
"Cepat menyingkir!" Rain mendorongku sekuat tenaga hingga aku hampir tersungkur. "Lynn, kau tidak apa?"
"Aku tidak apa, kok. Sebaiknya kau khawatirkan yang di belakangmu saja." Balas Lynn.
"Iya tuh! Duh linu banget asli. Gara-gara kau sih!" cetusku pada Rain.
"Kenapa harus aku? Aku tidak tahu benda apa dan apa efek yang dihasilkan oleh benda milikmu itu! Harusnya kau bisa menahannya sendiri karena kau yang tahu percis dengan benda ciptaanmu sendiri."
"Iya karna itu aku minta bantuan kau soalnya tau sendiri segimana besar efeknya!"
"Kalau tahu bagaimana efeknya, seharusnya kau mengantisipasi dengan benda lain yang lebih berguna daripada aku."
"Kalo bisa juga udah kulakuin dari tadi. Masalahnya kan tanganku ga bisa mengkondisikan-nya. Kalo ga kenapa-kenapa juga ni tangan, bisa nembak tanpa gangguan."
"Kalau begitu sembuh lah dengan cepat, buktikan hal itu sekarang juga!"
"Dikira kaya permainan bangun desa, apa?! Bisa mempersingkat proses pake permata ijo?"
Di sela-sela pertengkaran kami, Lynn mencoba untuk melerai hal tersebut. Namun kami sama sekali tidak menghiraukannya dan terus saling beradu argumen.
"Ya sudah berikan padaku senjata barusan. Biar kuberi contoh yang benar sebagai seorang guru." Ucap Rain dengan sikap sok-nya.
"Yakin nih?" Lalu aku membuat ulang sniper yang sama seperti sebelumnya.
Setelah kuberikan padanya, dia meletakkan sniper tersebut percis seperti yang kulakukan sebelumnya. Namun untuk kali ini dia memegang teropong dengan tangan kirinya. "Beginilah cara kau menahan senjatanya." Kemudian matanya fokus melihat ke dalam teropong.
Dua menit telah berlalu dan dia masih fokus dengan teropongnya. "Ini bagaimana cara kerjanya ya?" dia menatap ke arahku sambil tertawa kecil.
"Sialan!" bentakku. "Makanya jangan sok jago padahal tau aja engga! Coba minggir dulu, biar aku contohin."
Kemudian Rain menyingkir dari posisi dengan keadaan cemberut.
"Tangan kanan simpen di sini." Ucapku sambil mengunci pelatuk. "Terus yang kiri ke.... Duh gimana ya." Aku lupa dengan lenganku yang masih terluka. "Coba kau aja deh yang praktekin. Aku yang ngasih arahan."
"Apa bedanya aku dengan dirimu yang sama-sama tidak bisa menggunakannya?" ledek Rain.
"Aku ga bisa karna lagi sakit, sialan!"
Tanpa menghiraukannya, Rain memegang kembali kendali atas sniper nya. Dia meletakkan tangannya percis seperti yang ku contohkan barusan. "Lalu dimana aku harus meletakkan tangan kiriku?" ucapnya.
"Taruh di bagian depan untuk menahannya." Jawabku.
Memang benar dia meletakkan di bagian depan, tetapi dia malah terlihat seperti memegang sebuah tongkat.
__ADS_1
"Maksudku seperti menopang pipa. Telapak tangannya ada di bawah terus pegang yang kuat."
"Baiklah." Dia menuruti perkataanku dan nampaknya sudah benar.
"Kunci target dengan melihat di teropongnya. Pipa di bagian atas yang kau lihat sebelumnya." Lanjutku. "Kalau garis tengahnya udah pas, tekan pelatuk yang ada di telunjuk kanan buat nembak. Jaga terus keseimbangan—"
Tanpa mendengar arahan selanjutnya, dia langsung menarik pelatuknya. Untuk keduakalinya dia terpental mundur akibat dorongan dari pelurunya. "Adududuh.... Masih saja begini."
