The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Kastil Alam Nether


__ADS_3

"Sedang apa kau disini?" tanyaku pada Salsa.


Bukannya menjawab, dia malah waspada terhadapku. "Siapa kau?!"


Artex melirikku dan berkata "Kenalanmu?"


Kujawab pertanyaan Artex, "Ah, ya. Dia adalah temanku—dari duniaku tentunya." Lalu aku berbalik ke arah Salsa dan membalasnya "Apa Zack sedang bersamamu? Dimana dia?"


Kewaspadaannya menghilang dan kemudian dia mendekatiku lalu menempelkan tangannya pada dahiku. "Tersambar apa kau sampai begini?"


"Hah? Ma-maksudnya apa?" aku takut dia membicarakan sesuatu yang mengerikan.


"Gaya bicaramu! Tumben sekali gaya bicaramu mendadak formal begini. Biasanya banyak kata-kata yang tidak baku keluar dari mulutmu."


"Ooh! Mengenai itu, di dunia yang sekarang ini kusinggahi tidak ada orang yang mengerti kata yang tidak baku. Jadi aku sedang berusaha untuk berbicara bahasa baku."


"Begitu rupanya."


"Jadi, dimana Zack?"


"Dia sedang di luar bersama Juan."


Aku lekas menghampiri portal yang dibuat Salsa dan saat melihat ke luar, aku melihat Artex dan Juan sedang berusaha mencabut sabit milik Zack.


"Tarik terus Wan!" teriak Zack. Nampaknya mereka sedang kesulitan menarik sabitnya.


"Ini sabit atau pedang legendaris sih! Susah gini nyabutnya!" balas Juan.


Aku merasa kasihan melihatnya, aku berjalan mendekat untuk ikut membantunya. Kupegang pegangan yang kosong dan ikut menariknya sekuat tenaga.


"Tumben si Salsa mau bantu." Ucap Zack.


"Kayanya ini mah bukan Salsa deh, Zack. Coba liat mukanya dulu." Balas Juan yang sudah menyadari kehadiranku.


Zack menatap ke arahku lalu dia jatuh dan terkejut. "Juriiig!!"


"Matamu jurig!" ah, sepertinya gaya bicaraku mulai kumat lagi. Setelah aku berteriak begitu, sabit yang sedang kami cabut langsung tercabut. "Coba pinjem sabitnya, Wan." Kutegakkan sabitnya lalu kuhentakkan ujung peganganya.


"Ijroil!" teriak Zack.


"Hush! Kemana aja ngomong tuh."


Ya, sepertinya pertemuan kami normal-normal saja. Tidak ada kekhawatiran dari kedua pihak. Masalah Zack yang berbicara seperti itu, sudah normal bagiku untuk menganggapnya sebuah candaan.


"Ngapain kau disini?" Zack mencoba untuk berdiri.


"Ga ada apa-apa kok. Kebetulan doang nemu portal yang ngarah ke hutan, terus ada si Salsa juga di dalam."


"Aslian?" Zack memegang bajuku. "Terus ini apaan merah gini? Bau juga!"


"Aa—" aku membuka mulutku untuk menjawabnya tetapi tertahan dengan perasaan jijik mengenai darahnya. "Lumpur doang ini mah. Khas dunia sana." Aku menjawabnya demikian karena tidak ingin berbagi rasa jijik.


Setelah semua candaannya, kami berkumpul untuk berdiskusi tentang dimensi yang baru saja kami temukan. Kami sepakat untuk menjelajah tempat ini dan membagi kelompok. Juan dengan Salsa, Zack dengan Artex, dan aku sendiri.


Masing-masing kelompok mengambil jalan berbeda. Aku berjalan lurus ke depan, Juan ke kiri, dan Zack ke kanan.


Sepanjang jalan aku hanya bertemu dengan pohon dan ranting. Tidak ada kicauan burung atau suara hembusan angin. Sungguh keheningan mutlak. Setelah sekian banyak pohon yang telah kulewati, akhirnya aku menemukan jalan keluar. Aku melihat sebuah istana di depanku, dan secara bersamaan Zack dan yang lainnya datang.


"Lah kok?" Zack terkejut.


"Jadi akhirnya kita malah berkumpul lagi," ucap Salsa, "dan sekarang kita menemukan sebuah kastil."


Tanpa pikir panjang, aku langsung menerobos maju mendekati pintu. Kemudian Salsa berteriak padaku "Mau kemana kau?!"


"Ya masuk lah. Kalian ga penasaran apa sama rumah segede gaban gini?"


"Ya ampun..." keluh Salsa.

