dari kaki hingga kepala. Begitu juga denganku. Aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya mengharapkan keselamatan.


Setelah cahaya hilang dari pandanganku, aku sadar bahwa kami sedang berada di dalam ruangan.


"Hahh...." kakek Elior menghela napas. "Sudah kuduga akan memakan mana sebanyak ini pada manusia."


"Salah siapa juga ingin memasukkan kami ke dalam ruangan putih itu." Ucap Artex.


"Sebenarnya aku ingin membawa kalian juga ke dalam kereta. Tetapi aku akan dibunuh jika membawa seorang penyusup ke dalam karavan." Ujar Elior


"Meskipun kau seorang pemilik sekolah sekalipun?" tanya Artex.


"Begitulah hukum yang kuciptakan. Supaya tidak ada penerusku yang berbuat macam-macam pada sekolah milikku."


"Hukum aneh macam apa yang kau ciptakan itu? Bahkan sebelum kau memberikan hak kepemilikan sekolah kepada penerusmu, mungkin sekolahnya sudah hancur lebih dulu."

__ADS_1


"Hancur lebur? Memangnya siapa yang berani menyerang kota ini? Walaupun ada, aku yang akan menghadapi mereka langsung."


"Ahahaha..., memangnya kau bisa apa di umur setua ini? Jangan terlalu percaya diri, Kek. Seharusnya di masa seperti ini kau sedang berada di panti jompo."


"Wahahahaha..., kau terlalu meragukan diriku. Jika ingin aku bisa melenyapkanmu saat ini juga."


Artex langsung tertegun setelah mendengarnya. "Kalau itu, kumohon jangan. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi." Ucapnya sambil tersenyum.


"Sudahlah-sudahlah. Aku tidak bisa terlalu lama tertawa, rahangku sudah tidak kuat menahannya." Elior melipat kedua tangannya dan menunjukkan wajah serius. "Jadi, bagaimana keputusanmu?"


"Kuterima tawaranmu, asalkan kau menerima satu permohonan kecilku."


"Apa itu?"


"Tolong kau masukkan juga temanku ini ke dalam sekolahmu. Jika kau tidak bersedia menerimanya, maka aku tidak jadi masuk ke sekolah."


"Orang ini?" Elior melirik ke arahku, "Penampilannya tidak begitu meyakinkan."


"Jangan lupakan pepatah untuk jangan menilai buku dari sampulnya. Lagipula kami habis bertani, normal saja kami memakai pakaian seperti ini." Ujar Artex.


"Ah, maaf-maaf. Mungkin karena aku sudah pikun jadi sampai melupakan hal yang begitu penting. Jadi, apa alasanmu aku harus menerima anak ini juga?"


"Yah, mungkin kau tidak akan bisa melihat kehebatan—maksudku kegunaan orang ini jika kau tidak menerimanya."


Tunggu, apakah dia baru saja merendahkanku atau apa? pikirku.


"Maka dari itu, terimalah kami sebagai murid dan aku akan membiarkanmu mengamatinya." Lanjut Artex.


"Ahahaha, kau pandai sekali beralasan. Mungkin sesekali aku akan berguru padamu." Elior melirik sekali lagi padaku. "Ngomong-ngomong, cangkir apa yang sedang kau pegang?"


"Eh!" jawabku kaget. "Ini hanya cangkir yang ada di ruangan putih tadi."


"Betul kah? Seingatku aku tidak pernah memasukkan cangkir dengan motif seperti itu."


"Kalau itu, tadi aku mengecatnya selagi menunggu."


"Hmm... Begitu ya. Tapi kalau dilihat lebih dekat rupanya indah juga lukisannya. Belum pernah aku melihat yang seperti ini. Dari mana kau mempelajarinya?"


"Lukisan ini? Aku mempelajarinya dari ibuku. Memangnya kenapa?"


"Karya ini sangat menakjubkan! Akan sangat indah jika aku memajangnya di sepanjang lorong sekolah."


"Begitulah, bahkan ibuku juga sering memakai baju batik setiap ada acara hajatan."


"Apakah itu?"


