The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Dari Desa ke Desa


__ADS_3

Setibanya di Desa Lapang, kami disambut oleh salah seorang warga di sana—orang sama yang kami temui di jalan sebelumnya. "Bagaimana anak muda?"


Kami hanya menunduk, malu mengakui perbuatan kami yang bisa membuat orang lain marah dan tersakiti. Namun sepertinya Artex sudah siap menerima cemoohan dari warga sini. "Setelah sampai di sana, kami menyadari bahwa penyihir di sana sudah termanipulasi otaknya, dan kami tidak sempat menolong mereka. Malahan kami malah membunuh mereka."


"Oh, begitu ya." Bapak ini menanggapi pernyataan Artex dengan senyumannya, bukan dengan amarah atau dendam. "Jadi, apa yang terjadi di sana?"


Melihat responnya, kami sangat terkejut. "Ehh?! Bagaimana bisa reaksi anda begitu tenang? Padahal aku sudah terang-terangan mengakui tindakan pembunuhan!" tegas Artex.


"Bukannya senang atau apa. Hanya saja aku tidak bisa marah kepadamu karena tindakan sembrono yang kau lakukan. Aku juga baru datang ke sini sekitar dua minggu yang lalu. Aku diajak oleh anakku untuk menginap di sini."


"Oh.... Padahal aku sudah siap menerima kenyataannya. Kukira aku akan dihakimi oleh warga."


"Tidak usah cemas. Asalkan kau tidak membeberkan informasi ini pada mereka maka tidak akan ada masalah. Ingatlah untuk selalu berpikir optimis jika melakukan kesalahan. Jangan sekali-kali kalian mempersulit kesalahan yang telah kalian perbuat."


"Ahh,... baiklah."


Saat ini kami sedang merenungi kesalahan meskipun kami tahu kelak nanti akan melakukan pembunuhan yang lebih banyak.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Jagalah diri kalian baik-baik. Sampai jumpa." Bapak itu lekas menjauh.


Kami hanya bisa menelaah ucapannya sembari meninggalkan desa dengan perasaan bersalah… dan baju yang sangat kotor ini.


...~Π~...


Setelah sampai di kota—tempat yang sudah direncanakan untuk bertemu, kami melihat Virie dan Nena sedang tertawa riang. Kami mendekatinya dan menanyakan perihal apa yang sedang mereka tertawakan.


"Ah, Den rupanya. Kami hanya sedang membahas buku yang kami baca, lihatlah tingkah si kelinci sangat lucu sekali." Ucap Virie.


Aku hanya tersenyum dan menghiraukannya.


"Ngomong-ngomong, kau habis dari mana? Mengapa bajumu kotor begitu?"


"Ah! Tadi aku habis jalan-jalan dan tidak sengaja tercebur." Aku berusaha mengelak.


"Oh, begitu ya."


Nena menyahut, "Tuan, apa boleh kita makan sekarang?"


"Sst sst sst..." aku menutup mulutnya dengan telunjukku, "sudah berapa kali kukatakan jangan panggil aku dengan kata 'Tuan' itu."


"Hmm? Lalu harus kupanggil apa?"


Virie langsung berbisik kepada Nena setelahnya. Nena mengangguk. "Kalau begitu, Papa, bolehkah kita makan sekarang?!" ucap Nena riang.


Makin kesal aku dibuatnya. "Apalagi itu! Tolong pangil saja namaku! Atau lebih baik ditambahkan kata 'kakak' agar lebih formal."


"Tapi Ibu yang menyuruhku begitu."


"Siapa lagi 'Ibu' itu?! Nih, kalau kau ingin memanggil Papa, ucapkan saja pada Artex."


Artex menatapku sinis. "Sudahlah aku tidak ingin terus mendengar keluhanmu. Aku ingin segera membersihkan tubuhku."


"Kalau begitu aku akan menyewa kamar untuk kita." Sahut Virie.


"Tidak usah. Menginap saja di rumahku. Terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk sekali menginap di penginapan." Balas Artex.


"Baiklah." Virie setuju.


...~Π~...


Setibanya di rumah Artex, kami berdua lekas membersihkan tubuh kami yang sudah bermandikan darah. Tidak lupa juga aku mencuci bajuku.


Virie dan Nena sedang memasak di dapur untuk makan malam. Suara berisik wajan yang sedang beradu dengan spatula meramaikan suasana rumah.


Sehabis mandi, kami disuguhi dengan beberapa hidangan yang telah disiapkan oleh Virie. Dengan senang hati kami menyantapnya bersama-sama.


...~Π~...


Keesokan harinya aku dan Virie beranjak pergi dari rumah Artex. Mau tidak mau Nena juga harus kuajak, tak ada alasan bagi Artex untuk merawatnya.

