
Sesampainya di 'Ruang Latihan'.
"Perhatian semuanya!" di depan kami berdiri seorang guru berpakaian kemeja putih dengan celana hitam. "Aku diberitahu oleh guru kalian untuk mengetes seberapa tinggi kemampuan kalian setelah mempelajari cara memanipulasi mana kalian."
Singkat cerita terpilihlah dua orang yang namanya Baron dan Fleym yang diminta untuk unjuk gigi.
"Kerahkan seluruh kemampuan kalian agar aku bisa menilai seberapa jauh perkembangan kalian. Aku hanya memberi satu batasan, yaitu jangan ada yang terbunuh karena akan sangat merepotkan bagi kita." Pesan si guru.
"Mengerti!" tegas mereka berdua.
"Silakan dimulai." Ucap si guru.
Pertarungan mereka dimulai dengan memperlihatkan wujud dari kekuatan mereka. Yang satu mengeluarkan pedang yang terbuat dari es, dan yang satunya lagi mengeluarkan busur yang terbakar. Aku langsung tahu kegelisahan si es mengenai kelemahannya setelah dia mengeluarkan pedangnya yang kedua.
"Mengapa guru itu harus mengambil dua murid yang menguntungkan bagi sebelah pihak?" ujar Artex.
"Dia pasti punya alasannya tersendiri." Sahutku.
Kini mereka mulai bertarung. Si es melempar kedua pedangnya dan berlari maju ke arah si api. Sontak si api menghindari kedua pedangnya. Kini pedangnya melayang ke arah si guru namun langsung terhenti seperti menabrak dinding tak kasat mata.
Lanjut ke pertandingan. Si es menggelinding lalu si api menembakkan lima bola api. Si es langsung membendungnya dengan dinding es yang baru saja ia ciptakan. Sadar karena dindingnya hanya akan mencair, si es langsung bergerak mendekati si api. Si api hanya bisa menghindar darinya sembari menembakkan panah api, dan si es juga hanya bisa berlarian sembari memikirkan ide.
Kali ini si es meleparkan lagi pedang esnya dan si api menembak pedangnya dan membuat pedangnya meledak, menghamburkan banyak butiran-butiran es.
Lalu si es mundur dan membuat dinding esnya lagi. Dia sedang menyiapkan bat yang besar dan kemudian memukul dindingnya dengan keras. Dengan cepat dia mengganti batnya dengan kipas raksasa dan menghempaskan pecahan es yang masih berjatuhan.
Si api tak tinggal diam. Dia mengganti busur apinya dengan lingkaran api yang melayang di atas kedua telapak tangannya. Kemudian dia menyemburkan api yang melelehkan semua batu es yang mengarah padanya. Sembari menyembur, dia mundur perlahan agar menyesuaikan waktu pembakaran dengan kecepatan es yang menerjangnya.
Mengetahui serangannya akan diatasi dengan mudah, si es membuat dinding lagi dan melakukan hal sebelumnya. Dia terus menerus membuat dinding dan menghancurkannya untuk menyerang si api. Pintarnya juga dia sering bergeser ke kanan dan ke kiri untuk memperluas area serangannya.
Si api dengan santainya membakar semua es. Namun dia sudah sampai pada batasnya dimana ia tidak bisa mundur lagi hingga punggungnya menyentuh tembok. Es yang menyerbunya kini semakin banyak dan menutup jalan larinya yaitu ke arah sampingnya. Untuk mengatasi hal itu, si api memperbesar jangkauan apinya hingga dapat membentuk dinding api.
Si es tak menyerah hanya karena apinya yang sangat besar. Justru dia makin cepat melakukan rotasi bangun dan hancurkan miliknya.
Kini keadaan berat sebelah malah terbalik dimana api unggul terhadap es, sekarang es-lah yang sedang menyudutkan api. Gerakan si es mulai melambat akibat aksinya yang sangat cepat. Di sisi satunya, api yang menutupi keberadaan penggunanya kini mulai pudar.
Merasa sangat kelelahan, si es langsung menghentikan gerakannya dan jatuh terduduk. Dia masih bisa melihat ke arah depan meskipun dia sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Sedangkan di sisi lain, kobaran api yang besar seketika sirna dan dilanjutkan dengan penggunanya yang langsung terjatuh tanpa tenaga.
"Sepertinya dia kehabisan napas karena kehilangan oksigen yang habis dimakan oleh apinya sendiri. Dia tak sempat menghilangkan apinya karena sedang diserang dari segala arah yang akhirnya dia pingsan." Ujar Artex.
