
Kuciptakan sebilah pedang dengan harapan bisa mengalahkan mereka semua, pikirku begitu lima menit yang lalu sebelum kewalahan melawan mereka. Jangankan menghabisi semuanya, bahkan mengalahkan satu pun masih kesulitan karena zirah berat yang kupakai ini.
"Artex, tolong aku sebentar!" teriakku meminta bantuan. Namun ketika aku menengok ke arah Artex, dia terlihat berdarah-darah di sekujur tubuhnya.
Dengan cepat aku membuat penghalang terhadap musuhku lalu menghampiri Artex, "Hei, kau kenapa!?"
"Jangan pedulikan aku, fokus saja melawan mereka." Ucapnya rintih.
"Diam sebentar, biar kututup lukamu itu!" kulindungi diri kami dengan tembok besi yang melingkar. Setelah itu kubalut luka dari lengan, kaki, dan badannya dengan perban.
"Stt—" rintihnya.
"Bukannya kau punya obat penghilang rasa sakit? Kenapa kau tidak meminumnya?" tanyaku
"Obat itu sudah lama habis dan aku belum sempat membelinya lagi." Jawabnya.
Seketika aku mengingat kejadian terakhir saat aku meminum obat itu darinya. "Ah sial, pasti itu salahku! Aku yang meminum obat terakhirmu."
"Tidak usah dipikirkan. Lagipula obatnya memang akan habis bahkan sebelum terjadi pertempuran ini." Kini dia mencoba berdiri namun langsung terjatuh.
Melihatnya begitu, sontak membuatku merasa cemas. "Kurasa sebaiknya kau istirahat saja. Kalau dipikir-pikir lagi kau sudah bertarung terlalu lama."
"Jangan khawatirkan aku, aku hanya kekurangan darah sedikit. Lagipula kenapa kau begitu perhatian kali ini? Apa kau lupa aku memiliki kemampuan regenerasi super?"
"Bukan itu masalahnya! Tubuhmu memang bisa sembuh kembali tetapi tidak dengan staminamu. Aku tahu kau sangat kelelahan dan itu sepenuhnya salahku karena meninggalkanmu bertarung sendirian!"
"Tenang saja, aku selalu melatih badanku agar memiliki stamina yang baik. Bahkan sampai sekarang aku baru kehilangan setengahnya."
Aku tahu ucapan Artex terdengar menjanjikan. Tetapi fungsi otak juga harus lebih diperhatikan demi keseimbangan tubuh. "Ya sudahlah, kita juga tahu bahwa kita sama-sama orang yang keras kepala. Apapun bentuk peringatan yang diberikan kita selalu menolaknya. Kalau begitu ayo kita akhiri peperangan ini."
"Akhirnya kau mengerti juga,"
Aku menyodorkan sebuah pedang baru kepadanya. Ketika dia hendak memegangnya, seketika dia batuk lalu menutupi mulutnya dengan tangannya. Apa yang kulihat bukanlah tipuan semata, melainkan darah sungguhan yang keluar dari mulutnya.
"Kurasa sebaiknya kau memang harus beristirahat." Ucapku.
__ADS_1
"Tidak, aku akan tetap bertarung." Kurasa ini sikap keras kepala yang terlalu berlebihan.
"Sudahlah jangan terus memaksa, memangnya kenapa juga kita harus bertarung!?"
"Kau mungkin tidak mendengarnya, tetapi ketika aku berhadapan dengan pemimpinnya, aku mendengar ucapan yang melintas begitu cepat dalam pikiranku."
"Apa yang kau dengar?"
"Bahwa semua pasukan iblis yang telah atau akan kita lawan adalah utusan dari raja iblis yang saat ini kita incar. Kudengar salah satu dari mereka juga terdapat seseorang dengan kemampuan penyembuhan yang ekstrem.
Meskipun kemampuannya memang terdengar tidak masuk akal, tetapi jika menghubungkan ucapannya dengan keadaan yang kualami saat ini, dapat dipastikan dialah sosok penyebab dari kutukanku ini."
Aku langsung tertegun setelah mendengar penjelasan darinya. "Jadi maksudmu, selama ini kita dekat dengan tujuan kita?"
"Tidak sepenuhnya benar tapi bukan itu yang kumaksud." Jawab Artex. "Setelah mengalahkan pemimpinnya kita akan mengorek informasi sebanyak mungkin darinya. Segala cara akan kita lakukan meskipun tidak manusiawi."
"Baiklah kalau begitu, ayo kita akhiri ini secepat mungkin—" dengan begitu akhirnya kami bertarung kembali melawan bawahan-bawahannya sebelum berhadapan dengan pemimpin mereka.
Kali ini aku akan cukup serius dengan membasmi mereka menggunakan katana super tajam. Begitu juga dengan Artex yang memintaku untuk membuatkannya enam belati yang sama tajamnya.
Dengan presisi Artex melempar pisaunya ke arah kepala lalu mengambil pisau cadangan yang ia tancapkan di pinggangnya. Ia berlari dan menerkam habis semua kepala yang ia lihat.
Saking fokusnya berkonsentrasi, Artex sampai lupa bahwa dirinya sedang mengalami penurunan stamina yang mengakibatkan dia muntah darah.