__ADS_1


Meskipun begitu dia mengajukan diri untuk ikut bersama kami dengan alasan melanjutkan perjalanannya mencari seseorang yang sedang dicari olehnya. Dengan senang hati aku mengajaknya untuk ikut bersama kami.


Akhirnya kami pergi ke desa selanjutnya untuk melanjutkan tujuan dari perjalanan kami. Kami berjalan melewati Desa Lapang dan sempat bertemu dengan bapak-bapak yang kemarin.


"Mau pergi kemana sekarang kau, anak muda?" tanya bapak itu.


"Saat ini kami sedang berkelana. Sebelumnya kami beristirahat dulu lalu hari ini kami berniat melanjutkannya." Jawabku.


"Apa kau ingin mencari sesuatu yang bermasalah lagi?"


"Tentu saja tidak. Kami hanya kebetulan tahu informasi itu dari seseorang."


Virie menyahut "Apa kemarin kalian melakukan sesuatu?"


"Sesuatu? Kami hanya membantu bapak ini menangkap belut di sawahnya." Meski tidak kelihatan realistis, setidaknya aku bisa memikirkan alasan.


"Ya, aku sangat terbantu oleh mereka berdua," bapak itu tanggap sekali "jika tak ada mereka mana mungkin aku bisa menyelesaikannya dalam sehari."


Sungguh aku berterima kasih padamu, Pak. Hormatku dalam hati.


"Baguslah kalau begitu," Virie terlihat senang "kupikir kau membahayakan dirimu lagi."


"Tenang saja. Kalaupun dia membahayakan dirinya, pasti ada yang membantunya." Sepertinya dia memberikan nasihat—tidak, mungkin mengingatkan kami untuk saling membantu. "Kalau begitu, hati-hati di jalan."


Kami melanjutkan perjalanan kami. Kami sempat melewati hutan terbengkalai yang kemarin kami masuki. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, aku bertingkah tidak peduli dengan hutannya.


Setelah berjalan cukup lama, Virie mengarahkan kami untuk memasuki hutan. Suasananya begitu asri, dipenuhi oleh bunga berwarna-warni. Langit diterangi oleh cahaya biru membuat suasana makin sejuk.


"Oh, biru sekali!" itulah tanggapan pertamaku mengenai hutannya.


"Indahnya!" sepertinya Nena menyukainya.


Virie menjawab "Mereka menggunakan kekuatan Sapphire untuk mengubah warna cahaya yang masuk."


"Sapphire yang langka itu ya?" ujar Artex.


"Aku tidak tahu selangka apa Sapphirenya, tetapi para roh air selalu punya simpanan mereka. Entah di mana mereka mencarinya."


"Memangnya untuk apa Sapphirenya?" tanyaku.


"Macam-macam," jawab Artex "biasanya aku menggunakannya untuk meracik ramuan. Tetapi semua percobaan yang kulakukan selalu berakhir gagal."


"Kasihan sekali."


"Tenang saja. Aku selalu meraciknya menjadi koin emas untuk keperluanku."


"Itu namanya dijual!"


Artex tertawa kecil.


"Ngomong-ngomong, berapa lama lagi kita sampai?" tanyaku pada Virie.


"Kita baru saja masuk ke sini. Desa Arvi masih beberapa ratus meter di depan." jawab Virie.


Mendengarnya, aku langsung menoleh ke belakang dan benar, cahaya putih dari luar masih terlihat meskipun kecil. Mungkin karena jarang pergi ke luar selain sekolah, aku jadi merasa seolah-olah berjalan ke mana pun serasa jauh meskipun itu hanya ke supermarket.


Kini aku tutup mulut agar keresahanku tidak membuat perjalanan makin lama. Tak terasa setelah lima belas menit kemudian akhirnya kami sampai di tujuan. Eh tunggu, itu sangat terasa bagiku!


"Bawa kami ke hadapan Raja!" tegas Virie kepada salah satu penjaga desa.


"Baik, Putri Virie!" begitupun penjaganya.


Kami berjalan ke dalam tempat di mana raja berada dengan dipandu oleh penjaga desa.


Setelah sampai, si penjaga memberitahu kami agar diam dulu sebelum masuk. Dia masuk ke dalam dan setelah mendapat perintah dia mengarahkan kami agar masuk.


Aku melihat banyak sekali akuarium yang terpajang di sisi-sisi ruangan. Aku beranggapan apakah mereka seorang kolektor ikan hingga memajang akuarium dengan ukuran berbeda.


"Langsung saja katakan apa tujuanmu datang ke sini." Ucap Raja.

__ADS_1


"Terimakasih atas perhatiannya." Balas Virie. "Tetapi, apakah aku boleh bercerita terlebih dahulu sebelum menyampaikan tujuan utamaku?"


"Silakan."


