
"Sungguh. Baru saja kemarin aku dimasukkan ke dalam dimensi kosong ini dan dibuat bosan menunggu oleh Pak Tua itu," keluhku, "Dan sekarang hal serupa terulang lagi."
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jadi aku hanya berjalan-jalan sambil melihat rongsokan yang tergeletak di bawah. Namun setelah dilihat-lihat lagi, sepertinya semua barang yang ada bukanlah barang tak berguna seperti yang kupikirkan.
Banyak berjejeran tongkat kayu yang beraneka ragam bentuknya, juga ada tumpukan buku entah tentang apa isinya—mungkin berhubungan dengan mantra seperti di dalam game. Kucari lagi benda yang lain dan menemukan beberapa tabung reaksi yang berisi cairan berserakan.
Kudekati tabung tersebut lalu kuamati sejenak. Sudah kuduga aku tidak tahu apa ini. Karena penasaran, aku langsung memasukkannya sebagian ke dalam saku celanaku. Tunggu, ini kan namanya mencuri, ya?
"Cari yang lain, ah." Ujarku. Di depan sana terlihat beberapa benda asing lagi—setumpukan batu permata berwarna-warni dalam kotak kayu. Cukup banyak hingga aku bisa membangun piramida kecil. Aku berniat untuk mengambil beberapa. Namun baru saja menggenggamnya, tiba-tiba ada yang menarik bajuku dari belakang. Aku sampai tersungkur jatuh dibuatnya.
"Duh— Apa coba!" saat kubuka mataku, aku menyadari telah berada di ruangan milik kakek Elior.
"Padahal kupikir kau sama-sama memiliki potensi seperti bocah itu." Ucap Elior. "Bukannya menunjukkan bakatmu, tapi kau malah tidak memiliki semangat untuk menggapainya."
"Apa maksudnya?" tanyaku.
"Kenapa kau tidak masuk ke kelasmu dan berjalan-jalan di lorong sekolah!?" bentaknya.
Ucapannya membuatku bergidik. "Me—memangnya kenapa?"
Sekali lagi dia membentak, "Idiot! Kau kuterima masuk ke sekolah ini dengan harapan bisa memajukan sekolah ini!" dia pun menghela napas demi menjaga amarahnya. "Hah.... Aku merasa menyesal menerima barang darimu. Seperti sia-sia saja aku merekrutmu menjadi murid di sini."
Aku semakin tak bergeming dibuatnya.
"Sudahlah, pergilah ke kelasmu untuk membanggakan dirimu. Ambil ini." Elios memberiku sepaket baju seragam—baju berwarna merah dan celana hitam, tapi sepertinya terlihat sama dengan yang kupakai saat ini. "Jangan lupa untuk memakainya setiap kali kau berada di lingkungan sekolah."
"O-oh, iya. Baiklah." Sebelum kuterima bajunya, Elios melihatku sedang menggenggam sebuah permata yang kuambil sebelumnya.
"Apa itu?"
Aku melihat ke arah tanganku. "Ini? Aku tidak tahu. Aku mengambilnya dari ruangan putih milikmu itu."
Elios mengeluh lagi. "Bukan hanya terlambat, tapi kau juga suka mencuri. Memang sifatmu ini seperti apa. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak ingat pernah memiliki batu itu." Ucapnya. "Berikan batunya padaku."
Alhasil kuberikan padanya batu tersebut lalu mengambil baju yang diberikannya. Lalu dia menyimpan kembali batunya ke dalam ruangan putih itu.
"Pergilah dan jangan membuat kesalahan lagi." Ucap Elios.
"Ba-baiklah—" balasku.
"Biasakan untuk mengucapkan kata "mengerti" untuk membalasnya."
"Siap, mengerti!"
""Mengerti" saja cukup.
...~Π~...
Aku kembali melakukan hal sebelumnya—berjalan-jalan di lorong sekolah. Tetapi kali ini aku sudah diberi tujuan, yaitu ke kelasku sendiri. Entah kenapa rasanya aku pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Setelah melihat pertigaan yang di depannya terdapat papan besar, kurasa aku sudah sampai di kelasku. Kulihat plang yang ada di atas pintu. Namun tulisannya membuatku heran karena ditulis sebagai 'é – Magi'. Untuk apa menulis rarangken é ke dalam tulisannya, juga untuk apa dua garis yang mengapitnya. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh si kakek, memang terdapat kata 'Magi' di plangnya.
Aku merasa tidak puas dengan hasilnya mencoba mengintip isi kelas dari jendela. Benar dugaanku, Artex sudah berada di dalam kelas dan sedang membaca bukunya.