__ADS_1


Zack pun ikut berjalan mendekat dan diikuti oleh Artex dan Juan. Kemudian Salsa juga bergerak dan bertingkah seperti pengasuh kami. Meskipun kastil ini besar seperti kelihatannya, ruangannya juga sangat luas namun tidak ada seorang pun yang menghuni tempat ini.


Tiba-tiba asap mengepul di ruangan ini. Semua orang bersiaga dan aku membuat kipas yang sangat besar untuk menghilangkan asapnya. Setelah lama menunggu, tak ada satupun musuh yang menyerang. Lalu kami memutuskan untuk membedah tempat ini dengan memecah tim lagi menjadi perorangan.


...~Π~...


Semuanya kebagian di jalur samping, tetapi mengapa aku malah di tengah lagi?! Meskipun jalannya diterangi cahaya lampu, tetapi saja suasananya begitu mencekam. Bulu kudukku saja sampai berdiri. Agar penelusurannya lebih bermakna, aku berniat untuk mengecek semua ruangan yang ada.


Setelah membuka pintu pertama, aku melihat hal yang di luar dugaanku. Aku melihat sebuah kamar yang mirip dengan kamar orang tuaku. Aku teringat dengan kenangan saat aku menangis keras di ruangan itu setelah kehilangan mereka. Aku mendekati meja bermaksud untuk merasakan kembali kehangatan dalam pelukan ibuku, meskipun hanya sebatas angan. Namun setelah dekat dengan meja, aku melihat foto mereka berdua. Kuambil fotonya. Seketika aku merasa deja vu saat memegang bingkainya.


Sekilas penglihatanku terganggu seperti layar televisi yang eror. Namun itu terjadi hanya dalam sekejap mata.


Rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Sakit rasanya kehilangan kedua orang yang kusayangi. Siapa lagi yang akan menjagaku dalam kesendirian ini jika bukan kalian? Bagaimana jika aku berada di jalan yang salah? Harus bergantung pada siapa diriku jika aku kesulitan? Rasanya aku ingin melampiaskan seluruh kesedihanku di ruangan ini.


Aku menangis sekencang-kencangnya dan berharap tidak ada yang mendengarku. Dalam lubuk hatiku aku masih menginginkan kasih sayang dari mereka. Kehangatan yang selalu kurasakan setiap hari harus sirna begitu saja.


Tiba-tiba ada seseorang yang mengusap kepalaku. Aku menyadari tekstur tangannya terasa familiar bagiku. Tingkat kekerasan yang selalu kuingat saat dia mengusap kepalaku. Mungkinkah, "A-ayah?" namun saat berbalik, bukan sesosok ayah yang kulihat. Malah pria berseragam hitam menggunakan topi yang menutupi mata dan hidungnya. Segera aku menghindarinya. "Si-siapa kau?!"


Dia tidak menjawab dan hanya memperlihatkan air mata di pipinya. Dia menghadap ke arah lemari dan mengamatinya. Menyentuhnya dengan perasaan cemas seperti yang sudah kehilangan sesuatu. Aku mencoba untuk mendekatinya untuk berkomunikasi dengannya. Belum se-Meter pun aku melangkah, dia langsung berbalik. Memberiku sepucuk surat. Kucoba mengambil surat itu hati-hati namun saat memegangnya aku merasa pernah mengalami kejadian ini.


Penglihatanku runyam sekejap seperti televisi eror. Sadar bahwa aku sedang berhadapan dengan pria yang pernah kutemui sebelumnya—anak buah dari musuh utamaku, aku segera memukulnya.


Orang di hadapanku menahannya lalu dia kabur dengan cara yang sama menggunakan portal hitamnya.


Aku hanya bisa pelanga-pelongo melihat dirinya kabur begitu saja. Kemudian aku bergegas ke tempat semula untuk melaporkan hal yang baru saja kualami.


...~Π~...


Semuanya sudah berkumpul di sini lalu kami semua menjelaskan apa yang kami temukan.


"Jadi ini memang wilayah musuh ya," ucap Salsa, "apakah kita harus melanjutkannya?"


"Oh jelas harus!" tegas Zack.


"Baiklah. Kalau begitu kita ke jalannya Den saja karena hanya dia yang menemukan sesuatu."


Kami setuju dan kemudian kami berjalan melalui jalan yang tadi kutelusuri. Hanya puluhan pintu yang kami lihat sepanjang lorong. Setelah beberapa ruangan kami lewati, akhirnya kami berada di ruangan singgasana.


"Yo! Aku tidak suka bertarung tanpa memperkenalkan namaku terlebih dahulu." Ucap pria pedang besar.