"Cukup sampai di situ!" tegas si guru. "Jangan bertindak lebih jauh lagi!" kemudian dia melepas dinding penghalangnya dan segera berlari mendekati si api yang sudah tepar. Sesegera mungkin dia langsung membawanya keluar, dan si es pun langsung kembali ke barisan penonton dan tepar juga di sana.
...~Π~...
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya guru yang tadi kembali ke ruangan lalu mencatat beberapa informasi di catatannya. "Kabarnya di kelas ini kedatangan dua murid baru yang direkomendasikan oleh Guru Besar Elior. Aku ingin kalian maju ke depan dan tunjukkan kemampuan kalian." Sepertinya guru kita ini belum yakin dengan keputusan Elior.
Kami yang merasa terpanggil bergegas menuruni tangga dan saling berhadapan dengan guru.
__ADS_1
"Sebutkan nama kalian." Ucap si guru.
"Artex." Sahut Artex.
Mendengar Artex yang hanya mengucapkan sepatah kata, aku pun mengikutinya. "Den."
Si guru tertawa kecil tetapi tidak bermaksud merendahkan kami, "Yang benar saja—kalian terlahir dari keluarga tanpa nama klan? Aku jadi semakin tidak yakin dengan keputusan Guru Besar. Yasudahlah, tunjukkan saja kemampuan kalian padaku agar aku bisa menilai seberapa pantas kalian belajar di sekolah ini."
"Baiklah," sahut Artex. "Lalu, apa yang harus kami lakukan?"
"Cukup lakukan saja sama seperti murid sebelumnya." Jawab guru.
"Sebelumnya kami belum pernah berkelahi," sahutku. "Jadi, bisakah kami berbicara terlebih dahulu mengenai metode apa yang akan kami gunakan untuk berunjuk gigi? Lagipula tes ini hanya untuk mengukur kemampuan kami kan?"
"Baiklah kalau begitu, aku izinkan."
Kemudian kami menjaga jarak dari si guru dan mulai merundingkan apa yang akan dilakukan. "Apa kau punya ide tentang hal ini? Sejujurnya aku tidak ingin menunjukkan kemampuanku pada mereka." Ucap Artex
"Aku punya dua ide saat ini." Balasku. "Oh tunggu! Mungkin ada tambahan satu lagi."
"Apa saja itu?" tanya Artex.
"Yang pertama aku akan melemparkan bom dan kemudian aku akan membuat pelindung untukku."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Ide yang buruk. Lalu selanjutnya apa?" Ujarnya.
"Mungkin akan biasa saja, tapi ini hanya untuk menunjukkan hal spesial milikmu."
"Jelaskan."
"Aku akan menebas tanganmu dengan pedang. Lalu kau ambil tanganmu dan letakkan ke posisi asalnya untuk memperlihatkan kemampuan regenerasimu."
"Tapi bukankan menusuk tanganku lebih mudah dilakukan? Mengapa harus sampai menebas tanganku?"
"Ide bagus. Tapi akan lebih memukau jika memperlihatkan hal yang tidak biasa dilihat oleh orang lain."
"Benar juga. Kita disini tidak boleh memperlihatkan kelemahan kita agar tidak dikeluarkan dari sekolah ini. Lalu yang ketiga apa?"
"Aku akan menembakmu dengan senapan seperti yang kau lihat di dalam buku yang kau baca tadi."
"Untuk yang itu aku terpaksa menolaknya karena ketidaktahuanku. Lebih baik kita gunakan pilihan kedua saja."
"Baiklah kalau begitu." Akhirnya kami selesai berunding. "Kami sudah siap, Pak!" sahutku kepada sang guru.
"Baiklah, segera siapkan posisi kalian!" tegas guru.
__ADS_1
Sudah diberitahu untuk menyiapkan posisi olehnya, tapi kami hanya membuat jarak sekitar satu meter. Aku menyiapkan pedangku terlebih dahulu, sedangkan Artex meminum ramuannya serta melepaskan seragamnya dan melemparnya. Lalu ia merentangkan ntangannya
"Kau siap?" tanyaku.
"Kapanpun." Balasnya.
Kemudian aku menebas kedua tangan Artex dan membiarkannya terjatuh. Lalu kuserap kembali pedangku dan segera mendekati Artex untuk mengambil tangannya yang untuk dipasangkan kembali. Sekilas tangannya sudah menyatu seperti semula, kecuali lengan bajunya yang masih sobek dan berdarah.
Setelah itu kami menengok ke arah sang guru. "Kira-kira seperti itulah kemampuan kami."
