The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Lari, Lari Ada Iblis


__ADS_3

Kupikir kami sudah menuruni dua lantai saat ini. Keributan sudah mulai terdengar. Terlihat orang-orang berlarian meninggalkan kelas, aku menduga musuh menyerang ke lantai ini juga.


"Sial, ternyata secepat ini mereka menginvasi bangunan ini!" ujar si kakak yang bersamaku sebelumnya.


"Apa kau mau lanjut?" ujarku.


"Kita lihat dulu seberapa banyak musuh yang muncul." Balasnya.


Begitu kami mendekati ruangan tempat orang-orang keluar, tiba-tiba sesosok makhluk terpental dari dalam ruangan hingga menghancurkan pintunya. Kemudian diikuti dengan panah yang melayang menancap padanya dan membuatnya membeku seketika.


Si kakak menarik pedangnya lalu mengintip isi ruangan. Dengan cepat dia masuk bersama pedang tajamnya. Aku yang menduga akan terjadi pertarungan lagi langsung menyiapkan perisai. Mungkin membuat senjata lebih tepat daripada sebuah perisai, pikirku.


Tanpa persiapan apapun aku langsung berdiri di depan pintu sambil menodongkan pistol. Kupikir si kakak akan melawan orang yang menembakkan panah barusan, namun dia bersama orang yang kumaksud sedang bertarung bersama melawan musuh-musuh yang berdatangan dari balik tembok yang roboh. Lantas aku masuk untuk ikut membantu mereka.


***


Di sela-sela pertarungan, diriku yang tidak dilindungi oleh apapun hampir terbunuh berkali-kali. Untung saja orang yang menggunakan busur es di sana selalu menyelamatkanku. Aku ingat dia salah satu murid di kelas yang ku-singgahi, namun aku tidak tahu siapa namanya.


**Jleb... **Freeze.... Musuh di depan yang mengejarku segera membeku setelah anak panah menancap kepalanya.


"Ma—makasih coy! Tapi kalau bisa jangan menembaknya tepat di depanku, itu membuatku takut ketika panahnya tiba-tiba muncul di depan mata." Lagi-lagi aku diselamatkan olehnya.


Sejujurnya aku bisa menghabisinya sendiri, namun kedua tanganku sedang mengisi peluru. Dengan membuat peluru baru akan lebih hemat dalam penggunaan natergy dibandingkan menyerap lalu membuat pistol yang baru. Juga pistol Dessert Eagle ini mudah untuk mengisinya.


"Jangan dipikirkan. Lalu, panggil saja Glace. Kata 'coy' darimu sedikit menggangu." Balasnya.


"Siap, dimengerti!"


~Π~


Setelah semuanya selesai, kami bertiga segera meninggalkan kelas.


"Kita berpencar di sini." Ujar si kakak.


"Eh, kenapa?" tanyaku.


"Ada hal penting yang harus kulakukan."


"Kalau gitu aku juga ikut. Supaya lebih cepat urusannya."


"Tidak usah." Jawabnya. "Kau tidak sepenting itu sampai harus ikut turun tangan. Lebih baik kalian segera meninggalkan tempat ini."


"Aku mengerti," sahut Glace. "Ayo Den!" lalu dia menarik kerahku dengan paksa.


"*Heuk... Cok, lepas!" ucapku. "Aku bisa jalan sendiri!"


Kemudian dia berhenti. "Panggil aku dengan benar."


"I-iya, iya! Glace!"


Dia pun melepaskannya. "Kalau begitu ayo pergi."


~Π~


"Oh, iya. Kenapa tadi kau bertarung sendirian? Kemana yang lainnya?" ujarku.


"Mungkin mereka sudah mengungsi lebih dulu." Jawab Glace.


"Terus kenapa kau masih ada di kelas?"


"Aku habis balik dari toilet. Saat kembali ke kelas aku bingung kenapa tidak ada orang."

__ADS_1


"Oh, gitu ya." Ternyata seperti itu. "Eh, bentar. Kalau yang lain sudah keluar, harusnya kelas lain juga ikutan keluar. Pas itu juga harusnya kau melihat anak-anak dari kelas lain yang berlarian, dan seharusnya kau menyadari ada situasi darurat." Lantas aku berhenti lalu menodongkan pistol padanya. "Siapa kau sebenarnya!"


