The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Lagi-Lagi Latihan


__ADS_3

Kami berdua diberitahu untuk pergi ke suatu tempat oleh Virie. Tempat dimana kami bisa berlatih dengan sesorang ahli beladiri sekaligus ahli sihir. Katanya kami akan berlatih di tempat yang sangat ekstrim dan mencekam, tapi nyatanya kami hanya pergi ke ujung desa.


"Hei, apa di dunia ini ada seorang ilmuwan?" ujarku sambil melempar-lempar bola ke atas.


"Harusnya ada, memangnya kenapa?" balas Artex.


"Aku penasaran saja apakah ada juga sekumpulan ilmuwan yang membuat buku fisika menjadi semakin tebal di dunia ini."


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sejak kecil aku tidak mengenal dengan yang namanya buku. Aku hanya terkurung dalam dunia pertanian, dan terus begitu hingga orang yang mengurusku meninggal dunia."


"Aah. Kalau begitu apa ada juga seseorang yang membantai sebuah kaum, Wahyudi contohnya?"


"Ada. Beberapa tahun yang lalu aku mendengar desas-desus mengenai sebuah kelompok yang membabi buta di sebuah kota. Tercatat seribu penduduknya tewas di tempat. Namun sampai saat ini mereka belum pernah ditemukan lagi keberadaannya."


"Ngeri juga kalau membayangkan kita yang jadi korbannya."


"Begitulah."


"Oh iya, kalau—" belum sempat aku mengatakan kalimat selanjutnya, diriku dikagetkan oleh sebuah benda yang melesat di antara kepala kami dan mengenai bola yang kulempar. Rupanya ada seseorang di depan kami yang tengah duduk di atas genteng rumah.


"Mau apa kalian ke sini?" seorang pria mengenakan topeng hitam yang hampir setengah dari wajahnya tertutupi.


"Ka–kami hanya numpang lewat ke sini." Ucapku gemetaran.


"Kubilang, mau apa kalian ke sini!?" bentaknya.


Lalu Artex melemparkan gulungan yang diberikan oleh Virie. "Kalau kau bersikeras ingin tahu, baca saja surat itu! Biarkan kebodohanmu sadar apa yang harus kau lakukan."


Dia menangkapnya dengan mudah dan kemudian dibuka. Namun dia tertawa begitu membacanya. "Gahahaha! Kau ingin bertemu dengan sang legenda? Hah!?"


"Kalau kau mengerti, cepatlah menyingkir." Balas Artex.


Namun dalam sekejap, pria itu menghilang dan tiba-tiba berada di hadapan kami. Aku hanya bisa menengok ke arahnya dengan kaku. Tanpa diduga tangannya sudah berada dekat dengan perut Artex.


"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" ucapnya seolah ingin membunuh Artex.


"Jika aku akan dibunuh saat ini juga, mungkin aku akan mencongkel matamu selagi aku sempat. Kemudian orang di sampingku akan menghajarmu selagi kau kehilangan penglihatanmu."


"Menarik juga. Mau coba?"


Meskipun diriku ragu, tetapi aku mencoba untuk meninju ke arah kepalanya dan dengan secepat kilat pukulanku terhentikan oleh genggamannya. Begitu juga Artex yang mencoba menyerangnya dengan pisau. Namun setelahnya, pria ini langsung terjatuh lemas tanpa tenaga.


"Si–sial." ucapnya rintih.


...~Π~...


Kami telah menelusuri ke bagian yang lebih dalam namun hasilnya tetap nihil. Hanya pepohonan yang kami temukan. Mungkin memang rumah yang tadi ujung desanya. Kemudian kami memutuskan untuk kembali ke rumah tersebut.


Saat sampai, kami melihat orang yang tadi sedang menyiapkan beberapa barang. "Sedang apa?" ujar Artex.


"Aku sedang menyiapkan peralatan untuk kalian, bodoh." Balasnya.

__ADS_1


"Kami? Memangnya untuk apa?" tanyaku.


"Untuk apa? Memangnya apa tujuanmu kemari selain meminta bantuan padaku?"


"Berarti, kalau begitu...."


"Kenapa kau telat menyadarinya?" sahut Artex.


"Ya, kan kukira masih ada tempat lain setelah rumah ini. Lagipula dia tidak terlihat meyakinkan, bukannya orang tersohor itu selalu berpakaian bagus? Tapi dia malah hanya memakai celana dan kaos. Dan juga kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi!?"


"Jadi kau meragukanku?" ucapnya yang masih menyiapkan barang-barang.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dia selesai juga. "Coba kalian serang boneka ini." Ucapnya sambil melempar dua buah pedang kayu.


Tanpa pikir panjang aku langsung menebasnya secara diagonal, namun tidak menghasilkan apapun. Berbeda dengan Artex, dia menusuk boneka jerami dengan ujung pedangnya.


"Baik, cukup sampai situ." Teriaknya. "Berikan pedangnya padaku." Pintanya padaku. "Sebelum menyerang, kau harus mengenali dulu senjatamu. Aku sengaja mempertajam di bagian ujungnya untuk kalian berpikir. Kalau kalian asal menggunakannya maka kalian akan mati dengan cepat di pertempuran yang sesungguhnya."


Dengan cepat dia menusuk lalu merobeknya. "Begitu kalau kau ingin menebas musuhmu. Kebanyakan petarung melindungi kulit bagian luar mereka dengan apapun. Namun pada bagian dalamnya pasti akan mudah untuk diserang. Jadi, lebih baik fokus dulu untuk menusuk lalu merobek dalam dagingnya."


Kemudian dia melempar pedangnya dan mengangkat kedua tangannya ke arah berlawanan. "Pukul tanganku sekuat tenaga untuk mengukur kekuatan kalian."