Si guru yang sedang fokus mengamati kami tiba-tiba memasang ekspresi heran. "Hanya itu?"
"Ya." Balasku.
"Yang benar saja!? Kalau hanya sekedar memunculkan senjata, Baron saja dapat dengan mudahnya membuat pedang es tanpa merapal sesuatu. Bahkan dia bisa membuat yang lebih besar daripada punyamu."
"Memangnya harus bagaimana agar aku mencapai kriterianya?"
"Entahlah! Lakukan saja sesuatu yang menarik. Sesuatu yang bisa membuatku tercengang, mungkin." Sepertinya si guru marah atas kemampuan yang kutunjukkan.
"Apakah harus sampai membuatmu tercengang juga?"
"Ya, dan cepatlah tunjukkan hal yang lain. Aku tahu Elior tidak akan merekomendasikanmu jika kau tidak berguna."
"Sudahlah, biarkan saja dia melihatnya." Ujar Artex."Saat ini kita sedang berada di situasi untuk melakukan apapun agar diterima di sini. Apapun caranya."
"Y-ya sudah kalau begitu." Jawabku. "Kalau begitu, mohon untuk memberi perlindungannya bagi bapak sendiri beserta murid-murid lainnya."
"Terserahlah!" jawab si guru.
Setelah merasa pelindungnya sudah dipasang, aku langsung memakai masker dan membuat mesin fogging untuk mengasapi seluruh area yang tertutupi oleh dinding tak kasat mata sampai tak ada yang bisa melihat ke dalamnya. Setelah itu aku langsung membuat banyak mesin recorder yang masih memakai piringan sebagai perantara penyimpanan audio. Kubuat banyak piringan yang berisikan suara ledakan, baik itu dibuat-buat oleh sistem tertentu atau yang memang ada di dunia ini. Berkat semua mesin beserta piringan yang tidak kuketahui cara pembuatannya, kira-kira sisa manaku hanya setengahnya saja.
Setelah semua piringan dipasang, aku langsung memutar mesinnya satu-persatu agar memberi kesan bahwa aku meledakkan sesuatu secara beruntun. Semua mesin kumainkan. Setiap ada piringan yang berhenti berputar aku langsung memutarnya kembali. Kutambahkan juga sebuah speaker untuk memperbesar suara yang dihasilkan. Tidak lupa aku menambahkan asapnya agar tipuan ini tidak bisa disadari oleh orang-orang.
Di sela-sela kesibukanku, pak guru berteriak kepadaku. "Sudah, cukup! Kau sudah bisa mengakhiri aksimu itu!" namun aku tidak menghiraukannya.
Setelah berjalan sekitar tiga menit, aku pun mengakhirinya. Semua mesin beserta piringannya kuserap kembali agar tidak meninggalkan jejak. Tepat setelah aku membereskannya, pak guru datang menghampiri dan langsung menarikku keluar dari dinding.
Di tangga paling bawah terlihat seorang murid yang mengulurkan tangannya ke arah asap. Dia mengangkat tangannya lalu seketika mengepalkan tangannya. Bersamaan juga dengan semua asap yang mengecil lalu memadat. Tangannya masih mengepal dan kemudian ia berjalan ke arah jendela luar lalu mengeluarkan padatan asapnya. Saat dia membuka kepalannya, asap yang dipadatkannya langsung menyebar seketika dan terbawa angin sampai ke atas awan.
"Baiklah, sekarang aku paham mengapa Guru Besar merekrut kalian. Tetapi aku masih tidak menyangka. Terutama kau, Den. Bukannya kau itu Craftman? Kau bisa menciptakan sebuah pedang, di waktu yang lain kau juga bisa membuat sihir ledakan. Bagaimana cara kau menjelaskannya padaku?" ucap guru.
"Aku bukan membuat sihir ledakan. Hanya saja aku membuat alat peledak yang bisa kuisi amunisinya dengan cepat. Maka dari itu asapnya semakin lama semakin banyak."
Si guru terdiam sejenak setelah mendengar perkataanku. "Sebenarnya kau ini keturunan dari klan mana. Sepanjang sejarah belum pernah ada yang bisa membuat alat peledak tanpa proses yang sangat panjang."
Aku hanya diam tutup mulut agar dia tidak bertanya lebih jauh lagi karena aku mulai tidak enak ditanya terus-terusan.
__ADS_1
Akhirnya kami disuruh kembali ke kursi penonton dan dipanggil murid lain untuk menunjukkan hasil belajar mereka.