The Forgotten Creator

The Forgotten Creator
Luka Pertama


__ADS_3

"Lima menit, bukankah terlalu lama?" ujar Salsa. "Kita tidak punya waktu sebanyak itu?"


"Terus cuman berapa lama?" balasku.


"Paling cepat hanya tiga puluh detik. Kuyakin mereka berdua juga tidak sanggup menahannya lebih lama lagi."


"Tiga puluh detik, ya?" gumamku. "Saa, bisa bawa ke temenku di dunia lain gak?"


"Hah? Maksudnya pindah dunia?"


"Enggak bukan gitu, maksudnya ke tempat yang tadi tapi ke beberapa meter di belakang."


"Ya sudah, ayo pergi. Tapi aku tidak yakin akan mendarat di tempat yang benar."


...~Π~...


Setelah kami keluar, nampak Hien dan juga Artex sedang saling adu senjata dengan musuhnya. Hien mengayun-ayunkan tombaknya sedangkan Artex mencari-cari celah lalu menyerang dengan belatinya. Tak mau kalah, Oniken satu lagi juga selalu berhasil menangkis serangan mereka.


"Hien, aku butuh bantuan kau!" teriakku.


Hien menjawab "Tenang dulu, dia masih belum bisa dikalahkan."


"Ga ada waktu buat nunggu! Prosesnya harus selesai selama beberapa detik!"


"Ya sudah kalau begitu apa yang kau butuhkan?"


"Aku butuh kemampuan kau buat mempercepat... maksudnya memperlambat waktu."


"Apa kau memegang alatnya?"


"Jelas engga, Rain masih memegangnya!"


"Kalau begitu ambil dulu darinya."


"Siap!" aku berlari ke arah belakang Hien untuk menemui Rain.


Setelah menemukan Rain yang sedang duduk diam, aku langsung meminta alat yang dimaksud. "Ayo cepetan, ga ada waktu lagi buat nahannya."


"Sabar sedikit. Aku lupa menaruhnya di mana." Rain menggeledah seluruh isi tasnya, semua barang bekal bawaannya ia keluarkan. Setelah semuanya terlempar, akhirnya dia menemukan alatnya. "Ini dia."


"Oke, makasih." Ucapku.


"Makasih? Apa itu ungkapan baru untuk berterimakasih?"


Setelah mendapatkannya aku langsung berlari lagi ke arah Hien tanpa menjawab ucapan Rain.

__ADS_1


Sesampainya di tempat Hien berada, aku langsung berteriak, "Hien! Dah ada nih!"


Hien langsung mundur lalu melemparkan tombaknya kepada Artex. "Pakai dulu tombakku." Kemudian dia berbalik ke arahku. "Sekarang tahan napasmu!"


...


Dalam sekejap semua warna benda yang ada di hadapanku berubah menjadi abu. Tanpa pikir panjang aku langsung melancarkan rencanaku. Pertama pegangan pedangnya kubuat dari kayu jati yang terkenal akan kekokohannya. Oh tunggu, mungkin menggunakan baja juga akan semakin efisien. Eh tapi itu akan memperberat pedangnya.


Bilah pedang kubentuk dengan satu mata agar lebih ringan untuk diayunkan. Lalu untuk pegangannya aku menggunakan pola seperti pegangan pada senapan mesin—sedikit ada lekukan untuk kenyamanan jari.


Selama proses pembentukan aku memadatkan sejumlah besar baja pada bilahnya agar semakin kuat dan keras. Ini memakan natergy yang cukup banyak sehingga tanganku merasa tertekan selama proses pembuatan.


Setelah merasa cukup lama, aku menghentikan pemadatannya. Tekanan yang kurasakan membuatku tidak kuat untuk menahan napas lebih lama lagi. Aku langsung jatuh terkapar setelah tenagaku terkuras habis akibat menahan napas dan memaksakan kekuatanku.


"Tai, kenapa harus waktu pas-pasnya." Meskipun aku kehilangan tenaga, aku tidak pingsan dan masih bisa melihat pertarungan Artex.


"Kupinjam dulu sebentar." Ucap Hien mengambil pedang baja di tanganku.


"Tu—tunggu!" Aku berusaha bangkit kembali dengan sekuat tenaga. Membuat satu pedang besi untuk kugunakan.


Baru saja maju lima langkah aku langsung dihadapkan oleh Oniken varian katana. Dengan gerakan yang cepat dia menggibaskan katananya padaku.


Tak hanya diam, aku berusaha menangkis serangannya. Namun itu hanyalah sia-sia karena dengan mudahnya pedangku dipotong olehnya hingga serangannya berhasil memukul dadaku. Serangannya tidak sakit sama sekali, namun entah kenapa itu membuatku pusing lalu terjatuh


...~Π~...


"Oh, sudah bangun?" ucapnya.


