The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Bocil Ganggu


__ADS_3

"Sekarang kita mau kemana?" sahutku.


"Bawa saja ke rumahku." Jawab Artex.


Seketika ekspresiku sinis terhadapnya. "Bukannya aku tidak mau membawa kita ke rumahmu. Tapi karena dimana tempat ini berada juga aku tidak tahu, apalagi jalan menuju rumahmu."


Artex berpikir sejenak. "Kalau begitu kita pergi ke asrama saja."


...~Π~...


Sesampainya di asrama, kami langsung membawa Clara ke kamar kami. Namun sebelum menaiki tangga, datang seorang bapak-bapak menanyai kami. "Ngapain kalian?" ucapnya.


"Ah, kami hanya membawa barang-barang kami." Jawabku.


"Oh, gitu ya. Sini biar kubantu."


"Tidak—tidak usah. Kami sanggup membawanya berdua." Setelah itu akhirnya kami lolos darinya.


Di kamar, Clara yang dibungkus segera dilepaskan ikatannya. "Fuahh~" ucapnya.


"Aku tidak tahu harus mengapakan dirimu setelah mendapatkan apa yang kuinginkan." Ujar Artex.


Lalu Clara berdiri dan menghampiri Artex sambil merengek. "Eh?! Kumohon jangan buang aku! Aku akan melakukan apapun untukmu asal kau tidak menjualku!"


Dalam hatiku, aku berpikir rasanya pernah mengalami hal serupa seperti ini.


Tetapi bukannya membalas perkataan Clara, Artex malah berkata "Kenapa kau kecil begini? Bukannya tadi kau sepantaran denganku?"


Clara menunduk. "A–aku sangat kehabisan energi untuk mempertahankan wujud yang itu. Jadi aku memakai wujud yang lebih menggunakan sedikit energi." Ucapnya. Setelah itu terdengar raungan keras yang kedua kalinya.


Artex bersiaga karena mendengar suaranya. "Sial, apakah itu suara naga yang lainnya?" Artex menatap Clara, "Jangan bilang kalau kau meminta bantuan kepada temanmu!?" tegasnya.


"Bu–bukan begitu!" ucapnya sambil tersipu malu. "Ja–jangan membuatku mengatakannya lagi!" Tiba-tiba terdengar suara itu lagi, dan di saat itu Clara memegang perutnya.


"Mungkin dia kelaparan. Bukannya dia sudah bilang tadi?" Sahutku.


"Oh, aku lupa." Ucap Artex. "Kalau begitu tunggu di sini. Akan kubawakan makanan, sekalian juga kita makan bersama karena kita berdua juga belum makan seharian."


Selagi Artex keluar mencari makanan, aku menyiapkan meja beserta alat makannya.


"Hei!" sahut Clara. "Sebenarnya apa kemampuanmu itu? Kau seperti penyihir saja bisa membuat benda dengan sihir."


"Yah, bisa dibilang memang begitu. Aku punya kekuatan sihir untuk menciptakan apapun yang kumau."


Tiba-tiba Clara menggebrak meja. "Apapun katamu?!" ucapnya semangat. "Kalau begitu. Bisa kan kau membuat daging panggang yang besar?"


"Kalau yang berhubungan dengan makhluk hidup aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya membuat benda dan barang, bukan melahirkan kehidupan."


"Tapi bukannya daging panggang itu sudah mati? Artinya benda itu sudah tidak memiliki kehidupan kan?"


"Memang betul demikian. Tetapi kan makanan punya kandungan gizi dimana itu juga dihasilkan oleh zat yang hidup."


"Hah? Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan."


"Singkatnya, daging yang sudah dipanggang juga masih memiliki kehidupan."


"Tapi kan mereka sudah mati? Kau juga tahu dari mana teori begitu!?"


"Ya tentu saja dari buku biologi."


"Tapi bisa saja kan buku itu berbohong! Tidak ada juga pembuktian bahwa daging panggang masih hidup."

__ADS_1


Aku mencoba menahan emosiku agar tidak marah-marah. "Lebih baik kau coba saja ini." Aku membuatkan apa yang diinginkannya—daging panggang yang terbuat dari silikon.