"Kan?" ucapku. "Dibilangin kuat banget dorongannya. Orang dewasa aja masih bisa goyang padahal senjatanya dipasang di tanah."
"Selanjutnya giliran kau saja. Aku sudah muak dengan efeknya."
"Ya udah." Kemudian aku menggantikan posisinya. Namun sebelum melihat dengan teropong, aku sudah melihat sesuatu terbang ke arah kami. Sadar itu adalah panah yang sama seperti yang ditembakkan oleh musuh kami, aku langsung membuat perisai menutupi jendela.
Setelah satu ledakan, aku langsung menyerap kembali perisainya. Kupikir hanya itu serangan yang dilontarkannya, namun kali ini tiga orang terbang menghampiri kami dengan cepat. Mereka menyatukan tangan lalu memulai kombinasi aneh. Saat mereka mendorongnya ke depan, muncul bola merah yang melesat lebih cepat.
"Rain, musuh datang!" sekali lagi aku menahannya dengan perisai dan melapisinya berkali-kali lipat. Perisainya berhasil menahan serangannya namun tembok di sekitarnya malah hancur.
Ketiga musuh tersebut mendarat dengan memukul perisaiku dengan pedang mereka. Setelah melihat mereka bersenjata, dengan cepat aku melapisi tubuhku dengan zirah besi. "Rain, siapkan golem!" tegasku.
"Lynn, ayo pergi dari sini!" teriak Rain sambil meninggalkan dua golem untuk bertarung bersamaku.
"Woy terus aku harus gimana?!" Lantas aku berniat mengikuti mereka keluar. Namun belum juga sampai ke depan pintu, aku segera menoleh ke belakang karena sadar ada yang mendekat. Dua dari mereka menyergapku dan siap untuk menebas.
Berkatnya aku bisa berbalik lagi untuk melihat musuh yang tersisa. Namun tanpa diduga perisai berlapis yang kutinggalkan berhasil dirobek dan membuatnya terbelah dua.
"Anjir, kok bisa!?" bergegas aku mundur ke belakang karena dia mulai membalikkan arah mata pedang. Untuk menghambat gerakannya aku melempar benda-benda yang ada di sekitar. Namun dengan mudahnya ia belah menjadi dua.
Dengan postur tubuh bungkuknya dia menerjang ke arahku. Kali ini aku yakin dia akan menerima serangan yang kuberikan padanya. Lantas aku menghantamnya dengan tabung baja yang aku sendiri kesusahan untuk melemparnya. Bahkan aku mengeluarkan mana ekstra untuk membuat roket sebagai pendorong.
Kali ini benar-benar dapat dipastikan mengenainya, namun malah dengan cara yang salah. "Gobloook!!" salah satu dari golem ciptaan Rain menerobos untuk menghajar iblis di depanku, yang akhirnya seranganku malah mengenai dirinya dan membuatnya terlempar keluar.
"Sungguh jenius dan idiot tidak ada bedanya." Gumamku. "Ya udah lah, dia bisa ngasi waktu buat kabur." Sesegera mungkin aku melarikan diri ke arah pintu.
*Brakk.... Golem yang mengatasi kedua iblis sebelumnya berhasil dipukul mundur. Bahkan tubuhnya terpotong menjadi dua.
"Itu pedang atau apa sih anjir?! Batu aja bisa diancurin gitu!"
Kemudian mereka menyergapku sambil menghunuskan pedangnya. Tidak tinggal diam, aku juga berusaha untuk membela diri. Aku membuat sebuah tameng bundar lalu kulempar sekuat tenaga, namun sayangnya tidak kena sama sekali.
"Duh, coba ada si Artex di sini." Kedua kalinya aku membuat perisai yang sangat besar untuk melindungi diri. Tepat sebelum mereka menghabisiku, penghalang besi yang kubuat berhasil menyelamatkan diriku.