Glace juga ikut menghentikan langkahnya. "Sial, ketahuan juga akhirnya." Ia berbalik, "Baiklah aku mengaku."


Sudah kuduga dia membual.


"Sebenarnya aku ketiduran di kelas." Ucapnya sambil memalingkan mukanya. "Entah kenapa saat aku terbangun orang-orang sudah tidak ada. Kupikir mereka sudah pindah kelas berhubung hari ini ada praktek mingguan. Saat aku mengambil tongkatku, dinding luar tiba-tiba hancur lalu berdatangan sosok yang menyerang kita."


Lantas aku menurunkan senjataku dan berkata, "Anjir lah kirain musuh yang nyamar."


"Maksudmu?"


"Ah, tidak. Kupikir kau musuh yang sedang menyamar." Balasku


"Oh, ya sudah ayo tinggalkan tempat ini. Sedikit lagi kita tiba di loker."


"Yok."


Kemudian kami berlari lagi hingga akhirnya sampai di tempat loker para murid. Sebelumnya sudah terdengar suara gaduh yang membuatku bersiaga.


Terlihat Rain sedang melawan musuhnya. Eh jir ada siluman banteng, kok kaya yang pernah liat ya rupa-nya? Namun yang paling membuatku terkejut adalah senjata yang digunakannya—sebuah kain pel yang mirip rambut gimbal.


"Rain!" teriakku sambil menghampirinya. Namun sebelum aku membantunya, kupikir sebaiknya jangan terlalu gegabah.


Sepertinya cacing-cacing besar itu dibuat olehnya. Mereka terus-menerus muncul dari balik lingkaran sihir di sekitar Rain. Namun meskipun jumlahnya banyak, cacing-cacing batu tersebut sangat rapuh dengan hanya sekali pukulan.


"Apa dia kenalanmu?" ujar Glace.


"Ah, iya." Jawabku.


"Kalau begitu ayo bantu dia." Glace langsung mengangkat tongkat yang dari tadi ia pegang. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukannya. Tetapi setelah lengannya diluruskan langsung muncul es di setiap ujung tongkatnya yang membentuk sebuah busur.


Ketika dia melancarkan satu tembakan, serangannya hanya mengenai palu dari salah satu banteng. Ketika palunya membeku, Rain menoleh ke arah sini.


"Oiya dong! Aku kan jago!" balasku.


"Ugh, bisa-bisanya kau membalas seperti itu." Ucapnya. "Kemari dan buatkan aku tongkat!"


Lantas aku menghampirinya dan memberikan yang dia inginkan.


"Hei, berikan bentuk sesuatu di atasnya!" Ucap Rain.


"Bentuk apa?"


"Apa saja terserah!"


Lantas aku memberinya bentuk monyet.


"Apa ini?!" serunya.


"Si Zack." Ucapku sambil tersenyum lebar.


"Maksudku, kenapa harus bentuk seperti ini?"


"Katanya bebas?"


"Paling tidak lebih keren sedikit! Cepat gan—" di tengah ucapannya, melayang sebuah kapak besar di antara kami. "Ugh, dasar kau!" kemudian dia menghentakkan tongkatnya beberapa kali diikuti munculnya beberapa kawanan monyet yang terbuat dari tanah.


Namun meskipun begitu banyaknya monyet yang dibuat oleh Rain, tetap saja hanya dengan satu ayunan palu dan kapak para banteng, semua monyet yang menyerbu bisa dihancurkan. Kali ini mereka yang balik menyerang ke arah kami.


Sontak aku meloncat ke samping untuk menghindari serangan yang datang. "Adududuh—" sialnya lengan kiriku malah mencium lantai.

__ADS_1


"Hei, lakukan sesuatu!" teriak Rain.


Begitu mendengarnya aku langsung menembak mereka dengan pistol, namun anehnya pelurunya mental semua.


"Gunakan yang lebih berguna!" dia terus-menerus membuat monyet batu meskipun tahu itu sia-sia.


Meskipun aku sudah diberitahu untuk menggunakan senjata lain, masih saja diriku menembak para banteng yang sedang menyerbu Rain. Karena hal demikian aku mencoba meminta perhatian Glace. "Glace—" namun rupanya dia sudah tidak ada di tempatnya.