Clara terlihat senang setelah keinginannya dipenuhi. Saat dia menggigitnya, "Kenapa dagingnya terasa seperti kulit sepatu?"


"Sudah kubilang kan. Aku tidak bisa membuat kehidupan karena aku ini bukan tuhan. Jadi bukannya daging yang kau makan, kau hanya menggigit mainan."


"Terus aku harus gimana!" dia malah merengek dan menangis.


"Berisik, bukannya Artex sedang keluar untuk mencari makan. Sabarlah sebentar lagi." Ucapku.


Sementara itu Artex membukakan pintu tanpa membawa kabar gembira sama sekali. Tidak terlihat ada makanan yang dibawanya. "Kata bapak-bapak tadi aku tidak boleh membawa makanannya ke kamar. Jadi, dia bilang harus pergi ke ruang makan agar tidak mengotori kamar kita."


Untung saja bukan hal buruk yang menimpa pada kami. "Yasudah kalau begitu." Ucapku. Semua barang-barang yang telah dipersiapkan kuserap kembali.


Setelah itu kami berangkat keluar menuju ruang makan yang dimaksud.


...~Π~...


Keesokan paginya aku terbangun di atas lantai. Karena kedatangan Clara, akhirnya formasi tidur kami harus berubah. Clara yang terus merengek ingin tidur bersama Artex membuatku merasa terusir. Alhasil aku tak punya pilihan lain selain tidur di atas tikar yang saat ini sudah menghilang karena kehabisan waktu dan tidak kusalurkan energi agar tetap berwujud.


Seperti biasanya, aku langsung ke kamar mandi untuk membasuh tubuhku, ganti baju, lalu sarapan. Kali ini baik di kamar mandi maupun di ruang makan, ramai sekali orang di sana. Tidak seperti kemarin, kali ini aku harus mengantri terlebih dahulu untuk mendapatkan makanan. Setelah mendapat giliran, tiba-tiba aku dibawa ke suatu ruangan.


"Kenapa, Pak?" tanyaku kepada yang kemarin ada di depan pintu.


"Apa kau sudah tahu aturan di asrama?" ucap si Bapak.


"Belum tuh. Aku belum diberi tahu apapun mengenai aturan asrama."


Si bapak menepuk jidatnya. "*Hah. Langsung ke intinya saja. Kalau saat jam makan, semua murid di sini diwajibkan untuk memberikan kupon menu untuk mendapat makanan. Bagi siapapun yang tidak memberikannya tidak akan diberi makanan apapun."


"Terus, dari mana aku harus mendapatkannya?"


Mendengar kata terakhirnya membuatku terdiam. "Eh? Beli?"


"Ya. Harganya berbeda sesuai makanan yang kau pilih."


"Setelah jam makan habis?" kalimat sebelumnya pun membuatku tak bisa berkutik.


"Ya!"


"Jadi aku tidak bisa sarapan dong?"


"Sayangnya iya."


Aku menunduk merenungkan kesedihanku.


"Yang sabar ya, Nak." si Bapak malah mengasihani yang membuatku makin terpuruk.


Tak lama setelah itu datang seseorang yang tidak lain adalah Lia si pelayan yang sebelumnya. "Ikut aku sebentar."


"Hah? Siapa?" ujarku.


"Tentunya kau." Sahut si bapak.


Aku pun mengikutinya keluar ruangan dan kemudian diarahkan ke meja dengan segudang makanan.


"Punya siapa ini?" ujarku.


"Ini hidangan yang disiapkan untukmu." Jawab Lia.


Mendengar pernyataannya barusan membuatku ketagihan dan menelan ludah. "Serius?"

__ADS_1


"Tentu saja. Jika kau berniat untuk menolaknya, akan kuambil lagi semua makanannya."


"Jangan, jangan. Bukannya aku ingin menolak, tapi makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskannya?"


"Itu semua terserah dirimu. Tugasku di sini sudah selesai dan aku akan pergi lagi." Lia pun pergi.


Dengan perasaan tak enak aku menyantap makanannya. Disediakan sepasang sumpit tapi aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Alhasil aku makan dengan menggunakan tanganku. Mulai dari ikan bakar, udang, dan sesuatu berbentuk bulat yang kukira adalah gehu tapi ternyata daging ayam.