Sebelum memasuki kelas, aku sempat gelisah mengenai bagaimana caranya aku masuk. Bagaimana ini. Apakah aku masuk saja tanpa ragu, atau menunggu gurunya memanggilku. Tapi memang gurunya ada di dalam? Aku melirik lagi ke arah depan kelas dan tidak seperti yang kuharapkan, tidak ada siapapun yang sedang berdiri mengajar di depan kelas. Mentalku semakin ciut. Apakah harus kuberi sinyal pada Artex untuk menjemputku? Tidak, tunggu. Mungkin dia juga akan sama malunya jika menjemputku.
Kegelisahanku semakin menjadi. Hanya ada dua pilihan saat ini agar aku bisa masuk ke dalam kelas—menunggu guru datang atau memberanikan diri untuk menahan malu dengan masuk ke dalam kelas. Tetapi jika menunggu, aku tidak tahu akan seberapa lama gurunya akan tiba.
__ADS_1
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Seseorang keluar dari sana lalu bicara padaku. "Permisi, apakah kau ada keperluan dengan seseorang di kelas kami?"
Aku membalas "Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku baru ditempatkan di sekolah ini. Aku diberitahu bahwa kelasku adalah di sini, namun aku masih ragu dan malu untuk masuk ke dalam."
Dia tersenyum lebar. "Kalau begitu, biar aku yang menuntunmu untuk masuk. Jadi kau tidak perlu merasa malu untuk itu."
Aku tersenyum namun ragu mendengarnya. "Memang apa gunanya? Rasa malu dalam diriku tidak akan hilang meskipun bersamamu. Aku yakin mereka yang ada di dalam masih akan melirikku dengan berbagai tatapan mereka."
"Aku juga tidak tahu. Tapi jika kau bersamaku, mungkin mereka akan mengabaikan kita." Balasnya.
"Dari mana kau tahu itu?"
"Jangan banyak bertanya, lebih baik kita langsung masuk saja." Kemudian dia memegang tanganku dan menarik paksa agar aku ikut dengannya.
Benar dugaannya. Tidak ada satupun yang melirik kami—bahkan Artex pun masih tetap fokus dengan buku yang dibacanya. Lelaki yang bersamaku langsung mengajakku duduk di barisan belakang—tepat di sebelah ia duduk.
"Ngomong-ngomong—" ucapnya namun terhenti.
"Kenapa?" jawabku.
"Yah, aku lupa belum menanyakan namamu. Tapi sebelum itu, biarkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Neo Rena. Orang-orang biasa memanggilku dengan panggilan Neo. Mungkin namaku terdengar seperti nama perempuan bagimu, tapi kau boleh memanggilku dengan panggilan Rena."
Aku bingung mengapa harus demikian dalam menyebutkan nama. "Memangnya kenapa aku memanggilmu beda dari yang lain?"
"Tidak apa, hanya saja aku ingin akrab denganmu."
Sekilas aku teringat dengan sebutan seseorang yang sering diucapkan oleh Zack kepada Juan dengan panggilan 'nolep' dan membuatku paham mengapa harus menyebutkan panggilan lain pada orang yang sudah akrab. "Baiklah kalau begitu, seperti yang kau minta."
"Sekarang giliranmu."
Perkenalanku yang hanya menghabiskan satu detik membuat kami terdiam sejenak.
"L—lalu?" ucapnya.
"Apanya yang lalu?"
"Apa nama keluargamu? Tidak mungkin kau tidak memiliki nama keluarga kan?"
Aku melanjutkan, "Kalau itu... sebenarnya aku punya, tapi tidak bisa disebut nama keluarga juga. Meski begitu, aku tidak ingin memberitahukannya kepada siapapun untuk alasan tertentu. Jadi, maaf aku hanya bisa memberitahu namaku yang sangat pendek ini."
"Baiklah kalau begitu, aku mengerti. Setiap orang juga pasti memiliki rahasia yang tidak ingin diketahui oleh siapapun." Kemudian Rena mengangkat tangannya menberiku jabat tangan. "Kalau begitu, mohon kerjasamanya."
Aku pun membalasnya, "Aku tidak mengerti apa arti dari kalimat terakhirmu, tapi... akan kuterima saja jabat tanganmu."
Setelah itu akupun langsung duduk lalu melirik ke arah Artex dan mendapati dirinya yang tengah memperhatikanku. Aku melambai kecil padanya dan berharap dia membalasku. Namun bukannya dia yang membalasku, seorang gadis yang berada di antara meja kami malah yang merespon. Dia tersipu malu dan membalasku dengan cara melambai dengan tangan kecilnya. Eh, kenapa malah dia yang merespon, pikirku.
"Oh, iya! Aku jadi kelupaan. Ngomong-ngomong, apakah hari ini adalah hari pertamamu masuk ke sekolah? Aku belum pernah melihatmu sejak awal pembagian kelas." Ujar Rena
"Soal itu, memang ini hari pertamaku masuk ke sekolah ini." Sahutku.
"Kalau begitu, jika ini hari pertamamu masuk sekolah, mengapa kau datang seterlambat ini? Biasanya kesan pertama seseorang selalu terlihat jelas di hari pertama mereka sekolah. Tetapi kau malah menyia-nyiakan kesempatanmu ini dengan datang terlambat."