Kemudian kami mengambil posisi dan ancang-ancang. Sekuat tenaga aku memukulnya hingga tanganku merasa kesakitan.


"Hmm. Ternyata sulit membedakannya kalau kalian menyerang bersamaan." Ujarnya. "Coba kau, yang tinggi dulu."


Jadi aku lebih pendek darinya ya.


"Ya, ya. Vortex, Scarlex, Ben, Zen, aku tak peduli. Pokoknya kau yang menyerang duluan." Balasnya.


Kemudian Artex mengambil ancang-ancang dan memukulnya dengan keras. "Sudah kuduga pukulanmu setara dengan Albert." Ucapnya.


"Siapa itu?" tanya Artex.


"Hanya temanku saja."


"Jadi, apa aku sekuat itu?"


"Apa yang kau pikirkan? Albert adalah pemukul terlemah di antara teman-temanku. Selanjutnya kau."


Kemudian aku berdiri di tempat Artex sebelumnya. Setelah kulancarkan pukulannya, aku merasa percaya diri bakalan sebanding dengan Artex.


"Payah–payah sekali. Apa yang dipikirkannya sampai membawa anak ini ke hadapanku."


Aku bertanya, "Ada apa?"


"Kau bertanya? Kau sedang bertanya-tanya? Pukulanmu lemah sekali, lembek!" jawabnya. "Oh tunggu, aku tidak boleh marah kepada orang yang membayarku. Apa kau pernah bertarung sebelumnya? Tanpa alat tentunya, hanya mengandalkan tangan kosong."


Aku menggelengkan kepala.


"Pantas saja. Kalau begitu pulang lah. Datang lagi ketika kau sudah merasa kuat."

__ADS_1


"Hah? Apa coba?"


Datang Virie bersama Nena dan Clara. "Tuan Hien, bagaimana perkembangannya?"


"Yang satunya sih masih bisa." Jawabnya. "Tapi yang satu ini mustahil bisa kuajari. Jika musuh menyerang, pastinya dia yang akan menjadi sasaran awal."


"Begitu ya, memang sih dia kurang keterampilan. Oleh sebab itu aku menyarankannya untuk berlatih denganmu. Apa tidak ada cara untuk melatihnya?" ujar Virie.


"Tergantung sih," kemudian dia melirik padaku. "Hei, apa kau punya kemampuan khusus selain beladiri?"


Aku menanggapinya dengan membuat pedang kayu yang sama persis seperti yang kugunakan.


"Begitu ya, jadi kemampuanmu menteleportasikan barang." Namun saat dia menengok ke arah pedang kayu, dia langsung terkejut. "Tunggu, bukannya pedangnya ada di tanganmu? Lalu apa yang ada di hadapanku ini?"


"Sebenarnya bukan itu kemampuanku ...." ujarku.


Namun dia memotong kalimatku. "Kalau begitu, mungkinkah kau ini—"


"Menciptakan barang sesuai kehendakku."


"—The Forgotten Creator?"


Mendengar nama itu kami langsung terdiam. Bahkan Virie yang sudah menjadi kenalannya Hien pun tidak merespon sama sekali


"Siapa itu?" ucapku.


"Dia adalah sang legenda yang telah membantai ribuan pasukan, ditemani oleh rekannya Berserker. Konon katanya tidak ada yang bisa mengalahkan mereka berdua, bahkan jika kelima pahlawan masa sekarang bersatu.


Tapi tidak mungkin sih. Aku yakin mereka pasti bisa juga dikalahkan, pasti mereka punya kelemahannya masing-masing. Lagi pula juga mereka tidak bisa dikalahkan, seharusnya ada salah seorang dari mereka yang masih hidup sampai saat ini."


"Memangnya sekuat apa mereka sampai dikatakan tidak ada yang bisa mengalahkannya?" sahutku.


"Seperti yang kuucapkan sebelumnya, kau memiliki kemiripan dengan sang Creator. Dia bisa menciptakan benda tanpa bantuan apapun. Dalam seketika, benda yang diinginkannya langsung tercipta begitu saja. Mau itu sebesar rumah atau sepanjang tiga kali tinggi manusia."


"Kok kedengarannya mirip sekali ya?"


"Sudah kubilang kemampuanmu mirip dengannya. Bahkan kau juga tidak perlu merapal mantra seperti Magic Caster."


"Yah, walau begitu aku tidak bisa membuat benda seukuran rumah atau sepanjang tiga kali dari tinggiku. Palingan hanya setara dengan tinggiku, atau sebesar gerobak." Balasku. Tunggu, tapi kan dulu aku pernah membuat robot yang besar? Tapi ya sudahlah, lebih baik tidak usah dibahas.


"Putri Virie! Agar lebih baik dalam mengembangkan potensinya, aku menyarankan untuk menyerahkannya kepada Rain. Dia tidak bisa memaksimalkan kemampuannya jika berlatih denganku." Ucap Hien.


Virie membalasnya, "Begitu ya, tapi ...."


"Tenang saja, aku akan membagi dua komisinya dengan dia. Jadi jangan khawatir."


"Bukan begitu maksudku!" Balas Virie terburu-buru. "Tadinya aku berniat menyerahkannya padamu agar dia tidak terlalu bergantung dengan kemampuannya dan lebih sering mengandalkan kekuatan fisiknya."


"Tidak apa, dia selalu punya cara tersendiri untuk menangani hal itu. Setelah anak ini beres dengannya, aku bersedia untuk melatihnya."


"Ya sudah kalau begitu, apa boleh buat." Virie mengalah.

__ADS_1


__ADS_2