The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Keluar dan Masuk Lagi


__ADS_3

Si pria tinju air memulai serangannya dengan melontarkan lagi semburan tinju airnya. Aku sudah menduga dia akan menyerang di udara, lalu kutahan serangannya dengan perisai kecilku.


Bodohnya aku terus mempertahankan kuda-kuda untuk menahan semua serangannya, karena sekarang pukulan airnya berubah menjadi tendangan air yang membuatku kehilangan keseimbangan. Dilanjutkan oleh tendangan dari atas membuatku lebih cepat menghantam tanah.


Salsa berteriak, "Den!"


Argon yang sedang memegang panci maju menghadapi lawan. Dia mengayunkan pancinya namun ditangkis oleh pria air dan kemudian Argon mendapat pukulan telak di wajahnya.


"Sepertinya kita tidak diuntungkan dalam pertarungan jarak dekat," ucap Salsa, "Kemampuan bertarung kita hanya diperuntungkan untuk serangan jarak jauh."


"Sepertinya begitu," balasku. Aku memikirkan apa yang harus kulakukan jika dihantam olehnya saja aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku kepikiran untuk menggunakan senapan tetapi mungkin tembakannya akan meleset dan malah mengenai Argon.


Setelah berpikir sejenak, aku berkata "Aku ragu mengenai batasan jarak kemampuanku. Saa! Beri aku portal menuju sisi belakang orang itu!" lalu aku berteriak, "Argon! Mundurlah sedikit ke belakang!"


Seperti yang kuucapkan, aku langsung memasangkan sepatu baja di kakiku dan melompat ke lubang portal. Beruntungnya lawan kami tidak bergerak hingga sepatuku bisa menggapai punggungnya. Setelah sepatuku menyentuhnya, kutambahkan sodium dengan merkuri.


Ledakan yang cukup besar tercipta di punggungnya, meninggalkan luka memar pada permukaannya. Seperti yang seharusnya, dia menyerang balik padaku lalu membantingku ke arah Argon.


Bukannya menolongku, Argon malah menendangku selagi aku terbang. Parahnya lagi tendangannya tepat di perutku. "*Ghuk. Kenapa— kau melakukan itu padaku!" ucapku rintih.


"Ya aku gamau ikutan kena juga lah!" balasnya.


"Setidaknya kau menghindar dan membiarkanku tersungkur ke dalam air."


"Oh... ya maap ga kepikiran."

__ADS_1


Selagi kami gaduh, Salsa berteriak dari kejauhan. "Zaack!"


Rupanya si tinju air lebih mengincar yang lemah dulu, atau mungkin kunci utama dari pihak kami.


"Sial. Argon, cepatlah ke sana!" ucapku sambil memberikan senjata yang selalu ia gunakan saat latihan, sebuah katana kayu dengan ukuran sekecil pisau dapur."


"Sip, tau aja lagi pengen pake apaan." Namun saat dia menerimanya, "Eh? Kok kayu?"


"Kenapa kau protes? Bukannya kau suka menggunakan yang seperti itu setiap latihan?"


"Ya ga gitu juga lah, Bambang! Gimana mau ngalahin dia kalo pake kayu?"


"Yasudah kalau begitu." Kemudian aku mengubah bilahnya menjadi baja. Kalau dilihat-lihat katana kecil ini memang seperti mainan dari plastik. Tetapi aku telah memadatkan bajanya dari lapisan yang sangat banyak dan membuatku kehilangan separuh Natergyku saat ini.


"Nah gitu dong." Dia pun berlari ke arah Salsa. Namun sebelum sampai, Zack sudah menahan pria itu lebih dulu dan memberikan Argon kesempatan untuk menyerang. Sebelumnya katana yang digenggamnya berukuran kecil kini menjadi ukuran normal berkat kekuatannya.


Tanpa memberitahuku, Salsa memindahkanku ke atas kartu yang sedang diduduki oleh Juan dan lainnya. Setelah portal milik Salsa menghilang, aku langsung membuat sebuah payung dan segera melebarkan bagian jamurnya hingga menutupi kami semua. Kemudian kuperintahkan Juan agar keluar untuk ikut berpartisipasi, "Bantulah mereka, Juan! Kau pasti akan berguna jika Zack dan Argon tidak bisa mengalahkan mereka!" Kubuatkan pintu untuknya keluar.