Perkataannya membuatku malu dan kemudian aku memalingkan pandanganku darinya. "Kalau itu, ada berbagai alasan hingga aku tidak bisa datang di waktu yang tepat." Padahal sebenarnya aku bangun terlalu siang, dan karena malu aku tidak ingin mengatakannya.
"Begitu ya. Tapi ada juga tadi orang yang baru pertama kali masuk. Meskipun dia tidak terlambat sepertimu. Awalnya aku ingin berkenalan dengannya, tetapi dia tidak mengacuhkan sama sekali dan malah fokus pada buku yang dibawanya."
__ADS_1
Pasti Artex orang yang dia maksud, pikirku. "Yah, tidak semua orang dapat diajak bicara ketika pertama kali bertemu. Kecuali kalau kau orang penting." Kemudian aku berdiri dan berkata, "Tunggu sebentar, aku ingin menemui temanku."
"Eh!? Bukannya kau baru pertama kali ini masuk sekolah? Bahkan kau belum sempat berkenalan dengan orang lain. Bagaimana bisa kau mempunyai teman secepat itu?"
"Yah, kami sudah berteman sebelumnya. Bahkan aku bisa berada di sini karena dia."
"Oh, begitu ya. Pantas saja kau bisa baru hadir di pertengahan tahun ini."
Kemudian aku berjalan ke belakang menuju meja Artex. Namun tiba-tiba dia langsung berkata, "Maaf." Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
Lantas aku bingung, "Kenapa kau meminta maaf."
"Tadi pagi aku tidak membangunkanmu," jawabnya. "Kukira kau akan bangun seperti biasa. Jadinya aku tidak mempedulikanmu dan langsung berangkat ke sini."
Mendengar penjelasan darinya, aku hanya bisa menerimanya karena memang aku tidak bangun seperti biasa sebab malamnya aku terbangun dan membuat waktu tidurku harus bertambah. "Santai saja, lagipula aku tidak mendapat masalah meskipun datang terlambat."
"Baguslah kalau begitu." Ujar dia. "Jadi, ada apa kau ke sini?"
"Oh, tidak ada. Aku hanya ingin menyapamu dan menanyakan buku apa yang sedang kau baca."
"Sebenarnya aku juga tidak tahu. Aku mengambilnya dari isi tasmu selagi kau tidur. Sembari mengisi waktu luangku, kugunakan untuk mempelajari tulisan dari daerah asalmu."
"Hebat juga kau memiliki niat yang sangat besar terhadap sesuatu yang baru. Ngomong-ngomong, buku apa yang kau bawa?"
"Tidak tahu. Aku asal mengambilnya saja karena nama bukunya pun tidak tahu, apalagi isinya."
Saat melihat sampulnya, aku sudah tahu bahwa buku yang dia baca adalah buku yang sering kubaca saat ini—buku yang isinya mengenai senjata-senjata mematikan di muka bumi. "Sebaiknya kau tidak membaca yang satu ini. Bukan hanya kau tidak bisa memahaminya, tetapi benda semacam ini tidak dapat direalisasikan di dunia ini. Jika pun itu bisa, seharusnya itu menjadi barang yang haram untuk diciptakan."
"Begitu ya. Ya sudahlah, kukembalikan saja padamu. Tapi, apa kau—" tepat sebelum Artex mengakhiri kalimatnya, bel yang ada di luar kelas sudah berdering.
Dilanjutkan dengan suara toa di dalam kelas. "Semua murid kelas dua A segera datang ke ruang latihan. Bawa semua barang kalian agar tidak ada yang kehilangan. Sekali lagi—"
"Apa itu ruang latihan?" ujarku.
"Entahlah. Kita sama-sama pendatang baru, jadi aku juga sama tidak tahunya." Sahut Artex.
Kemudian Rena datang menghampiri, "Jika kalian tidak keberatan, mari kita pergi ke sana bareng."
"Ya, baiklah." Balasku. "Kau keluarlah terlebih dahulu selagi aku membereskan barangku—maksudnya membantu membereskan barang dia."
"Baiklah." Lalu Rena membereskan barang-barang miliknya dan setelah itu bergegas keluar kelas.
"Siapa dia?" Sahut Artex.
"Bisa dibilang teman baruku."
"Hebat juga kau sudah bisa mendapatkan teman."
"Yah, sebenarnya dialah yang mendapatkanku sebagai temannya. Aku hanya mengikuti alurnya saja." Balasku.
Kemudian gadis yang berada di bangku sebelah tiba-tiba berkata padaku. "Sampai jumpa di ruang latihan." Lalu ia pergi.
"Apakah dia temanmu juga?" Ujar Artex.
"Sejujurnya aku juga tidak tahu dia siapa." Balasku.
__ADS_1