The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Dua Serupa


__ADS_3

"Dynamite Fist!" Oniken melayangkan tinjunya dari bawah selagi aku melompat dan melayangkan tinju untuknya.


Namun saat akan mengenainya, dia tiba-tiba menghilang dan membuatku jatuh. "Lah?!" aku menengok kanan kiri karena kebingungan mencari dimana keberadaannya.


Setelahnya terdengar suara pohon tumbang beserta dedaunan yang berserakan. Dari samping kiri terdapat sebuah portal, lalu muncul seseorang—Hien datang dengan tombak trisula di tangan kirinya. Disusul oleh Rain, Artex dan Virie.


"Lah kok? Kok bisa tau aku ada disini?" ucapku.


Namun Rain langsung mengarahkan tongkatnya padaku. "Diam kau, makhluk terkutuk!"


"Wes, wes, sabar!" kemudian aku melepas helmku untuk memberitahu mereka.


Rain menurunkan tongkatnya, "Rupanya kau."


"Kenapa kalian bisa datang kesini?" tanyaku.


"Ah, itu.... Virie tiba-tiba panik lalu membuka portal dan memberitahu kami untuk bergegas menyiapkan senjata." Jawab Rain.


"Apa kita terlambat?" ujar Virie.


"Tidak kalau ada aku." Sahut Hien. "Ayo, Dure—Artex! Ikut aku!"


Artex dan Hien berlari ke arah belakangku, entah untuk apa. "Mau kemana kalian?!" tanyaku.


"Pake nanya segala. Musuh kita tidak akan mati kalau hanya dengan serangan biasa. Kau juga ayo ikut aku!"


Kemudian aku berlari mengejar Hien, namun perutku tiba-tiba terasa sakit lagi dan akhirnya terjatuh. Semua zirah yang terpasang pada diriku menghilang.


Artex menghampiriku, "kenapa kau?" ucapnya.


"Gapapa kok. Bukan masalah besar." Jawabku.


Namun Artex mengambil sebuah botol kecil di sakunya. "Minumlah. Kau akan menyesal jika tidak melakukan apapun selagi kami bertarung."


"Apa ini?"


"Ramuan penghilang rasa sakit."


"Ya sudah, terimakasih." Aku mengambil ramuanya dari tangan Artex lalu meminumnya. Rasa pahit, manis dan asam bercampur dalam lidahku. Rasa paling aneh yang tidak pernah kurasakan.


Seketika rasa sakitku mulai mereda, namun tidak menghilang dan menyisakan sedikit. Kemudian kami berlari mengikuti Hien.


kan depan sana, Oniken sudah bersiap dengan katana di tangan kirinya. Begitu juga Hien dengan trisulanya.


"Apa teknik barusan kau yang menggunakannya?" ucap Oniken.


"Ya, betul sekali. Apa kau terpukau dengan kekuatanku?" jawab Hien.


"Tidak juga. Namun aku menghargai pukulanmu yang kuat itu. Baru pertama kali aku bertemu dengan orang secepat dirimu."


"Ya! Terimakasih atas pujiannya." Hien melempar trisulanya. Kemudian dia berlari ke depan.


Namun trisulanya berhasil ditangkis oleh Oniken dengan katananya. Lalu Oniken mengayunkan pedangnya ke arah Hien dan berhasil menghindarinya. Setelah Hien menghindar, dengan cepat Oniken mengubah arah ayunannya. Begitu juga dengan Hien yang terus menghindari serangannya, hingga dia berhasil mengambil tombak yang ada di tanah. Sejujurnya aku juga penasaran mengapa ada sebuah tombak di sana.


Setelah Hien mengambil tombaknya, dia langsung menangkis serangannya Oniken.


"Gas, sekarang maju!" ujarku.


"Tunggu dulu," sahut Artex. "Kita masih belum punya persiapan untuk melawannya."


"Iya juga. Kalo gitu ambil nih." Aku memberikan sebilah pedang kepada Artex.

__ADS_1


"Apa kau bisa memberiku yang lain? Aku tidak terlalu bisa menggunakan pedang saat ini." Ucap Artex.


"Kalo gitu apa?"


"Beri aku belati yang banyak lalu masukkan ke dalam tas kantung."


Sesuai permintaannya, aku memberinya sekantung belati yang sangat tajam. Kemudian dia menggantungkan tasnya di celananya, lalu berlari ke depan.


Setelah itu Zack muncul secara tiba-tiba di sampingku. "Siapa mereka?"


Aku langsung terkejut setelah menyadari keberadaannya. "Asu bikin kaget aja. Yah, bisa dibilang guru lah. Tapi sampe sekarang belum pernah ngajarin sesuatu sih."


"Oh, ya udah sih. Kira-kira mereka bisa ga lawan si samurai berdua doang?" tanya Zack.


"Kenapa emangnya?"


"Si Juan lagi sendirian kan? Ga yakin dia bakalan menang kalau si samurainya udah evolusi gitu."


"Ya udah ayo."


Zack mengeluarkan sabitnya dan kemudian kami berlari ke arah Juan untuk membantunya.


"Artex! Nitip dulu yang di situ! Aku mau bantu temen dulu soalnya masih ada satu lagi!" teriakku.


...~Π~...


Sesampainya di bagian hutan yang lebih dalam, kami mendapati Juan yang sedang berlarian sambil memegang senjata hitamnya. Diikuti dengan Oniken kedua sambil memegang pedang panjang bermata ganda.


"Jir, bisa gitu ya?" ujar Zack.


"Apanya?" tanyaku.


"Ya udah ayo bantuin si Juan."


Kami berlari mendekati mereka. Sembari berlari aku bertanya pada Zack. "Butuh senjata apa?"