Setelah tiga hidangan, kurasa ada sesuatu yang kurang yaitu nasi. Aku heran mengapa tidak ada nasi di atas meja. Karena membuatnya saja tidak bisa apalagi meminta kepada juru masak, jadinya aku makan tanpa nasi.


Hanya lima macam makanan yang kumakan karena aku selalu mengingat adab makan—'makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang'.


Untuk sisa makanan yang masih banyak membuatku kebingungan untuk diapakan. Tadinya aku berniat untuk memberikannya kepada orang-orang tapi mengingat belum kenal dengan siapapun, alhasil aku berpikir dan menemukan ide untuk membagikannya dengan menaruh semacam tulisan di kertas.


'Kenikmatan dapat dirasakan jika kita saling berbagi. Ambil saja seperlunya dan sisakan bagi yang lain.'


Selain untuk menghabiskan makanannya, aku juga melakukan ini agar tidak repot-repot membereskan tempat makannya. Selagi berjalan ke luar, dalam hati aku berkata, tumben sekali aku berkata bijak.


...~Π~...


Saat kembali ke kamar, mereka berdua sudah tidak ada. "Ah, palingan juga mereka lagi mandi." Ucapku. Namun beberapa saat kemudian aku menyadari sesuatu. "Mandi... sebentar. Si Clara kan bukan laki!?" tetapi mengingat sifat Artex, aku langsung berpikiran positif tentangnya.


Tak lama kemudian datang Clara sendirian.


"Lah? Artex di mana?" ujarku.


"Kukira dia sedang bersamamu." Sahutnya.


"Kan dia lagi tidur bersamamu? Harusnya kau yang paling tahu."


"Aku juga tidak tahu. Setelah bangun dia tidak ada di sampingku lagi."


"Ya sudah kita tunggu saja dia. Palingan dia sedang mandi."


Baru saja dibicarakan dia sudah muncul duluan. "Ah, Den. Apa kau sudah melihat ke dapur? Kurasa di sana sedang ada pesta. Sekumpulan orang sedang makan makanan megah bersama. Kupikir ada seseorang yang sedang merayakan prestasinya, tapi setelah kutanyakan ada seseorang yang baik hati memberikan semua makanannya pada mereka."


Sadar yang dibicarakannya adalah aku sendiri, aku diam saja dan tidak berkomentar.


"Lantas aku juga ikut menikmatinya karena dijegal oleh bapak yang kemarin." Sepertinya Artex juga mengalami hal serupa.


Clara tiba-tiba berteriak. "Kenapa aku tidak diajak!? Aku juga ingin makan makanan mewah itu!"


"Tadi kau sedang tidur. Tapi tenang saja, aku membawa sebagian untuk kalian." Artex memberikan sekotak makanan kepada Clara. "Kau juga makanlah bersamanya."


"Tidak usah. Aku sudah makan tadi sebelum ada orang yang membagikan makanan yang kau bicarakan." Ucapku.


Clara merengek setelah membuka kotak. "Di mana daging ayamnya!"


"Aku kehabisan dagingnya. Jadi aku hanya membawa yang ada." Rupanya kotak yang dibawa Artex dipenuhi dengan kroket dan nasi.


Dalam hati aku berkata, Itu nasi ketemu di mana woy!


Clara merengen makin kencang. "Aku tidak mau makan ini! Aku ingin makan daging ayam!"


Mendengar teriakannya membuatku risau, takut penghuni kamar sebelah merasa terganggu. "Sudahlah makan saja yang ada. Kau ini sudah besar tapi kenapa kelakuanmu seperti bocil."


"Pokonya aku tidak mau makan ini! Aku ingin daging ayam!"


Kelakuannya membuatku memikirkan satu pilihan terakhir. Sekantung karung kubuat untuk menakutinya. "Kalau begitu aku masukkan kau ke dalam karung ini lalu kuikat dan kulempar ke hutan agar kau kehabisan oksigen dan akan mati karena kelaparan."


Clara langsung terdiam dan segera melahap kroketnya.

__ADS_1


__ADS_2