The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Medan Perang


__ADS_3

Baru saja setengah jalan, aku sudah melihat pertempuran yang sangat hebat. Kedua kubu saling melontarkan serangan mereka masing-masing. Suara ledakan terus-menerus berbunyi, entah itu disebabkan oleh kubu yang mana.


Di bagian udara juga dipenuhi dengan pertarungan yang tak kalah ramai. Mereka saling menembakkan senjata mereka, perpaduan warna merah, biru dan hijau membuat bingung siapa yang menyerang kepada siapa. Meskipun bisa dibedakan dari arah tembakannya, tetapi kedua kubu menembakkan ketiga warna tersebut.


"Ramai sekali di sini..." ujar Glace.


"Benar, padahal sebelumnya kami hanya melawan seorang." Sahutku.


"Kami? Maksudmu sebelumnya kau tadi bertarung di sini?"


Ah sial salah sebut. "Yaa..., bisa dibilang begitu."


"Lalu kenapa kau melarikan diri dan berada di gedung sekolah?"


"Kenapa kau jadi banyak tau sih?"


"Aku memang pintar. Untuk memahami hal kecil seperti ini sangat mudah bagiku."


"Ba—baiklah. Kalau begitu apa kau tahu yang mana musuh kita?"


"Tentu saja, mereka yang memiliki tampang jelek adalah musuh kita."


"Ya—ya bener juga sih." Dalam hati aku berkata, Apakah ini yang dinamakan rasisme? "Tapi semisal teman kita melawan sesama manusia, apa kau akan mengidentifikasi musuh dengan melihat wajahnya?"


"Selagi dia teman kita, maka aku akan membelanya. Oleh karena itu orang yang dilawannya adalah musuh kita. Tetapi jika kedua pihak tidak ada yang kukenal, maka aku tidak akan ikut campur." Jelas Glace.


"Sedikit cukup bijak juga, tapi sedikit apatis." Balasku.


Tanpa peringatan apapun dia langsung mendorongku ke belakang. "Mundur!" dia langsung menggenggam perisai es di tangannya yang ternyata untuk menahan sebuah ledakan. Ledakannya bukan main, bahkan hanya dengan satu serangan perisai esnya hancur lebur.


"Sepertinya keberadaan kita sudah terdeteksi." Ucapnya.


Reflek aku langsung melapisi tubuhku dengan zirah besi lagi. "Berarti ini waktunya beraksi lagi, ya?"


"Begitulah," kemudian ia menaiki papan seluncurnya lagi. "Aku duluan!"


Tak ingin kalah keren, aku mencoba membuat papan seluncur sepertinya. Namun setelah dinaiki, papannya tidak bergerak sedikitpun. "Oh iya, di duniaku belum ada teknologi seperti ini." Akhirnya aku pun berlari sambil membawa lempengan besi di tubuhku.


***


Setelah berada cukup dekat dengan area pertempuran, aku langsung menyiapkan pedang panjang untuk menebas. Tepat sebelum mengayunkan pedangku, musuh yang kuincar sudah ditusuk terlebih dahulu oleh seorang prajurit. Namun entah kenapa sekarang dia langsung mengarahkan senjatanya padaku.


Dengan sedikit ragu aku menangkis serangannya. "Tunggu-tunggu! Aku ada di pihak kalian!" ucapku sambil melepas helm.

__ADS_1


Dia pun menarik pedangnya. "Kukira kau salah satu dari mereka. Soalnya zirahmu terlihat berbeda dari para prajurit, apa kau salah satu pasukan khusus yang dikirim?"


"Sayangnya bukan, aku hanya seorang siswa biasa."


"Lantas kenapa kau berada di sini!? Di sini bukan tempatnya bagi siswa sepertimu! Cepatlah mengungsi!" tegasnya.


"Tenang saja, aku sudah punya pengalaman bertarung kok," meskipun sedikit sih, lanjutku dalam batin. Tidak ingin memperpanjang percakapan, aku memotongnya dengan mengatakan "Kalau begitu aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus kulakukan di depan sana!" lalu aku berlari menuju area tengah pertempuran.


"Hei, mau kemana kau!? Kembali lah ke tempat yang aman!" teriak prajurit tadi, namun tidak kuhiraukan.


Kupasang helmku kembali lalu membuat perisai di kedua tanganku untuk menghindari serangan yang datang. Maksud dari tindakanku menerobos ke tengah-tengah pertarungan adalah untuk mencari sesosok remaja yang sedari tadi belum kembali dari pertempuran.


Setelah kucari dan tidak kutemukan, aku memutuskan untuk mencarinya lebih dalam ke barisan paling depan. Karena kupikir dia tidak akan berguna jika berada di barisan belakang.