"Bagaimana jika kau memberikan ajaran cara menggambar lukisanmu itu, dan akan kumasukkan kalian ke sekolahku. Aku berharap karyamu itu terkenal ke seluruh penjuru negeri melalui koneksi murid-muridku."


"Kalau itu, aku tidak bisa melakukannya."


"Hey! Apa maksudmu, Den?! Kenapa kau membuang kesempatan sekali dalam seumur hidupmu?!" bentak Artex.


"Mudah saja, aku tidak memiliki kewenangan untuk memberikan keragaman budaya tempat asalku kepada oang lain." Balasku


"Memangnya apa masalahnya?!"


"Batik kan sudah diakui menjadi kepemilikan dari negaraku."


Artex duduk tegak kembali sambil memasang wajah kesal. "Sial!"


"Kalau begitu," sahut Elior, "Berikan saja hasil karyamu hanya padaku. Aku berjanji tidak akan memberikannya pada orang lain."


"Oke, setuju!" jawab Artex secepat kilat.


"Eh?!" aku terkejut mendengar jawaban sesuka Artex.


"Baiklah, mulai saat ini kalian telah resmi menjadi murid dari Sekolah Zharan. Akan kupanggil salah satu pelayanku untuk mengantar kalian ke asrama kalian."


"Tapi sebelum itu, aku ingin pergi ke perkemahanku terlebih dahulu untuk mengambil barang-barangku."


"Baiklah, kuiizinkan. Kembali lah ke mari setelah kalian mengambil barang-barang kalian."


Kami berdua pun berdiri dan pamit meninggalkan ruangannya. Tetapi, "Tunggu dulu," ucap Artex. "Bagaimana kita bisa pergi ke luar jika masih berpakaian seperti ini?"


"Benar juga, aku yang telah membawa kalian ke sini. Sebaiknya aku juga yang bertanggung jawab atas hal tersebut." Balas Elior. "Tunggulah sebentar."


Cahaya putih kembali mengurai tubuh kami dan mengantar kami ke ruangan serba putih. Sekali lagi kami bosan menunggu selama beberapa menit.


...~Π~...

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu dan akhirnya kami keluar dari ruangan putih itu. Saat keluar, kami sudah berada di gerbang masuk kota.


"Kumohon untuk menunggu sebentar. Aku akan kembali ke kemahku dan mengambil barang-barang yang kuperlukan." Ucap Artex.


Kami pun berjalan menjauhi kereta kuda Elior dan pergi menuju rumahnya Artex. Setelah meninggalkan Elior, ekspresi Artex kembali ke semula yang dingin.


"Hei, ada apa dengan sikapmu yang tadi? Mengapa sekarang kau berubah lagi 180 derajat?" tanyaku.


"Itu hanya sebuah formalitas antara aku dengannya. Aku melakukannya untuk menurunkan kesiagaannya saat sedang negosiasi." Balas Artex.


...~Π~...


Setibanya di rumah Artex, kami menyiapkan semua barang yang dibutuhkan, dan aku hanya menyiapkan jaket dan tasku.


"Oh iya, kenapa kau tiba-tiba ingin menjadi murid? Apakah karena ingin mencari ilmu?" tanyaku.


"Perkiraanmu benar, tapi bukan itu alasan sebenarnya." Jawab Artex. "Saat ini kita kekurangan persediaan makanan. Jika menjadi murid di sana kita akan mendapat makanan gratis, bahkan tempat tinggal yang lebih bersih dan nyaman. Tidak seperti di gubuk ini."


"Begitu ya. Memangnya apa yang ingin kau pelajari di sana?"


"Tentu saja sihir yang bisa membantu kita untuk mencapai tujuan."


"Ooh! Pintar juga caramu itu. Bahkan saat ini aku belum kepikiran untuk mempelajari sihir di dunia ini."


"Ngomong-ngomong, aku jadi kepikiran dengan kejadian sebelum pertempuran tadi." Ujar Artex. "Aku menyuruhmu untuk kembali ke sini tetapi kau malah mengikutiku. Tetapi apa kau sudah menyimpan semua peralatannya?"


