
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami sampai juga di tempat pengungsian yang berada cukup jauh di belakang gedung sekolah. Sebelum sampai kami melihat beberapa penjaga dan juga mungkin petinggi yang sedang bersiaga di depan pintu.
"Masuklah dan cari tempat duduk yang nyaman." Ucap petinggi tersebut.
Tepat setelah kami memasuki pintu, langsung terdengar suara bergemuruh dari luar.
Napasku sedikit terengah-engah karena beban yang kubawa sepanjang jalan. "Kenapa sih pas mulu timingnya! Padahal tadi pas di jalan mah aman-aman aja?" ujarku.
"Mungkin saja mereka memang sengaja menyerang ketika semua berada dalam ruangan?" sahut Glace.
"Bisa jadi sih. Tapi kalau gitu harusnya tempat ini sudah diserang dari tadi kan?"
"Mungkin mereka telat untuk mengerahkan pasukan? Kalau dilihat dari jaraknya, gedung sekolah lebih dekat dengan pusat penyerangan."
"Hmm, masuk akal juga. Eh—tapi kau tahu darimana titik penyerangannya berada?"
"Apa kau tidak lihat setelah kita keluar dari gedung, jauh di depan kita terjadi pertempuran hebat?"
"Lihat kok, lihat."
Selagi kami berbincang, di luar gedung tiba-tiba terdengar suara bising yang sangat menganggu. Sontak aku menutup telinga untuk meredam suaranya.
"Suara apa ini!?" cetusku.
"Entahlah. Mungkin dari luar?"
Aku mencoba mengeceknya dengan mengintip dari balik pintu, dan melihat rombongan iblis yang berlari dan beterbangan ke arah sini.
"Baru juga tadi tempur, sekarang malah harus beraksi lagi." Ucapku.
"Tenang saja, orang-orang yang menjaga di luar pasti bisa mengatasinya." Balas Glace.
Ternyata benar apa kata Glace, semua pasukan yang berjaga langsung menyerang ketika musuh mendekat. Tapi kupikir mereka malah kewalahan karena seorang melawan tiga musuh secara bersamaan. Namun di tengah kegelisahan tersebut aku melihat seseorang yang tengah berdiri di belakang mereka.
"Hei, coba sini." Ucapku pada Glace.
Dia menjawab, "Kenapa?"
"Apa kau pikir dia kuat melawan pasukan sebanyak itu?" ucapku mengarah pada orang yang berdiri di bagian belakang.
"Dia kan guru kita, masa kau tidak percaya padanya?"
"Lah, yang mana?"
"Guru pembimbing latihan mingguan. Jangan bilang kau tidak ikut?"
"Ikut, kok, ikut. Hanya saja sesampainya di sana aku malah main-main di belakang. Jadinya aku tidak pernah mengingat wajahnya. Bahkan semua wajah guru tidak ada yang kuingat"
Glace hanya menjawabku dengan tatapan sinisnya. "Kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan."
"Hehehe~" kemudian aku melanjutkan kembali pengamatannya. "Oh iya, siapa namanya?"
"Errrggh... Kau ini! Ingat ini, dia adalah seorang ahli sihir berbakat dengan julukan Enchanter , dan dia biasa dipanggil Paperoni."
Begitu mendengarnya aku langsung berpikir, "Pepperoni... daging? Kenapa dia dipanggil daging?"
"Kupikir bukan itu maksudnya. Namanya diambil dari gaya bertarungnya, yaitu dengan menggunakan kertas sebagai katalis sihirnya. Lebih jelasnya kau saksikan saja sendiri." Ucapnya.
Di depan mataku terlihat orang yang kami bicarakan sedang mengambil sesuatu dari saku celananya. Ternyata dia mengambil sebuah kertas yang seketika terbakar setelah berada di udara. Entah memang sudah ada sebelumnya atau belum, tapi di tangan kirinya sudah memegang sebuah buku.
"Perhatikan baik-baik. Dia akan mengeluarkan sesuatu dengan katalisnya." Ucap Glace.
Si guru tersebut merobek dua lembar kertas dari buku di tangannya lalu terlihat sibuk dengan kertasnya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanyaku.
__ADS_1
"Entahlah."
Rupanya dia membungkus sesuatu dengan kertasnya. Itu terlihat dari rupa pembungkusnya yang tidak rapih yang akan dia lempar.
"Eh, bukannya dia seorang guru?" ucapku. "Tapi kenapa dia melempar kertas seperti anak nakal yang ribut di kelas?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja itu caranya bertarung?" jawab Glace.
Tidak disangka meskipun bermodalkan dua lembar kertas kecil, benda yang dilemparkannya terbang begitu cepat. Tak butuh waktu yang lama kertas yang dilempar tersebut berhasil mendarat di tengah-tengah pasukan yang sedang bertempur.