Aku terus berlari menerjang semua orang yang tengah bertarung. Belok kanan, belok kiri mencari rute yang kosong untuk menuju barisan depan. Terkadang aku menghabisi monster yang menghalangiku dengan meruncingkan bagian depan perisai lalu menghantamnya di bagian kepala.


Di kanan depan tiba-tiba muncul hujan es, hal tersebut membuatku berpikir bahwa Glace pasti ada di sana. Aku senang dia dekat denganku karena berharap bisa menumpang padanya.


Kuhampiri sumbernya namun yang kutemukan bukanlah Glace, melainkan seseorang yang mengenakan jubah biru dan putih dengan enam papan seluncur es yang mengambang di belakangnya. Rupanya ini sosok yang diceritakan oleh Lynn sebelumnya.


"Hmm... ada perlu apa denganku?" ucap pria di depanku.


"Ah, tidak... aku salah mengira kau adalah temanku. Namun ternyata aku salah orang."


"Ah, itu... sebenarnya aku bukan prajurit melainkan seorang siswa." Kemudian kulepas helmku.


Nampaknya dia sedikit terkejut. "Oh, ternyata kau orang yang sebelumnya."


"Aah... sebelumnya aku ingin berteri—"


"Maafkan aku karena telah melukaimu," potongnya. "Apa lukamu sudah baikan? Seharusnya Lynn sudah mengurusnya."


"Te—tenang saja. Aku sudah merasa baikan."


"Syukurlah, kalau begitu cepatlah kembali ke tempat aman. Tempat ini bukanlah untuk seorang siswa sepertimu."


"Maaf menyela, tapi untuk itu aku punya alasan untuk datang ke sini. Seharusnya salah satu temanku berada di tengah-tengah pertempuran ini, dan aku sedang mencarinya untuk memastikan keadaannya."


"Kalau itu tenang saja, baru saja dia lewat ke sini."


"Benarkah?! Apa kau bisa menunjukkan dimana dia sekarang?!"


Dia menunjuk ke arah depan. "Dia pergi ke arah sana."

__ADS_1


"Ah, sial! Berarti aku harus menerobos mereka lagi!" gumamku.


"Kau perlu bantuan? Aku bisa sedikit membantumu."


"Ah, ya, tentu!"


Kemudian dia memberikan salah satu papan esnya padaku. Dengan senang hati aku menerima bantuannya lalu menaiki papan tersebut.


"Terimakasih banyak, Pak!"


"Panggil saja Teka."


"Baik, terimakasih banyak, Pak Teka!" ucapku bahagia. "Eh, ngomong-ngomong, kenapa kau tahu temanku ada di sana?"


"Tentu saja. Sama sepertimu, dia juga seorang siswa di sekolah sini. Aku langsung mengenalinya begitu dia lewat ke sini karena dia salah satu muridku—Glace. Benar bukan?"


Raut wajahku seketika berubah begitu mendengar namanya. Eh, kok Glace...?


"Kalau begitu semoga beruntung!"


"Tung—" tanpa mendengarkan penjelasanku dia langsung menerbangkanku dengan cepat.


...***...


Aku mengawasi para pasukan yang tengah bertarung sambil mencari sosok Artex. Meskipun tanpa perlindungan, aku sedikit takut akan tertembak oleh serangan.


Kulihat di depan terdapat seseorang yang mengeluarkan seperti cahaya biru. Rupanya itu Glace yang sedang mengayunkan pedang esnya.


Kesampingkan hal itu, sekarang fokusku adalah untuk mencari Artex. Dalam kerumunan para iblis, terlihat seseorang yang sedikit mencolok. Dibandingkan warna tubuh mereka yang merah, hanyalah dia yang memiliki warna baju putih. Kuyakin itu pasti Artex, orang yang sedang kucari.


Dengan begitu aku berniat untuk meloncat dari ketinggian tiga meter ini dan berharap tidak kenapa-kenapa.


"Geronimo—" aku berteriak sambil mengedepankan kedua perisai yang sedang kukenakan. Pendaratan yang pas ketika aku jatuh di atas pundak salah satu iblis membuatku merasa sedikit keren.


Artex berbalik dan berkata, "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Beraksi sebagai seorang pahlawan!" balasku.


"Tidakkah kau sendiri tahu di sini semakin banyak monster yang menyerang?"


"Tau lah, tapi aku tak peduli dengan semua itu. Lagipula kita juga mendapat bala bantuan bukan?"


"Memang benar, namun... Ah sudahlah, aku tahu sendiri kau memang keras kepala."

__ADS_1


"Baguslah kau cepat mengerti!" kemudian kuubah perisai yang kukenakan menjadi sebilah pedang.


__ADS_2