Juan membalas, "Kenapa harus aku? Lalu kau mau apa setelah aku keluar?"


"Aku hanya berpikir kau orang yang paling berguna dalam situasi ini. Lagipula sebagian dari kita hanya mengandalkan pertarungan jarak dekat yang sudah jelas lawan kita lebih diunggulkan. Selain itu, kau orang yang paling kuat di antara kita." Jawabku


Juan sedikit tersenyum setelah mendengar kalimat terakhirku, namun dia segera mengembalikan ekspresinya. "Lalu untuk yang kedua?"


"Kalau itu, aku hanya merasa pegal setelah dibanting tadi. Kau tahu kan aku sedang tidur dan langsung dibangunkan Zack tiba-tiba."

__ADS_1


Juan memasukkan lengannya ke dalam lubang hitam ciptaannya dan mengambil sesuatu. Dia melemparkan segumpal kertas padaku. "Terserahlah." Dia pun pergi ke arah pintu yang kusediakan.


Setelah dia pergi, aku berpesan kepada Mamad—orang di sebelahku. "Mad, kalau mereka membutuhkanku, bilang pada mereka aku sudah kehabisan tenaga. Jangan bilang aku sedang tidur, semalam aku tidur terlalu malam jadi sekarang aku masih mengantuk."


Mamad membalasnya dengan memberikan isyarat 'ok' dengan jarinya.


Aku melirik ke arah tiga orang lainnya, "Kalian juga!"


Mereka pun membalas dengan hal serupa.


...~Π~...


Ketika kedua mataku terbuka, aku bangun dengan perasaan tak enak. Semua bagian dari ujung kepala sampai kaki terasa pegal padahal seingatku aku tidak pernah mengigau sama sekali.


Aku pun berdiri dan mencari keberadaan Artex yang tidak nampak di mataku. Di ruangan yang sempit ini tidak mungkin bisa dia bersembunyi. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya ke luar, namun pintunya terkunci. Aku kembali ke kasur lalu duduk kemudian melamun, tak ada yang bisa kupikirkan dan kulakukan saat ini.


Terpikirkan ide untuk membuat kunci duplikat. Setelah mendekati pintu, aku sadar kunci di setiap pintu tidak ada yang sama bentuknya. Akhirnya kembali lagi duduk di atas kasur. Melihat benda di atas meja yang ternyata sebuah kunci, aku langsung menghampirinya dan kemudian mendekat ke arah pintu lagi. Saat kumasukkan kuncinya ke dalam lubang, ternyata kombinasinya pas. Segera aku membuat kunci duplikatnya dan membuka pintunya dengan kunci duplikatku. Perasaan lega menyertaiku setelah keluar dari ruangan.


Di luar pun aku tidak bisa berbuat banyak. Lorong sepi ini tidak menghadirkan seseorang yang bisa kuajak bicara. Begitu pula saat aku pergi ke toilet untuk membasuh muka. Pada akhirnya aku pergi ke luar gedung untuk mencari angin segar.


Terlihat dari kejauhan dua orang tengah mengobrol sambil berjalan mendekati sebuah gedung yang sangat besar. Kuikuti mereka secara perlahan dari belakang—tentu saja aku hanya berjalan biasa tanpa harus mengendap-endap seperti pencuri.


Setelah masuk ke dalam, aku langsung menjelajah sekitar. Namun sebelum berbelok, aku mendengar seseorang sedang berbicara di dalam ruangan. Aku memutuskan untuk kembali dan mencari jalan lain.


Baru saja belok, tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang. Dia memelukku dengan erat lalu meniup telingaku dengan pelan. "Hihihi!"

__ADS_1


Tentu saja aku langsung merinding dibuatnya. Kucoba untuk melepaskan pelukannya dengan menyikutnya. Belum juga mengenainya, aku sudah berada di ruang hampa serba putih. "Mengapa begini lagi!"


__ADS_2