*BOOM!!
Pasukan iblis yang sedang bertempur tiba-tiba diberi kejutan berupa ledakan besar.
"Buseeet! Gila, kuat banget serangannya!" ucapku terkagum-kagum. "Eh tunggu, bukannya pasukan yang bersamanya ada di tengah-tengah pertempuran itu?!"
"Benar, memang kenapa?"
"Mereka juga bakalan kena dong karena ledakannya?"
"Tenang saja, dia itu seorang guru. Dia pasti sudah memikirkan sesuatu terlebih dahulu untuk menghindari hal itu."
Tiba-tiba gedung yang kami tempati bergetar hebat. "Ehh... Eh—eh! Ada apa ini!?" ujarku.
Semua orang yang ada di dalam berteriak kepanikan. Situasi semakin ricuh dengan adanya beberapa monster yang menerobos ke depan pintu.
Sontak kami berdua langsung membuat senjata untuk bertahan. Glace mencoba untuk melawan mereka sedangkan aku menangkis serangan mereka lalu menghampiri Rain untuk membawanya ke kerumunan.
"Kutitipkan padamu sebentar!" ucapku sebelum mulai berlari. Setelah berada di dalam kerumunan, aku terus menerobos dan berharap menemukan orang yang kukenal.
Dalam kesibukanku mencari seseorang yang kukenal, terdengar suara seseorang yang terus memanggil namaku. "Den, sini—sebelah sini!" teriaknya.
Aku berhenti sejenak untuk mencari sumber suara tersebut. Menengok ke kanan dan ke kiri, berputar ke depan dan belakang, masih saja belum kusadari dari mana sumber suara tersebut berasal. Hingga akhirnya ada seseorang yang menepuk pundakku.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.
Rea menjawab, "Tentu saja mengevakuasi diri! Namun entah kenapa malah gedung ini yang menjadi sasaran penyerangannya?"
"Lalu mana Rena?"
"Dia ada di belakang sedang menenangkan beberapa murid lain." Jawabnya.
"Dia sedang sibuk ya. Kalau begitu, apa kau tidak keberatan kalau aku menitipkan seseorang padamu?"
Sepertinya Rena baru menyadari orang yang berada di pangkuanku. "Ehh... siapa yang kau bawa itu?! Apa dia pacarmu?"
"Bukan lah! Dia lebih seperti guru pri— maksudku dia hanya bocil pengganggu yang terus mengikutiku."
"Be—begitu ya.... Baiklah, aku mengerti."
"Bagus, ini... bawa dia."
"Tunggu dulu!" potongnya. "Aku tidak mungkin bisa membawanya. Kita serahkan saja pada Rena."
"Kalau begitu cepat bawa aku padanya."
Dalam keributan kami menerobos lebih dalam sambil menahan keseimbangan karena dorongan orang-orang. "Permisi..., permisi...."
Akhirnya setelah masuk lebih jauh, aku mendengar suara Rena yang tengah menenangkan orang-orang.
"Kumohon tenang sedikit! Seseorang pasti sedang menangani keributannya di luar! Tolong jangan panik!" nampaknya tidak ada yang mendengarkannya sama sekali.
"Rena! Aku menemukannya!" ujar Rea.
Setelah Rea berteriak, Rena menengok ke arah kami lalu nerkata, "Oh, Den? Baguslah.".
__ADS_1
"Rena, aku titip dia sebentar." Ucapku sambil menitipkan Rain padanya.
"Hei, tu—jelaskan dulu apa yang terjadi!" ucapnya
"Nanti kujelaskan! Aku sedang terburu-buru, ada sesuatu yang harus kulakukan!" jawabku sambil menjauhi Rena dan Rea.
"Tunggu dulu! Setidaknya beritahu padaku siapa yang kau bawa ini!"
"Dia temanku!"
Setelah lolos dari kerumunan orang-orang, aku langsung ikut bergabung bersama Glace yang sedang melawan para monster. Kebetulan sekali ada seseorang yang sedang membantunya, yaitu sosok kakak dari orang bernama Lynn.
"Kebetulan sekali ada kau!" ujar si kakak. "Bisa bantu aku untuk menutup pintunya?"
Aku tersenyum dan menjawab, "Tentu saja!"
"Baiklah, perhatikan aku baik-baik. Ketika aku menghabisi bagian depan, segeralah tutup pintunya dengan apapun. Jangan biarkan mereka masuk lebih banyak."
