The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Jam Penghenti Waktu ...?


__ADS_3

Hien memandu jalan di dalam hutan menuju seseorang yang ia maksud. Kami berhenti setelah berada di depan pintu.


"Tunggu sebentar." Ucap Hien. Kemudian dia membuka pintu dengan mendorongnya namun kelihatannya terkunci. Dengan keras dia menggebrak pintunya, lalu menendangnya hingga hancur. "Baiklah, mari kita masuk."


Setelah Hien melewati gerbang pintunya, tiba-tiba sesuatu melayang ke arahnya dan menghantam kepalanya hingga dia terjatuh.


"Sudah kubilang beberapa kali! Jangan mendobrak pintunya!" teriak seseorang di balik dinding.


Sebelumnya kami masih belum melewati pintu jadi tidak tahu siapa yang berbicara.


Virie masuk dengan santai. Dengan sopan dia berkata, "Permisi, Nona Rain. Sebelumnya mohon maaf atas kerusakan yang disebabkan olehnya, kami bermaksud ke sini bukan untuk merusak properti milikmu. Namun kami datang untuk meminta bantuanmu."


"Tidak usah formal begitu," ucap orang yang diduga Rain. "Aku tahu kau pasti akan meminta bantuanku setiap kali datang kepadaku. Jadi, apa permintaannya?"


"Sebenarnya, belum lama ini kami mendapat kabar buruk bagi dunia ini termasuk desa kita. Marabahaya perlahan-lahan sedang mengancam kita. Seseorang yang mengaku pemimpin alam bawah sedang mengerahkan pasukannya untuk menyerang kita." Jelas Virie.


"Jadi, apakah aku harus ikut berpartisipasi dengan perangnya?" balas Rain.


"Bukan begitu. Sebenarnya aku ingin memintamu untuk menjadi guru ...."


"—tidak, tidak, tidak! Apapun selain pekerjaan seperti itu." Potong Rain. "Aku benci sekali dengan yang namanya mengajar."


"Kumohon, Nona Rain! Hanya kau yang bisa kumintai pertolongan."


Kemudian terlihat Hien bangkit dari tidur sejenaknya, lalu maju ke depan. Entah apa yang dilakukannya tetapi itu membuat Rain berbicara lagi.


"Y–ya sudah kalau begitu. Tapi sebelumnya, perbaiki dulu pintu yang rusak itu!" ucap Rain.


Setelah mendengar ucapannya barusan, aku berinisiatif membuatkan pintu serupa yang terbuat dari kayu jati dengan tujuan agar lebih kokoh. Aku masuk ke dalam gerbang untuk menunjukkannya padanya.


"Jadi sebelumnya kalian sudah menyiapkan rencana ini?" ucap Rain dengan wajah sinis.


Setelah melihatnya secara langsung, rupanya dia terlihat sangat muda. Bukannya itu berarti aku tertarik padanya, tapi ... "Apa dia anak hilang? Bukannya kau tidak suka merawat anak-anak kan, Virie?" ucapku.


Namun seketika sesuatu menghantam kepalaku. "Tidak sopan! Siapa yang kau bilang anak hilang!?" bentak si pendek Rain. "Perlu kau ketahui, diriku ini adalah salah satu lulusan terbaik di Zharan—tempatnya para elit berkumpul untuk menjadi yang terbaik."


"Terbaik tapi di peringkat paling akhir." Ujar Hien.


"Berisik!" Rain melempar benda yang sama untuk kedua kalinya ke arah Hien. Dan kini dia tidak mengenakan alas kaki sama sekali. "Putri! Biar langsung kubawa saja anak ini ke tempatku. Aku sudah tak tahan ingin memberinya pelajaran." Dia menunjuk Hien, "Dan kau yang merusak pintunya, maka kau yang harus memperbaiki pintunya."


Kemudian aku menyerahkan pintunya kepada Hien.


"Ikut aku." Ucap Rain.


Aku pun mengikutinya dengan Artex. Namun dia dicegat duluan oleh Hien.


"Mau kemana kau? Yang mengajarimu saat ini adalah aku." Ucap Hien.


...~Π~...


Aku diajak ke sebuah taman yang terlihat seperti taman anak-anak pada umumnya—sebuah ayunan, jungkat-jungkit, seluncuran, kursi taman, dan juga panjat tebing.


"Tunggu di sini." ucap Rain lalu masuk ke dalam rumah.


Aku berdiri di depan pancuran air dan membasuh kedua tanganku, karena itu yang selalu kulakukan ketika melihat keran saat sedang menunggu. Setelah aku selesai dengan tanganku, kemudian Rain muncul.