Kali ini aku menuruti ucapan Rain dan berinisiatif untuk menggunakan shotgun. Eh tapi ngocoknya gimana ya? Ah iya, shotgun puter aja! Beberapa peluru berhasil menembus kulit kerasnya. Kutembak dua kali lagi dan akhirnya dia berbalik ke arahku.


Hal ini membuatku panik dan mengubah senjatanya menjadi senjata pertahanan jarak dekat. Ketika dia berlari aku langsung menyiapkan kuda-kuda Ketika dia sudah dekat, "Aahh! Inimah bakalan langsung mati!" dengan cepat aku melapisi tubuhku dengan zirah besi. Ini juga ga bakalan kuat! Lantas aku langsung mengganti bahannya dengan baja dan membuatku tertunduk karena beratnya.


Tepat saat dia mengayunkan kapaknya, disitu aku mendorong tombakku sekuat tenaga. Tekanan yang kurasakan di bahu kiriku membuatku tertegun. Bersamaan dengan itu tombak yang kupegang berhasil menusuk dadanya. Dengan segenap jiwa aku mendorongnya lebih dalam hingga dia berhenti bergerak.


Aku langsung lega setelah merasa dia berhasil kukalahan. Namun tak diduga kepalanya malah buntung. "wanjing, apa itu!?"


Rupanya terdapat pedang es yang sudah memotongnya. "Ekspresi terkejutmu sangat aneh bagiku. Bisa kah kau berhenti begitu?" ujar seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Glace.


"Barusan kau kemana?" ucapku.


Dia menjawab dengan menunjuk ke arah kumpulan tubuh banteng yang terkubur dalam es yang disertai noda merah.


"Aku mengerti."


⁰Den, berikan itu padaku!" teriak Rain.


Aku langsung menyadari apa yang dia butuhkan. Kemudian aku melepas zirahnya lalu berdiri dan melempar tombak yang kupegang.


Setelah dia mendapatkannya, dia langsung melemparkan tongkatnya lalu mengayunkan tombaknya dari bawah ke atas. Diikuti dengan munculnya sebuah tombak yang besar dari bawah tanah. Dia terus-menerus mengayunkan tombaknya hingga terlihat seperti sedang melakukan tarian. Begitu juga dengan tombak tanahnya yang terus bermunculan.


***


Sepertinya semua sudah dibantai habis oleh Rain. "Hah~ hah~" sepertinya dia kelelahan setelah semuanya. Pada akhirnya dia langsung tepar di tempat.


Aku yang daritadi hanya duduk sambil menonton langsung menghampirinya. "Kau tidak apa?" ucapku.


"Orang gila pasti menganggapku sehat walafiat. Jika kau menganggapku baik-baik saja, berarti kau sudah gila." Jawabnya.


"Ugh... Ya sudah kalau begitu biar ku bantu kau keluar dari sini." Kemudian kubuat kursi roda untuknya.


"Gendong aku." ucapnya sambil tersenyum.


"Hah?"


"Gendong aku!"


"Kau tau sendiri kan tanganku lagi sakit gini? Udah duduk aja di kursi nih lebih nyaman."


"Gen–dong–a–ku!" entah kenapa dia tetap bersikukuh seperti itu.


Pada akhirnya aku meletakkan dirinya di belakang punggungku. "Kenapa sih harus minta digendong segala!" ucapku kesal.


"Anggap saja ini bentuk terimakasih mu padaku." Jawab Rain


"Lagian siapa yang minta," balasku, "Malahan kau yang dibantu sama kedatanganku. Jadi harusnya kau yang berterimakasih padaku."


"Sudahlah, sudahlah. Terkadang bertindak baik itu tidak harus diberi pujian ataupun ucapan terimakasih."


"Kau juga. Padahal udah dikasi kursi roda malah minta gendong."


"Ehehehee~"

__ADS_1


"Mentang-mentang badan kecil. Eh—" Sontak aku langsung memasang helm besi di kepala. Namun tidak ada respon apapun dari Rain. Kemudian aku melepas helmnya dan bertanya pada Glace. "Glace, kenapa dia diam?"


"Sepertinya dia tertidur karena kelelahan." Jawab Glace.


__ADS_2