"Kssaaahhh!!" desisan mereka membuat situasi jadi menyeramkan.
__ADS_1
"Jancook! Jangan kaya gitu lah, kesannya malah jadi genre thriller!" teriakku.
Kemudian iblis yang ditabrak oleh golem bodoh sebelumnya mendatangiku lagi melewati ranjang yang berjejeran. Lalu dua lainnya muncul juga dari balik lobang tembok yang tercipta oleh golem satunya.
"Ah, sial aku lupa sama lobang yang itu! Eh tapi bisa juga dipake kan?" lantas aku menarik penghalang besi yang kubuat untuk menghalangi langkah mereka. Dengan cepat aku bergerak keluar pintu lalu menyiapkan sebuah bat bisbol. Dengan sekuat tenaga aku melemparkannya tepat ke arah kepalanya.
"Menjauhlah dari adikku!!" terdengar seseorang berteriak dari luar tembok, namun aku tidak menghiraukannya.
Sayang sekali bat yang kulempar dengan mudahnya dipotong oleh lawan. Namun tepat setelah hal tersebut, tiba-tiba muncul seseorang yang tengah mendarat sekaligus menghabisi salah satu dari mereka.
"Beraninya kalian menyentuh adikku!" ternyata sosok kakak yang datang membantuku. Lalu ia mencabut pedangnya dan mengayunkannya ke arah samping.
Dengan cepat musuh yang dihadapinya menangkis serangannya dan balik menyerang, begitu juga dengan temannya yang ikut menyerang.
Mereka bertiga saling mengayunkan besinya, saling menangkis, dan saling menjaga diri dari tebasan.
Saking cepatnya, si kakak bisa menandingi mereka berdua yang tak kalah cepat. Padahal batu saja bisa mereka belah, tapi pedang mereka tidak mampus menghancurkan senjata milik si kakak.
"Serang mereka terus, jangan kasi napas!" ucapku di sela-sela pertarungan mereka.
Selagi ada kesempatan, salah satu dari mereka ada yang bergerak cepat ke belakang untuk mengambil momen yang pas untuk menghabisi si kakak. Yang membuat serangannya melenceng dari sebelumnya.
Kini dia berada dalam ambang kematian karena siap ditebas oleh kedua lawannya.
Dengan buru-buru aku membuat pistol lalu menembak lawan di depanku. Tak kusangka, bukannya menghabisi si kakak, dia malah menangkis peluru yang kutembakkan lalu berbalik mengincarku. Sontak aku langsung berlari sebagai antisipasi dia akan menyerang.
Baru saja dua langkah, saat aku melihat ke belakang sudah ada si kakak yang menusukkan pedangnya ke iblis tersebut hingga menembus ke tembok. Guncangan yang kurasakan menjadi bukti secepat apa dirinya.
Si kakak mencabut pedangnya lalu menebas kepala iblis yang sudah ia lumpuhkan. "Terimakasih atas pengalihannya."
"Sshhaaa!!" iblis yang tersisa bersiap untuk menyerang si kakak dari belakang
"Awas di belakang!" teriakku.
Dengan cepat dia langsung menyadarinya lalu berbalik dan merendahkan tubuhnya. Ketika lawan terlihat akan menikamnya, dia sudah menebasnya lebih dulu dan membuat iblis di hadapannya berhenti bergerak lalu jatuh. Untuk yang ketiga kalinya dia menusuk kepala iblis.
"Aku tidak akan mengucapkannya untuk kedua kali." Ujarnya.
"Tidak apa, aku juga tidak memikirkannya—" jawabku.
"Dimana adikku sekarang?"
Jir cepet bat ganti ekspresinya. "Seharusnya dia sudah berada di tempat aman. Sebelum kau datang dia sudah melarikan diri dengan temanku."
__ADS_1
"Ayo cepat susul mereka. Aku melihat banyak iblis yang berlarian kemari selagi aku bergegas ke sini." Dia berlari ke arah lorong dan aku pun mengikutinya.