Dia mendekatiku lalu memasukkan penyumbat ke lubang saluran pembuangan airnya. Ketika airnya sudah penuh, "Masukkan kepalamu ke dalam!"


"Untuk apa?" tanyaku.


"Cepatlah, masukkan saja! Ini termasuk salah satu latihan dariku."


Aku menurut saja, lalu kumasukkan kepalaku ke dalam genangan air. Namun setelahnya kepalaku ditahan oleh Rain yang membuatku panik dan terburu-buru mengangkat kepalaku. Namun itu tak berhasil. Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya lepas juga cengkeramannya.


"Apa maksudnya itu!?" ucapku dengan napas terengah-engah.


"Itu juga termasuk bagian dari latihannya. Sekarang masukkan lagi kepalamu ke dalam air." Tanpa segan-segan dia mendorong kepalaku lagi.

__ADS_1


....


Setelah beberapa puluh menit kepalaku ditenggelamkan dan ditarik, akhirnya aku berbicara. "Tunggu-tunggu! Biarkan aku beristirahat dulu."


"Tidak ada kata istirahat! Kau akan terus melakukan ini sampai kau bisa menahan nafasmu selama lima menit."


"Lima menit!? Memangnya untuk apa aku harus bisa menahan napas selama itu?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Saat dulu aku juga pernah dilatih oleh seseorang untuk menahan napas selama lima menit. Dan aku tidak yakin apakah itu akan berguna atau tidak." Jelas Rain.


"Lalu untuk apa kau menyuruhku seperti itu?"


"Ka–kalau begitu kita lanjut ke latihan selanjutnya."


...~Π~...


"Ngomong-ngomong, aku harus mengajarimu apa? Aku belum diberitahu apapun oleh Tuan Putri sebelumnya." Ujar Rain.


"Yah, katanya sih aku harus belajar mengenai pertahanan untuk menyeimbangkan." Balasku.


"Kalau begitu kenapa harus memintanya padaku!?" teriaknya sambil melempar sepatunya ke tanah. "Bukannya hal seperti ini lebih baik diserahkan pada si Hien saja?"


"Begitu juga dia yang menyerahkanku kepadamu."


"Siala—" sebelum hendak melempar sepatu yang satunya lagi, tangannya sempat berhenti. "Tunggu, atau mungkin dia berniat untuk mewariskannya pada kalian?"


"Mewariskan apa?"


"Ikut aku!" dia pun berjalan tanpa kedua sepatunya menuju sebuah rumah. Di dalam dia terlihat sedang mencari sesuatu dan kemudian dia menemukan sebuah arloji kuno dan kemudian memberikannya kepadaku, "Ambil ini!"


Tanpa menanyakan sesuatu aku langsung mengambilnya lalu membuka tutupnya dan menatap jarumnya yang tidak bergerak. Jiwa penasaranku seketika meronta-ronta dan muncul hasrat untuk mengoprek arlojinya. Namun tidak berhasil, alat pemutarnya terlalu keras hingga tak bisa kugerakkan.


"Hei!" Rain merebut arlojinya. "Jangan gunakan barangnya sembarangan!" bentaknya. "Ini adalah artefak legenda yang tidak bisa kau dapatkan dengan membelinya."


"Memangnya kenapa?" kemudian aku membuat arloji yang sama persis dan memperlihatkan kepadanya. "Aku bisa membuatnya dengan mudah."


"Begitu apa?"


"Jadi ini alasan kenapa kau diserahkan padaku. Kau itu seorang Magic Builder kan?"


Magic Builder? Apa maksudnya? Mungkin lebih baik kuiyakan saja untuk mendapat harapan darinya. "Yah, semacamnya."


"Kalau begitu kau datang ke orang yang tepat!" dia melipat tangannya dengan ekspresi menyombongkan diri. "Dahulu aku dijuluki sebagai Master Build Caster. Seseorang yang sukses membuat ratusan prajurit golem dalam sekejap."


"Bagaimana cara kau melakukannya?"


"Nanti akan kutunjukkan, sekarang kita pergi ke tempatnya Hien dulu."


...~π~...


Di depan rumah Hien kami melihat Hien dengan Artex yang sedang berlatih mengangkat barbel.


"Sedang apa kalian?" Ucap Rain.


"Seperti sebelumnya, kami sedang meningkatkan stamina." Balas Hien.


"Bukannya lebih baik melakukan olahraga yang lebih cepat jika ingin meningkatkan stamina? Mengangkat beban menurutku terlalu memfokuskan kepada kekuatan otot tangan."


"Oh begitu ya?" tanya Hien.


"Ya, sepertinya." Jawabku.


"Jadi yang benar yang mana!?"


Kemudian Rain memotong, "Daripada itu, lihat ini. Apa kau ingat benda ini yang diberi oleh guru dahulu?"