Dalam waktu singkat aku langsung menyadari bahwa sedang berada di atas pangkuannya. Dengan cepat dan panik aku bangkit dari pangkuannya. Namun karena terlalu cepat... *Dug, "Aw, aw–aw–aw!" Kepalaku membentur tembok. Di saat yang bersamaan dadaku terasa sakit sekali. "Adu–duh."


"Diam dulu, dasar bodoh!" Hien menepak kepalaku dengan keras.


"Aw!? Kenapa harus ditepak juga?!" teriakku.


"Jangan banyak bicara," jawabnya. "Kau sudah mengalami pendarahan yang cukup banyak. Aku tidak bisa menggantikan darah yang hilang dengan hanya kemampuan medisku."


"Hah? Emangnya aku kenapa?"


"Kau tidak ingat? Sebelum kau jatuh pingsan dadamu berhasil dilukai olehnya. Untung saja tidak menembus sampai ke organ dalam."


Setelah mendengarnya aku langsung panik dan melihat dadaku yang sudah terbalut perban. "Hah–hah!" napasku menjadi berat.


"Tidak usah panik. Harusnya pendarahannya bisa dihentikan hanya dengan pertolongan pertama."


"Oh iya!? Gimana musuh yang satunya lagi? Terus gimana sama temenku?"

__ADS_1


"Dia juga berhasil kukalahkan, dan setelah selesai mereka pergi dengan portal mereka."


"Ah, oke."


"Berbaringlah lagi, kita tidak ingin lukamu semakin parah dengan bergerak."


"Iya, aku duduk saja."


"Ngomong-ngomong, apakah tugas kita sudah selesai hanya dengan mengalahkan kedua musuh itu?" ujar Rain. "Aku bahkan belum sempat beraksi sama sekali."


"Nona Rain," sahut Virie. "Jangan berpikiran begitu. Kuyakin di luar sana masih banyak musuh yang harus kita hadapi, dan juga kita tidak tahu kapan mereka akan datang. Jadi tugas kita belum berakhir sampai sini saja."


"Tapi kalau masih banyak yang akan berdatangan, apakah tempatnya selalu di tempat sebelumnya? Bukankah lebih mudah kalau kita menyiapkan seluruh pasukan untuk berjaga di sana?"


"Gak juga," potongku. "Pernah sekali seseorang dari mereka masuk ke pikiran kami buat menyerang. Tapi yah, karena masalah jumlah mereka selalu kalah lawan tim dengan lima kali lipat jumlahnya."


"Begitu ya.... Kalau begitu bukankah lebih baik kita mencari seluruh tempat yang kemungkinan akan didatangi oleh mereka?" tanya Rain.


"Bagiku itu kurang rasional." Sela Virie. "Pihak musuh pasti akan menyadari pergerakan kita lalu mereka akan mengambil rute tempat yang tidak diberikan pertahanan. Jadi semuanya akan sia-sia."


"Memang itu tujuanku." Balas Rain.


"Tapi kalau kita memecah pasukan untuk berpencar, kita akan kehabisan orang untuk setiap regunya. Dan hal itu akan menjadi masalah bagi kita."


"Tck, tck, tck. Apa kau sudah lupa, Tuan Putri? Sat ini diriku sedang menyandang gelar Master Caster, mau seribu pasukan golem pun mampu kuciptakan hanya dalam beberapa menit." Jelasnya.


"Aku mengerti rencanmu, tapi memangnya golem yang kau ciptakan bisa bertahan selama beberapa hari? Seperti yang kubilang sebelumnya, bisa saja pihak musuh lebih memilih lokasi yang tidak ada penjagaan dan hal itu membuat golem ciptaanmu menjadi sia-sia."


Selagi mereka sedang berdiskusi, aku bertanya pada Hien yang masih memasangkan perban padaku. "Boleh minta minum gak?"


"Ambil saja sendiri." Jawabnya.


"Lah tapi kan aku lagi sakit gini?"


"Kau itu bukan pasienku, dan juga aku tidak menganggapmu sebagai tamuku."


Akhirnya aku berdiri dalam keadaan menahan rasa sakit. "Dapurnya di mana?"


"Arahnya sama dengan kamar mandi."


...~Π~...


Aku langsung menuangkan air di dalam teko besi ke dalam gelas yang kuambil sebelumnya. Air berwarna hijau keluar dari mulut tekonya. "Air apa ini coba?" saat kuminum ternyata rasanya begitu familiar.


Aku kembali untuk menanyakan air apa yang kuminum barusan. Hien menjawab bahwa itu adalah teh. Lantas aku kembali ke dapur dan mencari gula agar terasa manis.

__ADS_1


Kupikir dua sendok sudah cukup. "*Srup. Ahh.... Ini baru teh."


Aku keluar untuk mencari Artex yang sedang berlatih Lalu aku berkata, "Woy, ngeteh asu!"


__ADS_2