"Mudah sekali." Ucapku begitu namun kenyataannya aku kebingungan bagaimana cara melakukannya. Secepat mungkin aku menggunakan seluruh kemampuan otakku untuk memikirkan cara. Seketika aku terpikirkan cara lama, yaitu dengan melempar benda dan diberi benang padanya agar aku bisa mengendalikannya dari jauh.
"Kau siap? Ini saatnya!"
Saking cepatnya ia beraksi, aku sampai tidak bisa melihatnya pergi ke arah mana. Namun meski begitu aku tahu apa yang harus kulakukan. Kulempar sebuah bola tenis dan setelah mencapai depan pintu, seketika kugenggam benang yang menempel dan terbentuklah sebuah tembok besi yang menutupi seluruh bagian pintu.
"Kerja bagus!" ucap si kakak. Kemudian dia menyarungkan pedangnya lalu berbalik. "Kalian para siswa sekolah sihir Zharan! Aku tahu saat ini kalian sedang panik menghadapi situasi sekarang. Dan aku juga tahu kalian sedang mengharapkan bantuan. Namun sangat disayangkan, apa yang kalian harapkan tidak akan terjadi.
Para guru beserta penjaga kelas atas lainnya sedang mengatasi masalah yang lebih besar di barisan depan. Satu-satunya guru yang menjaga tempat ini adalah guru Paperoni. Kita semua tahu bahwa dia adalah orang yang hebat, namun aku tidak yakin dia bisa mengatasi semua pasukan yang datang ke sini.
Maka dari itu aku meminta kalian untuk bersikap mandiri dan melindungi sesama dengan ikut serta dalam pertempuran ini. Aku tahu kalian masih menjadi siswa, oleh karena itu aku tidak mengharapkan lebih dari batas kemampuan kalian. Kalian boleh memutuskan untuk diam dan tidak ikut membantu. Tapi karena ini menyangkut nyawa kalian, aku harap kalian mengerti dengan situasinya."
Selagi memperbaiki kerusakan yang diterima oleh tembok yang kuciptakan, aku berteriak dengan menyela pidato dari si kakak. "Apa sudah selesai bicaranya?! Aku akan kehabisan tenaga kalau terus seperti ini!"
"Seperti apa yang diucapkan oleh salah satu teman kalian. Tembok yang menghalangi monster di luar akan mencapai batasnya. Ketika temboknya hancur, aku memerintahkan kepada siapapun yang berani berkorban demi diri dan orang lain untuk maju." Ucapannya kali ini membuat keheningan total.
Dalam keheningan tersebut ada seseorang yang berteriak, "Lebih baik hidup daripada mati!" dilanjut dengan teriakan lainnya, "Aku tidak ingin mati sebelum punya pacar...! Siapa juga yang ingin mati di tangan monster...?! Dasar monster sialan, ayo habisi mereka!!" semuanya bersorak mendukung pidato si kakak.
Setelah mengetahui bahwa mereka setuju, aku langsung melepas benang yang menyambung pada tembok besi. Seketika saat itu juga temboknya langsung ditembus. Para monster berlari begitu juga dengan para siswa yang bersemangat untuk menghajar mereka.
"Gunakan seluruh kemampuan terbaik kalian, jangan biarkan mereka menyentuh kalian sedikitpun!" ucap terakhir si kakak sebelum akhirnya dia melesat maju dan menghabisi monster di depannya.
Aku menunggu mereka semua keluar hingga menyisakan para gadis yang menetap. Aku hanya melirik sebentar hingga akhirnya berlari keluar. Aku melihat mereka semua bertarung dengan kemampuan mereka masing-masing. Dilihat dari keberagaman kekuatan yang mereka luncurkan, kuyakin mereka bisa menanganinya.
Lantas aku berniat pergi ke arah barisan depan setelah melihat sinar cahaya yang mengarah ke langit. Sebelum aku mengayuh sepeda yang kubuat barusan, Glace tiba-tiba menghalangiku.
Ia berkata, "Mau pergi kemana kau?"
"Aku ingin memeriksa yang ada di depan." Jawabku.
"Kenapa?"
"Penasaran saja dengan sinar cahaya yang kulihat barusan."
"Kalau begitu aku juga ikut."
"Kenapa kau juga malah ikut?" tanyaku.
"Sama sepertimu, aku juga penasaran."
"Ya sudah kalau begitu, pasangkan ini." Aku memberinya sepasang Step sepeda.
"Tidak usah," balasnya. "Aku bisa membuat kendaraanku sendiri." Lalu ia menciptakan papan seluncur es dari tangannya.
Melihat papan yang dibuatnya jadi menginginkanku dengan kejadian sebelumnya yang membuat lenganku terluka. Meskipun sekarang sudah mendingan, tetap saja rasa ngilunya masih ada.
"Ayo berangkat!" tegas Glace.
__ADS_1