Mengetahui dia adalah musuh, kami semua bersiaga dengan kekuatan spesial kami. Kali ini aku tidak memberikan senjata buatanku pada Zack karena dia sudah mengeluarkan sabitnya terlebih dahulu. Padahal aku ingin memberinya tameng untuk dijadikan tumbal samsak.


"Namaku adalah Arutakka! Panglima perang ketujuh di Nether!" lanjutnya.


"Halo juga Arutakka," ucapku gemetar, "namaku Den. Seorang beban negara terbaik di Bumi."


"Hahahaha! Apa-apaan julukanmu itu! Jelek sekali!"


"Aku tahu ini jelek tapi—" aku memberi sinyal pada Salsa untuk menyiapkan portal, "memang jelek sih."


Ekspresi Arutakka seketika datar. "Kau ini—tidak lucu sama sekali." Kemudian dia berlari ke arah sini sembari menggusur pedang besarnya. "Lebih baik kau mati saja!"


Aku juga ikut berlari mendekatinya. "Coba sini kalau berani!" aku membuat sebilah pedang untuk menyerangnya. Salsa yang sudah mendapat sinyal dariku langsung membuat portalnya di hadapanku.


Setelah cukup yakin aku berada dalam jangkauannya, Arutakka menghunuskan pedangnya padaku namun aku lebih dulu memasuki portal. Aku menebas punggungnya, namun dia tak bergeming.


Dia malah tertawa, "Hahahaha!" dia berbalik, "biar kuajarkan kau caranya menggunakan pedang!" pedang besarnya diangkat dan saat ini sedang berada di hadapanku.


Sebelum tepat mengenaiku, sebuah portal menahan serangnya. Ternyata itu tangan Artex dengan cahaya hijau di atas telapaknya. Dia menahannya seperti menahan sebuah kayu.


"Cepatlah, aku hanya bisa menahannya sebentar!" teriak Artex.


Aku merubah pedangnya menjadi perisai. "Lepaskan saja!"


"Sekarang kau ingin menjadi seorang paladin?" Arutakka meremehkanku.


"Jangan berpikir terlalu jauh, aku hanya ingin melindungi diriku sendiri." Aku meremehkannya balik. "Sekarang Zack!"

__ADS_1


Zack menebas habis kepala Arutakka dengan sabitnya. Kini ia tidak berdaya karena hidupnya sudah tamat.


Namun nasib berkata lain. Rupanya kepala yang ia bawa gunanya adalah untuk menggantikan kepala satunya. "A—ah," tiba-tiba suaranya berubah menjadi kalem dan dingin, "Lemah sekali gaya petarungku saat ini. Coba saja kalau aku selalu latihan selama dalam mode itu." Arutakka melirik ke arah Salsa dengan tatapan sinis. Dia menghentakkan kakinya dengan keras dan terciptalah ledakan besar yang mampu menghempaskanku dan Zack.


Arutakka melemparkan pedangnya ke arahku. Sambil panik aku menghindarinya. Dengan cepat Arutakka mendekatiku lalu memukulku dengan tinju berapinya. Aku memiliki ide untuk menambahkan duri pada permukaan tamengnya, namun setelah ditambahkan dia berhenti menyerang. Tanpa disadari dia telah berada di belakangku. Aku langsung terpental jauh ke depan oleh ulahnya. Rupanya dia bisa menggunakan sihir ledakan.


"Hahahaha!" dia tertawa keras. "Seru sekali menyiksa makhluk yang lebih lemah dariku!" sikapnya berubah total dari barusan yang terlihat kalem.


Jangankan berusaha melawan balik, berdiri pun aku tak sanggup karena rasa sakit dan panas yang kuterima.


Kulihat Artex mulai beraksi, dia mengambil tamengku dan maju melawan Arutakka ditemani Zack. Namun sama saja setelah kutunggu beberapa lama Zack terdorong mundur. Aku mencoba bangkit untuk melihatnya. Artex sedang sibuk menangkis semua bola api.


"Saa, aku punya ide." Ucapku pada Salsa.


"Apa itu?" jawabnya.


Aku menjelaskannya pada Salsa. Kini dia mulai membuat portal yang mengarah pada ************ si pria bongsor itu. Aku menusukkan pedang vertikal ke atas ke arah portalnya Salsa, dan tepat sekali, pedangnya berhasil menusuknya. Sudah kuduga dia membiarkan pertahanannya terbuka.