"Oh! Ternyata ada padamu!" ucap Hien semangat. "Kukira aku menghilangkannya. Baguslah kalau begitu. Jadi, apa yang ingin kau bahas?"

__ADS_1


"Apa kau tahu alasan dia memberikannya kepada kita?" ucap Rain.


"Tentu saja. Itu alasannya guru mewariskan kemampuannya kepada kita dan saat ini kita mewariskannya kepada mereka."


"Lalu bagaimana cara menggunakannya?"


"Mudah saja, kau tidak usah melakukan apapun dan—"


Di sela-sela percakapan mereka, aku menghampiri Artex yang masih berlatih dengan barbelnya. "Sudah berapa kali kau mengangkatnya?" tanyaku.


Namun Artex tak menjawabnya. Kemudian aku jongkok untuk menghitungnya. Pada hitungan ke-empat Artex menunjukkan fenomena aneh. Sebelumnya aku melihat dia sedang berdiri, namun sekarang dia sudah berada dalam posisi jongkok.


Aku segera mendekati Artex untuk mengajaknya berhenti sejenak. "Tunggu-tunggu, berhenti dulu sebentar. Barusan aku tidak melihatmu menurunkan badanmu. Apa kau melakukan sesuatu?"


Artex meletakkan barbelnya lalu berkata, "Apa maksudmu?" ucapnya sambil ngos-ngosan.


"Maksudku, kau mungkin bergerak sangat cepat hingga aku tidak bisa melihatnya."


"Entahlah, aku hanya mengangkat benda ini dengan biasa. Kau tahu sendiri kan aku tidak bisa melakukan sihir sepertimu."


"Benar juga, coba kutanyakan ini pada mereka."


"Bagaimana? Apakah kau sudah bisa mencapai setengah menit?" ucap Hien.


"Hien, apa barusan kau menyadari sesuatu?" ujarku.


"Menyadari apa?" balasnya.


"Seperti ada yang bergerak dengan sangat cepat?"


"Oh, itu. Baru saja aku akan membahas ini pada kalian."


"Membahas apa?"


"Pinjam artefaknya sebentar." Hien mengulurkan tangan kepada Rain dan menerima arlojinya. "Ini adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh guru kami yang bisa membuat kita bergerak dalam ruang hampa."


"Maksudnya?" ujarku.


"Singkatnya, kita bisa bergerak lebih cepat saat menggunakan benda ini."


Mendengar hal tersebut, aku terpikir sesuatu bahwa arloji itu baru kami temukan sebelum datang ke sini. Namun Artex bisa melakukannya padahal dia belum melihat arlojinya. "Tapi barusan Artex melakukannya tanpa memegang arlojinya."


"Ya, itu kemampuan spesial yang diwariskan oleh guru kami. Kemudian kemampuan itu kuwariskan padanya sehingga dia bisa melakukannya tanpa menggunakan artefaknya. Bagi pengguna artefak hanya bisa melakukannya ketika dia menggunakan kemampuannya. Singkatnya, si pengguna hanya bisa menumpang."


"Kalau begitu, jika barusan dia melakukannya kenapa aku yang memegang artefaknya tidak bisa?" ujar Rain


"Ada satu cara agar bisa menumpang pada kemampuannya."


"Bagaimana?" tanya Rain.


"Kau harus menahan napasmu sebelum dia menggunakan kemampuannya."


"Apa hubungannya?"


"Ketika kau mengaktifkan kekuatannya, semua pergerakan akan terhenti. Termasuk udara yang akan masuk ke dalam paru-parumu. Ketika kau bernapas, maka kau akan bergerak normal lagi."


"Oh, jadi itu alasannya aku diajari untuk menahan napas."


"Tapi bukannya itu lebih ke menghentikan waktu?" ujarku.


"Tidak. Hal ini berbeda dengan mengehentikan waktu. Dahulu, guru kami pernah melakukan eksperimen secara tidak sengaja. Dia menahan napasnya selama sepuluh menit dan mendapati bahwa tinggi dari api unggun yang dinyalakan olehnya menjadi semakin rendah."


"Tunggu! Sepuluh menit? Lama sekali, bagaimana cara dia melakukannya?"


"Ah, itu ... aku tidak ingin mengatakannya karena ini akan merusak citranya."


Rain tiba-tiba menyaut. "Tidak usah khawatir, Guru pasti akan memakluminya. Jadi bagaimana dia melakukannya?" Rain terlihat antusias dengan ini.

__ADS_1


"Yah, baiklah kalau begitu. Ini juga demi pengetahuan kalian. Jadi dia bisa melakukannya karena ... lupa cara bernapas."


__ADS_2