Virie mulai bercerita lagi mengenai Raja Iblis yang sebelumnya. "Dengan ini, aku sebagai perwakilan dari Desa Urias mengajak Desa Arvi untuk bersekutu."


"Izinkan aku menunda tawaranmu. Aku masih ragu dengan ancaman dari orang yang kau sebut Raja Iblis itu mengenai peperangan. Bukannya bermaksud sombong, tetapi hutanku telah dilindungi dengan penghalang sihir tingkat tinggi. Bahkan tiga kerajaan pun tidak akan mampu menembus penghalangnya."


"Aku khawatir kau akan bilang begitu. Tetapi bukan hanya sihir yang mereka gunakan, pasukan bersenjata pun mereka kerahkan untuk mengatasi hal seperti ini."


"Kalau begitu, tinggal kerahkan pasukanku untuk mengalahkan mereka."


"Aku ragu dengan tingkat kekuatan mereka. Belum lagi dia tidak hanya mengerahkan satu prajurit, bahkan seratus pun berani dia kerahkan hanya untuk menumpas satu desa."


Bukankah dia terlalu berlebihan? Bahkan aku saja baru menemukan paling banyak tiga musuh dalam satu waktu. Yah, meskipun Zack pernah melawan banyak iblis banteng dengan robot gundamku.


Selagi mereka mengobrol, aku berencana mengajak Artex untuk keluar ruangan. Tetapi saat aku menoleh ke arahnya, dia sudah menghilang dari kursinya. Aku ingin menanyakan keberadaannya pada penjaga yang sedari tadi berdiri di dekat kami, tetapi dia juga menghilang.


"Permisi, izinkan aku ke luar sebentar." Ucapku.


Pria yang sejak tadi mengobrol dengan Virie segera memotong percakapannya. "Siapa kau ini?!"


Eh, yang benar saja? Dari tadi aku sudah duduk beberapa menit di sini dan kau belum menyadarinya?


Virie mencoba menjelaskan "Mohon maaf atas kelancangan saya. Orang ini adalah tokoh utama dalam pembentukan sekutu ini. Beliau berperan penting dalam penyergapan di pasukan depan."


"Apa maksudnya?"


"Bisa dikatakan beliau adalah pahlawan legendaris yang berperan penting dalam menyelamatkan dunia kita."


Aku menyela ucapan Virie "Tolong jangan sungkan memanggilku, aku hanya orang biasa yang kebetulan kena musibah."


"Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak tahu betapa hebatnya dirimu hingga dimuliakan oleh Sang Putri." Ucap si raja.


"Ya, tidak apa. Ngomong-ngomong, aku ingin pergi ke luar sebentar. Ada suatu hal yang ingin kulakukan."


"Silakan."


...~Π~...


Aku berjalan-jalan mencari Artex. Saking banyaknya tikungan, aku malah kelelahan. Lagipula ini pohon atau kastil? Luas sekali! Niatnya aku ingin memakai skateboard, tapi aku ingat jangan terlalu mencolok. Meskipun aku juga tidak bisa menggunakannya.


Setelah berjalan dan berjalan, akhirnya dia kutemukan. Tapi sepertinya dia sedang menutupi sesuatu di bajunya. "Oi, Artex! Dari mana saja kau?"


"Oh, Den. Aku habis diculik oleh perempuan gila."


"Perempuan gila?"


"Ya, dia orang yang sangat berbahaya bagiku. Bahkan aku hampir tidak bisa melawannya."


"Memangnya sedang apa kau di sana?"


"Aku hanya diam karena diikat. Tetapi selagi diikat, dia mengucapkan mantra yang belum pernah kudengar sama sekali."


"Wuoh, apa dia penyihir? Tapi bukankah baik jika kau menemukan petunjuk mengenai kutukanmu?"


"Masalahnya aku belum pernah mendengar ada mantra seperti itu."


"Hah? Memangnya yang seperti apa?"


"Entahlah aku tidak begitu ingat. Yang jelas dia mengatakan kata 'suka'."


"'Suka'? Mantra macam apa itu? Eh, tapi aku belum pernah mendengar satupun mantra jadi aku juga tidak tahu."


"Entahlah. Karena aku tidak mengerti aku memutuskan saja untuk memotong talinya dengan pisau yang ada pada perutku lalu kabur ke sini."


Aku bergumam, "Asuka Inai? Asu kamani? Hasu Karambit?"


Di sela-sela keheningan kami, tiba-tiba muncul suara tak dikenal dari belakang. "Tunggu, Tuan Artex!"

__ADS_1


"Sial, sekarang dia yang datang langsung." Keluh Artex.


Dalam hati aku berkata, Eh? Perempuan seperti ini dia bilang orang gila? Bahkan pa presiden pun bakalan menikahinya kalau melihatnya. Tapi aku lupa presiden siapa.


__ADS_2