Aku langsung panik seketika karena aku melupakan cerulit yang kubawa. "Sial, aku lupa dengan cerulitnya! Tidak sengaja kutinggalkan di sana. Tunggu dulu sebentar, akan kuambil dulu cerulitnya."


Artex menahanku. "Biar aku saja yang mengambilnya. Aku ragu kau mengingat jalan ke sana."


"Baiklah kalau begitu. Tetapi bawalah sepeda agar lebih cepat."


Akhirnya Artex pergi ke lapangan perang dengan menggunakan sepeda yang kubuat.


Selagi dia pergi, aku membereskan seisi rumah agar rapih ketika Artex pulang. Tak lama kemudian, dia pun pulang dengan hanya membawa sepeda.


"Bagaimana cerulitnya?" tanyaku.


"Sudah kukembalikan." Jawab Artex. "Apa kau sudah membereskan semua peralatanmu?"


"Kau ingat, aku hanya memiliki jaket dan tas berisi buku. Jadi aku membersihkan seisi rumahmu."


"Padahal tidak usah kau bereskan juga tidak apa. Lagipula tempat ini akan segera terbengkalai." Artex dengan wajah sedih mengambil ranselnya. "Kita pergi sekarang jika tidak ada lagi yang diperlukan."


...~Π~...


Setibanya di depan gerbang, "Baiklah, kami sudah siap. Antarkan kami ke sekolah kebanggaanmu itu." Ujar Artex.


Di dalam kereta kami bertiga hanya duduk manis tanpa berbicara sepatah kata. Aku hanya bisa melihat ramainya orang di luar jendela yang sedang berlalu-lalang. Setelah kereta berhenti beberapa detik, ramainya orang-orang tidak lagi terlihat di jendela. Yah, aku pun tidak begitu mempermasalahkannya.


...~Π~...


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Artex dan aku turun dari kereta.


"Kuserahkan sisanya pada pelayanku. Pastikan kalian mengikuti arahan darinya. Teruslah berusaha untuk membuat diriku menerima kalian di sekolahku." Ucap Elior.


"Ya, terima kasih." Balasku. "Oh iya, barang yang kau minta sudah kuletakkan di ruanganmu dengan potnya."


"Baguslah. Aku sangat berterima kasih padamu."


Akhirnya kereta yang ditunggangi Kakek Elior pun berangkat. "Tolong ikuti saya." Ucap seorang wanita yang diduga pelayannya Elior.


Kami pun mengikutinya hingga ke sebuah bangunan besar. Mungkin bangunan ini adalah asrama yang Elior maksud. Kami terus mengikuti sang pelayan dan berakhir di depan pintu bernomor 199.


"Silakan, ini adalah kamar yang telah disediakan untuk kalian berdua." Ucap pelayan


"Terima kasih." Ucap Artex. Dia membukakan pintu dan nampak ruangan yang begitu luas.


"Silakan beradaptasi terlebih dahulu dengan ruangannya. Jika perlu sesuatu, tekan saja tombol bel yang ada di atas lemari."


"Oh, ya. Kau boleh, aku ingin tahu siapa namamu. Akan lebih mudah saat memanggilmu jika aku tahu namamu."


Sang pelayan terdiam sejenak. "Nama saya Miralia. Panggil saja Lia."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas intruksinya, Nona Lia."


"Kumohon jangan menambahkan kata Nona di depan nama saya. Saya tidak merasa nyaman jika dipanggil demikian"


"Oh, maafkan aku. Aku terlalu sering merendah pada orang baik. Kali ini aku akan mengingat ucapanmu"

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatiannya. Kalau begitu saya pamit pergi. Masih banyak hal yang harus saya kerjakan." Lia pun pergi dari hadapan kami.


Artex terlihat lega setelah Lia meninggalkan kami berdua. Dia mendekati kasur dan berbaring di atasnya. "Salah satu kebutuhan kita sudah didapat, dan sekarang kita hanya perlu menunggu esok hari. Kira-kira kesialan apa lagi yang akan menimpa kita selanjutnya."


__ADS_2