Seketika fokusku terganggu dan segera menghampiri Artex yang tengah ditusuk-tusuk di bagian punggungnya. "Minggir kalian!" teriakku lalu menebas habis kepala mereka.
Tanpa pikir panjang aku langsung menyerap kembali katanaku lalu menggendong Artex untuk membawanya ke luar medan pertempuran. "Kali ini kau jangan membantah lagi!" ucapku histeris. "Sudah kuduga kau pasti kelelahan atas semua ini, dan penyebabnya adalah salahku."
Artex tak menjawab apapun selain suara batuknya. "Jangan terlalu diambil hati, sebelumnya juga aku sudah diperingatkan oleh orang yang membantu kita dan aku menolaknya. Jadi ini adalah murni kesalahanku."
"Jangan bicara terlalu banyak! Kau sudah kehilangan banyak darah saat ini—"
"Baiklah, baiklah. Kali ini aku menyerah dan menurut saja padamu..."
"Sial, terlalu banyak yang menghalangi jalan keluarnya." Aku berusaha untuk menghindari pertarungan, namun di depanku tidak ada satupun celah yang bisa kugunakan. Aku terus menerobos melewati para pasukan bantuan. Tetapi itu juga sulit dilakukan karena masing-masing dari mereka sedang melawan musuh. Hingga akhirnya aku menabrak seseorang dan membuatku jatuh.
__ADS_1
Di depanku ada sesosok iblis yang siap mengayunkan pedangnya ke arahku. Dengan cepat aku menciptakan perisai lalu menahannya dengan tangan kiriku. Kemudian kubalas serangannya dengan menusuknya di bagian kepala.
Kini aku memalingkan muka ke arah Artex. Tidak diduga hal yang tidak diharapkan terjadi, dirinya yang tergeletak ditusuk berkali-kali bahkan sampai mengeluarkan darah yang banyak.
Salah satu prajurit bantuan menebas iblis yang menyiksa Artex dan kemudian ia pergi.
Dengan tergesa-gesa aku menghampiri Artex. "Hei, hei! Apa kau dengar suaraku!? Artex, jawab aku!" baru kali ini aku merasakan kepedihan yang begitu mendalam. Di depan mataku terbaring seseorang yang sudah dekat denganku namun kini ia berlinang darah. Rasa sakit, sedih, dan juga takut bercampur dalam hatiku.
"Apa yang harus kulakukan!? Apa tidak ada cara untuk menyelamatkanmu!? Seseorang, tolong kami, ada yang terluka di sini!" kutahu semua itu sia-sia karena ini adalah medan perang—dimana orang-orang yang terluka tidak akan dihiraukan.
Aku menangis karena ketidakberdayaan yang kumiliki. Aku menyesal karena meninggalkannya dalam keadaan bahaya. Dan aku menyesal karena segala keputusan yang kubuat hingga dia mengalami hal ini.
***
Waktu terasa begitu lambat, peperangan terus berlanjut dan tiada kunjung berhenti. Rasa sakit karena kehilangan teman dekat membuatku merasa tak berdaya, hingga akhirnya aku pasrah atas diriku sendiri.
~#*!+?
Pandangan yang runyam muncul di kepalaku. Ini terlihat seperti menonton televisi yang rusak. Perlahan-lahan kepalaku mulai terasa sakit dan pusing. Aku mencoba untuk bertahan namun akhirnya—
"Kukira efeknya tidak akan semengerikan itu." Ucap seseorang yang entah darimana sumber suaranya.
"Sebaiknya aku berhati-hati ketika akan bertukar dengannya." Untuk pertama kalinya aku meminjam tubuh anak ini, aku langsung disuguhi pemandangan yang tidak menyenangkan. "Uh, apakah orang ini temanmu? Mengapa dia bisa begini?" Kucoba untuk mengamatinya dan ku asumsikan dirinya ditusuk secara berulang kali.
Aku mencoba berpikir jernih dan menyadari bagian mataku terasa pegal. Mungkin karena dia sangat berduka atas kematian temannya? Tanpa pikir panjang langsung kubuatkan peti untuknya untuk melindungi jasadnya. Kulihat suasana di sekitar dan tak kusangka aku sedang berada di tengah-tengah peperangan.
"Sebaiknya langsung kuhampiri saja pemimpinnya," pikirku, "Tidak mungkin pasukan sebanyak ini tidak dikomandoi oleh seseorang."
Begitu berada di atas udara berkat tanah tinggi yang kuciptakan, aku langsung mencari sosok pemimpinnya Tetapi meskipun telah mencarinya beberapa menit aku tak kunjung menemukan sosok dengan penampilan yang berbeda.
Kemudian aku dibuat terkejut dengan para pasukan berzirah yang menembaki-ku dengan panah mereka. Aku bingung apakah pemilik tubuh ini adalah seorang buronan atau apa. Namun hampir semua serangannya tidak mengarah padaku.
Setelah berbalik, ternyata ada seseorang yang sedang melayang di udara sambil memegang busur di tangannya. Penampilannya yang begitu mencolok dengan sayap yang ada di kanannya membuktikan bahwa dialah pemimpinnya.
"Akhirnya ketemu juga—" kini aku memunculkan sebuah pedang berlian di tanganku dan bersiap untuk menghajarnya.
__ADS_1