Namun Arutakka tidak bergeming sama sekali, dia mengambil paksa pedangku dan mematahkannya. "Berani sekali kau menusukku hanya dengan menggunakan pedang mainan." Kemudian tangannya diselimuti api dan saat dia menyentuh tameng yang dikenakan Artex, Artex langsung terpental hingga ke tembok.


Tidak menyerah begitu saja, Artex menerjang lagi ke depan. Sekali lagi Arutakka mencoba mementalkan Artex namun Artex bertahan dengan kaki kirinya. Artex melemparkan botol berisi cairan biru dan membuat kepala Arutakka membeku. "Sekarang!" tegas Artex.


Tiba-tiba portalnya Salsa muncul di belakang Arutakka dan muncul Juan yang sudah siap dengan portal hitamnya di tangannya. Juan segera menghantamkan tinjunya ke arah kepala Arutakka dan seketika kepalanya hilang ditelan kegelapan.


"Bagus!" ucap Artex.


Arutakka menjadi terdiam tak merespon. Kami rasa pertarungan ini sudah cukup sampai sini. Tetapi kemenangan belum memihak kami. Arutakka langsung menghantam Juan hingga terpental balik ke dalam portal. Lalu dia menghancurkan kuda-kuda Artex dengan kakinya dan meninjunya sekuat tenaga hingga membuat Artex tidak kuasa menahannya dan terpental.


"Bodoh sekali kalian ini." Arutakka mengambil kepalanya yang tergeletak lalu memasangkannya pada lehernya. "Bermain kayu pun tidak bisa apalagi menggunakan sihir."


"Zack, tahan dia sekuat tenaga!" tegasku pada Zack. Aku sudah tidak bisa memikirkan ide lain selain ide kali ini.


Zack maju ke depan dengan sabitnya. Arutakka mundur untuk mengambil pedangnya yang tertancap di tembok. Pertarungan di antara mereka berlanjut kembali.


Aku sudah siap dengan senjata andalanku. Dengan mengorbankan banyak natergy seharusnya cukup untuk mengalahkannya. "Zack! Mundur!" dengan bazoka yang kupanggul, aku meluncurkan isinya dan ledakan besar terjadi.


Tak cukup hanya mengandalkan satu meriam. Aku membuat beberapa granat. Zack dan Juan paham keadaannya dan segera melemparkan granatnya kepada Arutakka. Ledakan yang berkelanjutan membuat tempat ini bergetar. Puing-puing berjatuhan menimpa Arutakka.


Kami semua lega semua ini sudah berakhir. Tenagaku langsung hilang membuatku merasa lemas.


Tetapi takdir selalu berkehendak lain. Arutakka menerjang ke depan dan menusuk Artex. Sekali lagi kepala Arutakka membeku dibuat Artex. Dengan cara yang sama Juan menghilangkan kepala Arutakka. Untuk meyakinkan Arutakka sudah mati, Zack ikut membunuhnya. Dia mencincang habis tubuh Arutakka.


Ruangan ini mulai hancur. Salsa dengan sigap membuat portal jalan kembali. Semuanya mundur melarikan diri. Zack dan Juan menggusurku keluar portal.


...~Π~...


"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Salsa kepada Artex. "Apakah kau ada obat untuk menyembuhkannya?"


"Jangan khawatirkan aku." Jawab Artex. "Khawatirkan saja temanmu dulu. Ambil ini dan sembuhkan dia." Artex memberikan sebotol ramuan merah.


Salsa menerimanya dan mendekati Juan. "Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Salsa pada Artex.


"Minumlah."


Juan meminumnya tetapi hanya sebagian. "Pahit. Apaan nih?" keadaannya membaik dan membuatnya dapat berdiri tegak.


"Kita sudahi saja penelusuran ini," ucap Salsa, "lebih baik kita meningkatkan gaya bertarung kita masing-masing. Bukan berniat untuk merendahkan, tetapi kerjasama antara kita masih jelek."


"Ya, aku sependapat." Aku setuju.


"Kalau begitu, kami akan kembali lagi ke hutan." Ujar Zack.


"Baiklah." Ucapku.


"Den, sembukanlah lukanya temanmu itu. Dia yang terluka paling parah di antara kita."


Artex berdiri tegak tanpa masalah. "Tenanglah. Ini bukan masalah bagiku."

__ADS_1


Salsa terkejut melihat kondisi Artex. "Oh. Begitu ya."


Akhirnya mereka bertiga kembali ke portal yang mereka lalui. Aku meminta Artex agar menetap lebih lama untuk rehat sejenak sekaligus mengisi natergy dan manaku. Serasa istirahatnya cukup dan juga aku sudah bisa berdiri, kami pun pergi dari tempat ini.


__ADS_2