"Apa aja yg bisa nahan pedang gedenya itu." Jawabnya.


Mendengarnya aku langsung memberikan sebuah tameng lagi padanya.


"Gas pedangnya juga!"


Setelah itu aku memberikannya juga sebuah pedang. Lalu dia berlari kencang sambil menghunuskan pedang dan menodongkan tamengnya.


Aku yang tidak mengikutinya hanya bisa memikirkan senjata apa yang sebaiknya kugunakan. Terlintas dalam pikiranku untuk menggunakan busur dan bermain aman.


"Woy kuda! Udah dulu napa larinya!" teriak Zack. Namun kemudian Oniken berhenti mengejar Juan dan berbalik mengincar Zack.


Sembari berlarian aku mengarahkan anak panah ke arah Oniken. Karena tanganku yang selalu bergetar dan gerak-gerak, panahnya meleset terus bahkan melenceng jauh dari target.


Zack yang sedang menahannya langsung dihempaskan oleh pedang besarnya. Kemudian Oniken berlari ke arahku untuk mengincarku.


Sontak aku berlari mundur ke belakang karena sadar bahwa aku tidak bisa melawannya. "Goblook! Malah ngarah ke sini!" aku membuang busurku agar tidak membuatku kerepotan. "Zack! Tulung!!"


Sembari panik aku memasangkan zirah ke sekujur tubuh. Namun rupanya itu hanya memperlambat gerakanku untuk berlari hingga aku berhasil terkejar olehnya. Lalu dia berhasil menengkas dan membuatku terjatuh.


Pedang besarnya mengayun ke arahku. Aku mencoba membalikkan badanku untuk menangkisnya, namun sadar bahwa itu akan sia-sia sehingga aku hanya berpasrah diri sambil memejamkan mata.


...


"Apa udah ada di akhirat?" gumamku. Saat membukakan mata, terlihat jelas pedang besarnya sudah menancap di dadaku. "Anjing–goblok, sialan!" jantungku berdetak begitu kencang, tetapi mengapa juga demikian? Aku mencoba memproses apa yang terjadi namun mentalku tidak dapat menahan rasa takutnya.

__ADS_1


"Apa harus gini cara matinya, ya? Kenapa ga langsung ilang aja ni nyawa daripada harus sakit-sakitan dulu." Ucapku dengan napas terengah-engah.


"Jangan berbicara begitu, bodoh!" teriak seseorang yang tidak asing bagiku. Benar saja, Salsa datang dari balik portalnya. "Untung saja aku memasangkan portalnya tepat waktu."


Hah, portal? Portal mana? ... Ooh. Pasti pedangnya sih.


Kemudian Salsa terlihat seperti mengayunkan sebuah tongkat lalu membantingnya ke arah Oniken dan membuatnya mundur menjauh.


Setelah itu aku melihat pedang yang berada di atas dadaku mulai bergerak. "Aah! Saa, ini gimana!?" perlahan pedangnya menusuk lebih dalam.


"Tenang saja, itu tidak akan melukaimu. Aku memindahkannya ke suatu tempat." Sahut Salsa.


Tepat setelah perkataannya, semua bagian pedangnya telah masuk dan lubang di dadaku juga ikut menghilang. Aku bangkit dengan tergesa-gesa sambil mengatur napasku yang terengah-engah.


"Kau ga apa?" ucap Salsa.


"Kayanya kena mental dikit." Jawabku.


"Maaf kalau begitu. Ayo bangun dulu."


...~Π~...


Setelah berlari mendekati musuh, kami mendapati Zack dan Juan sedang bertarung. "Zack!" teriakku.


Nampaknya mereka kewalahan meskipun melawan Oniken tanpa senjatanya.


"Den! Bagi senjata yang lebih enteng!" tegas Zack yang sedang mengayun-ayunkan sabitnya.


Aku panik karena tidak mengerti 'senjata enteng' apa yang dia maksud. "Yang kaya gimana?!"


"Pedang atau apalah yang gampang makenya."


Setelah mendengarnya aku langsung berlari ke arahnya sambil mengangkat pedang yang dia inginkan.


Seperti dugaanku, Oniken berhasil menyadari pergerakanku lalu menangkisnya hingga pedangku patah. Kami bertiga segera menjauhinya


"Jir malah patah." Ujar Zack. "Pake bahan yang lebih tebel dong."


"Tapi apa bahannya?" balasku.


"Yang biasa kau pake emang apaan? Berlian kan kalo ga salah?"


"Aah, gak-gak! Kalo pake bahan gituan natergy-ku cepet abis nanti."


"Gimana kalo pake baja aja? Kalo ga salah baja cuman beberapa tingkat di bawah berlian." Ujar Juan.


"Tapi baja langka gak?" tanyaku.


"Gak terlalu, tapi kan teknologi sekarang kebanyakan pake baja daripada besi."


Raut wajahku berubah seketika—aku menyeringai seperti akan melakukan hal jahat. "Makasih infonya! Kalo gitu tahan dulu dia sebentar. Aku mau buat senjata yang sangat keras dan tajam."


"Baiklah kalau begitu." Sahut Juan.


"Tapi bagi dulu dong senjata sebiji. Gak nyaman pake sabit buat lawan dia mah." Ucap Zack.


Setelah memberikan Zack sebuah pedang baja, aku meminta Salsa untuk membawaku ke suatu tempat dengan portalnya—tempat yang sepi dan tidak ada yang akan mengganggu.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Ucap Salsa.


"Bisa nunggu lima menitan? Aku mau bikin pedang baja yang super duper keras." Balasku.

__ADS_1


__ADS_2